Dia yang Terus Maju: Filosofi Kebebasan Eren Yeager dalam Kacamata Nietzsche


You have the freedom to defend the world’s freedom and I have the freedom to continue moving forward. 

-Eren Yeager

 

Eren Yeager, tokoh utama anime Attack on Titan, merupakan salah satu tokoh yang mengalami perkembangan karakter paling drastis dalam jagat per-anime-an. Ia bertransformasi dari seorang ‘pion’ dalam masyarakat yang tersublimasi dogma sejarah menjadi seseorang yang memiliki will to power untuk mengendalikan takdirnya sendiri. 


‘Gelapnya’ Anime Attack on Titan

Attack on Titan atau yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan Shingeki no Kyojin, merupakan sebuah adaptasi anime dari serial manga yang ditulis dan diilustrasikan oleh Hajime Isayama. Anime ini dapat dikatakan ‘menyimpang’ dari kebanyakan anime lain yang inspiratif dan memuat banyak pesan moral yang biasanya menggunakan kekuatan persahabatan untuk mengalahkan musuh. Attack on Titan dikatakan sebagai anime yang gelap dan dipertanyakan secara moral, salah satunya karena penyajian Anime ini menggunakan latar belakang yang terinspirasi oleh era Nazi, ia menggambarkan dunia distopia yang penuh dengan kegelapan, penindasan, dan kengerian totalitarianisme. Selain itu adegan-adegan berdarah yang ditampilkan dan juga permainan psikologis Hajime Isayama dalam tiap plot twist-nya berhasil mengantarkan anime ini memenangkan nominasi Best Drama dan Best Character untuk karakternya Eren Yeager dalam penghargaan Crunchyroll 2023 (Mokta, 4)

Attack on Titan berlatar belakang dunia di mana umat manusia tinggal dalam sebuah kota yang dikelilingi oleh tiga dinding raksasa guna melindungi mereka dari raksasa pemakan manusia yang disebut dengan titan. Dunia tempat mereka tinggal tersebut bernama Pulau Paradis.

Peta Pulau Paradis yang dikelilingi 3 dinding, yakni dinding Maria, Rose, dan Sina

Eren Yeager, sang protagonist, bersumpah untuk membunuh para titan setelah ia melihat dengan mata kepalanya sendiri titan-titan ini berhasil menjebol dinding, menghacurkan kota, dan memakan ibunya hidup-hidup. Pasca penghancuran para titan ini, Eren bersama dua orang temannya, Mikasa Ackerman dan Armin Arlert, memutuskan untuk bergabung dengan Survey Corps, yakni sebuah unit pasukan yang ditugaskan untuk memburu para titan. Selain itu, Survey Corps juga memiliki tugas lain, yakni melakukan eksplorasi, pemetaan, serta ekspansi kemanusiaan di luar tembok. Karena bergabung dengan kelompok inilah, Eren, akhirnya memahami bahwa dunia di dalam tembok yang mereka hidupi selama ini adalah sebuah sangkar besar penuh kepalsuan dan rahasia besar yang dibuat oleh raja Pulau Paradis, Karl Fritz. 

Karl Fritz yang ternyata memiliki kekuatan founding titan menggunakan hal tersebut untuk menghapus ingatan warga Pulau Paradis tentang dunia. Ia menciptakan ingatan palsu bahwa peradaban di dalam dinding adalah peradaban satu-satunya yang tersisa di bumi. Ingatan palsu ini akhirnya diwariskan selama ratusan tahun, ia menjelma menjadi sebuah keyakinan lewat buku-buku di sekolah, dan juga dogma para agamawan yang menyembah dinding. 

Selain itu, ternyata banyak hal lain yang mulai terungkap seiring berjalannya episode anime ini. Seperti misalnya ada beberapa manusia yang memiliki kekuatan untuk bisa berubah menjadi 9 titan utama, dan Eren ternyata salah satunya. Pulau Paradis ternyata adalah tempat Raja Fritz mengungsikan rakyatnya pasca ia melakukan penjajahan pada bangsa Marley dengan memanfaatkan kekuatan titan yang dimilikinya. Titan-titan di Pulau Paradis ternyata orang-orang Eldia yang diubah menjadi titan tanpa akal oleh bangsa Marley sebagai bentuk balas dendam terhadap bangsa Eldia. 

