FEMINISME EKSISTENSIAL SIMONE DE BEAUVOIR

[pic: critical-theory.com]


N.P Laksmi Prameswari
Pegiat Sanglah Institute

Simone de Beauvoir merupakan filsuf wanita Prancis sekaligus tokoh feminisme modern yang paling menonjol di abad ke-20. Ia menuangkan gagasan filosofisnya melalui roman, sandiwara, dan memoar. Karyanya, Le Deuxième Sexe (The Second Sex) merupakan magnum opus aliran pemikiran feminisme eksistensial.

Kelahiran Feminisme Eksistensial
Pemikiran feminisme eksistensial Simone de Beauvoir tak dapat dilepaskan dari latar kultur borjuis kehidupan keluarganya. Ibunya yang merupakan seorang Katolik Roma taat—meskipun ayahnya seorang atheis—membuat Beauvoir menempuh pendidikan di sekolah biarawati.  Pada usia 14 tahun, Beauvoir semakin memiliki ketertarikan pada beragam wacana intelektual Prancis hingga membuatnya didera krisis iman, dan akhirnya kehilangan iman sama sekali—menjadi atheis seperti ayahnya. Hal itulah yang membuatnya beralih fokus mempelajari matematika, sastra, dan terutama filsafat. Di satu sisi, paradoks karakter kedua orangtuanya, di mana sang ibu memberikan didikan moral konservatif, sementara ayahnya yang begitu individualis dan rasional; membuat ketidakstabilan pada diri Beauvoir sehingga seakan ia menghadapi (baca: mengalami) perselisihan tanpa akhir.

Simone de Beauvoir bertemu dengan Jean Paul Sartre saat mengikuti ujian agregasi filsafat di École Normale Supérieure. Ia dan Sartre mulai memiliki hubungan khusus yang berlanjut hingga akhir hayat. Kemunculan The Second Sex yang memuat pemikiran dasar feminisme eksistensial disebut-sebut tak terlepas dari pemikiran eksistensialisme Sartre dalam Being and Nothingness. Masih samarnya penjelasan mengenai orisinalitas feminisme eksistensial, memunculkan pandangan “siapa memengaruhi atau dipengaruhi siapa” antara Sartre dan Simon, mengingat keduanya tak terpisahkan. Dalam bukunya, Beauvoir menggunakan banyak istilah yang terinspirasi dari Sartre dengan memodifikasi maknanya agar sesuai dengan feminisme eksistensial yang ia maksudkan (Tong, 1998: 254).

Perempuan sebagai Liyan  
Sartre membagi segala sesuatunya ke dalam dua bentuk yaitu, etre pour soi (berada bagi dirinya), yang menunjuk pada manusia yang memiliki kesadaran; serta etre en soi (berada dalam dirinya) yang menunjuk pada benda mati yang tidak memiliki kesadaran (Nugroho, 2013: 66). Kemudian terdapat bentuk ke-ada-an yang ketiga yaitu, etre pour les autres (ada untuk yang lain) di mana manusia saling mengobyekkan satu sama lain. Bentuk ketiga inilah yang dikategorikan pada perempuan sebagai liyan atau “sosok yang lain” dalam feminisme eksistensial.

Dalam upaya mendefinisikan perempuan sebagai liyan, feminisme eksistensial Simone de Beauvoir mengkritik konteks biologi, psikoanalisis, dan materialisme sejarah (Beauvoir, 2016: 46). Dalam konteks biologi, terdapat fakta-fakta mengenai perempuan yang tubuhnya lebih lemah daripada laki-laki. Fakta-fakta tersebut memang tidak dapat disangkal, namun ternyata tidak terdapat signifikansi karena kekuataan otot tidak dapat menjadi dasar bagi dominasi. Menurut Beauvoir, biologi tidak cukup memberi jawaban mengenai perempuan yang dianggap sebagai liyan. Sedangkan dalam psikoanalisis, perempuan dianggap mencemburui penis sebagai alter ego pada laki-laki. Akan tetapi menurut Beauvoir, perempuan bukan ingin memiliki penis tersebut sebagai penis, tetapi perempuan ingin memiliki keuntungan material dan psikologis yang diperoleh dari pemilik penis. Perempuan adalah liyan bukan karena mereka tidak memiliki penis, tetapi karena tidak memiliki kekuasaan. Di sisi lain, dalam materialisme sejarah, Beauvoir mengkritik pernyataan tentang jenis pekerjaan yang akan dibagi bukan berdasarkan jenis kelamin jika kapitalisme dijatuhkan. Akan tetapi, perubahan kapitalisme ke sosialisme tidak akan secara otomatis mengubah relasi perempuan dan laki-laki. Materialisme sejarah tidak mampu memberikan jawaban dari ke-liyan-an perempuan karena hanya menekankan kepemilikan yang dominan pada laki-laki.

Perempuan sebagai Fakta dan Mitos
Kemudian, Beauvoir juga mengkaji fakta sejarah di belakang penindasan perempuan dalam sejarah. Hierarki jenis kelamin telah ditegakkan dengan melihat kembali catatan prasejarah serta etnografi yang dihasilkan filsafat eksistensialisme (Beauvoir, 2016: 87). Dimulai pada masa kaum pengembara, pengolah tanah di masa lampau, zaman patriarkal, dan purbakala klasik, dari abad pertengahan hingga abad ke delapan belas di Prancis, sampai dengan setelah Revolusi Prancis 1789 yang menggambarkan situasi perempuan sebagai liyan yang mengalami penindasan hingga mendapatkan kesempatan untuk bebas.

Bersamaan dengan berkembangnya kebudayaan, laki-laki menganggap bahwa mereka dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos tentang perempuan. Laki-laki selalu mencari sosok perempuan ideal yang akan menjadikannya lengkap. Dengan memfokuskan pada lima pengarang laki-laki, Beauvoir menunjukkan bahwa karya-karya mereka merefleksikan perempuan yang ideal dan dipuja laki-laki adalah perempuan yang mengorbankan diri agar menyelamatkan laki-laki.

Refleksi
Dewasa ini, sulit bagi perempuan untuk menerima secara bersamaan status mereka sebagai individu sekaligus takdir feminitas mereka. Kenyataan tersebutlah yang menganggap perempuan adalah “jenis kelamin yang tersesat”. Beauvoir memberi solusi yang menurutnya lebih menyenangkan untuk ‘menyerah’ pada sesuatu perbudakan buta ketimbang merdeka. Kematian (bunuh diri) memang lebih baik diadaptasikan daripada kehidupan. Mengutip surat Rimbaud, “Pembudakan tanpa batas pada perempuan akan dihancurkan ketika perempuan akan tinggal di dalamnya dan demi dirinya sendiri–sedangkan laki-laki yang sampai detik ini menjijikkan membiarkannya pergi bebas”. Begitulah pemikiran feminisme eksistensial yang lebih melihat sosok perempuan sebagai liyan dari takdir sejarah berikut mitos pada perempuan yang membuat pemikiran feminisme eksistensial berbeda dari aliran feminisme lainnya, yaitu penghargaan atas diri (perempuan) sebagai manusia yang utuh dan meninggalkan laki-laki yang menghalangi kebebasannya sebagai suatu eksisten.

*****

Referensi;
Beauvoir, Simone de. 2016. Second Sex: Fakta dan Mitos. (Toni B. Febrianto, Penerjemah). Yogyakarta: Narasi.
Nugroho, Wahyu Budi. 2013. Orang Lain adalah Neraka (Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ravard, Sophie & Nicholas Traube, 2006, Les amants du Flore, France 3 Production.

0 Comments