BANALITAS DALAM KASUS BRIGADIR J


[Pic: fairflyproject.com]

I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

Kasus Barada E yang mematuhi perintah atasannya, Irjen FS, untuk menembak Brigadir J, mengingatkan penulis pada reportase persidangan Adolf Eichmann yang ditulis oleh Hannah Arendt berjudul Eichmann in Jarusalem: A Report on the Banality of Evil.

 

Eichmann adalah seorang birokrat Nazi berpangkat SS-Obersturmbannfuehrer. Tugas utamanya adalah memfasilitasi dan mengelola logistik dalam proses deportasi masal orang-orang Yahudi ke Ghetto dan kamp-kamp pemusnahan di Eropa Timur. Karena tugasnya itulah, Dewan Yahudi menjatuhkan dakwaan padanya sebagai orang yang memiliki andil besar dalam genosida semasa Perang Dunia II. Namun, Arendt berpikir bahwa tindakan Eichmann bukanlah kejahatan yang radikal, melainkan kejahatan yang banal.

 

Dalam penjelasan Arendt, kejahatan yang banal disebabkan karena ketidakmampuan seorang untuk berpikir dan menyadari tindakannya. Ia dianggap telah gagal sebagai subjek politik yang berpikir. Tindakan Eichmann yang dilakukan tanpa kesadaran dan sepenuhnya dikendalikan oleh arahan atasan adalah contohnya.

 

Apakah Bharada E adalah Eichmann? Bisa dikatakan demikian. Dari sudut pandang moralitas, menembak  rekan tanpa alasan jelas adalah kejahatan. Namun mengapa Bharada E tetap menembak Brigadir J? Karena tindakannya bukanlah dikendalikan oleh pikiran otonomnya, tetapi oleh arahan atasannya.

 

Stanley Milgram dalam upayanya membuktikan apakah Eichmann benar-benar hanya mengikuti perintah dalam peristiwa Holocaust menambahkan bahwa terdapat beberapa faktor situasional yang memengaruhi kepatuhan seseorang. Salah satunya adalah kehadiran fisik figur otoritas yang secara dramatis ternyata meningkatkan kepatuhan tersebut.

 

Eksperimen Milgram yang terkenal melibatkan kurang-lebih empat puluh relawan yang akan diberikan kartu peran, tanpa diketahui, Milgram sengaja membuat mereka semua mendapat peran sebagai guru. Nantinya akan ada dua peran lain, yakni siswa dan peneliti yang dilakukan oleh aktor. Peran guru diminta untuk memberikan pertanyaan kepada siswa yang diikat di sebuah kursi listrik, dan ketika mereka menjawab pertanyaannya dengan salah maka guru diminta untuk memberikan aliran listrik pada siswa.

 

Di pertengahan eksperimen siswa akan diminta untuk berakting memberontak dengan tidak mau menjawab dan memohon untuk menghentikan eksperimennya. Namun, peneliti yang mendampingi guru meminta mereka untuk memberikan tegangan listrik yang lebih tinggi karena tindakan tersebut dianggap sebagai jawaban salah. Hasilnya, dua puluh enam dari mereka memberikan sengatan maksimum, sedangkan empat belas sisanya berhenti sebelum mencapai tegangan tingkat tertinggi.

 

Penulis menduga bahwa tindakan nekat Bharada E menembak Brigadir J saat itu karena adanya kehadiran fisik dari Irjen FS di TKP. Sebagaimana diberitakan di berbagai media bahwa ternyata Irjen FS lah yang memantik tembakan pertama sehingga terkesan terjadi peristiwa baku tembak. Nurani, moral, ataupun pemikiran mandiri dari Bahrada E saat itu dapat dikatakan berada dalam kondisi tidak aktif. Pergolakan batin yang dirasakannya pun ternyata sesuai dengan subjek hasil penelitian Milgram di mana saat mereka melakukan eksekusi menjadi sangat gelisah, bingung, dan marah tetapi tetap terus mengikuti perintah hingga akhir.

 

Kembali lagi ke Arendt, ia menjelaskan mengenai tiga aktivitas fundamental manusia yang terdiri dari kerja (labor), karya (work), dan tindakan (action). Tiga aktivitas itu disebut dengan Vita Activa. Kerja (labor) menunjukkan aktivitas manusia yang hanya didasari oleh pemenuhan hasrat/naluri/insting, sedangkan karya (work) lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan atau kepentingan (instrumentalis). Bagi Arendt, untuk menjadi seorang subyek politik (dalam penerjemahan Arendt disebut manusia politik), manusia harus bisa mencapai tahap tindakan (action), di mana dalam tahap tindakan ini manusia telah menggunakan pikirannya secara aktif untuk bertindak di ruang publik dengan memikirkan manusia lain di sekitarnya. Perlu diingat bahwa ada banyak hal yang menghambat manusia untuk melibatkan keaktifan pikirannya, salah satunya adalah kepatuhan berlebih, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Bharada E dalam kasus polisi tembak polisi ini.

 

*****

 

 

Referensi;

Husna, R. A. (2021) Eksperimen Milgram dan Bahaya Ketaatan. Diakses dari: https://www.materikonseling.com/2021/11/eksperimen-milgram-dan-bahaya-ketaatan.html

Pramana, R. A. dan Wem Fernandez. (2022) Kenapa Irjen Ferdy Sambo Perintahkan Bharada E Tembak Brigadir J? Ini Penjelasan Polri. Diakses dari: https://voi.id/berita/199466/kenapa-irjen-ferdy-sambo-perintahkan-bharada-e-tembak-brigadir-j-ini-penjelasan-polri

Yanti, B. dan Laksmi M. Prameswari. (2020) Hannah Arendt & Simone De Beauvoir: Filsuf Wanita Pengguncang Abad Ke-20. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

0 Comments:

Post a Comment