Rahasia-rahasia gelap ini mengubah Attack on Titan yang pada saat season pertamanya tampak seperti anime heroisme biasa dan kemudian berubah menjadi anime bergenre politis dan psychological di season 3 hingga akhir. Eren yang saat pertama bergabung di survey corps berambisi untuk mengabisi para titan justru berubah menjadi seseorang yang “terus maju” pada tujuan hakikinya, yakni mengakhiri semua kehidupan di bumi karena baginya kehidupan tersebutlah yang dapat membebaskan manusia dari kesengsaraan panjang ini.


Kehidupan Warga Paradis Menurut Zarathustra

Filosofi Eren tentang hak atas kebebasan telah banyak dibahas dari berbagai perspektif. Namun, yang masih kurang didalami adalah gagasan bahwa kebebasan membutuhkan kekuatan. Kita tidak bisa mempertahankan atau mencapai kebebasan secara pasif, kebebasan membutuhkan semacam kehendak (will), lebih spesifiknya lagi adalah kehendak untuk berkuasa (will to power). Eren tidak mengerti mengapa ia dan orang-orangnya harus hidup seperti binatang ternak di dalam tembok. Survey corps yang secara berkala pergi keluar tembok untuk melakukan pemantauan menghadapi berbagai kesulitan, rasa sakit dan kematian secara terus menerus. Eren adalah salah satu dari sedikit orang yang mengaggumi mereka, sementara sebagian besar masyarakat justru melihat tindakan mereka sebagai sebuah kesia-siaan. Mereka puas dengan hidup terkurung selamanya. 

Dinamika sosial ini mirip dengan dinamika dalam buku Nietzche yang tentang Zarathustra. Dalam buku tersebut, Zarathustra mengatakan bahwa tuhan kini telah mati (God is dead) dan kita harus bangkit dari nihilisme eksistensial. Proposisi bahwa tuhan telah mati bukanlah sebuah proposisi yang harfiah dan biasanya disalahpahami, sebaliknya kematian tuhan adalah simbol dari pelepasan masyarakat Barat dari agama dan menuju sekularisasi. Nietzsche berpikir bahwa kemunduran agama berpotensi mengarah pada nihilisme, di mana individu akan tercerabut dari pandangan dunia yang memberikan makna dalam hidup mereka (Morgan, 1943). Nietzsche tidak menyukai agama karena dogmanya dianggap sebagai bentuk perbudakan psikologis dan menghambat kreativitas dan indivisualitas manusia (Philo-Notes, 2023).

Dalam dunia Attack on Titan, kelompok-kelompok agama di dalam tembok menggunakan dogma ini untuk membuat orang-orang tetap tenang dan tidak mempertanyakan realitas situasi mereka. Para agamawan dan beberapa petinggi Paradis menyembunyikan realitas mengenai kehidupan di dalam tembok yang sebenarnya. Selain itu, orang-orang Eldia yang tertinggal di benua bangsa Marley juga ditanamkan keyakinan bahwasanya mereka adalah inferior dan keturunan iblis. Karena ini pula mereka merasa pantas untuk tunduk dan ditindas oleh bangsa Marley sebagai bentuk penebusan dosa nenek moyang Eldia di masa lalu yang pernah menjajah Marley. Filosofi Nietzsche menekankan pentingnya mempertanyakan dan menantang norma dan nilai yang ada, dan beberapa masyarakat Paradis seperti Eren, Armin, Mikasa dan orang-orang yang tergabung dalam Survey Corps mewujudkan semangat kebebasan dan kreativitas individu ini saat mereka berjuang untuk kelangsungan hidup dan kebebasan mereka.


Survey Corps menggunakan sayap sebagai simbol satuannya untuk melambangkan kebebasan

Ketika Eren akhirnya mengetahui kebohongan-kebohongan sejarah yang selama ini ditanamkan padanya, ia kehilangan pegangan karena kekuatan dogma telah runtuh, selanjutnya, Eren mengalami apa yang disebut oleh Nietzsche sebagai rasa sakit eksistensial (existential pain). Rasa sakit eksistensial adalah kesedihan dan penderitaan mendalam yang muncul dari konfrontasi dengan realitas kehidupan yang keras sendirian karena agama dan norma-norma budaya tidak lagi efektif memberikan makna dan tujuan bagi kehidupan manusia. Nietzsche berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi rasa sakit ini adalah dengan menerima penderitaan dan menciptakan nilai-nilai dan tujuan hidup sendiri (Freeman, 2018).


Will to Power Eren Yeager

Filosofi Nietzche sangat dipengaruhi oleh Arthur Schopenhauer, Scopenhauer adalah filsuf yang mengembangkan gagasan tentang kehendak untuk hidup (will to life) yang dibangun Nietzche berdasarkan kehendak untuk berkuasa (will to power(Anderson, 2022). Kehendak untuk hidup adalah keinginan bawaan dan primitive manusia untuk mempertahankan diri dan mengejar keinginan dan tujuan individu. Hal ini mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, seperti naluri untuk bertahan hidup, mengejar kesenangan, menghindari rasa sakit, dan kepuasan kebutuhan dan keinginan pribadi. Menurut Schopenhauer, kehendak untuk hidup ini lekat dengan penderitaan dan ketidakpuasan (Wicks, 2022).

Kehendak untuk hidup inilah yang diimani oleh warga Pulau Paradis. Ketika para titan untuk pertama kalinya berhasil menjebol tembok, mereka (warga Pulau Paradis) mereka mengorbankan satu sama lain untuk bisa didahulukan masuk ke dalam kapal penyelamat. Beberapa bahkan dengan egoisnya menghambat antrian masuk ke kota di lapisan dinding yang lebih dalam hanya untuk menyelamatkan harta benda mereka.

Episode 6 Season 1. Seorang pedagang menghambat jalan masuk ke dinding Rose karena menganggap barangnya lebih berharga dari hidup manusia lainnya

Sementara sebagian besar warga Paradis menjadi budak dari will to life, Eren Yeager justru melampaui kehendak tersebut dan hidup dengan dengan kehendak untuk berkuasa (will to power). Ia mendorong diri untuk bisa lepas dari dominasi dogma dinding dan berbalik mendominasi diri sendiri. Eren merasa bahwa bertahan di dalam dinding tidak akan memberikannya kebebasan yang sejati, maka dari itu ia memanfaatkan kekuatan titan yang dimilikinya untuk memberikan kebebasan bagi seluruh umat manusia dengan cara melaksanakan Rumbling. Rumbling adalah peristiwa yang dipicu oleh Eren untuk membangkitkan 10.000 titan kolosal dengan tujuan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi. Rumbling ini melibatkan titan yang dibekukan oleh Karl Fritz untuk membuat dinding di Pulau Paradis. Lewat rumbling, Eren berharap kekejaman dimuka bumi akan hilang dan peradaban baru dapat dimulai lagi.

Potongan manga Attack on Titan Chapter 130 yang menampilkan Eren saat membangkitkan rumbling

Kebebasan versi Eren ini mengikuti gagasan Nietzsche tentang kehendak untuk berkuasa (will to power). Gagasan ini yang dikembangkan oleh Nietzche sebagai antithesis dari gagasan Scopenhauer tentang kehendak untuk hidup (will to life) dan bagaimana hal tersebut sebenarnya memotivasi pesimisme dalam kehidupan manusia (Anderson, 2022). Kehendak untuk berkuasa atau will to power diterjemahkan sebagai kehendak untuk menerjang rintangan demi mencapai tujuan utama, di mana rintangan yang dimaksud adalah kebenaran dunia (yang biasanya berwujudkan dogma agama, sejarah, atau narasi besar lainnya). Ia merupakan bentuk paling realistic dari intuisi tentang realitas kehidupan manusia dana lam semesta. Ia tidak dapat ditahan atau dimusnahkan karena segalanya berasal darinya. Pada titik eksremnya, gagasan Nietzsche ini merupakan kesadaran yang bergejolak di bawah alam bawah sadar, dan terus-menerus mengintervensinya. Kehendak ini eksis tanpa ada sosok besar seperti tuhan, pencipta, atau subyek agung lainnya (Porter, 2006).  

Kehendak untuk berkuasa ini memberika manusia kemampuan untuk menafsir dan melihat hubungan kausalitas dalam dunia. Dunia sebelumnya diterjemahkan sebagai sesuatu yang bukan-manusia (inhuman), namun berkat kemampuan menafsir dan subyektivitas dari kehendak untuk berkuasa, manusia dapat menjadikan dunia “manusiawi” (human(Wattimena, 2011). Eren menafsirkan kebebasan sebagai sesuatu yang baru dapat digapai ketika kemaslahatan di dunia benar-benar telah habis. Membebaskan warga Paradis dari ancaman titan dan kungkungan tembok baginya hanya akan memberikan kebebasan sementara karena kebencian akan terus diwariskan oleh umat manusia kini ke generasi selanjutnya. Eren memutuskan untuk mengorbankan semua orang termasuk dirinya guna mencapai kebebasan tersebut. Bahkan ketika Armin dan Mikasa berusaha mencegahnya dan memberikan alternatif ‘yang lebih manusiawi’, Eren tetap menolak dan teguh pada kebebasan yang inigin dicapainya.


Master Morality on The Man Who Keep Moving Forward

Eren di kenal sebagai “The man who keep moving forward” karena tekadnya yang tak kenal lelah dan tak tergoyahkan untuk melawan kekuatan yang menindas yang mengancam umat manusia. Julukan ini merangkum perkembangan karakter Eren di sepanjang seri di mana ia terus maju meskipun menghadapi rintangan yang besar. Dari mimpi besarnya di episode awal untuk membasmi titan dan mejelajahi dunia di kuar dinding, hingga saat terungkapnya rahasia asli titan dan dunia di mana Eren akhirnya memilih untuk membangkitkan rumbling untuk menciptakan kebebasan baru sesuai versinya. Eren tak pernah sekalipun mencoba untuk mundur atau ragu pada keputusannya.

Mentalitas "terus maju" Eren menunjukkan penolakannya terhadap halangan-halangan seperti kemunduruan, pengorbanan atau kenyataan suram dari dunia yang ia tinggali. Dia bersedia menghadapi kebenaran yang paling keras, membuat pilihan yang sulit, dan mengambil tindakan drastis dalam mengejar tujuannya. Eren tidak menggunakan kompas baik-buruk dalam memutuskan tindakannya tersebut, karena baginya itu adalah jalan satu-satunya. Di sini kita dibenturkan pada dilema bahwasanya rencana Eren untuk mengahancurkan dunia dan memulainya kembali adalah tindakan yang egois karena hal tersebut hanya bertumpu pada kebebasan versinya. Sementara itu, di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa tindakan jahat tersebut sebenarnya kembali lagi pada niatan baik Eren untuk membebaskan umat manusia dari kesengsaraan.

Nietzsche pernah mencoba menjawab mengenai mengapa tindakan-tindakan tertentu seperti membantu orang dianggap tindakan baik sementara menjadi egois digolongkan sebagai hal jahat dalam bukunya yang berjudul On the Geneology of Morality. Setelah meninjau beberapa jawaban absurd yang ditawarkan pada zamannya, Nietzsche menolaknya dan memulai dari awal, dengan tujuan tidak hanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, tetapi juga untuk menentukan dari mana ide tentang baik, buruk, dan jahat berasal. Dalam upayanya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ia menarik beberapa kesimpulan mengejutkan yang memiliki implikasi luar biasa terhadap cara kita memandang diri kita sendiri dan kehidupan yang kita pilih untuk dijalani. Untuk menjelaskan gagasannya, Nietzsche memberikan sebuah cerita. Dia menggambarkan sebuah masyarakat kuno dengan dua moralitas, yaitu moralitas tuan dan budak (Hendricks, 2018).

Moralitas budak, niat suatu tindakan sebagai faktor penentu nilai moralnya. Mereka tidak dapat berdiri sendiri. Fokus mereka adalah meringankan penderitaan, apapun yang berguna atau menentang penindasan karena hal tersebut dianggap ‘yang baik’ secara moral. Perasaan-perasaan seperti empati, altruisme, dan tidak mementingkan diri sendiri adalah ‘yang baik’ (Lacewing, 2016). Hal ini dapat dilihat dalam anime Attack on Titan melalui penilaian moral yang dibuat oleh karakter berdasarkan persepsi mereka tentang niat orang lain. Sebagai contoh, karakter dalam Attack on Titan sering kali menilai orang lain berdasarkan kesetiaan mereka kepada umat manusia atau para Titan, dan niat mereka dilihat sebagai baik atau jahat.

Di sisi lain, moralitas tuan adalah kebalikannya. Mereka menenukan nilai moral suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya. Mereka yang kuat, kreatif, kaya, dan berkuasa. Mereka dapat melakukan apa pun yang mereka suka. Mereka mencintai diri mereka sendiri dan menganggap diri mereka sebagai ‘yang baik’. ‘Baik’ berasal dari penegasan diri, sebuah perayaan atas kehebatan dan kekuatan diri sendiri. Mereka tidak membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa mereka hebat. Tapi perlu diingat bahwa memiliki moralitas tuan ini bukanlah sebuah pemanjaan diri atau sifat narsis; moralitas ini hanya membenci setiap tanda kelemahan seperti altruisme atau empati (Lacewing, 2016).  Moralitas ini ditunjukkan oleh Eren Yeager, sebagai seorang karakter, mencontohkan aspek moralitas utama ini ketika dia mengambil tindakan yang dia yakini akan menghasilkan hasil yang diinginkan (kebebasan sejati), terlepas dari implikasi moral mengenai cara ia melakukannya (menghabisi seluruh umat manusia di bumi).


Eren Yeager Sang Übermensch

Karena moralitas tuan yang dimiliki Eren dan tindakannya yang menekankan individualism serta menolak nilai-nilai moral tradisional, maka, melalui kacamata Nietzsche, Eren telah mewujud menjadi sosok Übermensch. Dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra, konsep Übermensch, yang sering diterjemahkan sebagai "Manusia Super" atau "Superman," memainkan peran sentral. Übermensch mewakili manusia visioner dan ideal yang melampaui norma-norma moral dan sosial tradisional untuk mencapai aktualisasi diri yang hakiki. Übermensch dicirikan oleh kemampuan mereka untuk menciptakan nilai-nilai mereka sendiri, bebas dari pengaruh moralitas tradisional dan batasan-batasan masyarakat (yang saat itu dikaitkan dengan gagasan Tuhan dan agama Kristiani). Mereka terbebas dari mentalitas budak dan mampu bangkit di atas massa, merangkul individualitas dan potensi mereka sendiri. Übermensch menolak kenyamanan dan keamanan kawanan, menerima risiko, penderitaan, dan mengatasi diri sendiri dalam mengejar kebesaran (Nietzsche, 2000; Braak, 2015).

Seperti halnya Übermensch, Eren menunjukkan keinginan yang kuat untuk berkuasa dan penolakan terhadap norma-norma moral dan sosial tradisional. Dia menantang tatanan yang sudah mapan dan mengejar tujuan dan cita-citanya sendiri, bahkan jika hal itu bertentangan dengan harapan dan nilai-nilai orang lain. Eren menunjukkan tekad yang tak kenal lelah dan penolakan untuk terkungkung oleh keterbatasan yang dibebankan kepadanya, berjuang untuk mengatasi rintangan dan mencapai visinya tentang kebebasan. Kesediaan Eren untuk menghadapi kebenaran yang tidak nyaman, kesiapannya untuk menerima penderitaan dan pengorbanan, dan dorongannya untuk menegaskan nilai-nilainya sendiri selaras dengan beberapa aspek Übermensch. Dia menolak menerima status quo dan bersedia membuat pilihan yang sulit dan mengambil tindakan drastis untuk mengejar tujuannya. 


Kesimpulan

Filosofi Nietzsche memiliki beberapa hubungan dengan serial anime Attack on Titan dan karakter utamanya, Eren Yeager. Salah satu hubungan utamanya adalah eksplorasi moralitas, khususnya konsep moralitas budak dan moralitas tuan. Dalam Attack on Titan, ada dua jenis moralitas yang dapat diamati di sepanjang cerita . Hubungan lain antara filosofi Nietzsche dan Attack on Titan adalah eksplorasi kebebasan dan kehendak bebas (will to power). Nietzsche menekankan pentingnya kebebasan individu dan penolakan terhadap batasan moral. Dalam Attack on Titan, para karakter terus-menerus berjuang dengan rasa kebebasan mereka sendiri dan batasan dunia tempat mereka tinggal. Eren Yeager, khususnya, mewujudkan gagasan ini ketika ia berusaha untuk membebaskan diri dari kungkungan dunianya dan mengejar visinya sendiri tentang kebebasan, bahkan jika hal tersebut berarti melakukan penghancuran dunia. Selain itu, konsep Nietzsche tentang Ubermensch, atau "manusia super" juga dapat dikaitkan dengan Eren Yeager sebagaimana ia mengimani moralitas tuan sepanjang hidupnya.


Evolusi Eren Yeager dari Season 1 hingga Season Terakhir Attack on Titan
Wujud titan tak berakal/mindless titan
Eren Menyaksikan ibunya dimakan oleh titan

Referensi:

 

Anderson, R. L. (2022, May 19). Friedrich Nietzsche. Retrieved June 27, 2023, from Stanford Encyclopedia of Philosophy: https://plato.stanford.edu/entries/nietzsche/#pagetopright

Braak, A. v. (2015). Zen and Zarathustra: Self-Overcoming without a Self. The Journal of Nietzsche Studies, 46(1), 2-11.

Freeman, T. J. (2018). Thus Spoke Zarathustra notes. Retrieved June 27, 2023, from Tim Freeman: https://tfreeman.net/Philosophy/360/

Hendricks, S. (2018, July 11). The master and slave moralities: what Nietzsche really meant. Retrieved June 28, 2023, from Big Think: https://bigthink.com/personal-growth/the-master-and-slave-moralities-what-nietzsche-really-meant/

Mokta, P. (4, March 2023). Attack on Titan wins Best Drama and Best Character for Eren among others at Crunchyroll Anime Awards 2023. Retrieved June 29, 2023, from SK Anime: https://www.sportskeeda.com/anime/news-attack-titan-wins-best-drama-best-character-eren-among-others-crunchyroll-anime-awards-2023

Morgan, G. A. (1943, November). What Nietzsche means. Westport: Greenwood Press. Retrieved June 27, 2023, from Academy of Ideas: https://academyofideas.com/2012/11/nietzsche-and-the-death-of-god/

Nietzsche, F. (2000). Sabda Zarathustra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Philo-Notes. (2023, April 9). Nietzsche's Critique of Dogma. Retrieved June 27, 2023, from Philo-Notes: https://philonotes.com/2023/04/nietzsches-critique-of-dogma

Porter, J. I. (2006). Nietzsche's Theory of the Will to Power. In K. A. Pearson, A Companion to Nietzsche (pp. 548-564). London: Blackwell.

Lacewing, M. (2010). Nietzsche on Master and Slave Morality. London: Routledge Taylor &Francis Group

Wattimena, R. A. (2011, December 19). Kekuasaan, Kemunafikan, dan Kehidupan: Penafsiran Ulang atas Pemikiran Friedrich Nietzsche. Retrieved June 28, 2023, from Rumah Filsafat: https://rumahfilsafat.com/2011/12/19/kekuasaan-kemunafikan-dan-kehidupan/#_ftnref6

Wicks, R. (2022, October 12). Schopenhauer and the insatiable will to live. Retrieved June 27, 2023, from Institute of Art and Ideas: https://iai.tv/articles/schopenhauer-and-the-insatiable-will-to-live-auid-2262.

Keterangan

  • Founding titan adalah titan pertama yang merupakan nenek moyang dari sembilan titan utama. 
  • Orang-orang di Pulau Paradis adalah Bangsa Eldia yang diungsikan dari benua Bangsa Marley
  • Titan tanpa akal adalah titan yang memakan manusia di luar tembok. Mereka adalah manusia yang diubah menjadi titan dengan serum tertentu dan tidak bisa lagi berubah menjadi manusia, ingatannya sebagai manusia juga telah hilang.
  • Manga adalah istilah yang digunakan untuk menyebut komik Jepang atau novel grafis aslinya diterbitkan di Jepang dan memiliki gaya gambar yang khas.

1 comment: