“Cepat sembuh ya!”

Ujar satgas yang bertugas mengantar pasien suspect Covid-19. Sambil menutup pintu mobil, sepertinya ia bergegas untuk kembali menjemput pasien lain. Saat itu pukul 8 malam. Bahkan katanya mereka tak sempat untuk makan malam di jam yang tepat. Plastik bening seukuran dua kali kursi pengemudi itu menjadi pembatas antara yang menyetir dengan penumpang di dalamnya.
Aku turun dan mengangkut barang-barangku. Dua tas tenteng dan satu ransel yang cukup berat sangat merepotkan untuk diangkut sendiri. Tak ada yang membantu, bahkan menyapaku saat sampai di Lobi. Yang menyambutku hanyalah meja kuning dengan berbagai makanan dan barang titipan yang terlihat berserakan.
Aku masih tak percaya bahwa pada akhirnya akan menjalani karantina di Isolasi Terpusat. Meski begitu, saat sampai di sana aku masih tenang-tenang saja. Mengisolasi diri adalah hal yang sebenarnya biasa aku lakukan. Lebih tepatnya menjauhkan diri dari manusia.
Tapi yang aku pikirkan adalah: apakah aku bisa betah berdiam diri di balik tembok selama 10 hari lebih?
Entahlah. Hingga aku mendapatkan nomor kamar, aku masih tak ingin berpikir yang aneh-aneh.
Keseharianku biasanya habis untuk menulis. Karena pekerjaanku memang begitu. Terkadang pikiran dan diri ini sudah lelah lama-lama berdiam diri di depan laptop. Cara untuk mengusir lelah biasanya adalah mengobrol dengan teman-teman dekatku.
Meski aku benci berinteraksi dengan banyak orang, aku bukanlah anti sosial. Aku tak punya masalah jika harus memulai percakapan atau mengobrol tentang banyak hal.
Aku hanya benci jika obrolan yang dibangun adalah hal-hal menyebalkan, yang seharusnya tak perlu diutarakan. Hal tersebutlah yang membuat diriku sangat ingin sekali mengisolasi diri. Setidaknya energiku bisa diisi ulang saat sendiri. Ini adalah waktu yang tepat. Tapi mengapa aku masih saja merasa kosong?
Hari pertama, sepertinya aku betah melakukan apapun sendiri. Hanya melakukan hal-hal untuk diri sendiri bukanlah sesuatu yang sulit.
Hari kelima, kegundahan itu mulai tiba. Rasanya seperti ulat yang menggeliat ingin keluar dari tanah. Aku mulai sering memposting hal-hal remeh di sosial mediaku. Kesannya memang seperti sedang mencari simpati.
Aku ingin orang-orang memberi perhatian. Aku ingin mereka selalu membalas pesan singkatku dan berujung pada percakapan tanpa batas.
Sepertinya isolasi telah menumbuhkan energiku untuk berinteraksi dengan manusia. Meski ada beberapa dari mereka yang belum pernah kutemui sebelumnya. Percakapan tanpa berhadapan satu sama lain, hanya bergantung pada seberapa cepat masing-masing dari kami membalas pesan singkat itu sesungguhnya membantuku untuk membunuh sepi.
Merawat kesendirian dalam waktu yang lama bukanlah hal yang mudah. Kerentanan akan kerap dialami bagi mereka yang memutuskan untuk menjadi seorang individual.
Ketika mereka, seorang individu yang dituntut untuk mengisolasi diri. Murni bukan dari keinginan mereka sendiri, ternyata dapat memicu perasaan kosong.
Kemungkinan hal ini terjadi karena tak ada energi yang membuat mereka hidup. Meski terkadang mereka tak ingin berbicara dengan orang lain, mereka bisa saja mendapatkan energi dari apa yang mereka lihat ketika berada di ruang terbuka. 
Bisa jadi energi mereka adalah melihat bagaimana orang-orang saling bercakap atau hanya duduk di atas pasir sambil menghirup udara laut.
Mengisolasi diri di dalam ruang tertutup memang hanya membuat diri ini menjadi semakin kosong. Pelarian terbaik adalah dengan membangun percakapan melalui pesan singkat. 
Usaha mencari perhatian kepada orang-orang melalui pesan singkat itu ternyata malah membuatku merasa superior. Dengan begitu aku bisa membunuh sepi. Kesendirian yang biasa aku lalui tetaplah terawat. Aku tak perlu kontak fisik dengan mereka. Aku bisa menemukan diriku bahwa energi yang ku dapatkan adalah melalui kata-kata.
Seperti membaca buku, berlarut dalam kisah si penulisnya. Aku bisa berbagi cerita kepada mereka. Menyelami percakapan yang semakin dalam. Aku bisa mendengar kisah mereka. Kami saling bersahutan sama lain. Seolah-olah percakapan ini tidak ada habisnya. Tak perlu menunggu waktu yang akan datang untuk membuat janji temu. 
10 hari mengisolasi diri bukanlah waktu yang begitu lama. Akan tetapi, rentang waktu tersebut membuatku banyak merenung. Mengilhami berbagai pertanyaan yang berputar di kepala. Aku bisa perlahan menyusun puzzle kehidupan, menemukan diri.
Terima kasih untuk kalian yang menyempatkan diri untuk membalas pesan singkatku. Atau menanggapi hal-hal bodoh yang kerap aku unggah ketika diriku merasa gundah.
Kalian lah yang telah menjadi energi untuk membunuh rasa sepi. Terima kasih karena sudah ada.

—Tulisan ini dibuat ketika penulis, Laksmi Mutiara Prameswari sedang berada di isolasi terpusat pada akhir Agustus 2021. Ada banyak hal yang ia temukan ketika tengah menjalani isolasi, salah satunya adalah terciptanya esai ini.


 


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Niken Lara Yuwati,

Niken Lara Yuwati,

Iya! Perempuan dan permaisuri seorang Raja terkenal tanah Jawa, simbol ketangguhan Indonesia.


Adalah istri Raja Hamengkubuwono I,

Nenek dari sosok ulama pejuang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah.

Pemimpin perang melawan penyamun dan perampok kebebasan.


Dialah, Pangeran Diponegoro.

Adalah anak yang berhasil dilahirkan oleh sosok perempuan tangguh, seorang yang sederhana dan bersikap bersahaja.

Namun, keberaniannya melebihi keberanian Belanda, yaitu penindas mustad'afin, kaum lemah.


Iyaa! Siapa yang tidak kenal Diponegoro?

Siapa yang tidak kenal dengan Diponegoro, sang ulama pewaris jiwa militer dan kesatria di tanah Jawa?


Perang Diponegoro disebut perang Jawa, betapa besar pengalaman dan kekuatan perang itu dalam pandangan Belanda.


200.000 ribu orang terbunuh dalam perang itu.

8000 prajurit Eropa tewas dan dihancurkan oleh tanah yang menghimpit mereka.


7000 prajurit hasil rekrutan Belanda asal Nusantara tewas sebagai pengkhianat bangsa!

Belanda rugi biaya perang dengan sang pahlawan itu sebanyak hampir 2000 triliun rupiah. Hanya dalam waktu 5 tahun pertempuran, bayangkan!


Diponegoro pemimpin kelas rakyat pribumi yang merugikan Belanda; Bangkrut!

Pangeran Diponegoro adalah sifat yang memperjuangkan cita-cita setiap orang, tekad yang kuat menghadapi kesewenang-wenangan, bagai bunga edelweis yang mampu bertahan melawan gigil kedinginan di puncak keangkuhan dan penindasan.


Niken Lara Yuwati atau ia dikenal dengan nama Ratu Ageng Tegalrejo, adalah anak perempuan dari Kyai Datuk Sulaiman Bekel Jamus, yaitu anak sulung dari Sultan Abdul Qohir Kerajaan Bima Ruma Ta Ma Bata Wadu , Raja pertama-tama yg memeluk Islam.


Ia Raja Bima ke-27 yang berkuasa antara tahun 1620-1640. Buyut Pangeran Diponegoro adalah Raja Bima.


Niken Lara Yuwati; nenek dari Pangeran Diponegoro adalah seorang perempuan tangguh darah Bima pembentuk kesatria perempuan di tanah Jawa, kerajaan Mataram. Seorang "Sufi Perempuan" yang memperdalam spiritualitas dan mencintai ilmu pengetahuan.


Apakah memang religiusitas Bima itu baru-baru saja ada di budaya masyarakatnya? Tidak!! Bima telah religius sejak sebelum Islam datang. Bima telah mengenal kekuatan supranatural tertinggi dalam masyarakat kebudayaannya.


Jika sekalipun ada yang berkata, bahwa Bima orang-orangnya kelihatan serius, sebagian org menyebut agamis-tasawuf, bahkan barangkali dianggap garang?


Jawabannya, karena memang leluhur dan orang tua dalam budaya Bima berwatak dan mengajarkan sedari kecil agar tegas, tidak ada tedeng aling-aling pada sesuatu yang batil apalagi jahat.


Sebagaimana Bima itu orang-orang pemberani, selayaknya Diponegoro dikenal putus urat takutnya menggugat penjajah Indonesia.


Falsafah Bima mengajarkan di kebudayaannya,


Maja labo Dahu,

Maja adalah malu; malu berbuat sesuatu yang tercela dan tidak patut menurut kebiasaan masyarakat di mana saja kaki berpijak!


Labo berarti "mengikutkan atau bermakna dengan",


Sedangkan Dahu, adalah takut; takut untuk menjadi pengecut, dan meninggalkan kebenaran.


Oohh Niken Lara Yuwati dan Pangeran Diponegoro,

Oohh Kyai Datuk Sulaiman Bekel Jamus putra sulung Raja

Oooh! Ruma Ta Ma Bata Wadu Abdul Khair, kau raja pelahir pahlawan terbesar bangsa,

Aku akan ajarkan anak-anakku falsafah-falsafahmu, agar suatu saat masa depan kemerdekaan Indonesia mesti terus hidup di tanah air Indonesia.


Niken Lara Yuwati adalah pembangkrut Belanda, dua kali.


Seorang yang dikenal oleh Barat sebagai perempuan tangguh dan berpikiran tajam.


Pemanah ulung, kuat mengarungi perjalanan panjang, mahir berkuda, piawai menggunakan senjata.


Di dada Niken ada api, dua kali Belanda bangkrut dan pergerakannya dibuat mati.


Pertama, ia setia tangguh mendampingi suami, mengerahkan seluruh kekuatan Kesultanan Mataram; di dadanya ada api. Sembilan tahun menghadapi Belanda dan akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti.


Kebangkrutan Belanda yang kedua oleh perempuan ini, bersama cucunya; Pangeran Diponegoro bergerilya selama lima tahun, memaksa Belanda menghasilkan gencatan senjata bersama Tuanku Imam Bonjol. Ribuan tentara Belanda selama itu dibunuh, dan jutaan gulden Belanda mati suri.


Niken Lara Yuwati atau dikenal Ratu Ageng Tegalrejo adalah Pahlawan Nasional yang namanya harum di tanah air Indonesia. Tak peduli, namanya jarang kita ketahui, ia tetap sejarah yang berapi-api abadi.


Ia fasih agama dan ahli perang. Perang melawan kebodohan, penindasan, dan luhur dalam budi keanggunan.

Yaa Allaah! Hidupkan kembali Niken-niken dan Diponegoro-Diponegoro baru melalui kami atau generasi ini, yaitu pelanjut estafet pemimpin masa depan tanah air dan bangsa; tanah ini aku cinta. Tumbuhkan tunas mereka dari rahim perempuan-perempuan yang juga tangguh, di seluruh belahan bumi tanah air Ibu Pertiwi.

Aamiin!


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Pic: fropky.com]


Fidiana Rakmawati M.

Pegiat Sanglah Institute


      Mary Douglas mendiskusikan tubuh untuk pertama kalinya dalam buku yang berjudul Purity and Danger (1996), menurutnya tubuh menyediakan tema mendasar bagi semua simbolisme. Douglas juga menjelaskan dalam tesisnya bahwa tubuh adalah model yang dapat bertahan di dalam sistem apa pun yang mengikatnya. Ikatan-ikatan yang dimaksudkan dapat merepresentasikan ikatan yang mengancam atau berbahaya bagi manusia.


    Tubuh merupakan suatu simbol alamiah, sama seperti segala sesuatu yang menyimbolkan tubuh, maka benar adanya jika tubuh juga menyimbolkan segala sesuatu. Dalam Natural Symbols (1970) Douglas mengemukakan teori mengenai dua tubuh. Dua tubuh yang dimaksud adalah diri dan masyarakat, terkadang keduanya begitu dekat dan hampir menyatu namun terkadang jauh terpisah. Dapat dijelaskan bahwa dalam tubuh sosial terdapat suatu cara yang dipaksakan agar tubuh fisik dapat diterima. Pengalaman fisik tentang tubuh selalu dimodifikasi oleh berbagai kategori sosial yang dilalui dan dikenalnya—menopang suatu pandangan khusus tentang masyarakat.


    Setiap simbol alamiah yang berasal dari tubuh memuat pemaknaan sosial, dan setiap budaya membuat seleksinya sendiri dari wilayah simbolisme tubuh. Lebih lanjut, Yasraf Amir Piliang juga menjelaskan bahwa tubuh seseorang atau individu diubah karena ada “logika sosial”, di mana tubuh ingin ditampilkan secara sosial. Tubuh dibentuk, dirampingkan, dirawat, ditato, dirias dan lain sebagainya sesuai dengan apa yang ingin ditampilkan oleh seseorang atau individu yang memiliki tubuh tersebut di lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, eksistensi tubuh seseorang atau individu ditentukan oleh citra, tanda, dan makna objek-objek yang menyertai tubuh tersebut dalam kesehariannya.


    Piliang juga menjelaskan bahwa di dalam sistem kapitalisme, tubuh dipertukarkan sebagai “nilai tukar”. Tubuh dikonversi sebagai citra dan tanda-tanda untuk memberi makna pada komoditas. Sebagai strategi menciptakan daya tarik komoditas, tubuh dengan mudah “tergelincir” dalam kekuatan dekonstruksi moral. Komodifikasi tubuh tanpa batas menciptakan dunia yang bebas tanpa rahasia, di mana segala batasan-batasan moral dan etika tentang tubuh dilanggar, untuk menciptakan “daya pesona” komoditas, contohnya agar suatu produk pelangsing tubuh laku terjual maka iklan yang ditampilkan di khalayak umum adalah iklan yang berisikan model cantik dan langsing agar orang-orang tertarik untuk membeli produk tersebut, karena pikiran para pembeli produk dikonstruksi bahwa perempuan yang ingin terlihat cantik dan langsing harus mengonsumsi produk tersebut.


    Jelasnya, Susan Bordo mengatakan bahwa tubuh yang langsing adalah tubuh yang tergenderkan karena tubuh yang langsing merupakan tubuh milik perempuan, bukan milik laki-laki. Kelangsingan ini merupakan suatu kondisi ideal terkini bagi daya tarik perempuan sehingga perempuan secara kultural lebih menjaga tubuhnya ketimbang laki-laki. Paradoksnya, budaya iklan menawarkan suatu citra tentang tubuh yang dikehendaki (tubuh yang cantik dan langsing) dengan secara tidak langsung menganjurkan agar para perempuan mengonsumsi produk yang ditayangkan dalam iklan produk pelangsing tubuh.

 

*****

[Pic: twenty20.com]


Fidiana Rakmawati M.

Pegiat Sanglah Institute


Tubuh bukanlah badan, badan hanya bersifat fisik dan terbatas ruang geraknya. Tetapi tubuh, adalah keseluruhan yang melekat pada diri manusia, mulai dari mental, jiwa, pikiran, rasa, prilaku, bahasa, penampilan, simbol, dan aktivitas sosial lainnya.

Dapat dimengerti bahwa badan merupakan bagian dari tubuh. Badan memiliki batas dalam ruang geraknya. Seperti contoh mata, mata hanya terbatas pada aktivitas mata saja. Mata tidak bisa menjadi tangan dan kaki manusia. Mata hanya bisa digunakan untuk melihat suatu benda tanpa bisa meraih atau menendang benda tersebut, karena masing-masing bagian dari badan memiliki fungsinya masing-masing, tanpa bisa diganti dengan anggota badan yang lain.

Sedangkan tubuh, seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tubuh merupakan gabungan atas seluruh hal yang melekat pada manusia. Seperti contoh aktivitas minum, terdapat banyak hal yang akan berperan di sana. Minum bukan hanya untuk memenuhi keinginan akan rasa haus, melainkan pula memilih minuman apa yang akan diminum (air putih, teh, kopi, dan sebagainya), dimana akan mendapatkan minuman tersebut (minimarket, warung, rumah, dan sebagainya), bagaimana cara memperoleh minuman tersebut (membeli, meminta, dan sebagainya), serta apa yang akan dilakukan setelah minum, dan lain sebagainya.

Meskipun badan bukan tubuh, tetapi aktivitas yang dilakukan oleh tubuh tidak akan bisa terlepas dari fungsi masing-masing badan itu sendiri. Dengan kata lain, badan bersifat lebih spesifik karena hanya terfokus pada fungsi fisik masing-masing badan itu sendiri. Berbeda dengan tubuh yang dapat bersifat sosial, budaya, politik, dan ekonomi.

Yasraf Amir Piliang menjelaskan bahwa tubuh menjadi “milik pribadi” ketika tubuh tersebut berada di ruang pribadi (private sphere), sedangkan tubuh akan menjadi “milik sosial” ketika tubuh tersebut berada di dalam ruang publik atau ruang sosial (public sphere). Dapat disimpulkan bahwa tubuh memiliki kebebasannya apabila berada dalam ruang pribadinya, sedangkan tubuh tidak memiliki kebebasannya apabila berada dalam ruang publik atau ruang sosialnya, karena tubuh harus mengikuti serangkaian aturan yang diciptakan oleh lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, tubuh dapat memainkan peran ganda, yakni peran individu dan peran sosial.


*****

[Pic: atlassian.com]


I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute


Marx once said, “Religion is the opium of society”. No, gossip is.


Komunikasi dalam kehidupan manusia adalah sebuah kebutuhan primer, bahkan sebelum ditemukannya bahasa dan tulisan, manusia purba telah berkomunikasi dengan bahasa tubuh maupun lukisan-lukisan di dinding goa. Kebutuhan manusia akan komunikasi ini tidak semata-mata mengenai pemenuhan akan pembaharuan informasi semata, namun juga merupakan pemenuhan kebutuhan akan “koneksi” dengan manusia lainnya. Seiring dengan perkembangan zaman, bentuk-bentuk komunikasi manusia kian beragam, mulai dari lisan hingga tulisan, langsung maupun tidak langsung. Kontennya pun sangat tidak terbatas, dari tentang kabar satu sama lain, peristiwa terkini yang dialami atau disaksikan, informasi dan pengetahuan, hingga isu-isu yang terjadi di sekitar pelaku komunikasi.

Banyak orang setuju bahwasanya membicarakan isu-isu di sekitar mereka­—seperti tetangga yang membeli mobil baru, rekan kerja yang ternyata punya hubungan tersembunyi dengan atasan, atau keponakan yang sering pulang malam—lebih menyenangkan dibandingkan membicarakan korupsi dana bansos atau benih lobster. Hal ini dikarenakan hal-hal receh tersebut terasa lebih dekat atau lebih relate dengan kehidupan sehari-hari mereka. Bentuk komunikasi ini sering disebut dengan gosip.

Eric K. Foster dalam penelitiannya yang berjudul Research on Gossip: Taxonomy, Methods, and Future Directions memberikan definisi tentang gosip secara psikologis, yaitu membicarakan pihak ketiga tanpa kehadirannya (tentunya dengan terlebih dahulu ada dua pihak). Gosip sendiri merupakan salah satu bentuk pertukaran informasi (baik positif maupun negatif) terhadap pihak ketiga yang tidak hadir dalam kegiatan pertukaran informasi tersebut.

Gosip sendiri kerap dikaitkan dengan perilaku masyarakat kelas dua yang kurang edukasi, padahal nyatanya gosip juga berkembang subur di perkantoran elite kota metropolitan. Gosip selalu diasosiasikan sebagai sebuah komunikasi negatif karena berisi pembicaraan mengenai aib orang lain. Lebih lagi dalam ayat-ayat di beberapa agama atau keyakinan mengatakan bahwa gosip merupakan perilaku yang diharamkan. Akibatnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa gosip sebenarnya memiliki peran penting dalam masyarakat, yakni sebagai salah satu bentuk pengendalian sosial.

Dalam kajian sosiologi, gosip merupakan salah satu bentuk pengendalian sosial paling tradisional. Ia berfungsi sebagai instrumen pengontrol perilaku seseorang terkait dengan isu mengenai dirinya yang dibicarakan oleh orang lain. Kita perlu melihat sisi evaluatif dari gosip di mana informasi yang dipertukarkan oleh dua orang (atau lebih) tanpa melibatkan subjek gosip tersebut bertujuan untuk mengoreksi tingkah laku subjek yang tidak sesuai dengan nilai dalam kelompoknya.

Maka dari itu, ketika gosip tersebut sampai pada telinga si subjek baik melalui jalur langsung maupun tidak langsung (langsung artinya si pelaku gosip memberitahu mengenai gosip yang beredar tentang diri si subjek, tidak langsung artinya subjek mendengar gosip tersebut tanpa terlibat dalam pembicaraan), ia akan melakukan self-evaluation mengenai apa yang salah dengan dirinya. Selanjutnya, dalam rangka memperbaik reputasi, subjek gosip akan mengklarifikasi isi gosip tersebut baik dengan cara lisan ataupun dalam bentuk perubahan perilaku.

Selain menjadi bahan evaluasi diri dan pengendalian sosial, gosip seakan menjadi candu bagi banyak orang dikarenakan gosip memberikan perasaan berkuasa atau power atas subjek gosip yang biasanya memiliki kekuasaan lebih tinggi dari mereka. Contohnya, ketika sekumpulan pekerja bergosip mengenai tingkah laku buruk manajer mereka, mereka akhirnya memiliki kekuasaan lebih dibandingkan manajer mereka. Power tersebut mereka dapatkan dari informasi yang mereka ketahui tentang manajer tersebut tanpa manajer tersebut mengetahuinya, dan ketika manajer tersebut merasa buruk akan adanya gosip di lingkungan karyawannya, power tersebut akan semakin berkembang.

Kemampuan untuk menyinggung subjek berkuasa yang biasanya sulit disentuh adalah sebuah kepuasan tersendiri bagi pelaku gosip. Kapan lagi rakyat biasa bisa menyinggung kehidupan anggota DPR? Jawabannya adalah saat mereka bisa membicarakan mengenai buruknya kinerja para DPR saat diskusi malam atau menonton berita kala makan siang. Maka dari itu, gosip juga kerap kali melibatkan orang-orang yang berasal dari dua kelas yang berbeda atau mereka-mereka yang bertingkah laku tidak sesuai dengan nilai,norma, atau bahkan aturan kelompok di lingkungannya tinggal.

Akan lebih baik halnya jika gosip yang dilontarkan memang dengan tujuan mengevaluasi dan informasi yang disebarkan berdasarkan kenyataan. Pun para subjek gosip dapat melihat dari sudut pandang baru selain sebagai korban atau raja yang tak bisa diusik, karena pada dasarnya gosip adalah aspirasi yang tertunda, yang terhalang tembok tak kasat mata dalam sebuah relasi.

Refrensi;

Meinarno, E. A. dkk. 2011. Apakah Gosip Bisa Menjadi Kontrol Sosial. Jurnal Psikologi Pitutur. Vol. 1, No. 2, 78-80.

Foster, E.K. (2004). Research on Gosip: Taxonomy, Methods, and Future Directions. Review of General Psychology. Vol. 8, No. 2, 78-99.

Why People Love to Gossip oleh London Real. Diakses dari: https://www.youtube.com/watch?v=V1GZ98pwllk&t=197s

 

multiplesclerosis.net

"Bukan kelangkaan, tapi keterbatasan"

-Sandiaga Uno-


Dalam kehidupan sehari-hari, baik secara “sadar” atau “tidak sadar”, kita menciptakan sebuah penyangkalan. Lebih parahnya, terkadang kita tidak menyadari telah menjadi korban dari sebuah penyangkalan. Pendekatan sosiologis dapat dikatakan sangat jarang digunakan untuk mempelajari konsep penyangkalan. Dalam kerangka psikologi, kajian mengenai penyangkalan terpusat pada dinamika intrapersonal yang menghalangi informasi memasuki kesadaran individu. Akan tetapi, sosiologi penyangkalan lebih menyoroti dinamika interpersonal yang mencegah informasi memasuki wacana publik (Zerubavel 2010)

Penyangkalan?

Penyangkalan dapat diartikan sebagai tindakan aktif yang mengabaikan suatu realitas  (Zerubavel 2010). Menggunakan sosiologi kognitif, Zerubavel menilik dimensi sosial yang mendasari motif seseorang untuk menolak informasi yang relevan. Secara sederhana, Cohen (2001) mengartikan pernyataan penyangkalan sebagai pernyataan bahwa sesuatu tidak terjadi, tidak ada, tidak benar atau tidak diketahui (Cohen 2001). Melalui sudut pandang etnografi, Norgaard (2011) mendefinisikan penyangkalan sebagai mekanisme perlindungan diri atas perasaan takut, bersalah, dan ketidakberdayaan melalui netralisasi informasi yang dianggap mengganggu. Norgaard meletakkan konsep penyangkalan sebagai alat untuk menjauhkan diri dari sebuah tanggung jawab.

Secara umum, penyangkalan disajikan melalui informasi retorik yang tidak wajar, tidak sesuai fakta, mengganggu, bahkan mengancam. Informasi tersebut berasal dari fakta yang ditolak, disingkirkan, ditafsirkan ulang, dinetralkan, atau dirasionalkan untuk tujuan tertentu. Terdapat berbagai kesempatan di mana individu, organisasi, dan pemerintah secara sempurna mengklaim suatu peristiwa sama sekali tidak terjadi, terjadi tidak sesuai dugaan, atau telah terjadi tanpa sepengetahuan mereka. Dalam konteks tersebut, penyangkalan menunjukkan sesuatu yang benar atau salah dapat difabrikasi ulang.

Berkaitan dengan konsep penyangkalan Norgaard, penyangkalan dipahami sebagai mekanisme pertahanan diri untuk mengatasi rasa bersalah, kecemasan, dan perasaan gelisah. Individu atau kelompok memiliki akses ke realitas, tetapi memilih untuk mengabaikannya karena mereka merasa nyaman dan berhak untuk melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa penyangkalan ditujukan untuk menghindari atau mencegah suatu kesimpulan memasuki wacana publik.

Dalam suatu struktur yang lebih luas, penyangkalan merupakan ciri dari negara-negara yang cenderung represif, rasis, dan kolonial (Cohen 2001). Kelompok-kelompok dominan secara masif dan terstruktur mengabaikan dan menutup ketidakadilan, penderitaan, dan kesewenang-wenangan yang terjadi di sekitar mereka. Dalam masyarakat yang lebih demokratis, penyangkalan terjadi bukan akibat dari paksaan, tetapi karena budaya “tutup mata” yang melekat dalam keseharian warga negaranya.

Dalam konteks komunal seperti, birokrasi pemerintah, partai politik, kelompok, agama, dan militer memiliki bentuk-bentuk penyangkalan yang berbeda-beda. Penyangkalan kolektif dihasilkan dari tata aturan profesional, tradisi kesetiaan dan kerahasiaan, hingga hubungan timbal balik timbal balik (Cohen 2001). Narasi yang dihasilkan dari penyangkalan dipertahankan untuk mencegah publik mengetahui kebenaran informasi yang dapat menimbulkan suatu dampak negatif bagi individu atau kelompok yang menciptakan praktik penyangkalan itu sendiri.



*****

 

Referensi;

Cohen, Stanley. 2001. States of Denial: Knowing about Atrocities and Suffering. Cambridge: Polity Press. 

Norgaard, Kari Marie. Living in Denial: Climate Change, Emotions, and Everyday Life. Cambridge, Mass: MIT Press, 2011.

Zerubavel, Eviatar. 2010. The Social Sound of Silence: Toward a Sociology of Denial. Pp. 32–44 in Shadows of War: A Social History of Silence in the Twentieth Century, edited by E. Ben-Ze’ev, J. Winter, and R. Ginio. Cambridge: Cambridge University Press.

[cultura.id]

I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

Kita mengenal sosok Harley Quinn sebagai sidekick The Clown Prince of Crime, Joker. Sosoknya selalu ditampilkan sebagai eksekutor sekaligus tumbal Joker dalam aksinya. Harley adalah seorang budak cinta yang taat pada sang pangeran, tak lain dan tak bukan hanya demi sebuah pengakuan darinya. Ia adalah si nomor dua. Sosok Harley Quinn digambarkan sebagai tokoh yang sangat bergantung pada Joker secara emosional, hingga tak jarang banyak orang yang meremehkan sosoknya karena dianggap hanya bermodal nekat dan bucin saja. Lantas apa yang menarik dari sosok Harley Quinn, Sang Nomor Dua ini?

Dalam salah satu film besutan DC, Bird of Prey, Harley Quinn berusaha mematahkan stereotipe kebergantungannya terhadap Joker. Film ini menceritakan kondisi Harley pascaputus dengan Sang Pangeran, dimulai dari fase penolakan (denial) hingga ke fase emansipasinya. Lebih jauh, proses emansipasi dari Harley Quinn dapat kita bedah melalui sudut pandang feminisme eksistensial.


Harley Quinn dalam Kacamata Feminisme Eksistensial

Perempuan kerapkali dihadapkan pada kesadaran nonreflektif, di mana ia ‘menjadikan dirinya’ sebagaimana harapan publik ingin menjadikannya, seperti menjadi lemah-lembut atau berpenampilan menarik. Kesadaran reflektif dalam feminisme eksistensial membantu para perempuan untuk ‘menjadikan dirinya’ sebagaimana keinginannya, karena ketika hal tersebut terjadi ia baru bisa disebut ‘ada’ atau exist.

Kondisi inilah yang dialami Harley Quinn di fase-fase awal, ia mengiyakan dirinya adalah Si Nomor Dua.

“Do you know what a harlequin is? A harlequin’s role is to serve. It’s nothing without a master. And no one gives two shits who we are beyond that.” —Harley Quinn dalam Bird of Prey 

Dia menyadari dirinya tercipta untuk melayani tuannya. Namun tindakannya mengiyakan kondisi ini adalah tahap awal dirinya untuk memasuki kesadaran reflektif. Mengapa demikian? Karena dalam kesadaran nonreflektif, perempuan justru tidak akan mengiyakan kondisinya sebagai nomor dua, namun menjalankan stereotipe yang diberikan karena merasa dirinya memang seharusnya begitu.

Kesadaran reflektif Harley Quinn ini semakin meningkat pasca ia mendeklarasikan dirinya sudah tidak berpatner lagi dengan Joker. Ia bisa saja tetap mengatakan pada publik bahwa dirinya adalah patner Joker sehingga tak ada satu pun dari warga Gotham berani menggugatnya. Namun ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Dalam misinya di film tersebut, ia benar-benar menolak untuk kembali dikaitkan dengan Joker, dan ingin keluar dari bayang-bayang mantan kekasihnya itu.

“I’m the one they should be scared of. Boo! Not you! Not Mister J! Because I’m Harley freaking Quinn!” —Harley Quinn dalam Bird of Prey

Stereotipe yang dilekatkan warga Gotham terhadap Harley sebagai Jester Sang Pangeran sama halnya dengan stereotipe yang dilekatkan masyarakat patriarkat terhadap perempuan, bahwa perempuan adalah yang nomor dua setelah laki-laki. Segala tata tingkahnya sudah ditentukan, sehingga jika perempuan berusaha bertingkah di luar tata aturan tersebut, ia sendiri akan merasa dirinya asing. Menjadi perempuan yang berpenampilan maskulin adalah asing, menjadi perempuan yang bekerja di lapangan adalah asing, menjadi perempuan dengan penghasilan di atas laki-laki adalah asing.

Harley Quinn pun merasa asing dengan dirinya ketika pertama kali harus memulai hidup tanpa Joker. Ia merasa sedetik ketika melangkah keluar dari bayang-bayang Joker, seisi dunia mulai mengejar-ngejarnya—dahulu Harley terbiasa dengan kondisi dunia yang takut pada dirinya.

Simone de Beauvoir, sebagai pelopor aliran feminisme eksistensial, beranggapan bahwa menjadi feminis berarti berusaha membebaskan perempuan sebebas-bebasnya. Artinya, ia berhak menjadi dirinya sendiri, melampaui batas-batas stereotipe akan dirinya, dan lepas dari bayang-bayang sebagai ‘sang liyan’ atau ‘yang lain’.

Harley Quinn, sosok liyan yang berhasil mengemansipasi dirinya dari bayang-bayang Joker memberikan gambaran awam mengenai bagaimana perempuan seharusnya menjadi. Jikapun pada akhirnya ‘menjadi’ yang ia pilih merupakan jalan yang terjal, tidak nyaman, atau bahkan membahayakan dirinya, itu tetaplah dirinya, pilihannya; yang ia buat tanpa dominasi kesadaran siapa pun.

"If you want boys to respect you, show them you're serious. Shoot something, blow it up!" —Harley Quinn dalam Bird of Prey

 

*****


[Pic: pinterest.com]

I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

Attack on Titan atau dalam bahasa Jepang Shingeki no Kyojin adalah salah satu seri animasi Jepang (anime) yang popularitasnya melejit (lagi) di awal tahun 2021. Musim pertama dari seri anime ini sudah keluar sejak tahun 2013, dan tahun ini akan memasuki musim terakhirnya. Secara garis besar, anime ini bercerita mengenai tiga orang anak bernama Eren, Mikasa, dan Armin yang tinggal di suatu pulau bernama Pulau Paradis.

Pulau tersebut dikepung oleh makhluk raksasa pemakan manusia yang disebut dengan Titan, maka dari itu raja mereka membangun dinding tinggi untuk mengelilingi kota sehingga para warganya terlindungi dari serangan Titan. Warga Paradis telah hidup di dalam dinding selama ratusan tahun sehingga mereka menyangka bahwa merekalah satu-satunya peradaban di muka bumi, mereka tidak mengetahui kondisi di luar dinding, mereka pun tidak tahu apa itu laut.

Segala pengetahuan mereka hanyalah bersumber dari buku-buku yang berasal dari penguasa, sehingga segala yang ada di dalam buku menjadi realitas dalam kehidupan mereka—bahwa mereka adalah peradaban terakhir, dan apabila keluar dinding mereka akan dimakan Titan. Warga didoktrin keyakinan itu melalui pendidikan, agama, dan saluran-saluran lain sehingga yang nyata bagi mereka adalah apa yang sekadar diajarkan pada mereka.

Kondisi yang dialami oleh warga Paradis ini sebagaimana kondisi yang dijelaskan Plato dan dikenal dengan istilah “alegori goa Plato”. Plato mengemas penjelasan alegori goa itu dalam konteks pendidikan. Plato memberi gambaran sekelompok tahanan yang dirantai seluruh tubuhnya hingga tidak bisa bergerak kecuali menghadap ke depan, sehingga yang bisa mereka lihat hanya bayang-bayang di dinding belakang gua yang terpancar dari sekobar api di depan pintu goa.

Pada suatu hari, seorang tahanan berhasil lepas dan akhirnya menyaksikan kenyataan dunia di luar goa yang sama sekali berbeda dari pengetahuannya selama tinggal di goa. Ketika ia kembali ke dalam goa dan menceritakannya ke tahanan lain, respons yang ia dapatkan justru kemarahan karena pengalaman yang berbeda.

Dalam cerita Attack on Titan, Raja Karl Fritz menggunakan kekuatan founding Titan untuk menghapus ingatan warganya tentang sejarah dunia, lalu membangun memori dan cerita palsu tentang masa lalu. Ia membangun sebuah peradaban baru di dalam dinding tersebut dengan segala aturannya, sehingga siapa pun yang melanggar aturan dalam dinding akan dihukum.

Pengetahuan yang mereka tahu dari buku-buku sekolah semuanya palsu, keyakinan dari buku agama semua palsu, hal ini dilakukan oleh Raja Fritz untuk membuat warganya tidak keluar dinding, sehingga ketika sang tokoh utama, Eren, mengutarakan pada ibunya ingin bergabung dengan Scouting Legion (pasukan yang bertugas untuk meneliti Titan di luar dinding) ibunya menjadi sangat marah dan geram. Mengapa? Karena sejak kecil ia sudah terdoktrin bahwa keluar dari dinding adalah tindakan yang berbahaya dan dilarang keras—dari sana pula Scouting Legion mendapat julukan sebagai pasukan bunuh diri.

Tidak hanya dalam seri anime Attack on Titan, ternyata alegori goa Plato ini juga bisa kita temui dalam kehidupan nyata. Bahwa kita tidak benar-benar cukup tahu mengenai sejarah dari kehidupan kita sendiri. Contohnya, saja dalam buku-buku sejarah, kita diajarkan betapa bengisnya penjajah pada masa kolonial menyiksa warga pribumi tanpa tahu bahwa apa yang dilakukan “pejuang” Indonesia saat melawan Belanda kejamnya juga luar biasa.

Dikutip dari artikel berjudul Cincang Masa Perang di laman historia.id, mereka orang-orang Belanda dikumpulkan di suatu tempat, kemudian diperintah untuk membungkukkan diri di depan bendera Merah Putih sambal berpekik ‘merdeka’, dan setelah selesai ‘upacara’ itu, mereka dibunuh dengan martil serta bambu runcing. Anak-anak juga dilemparkan tinggi dan kemudian ditangkap dengan bambu runcing. Meskipun ada dari mereka yang belum mati, namun tetap dilemparkan ke lubang kuburan yang sudah disediakan.

Dari sini kita dapat belajar bahwa tidak ada sejarah yang dapat kita percayai seratus persen, sejarah ditulis oleh pemenang. Ini membuat generasi sekarang yang tidak kritis layaknya Eren, Mikasa, Armin atau para penduduk Paradis lain yang hidup dalam dinding.

*****

 

[Pic: alchetron.com]

Muhammad Syarif Hidayatullah

Penulis, Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institute


Seorang filsuf asal Austria bernama Alexius Meinong mencoba merumuskan hal-hal yang ada disebut sebagai eksistensi, mungkin ada atau setengah ada dikelompokkan sebagai subsistensi, dan hal-hal yang bahkan sebenarnya tidak ada, ia istilahkan sebagai absistensi.

Meinong membagi keberadaan dan ketiadaan yang sebenarnya bisa saja ada, dan membuka ruang ontologis bagi pemikiran yang lebih berkeadilan dan luas dibanding filsuf pada umumnya.

Sejalan dengan teori objek Meinong di atas, seharusnya apa yang kita sebut "teori" sebagai entitas yang berawal dari ranah konseptual mestinya mengakomodasi apa yang disebut dengan "ada". Sebab, hal-hal yang ada di dunia realitas adalah sejak awal karena hasil dari kerja realitas akal yang abstrak, yang kemudian melahirkan teori.

Meinong sebelum kedatangannya dengan klasifikasi yang ia buat mengenai filsafat ada dan ketiadaan. Jauh sejak abad-abad lampau, telah ada istilah yang sama dari para pemikir muslim yaitu dengan istilah mumkin wujud (eksistensi dan subsistensi). Eksistensi merupakan apa-apa yang ada di dunia nyata sehari-hari seperti misalnya kursi, meja, pensil, dan sebagainya secara konkret. Subsistensi adalah ranah yang setengah ada, atau hal abstrak yang ada hanya di pikiran namun tak ada bentuk konkritnya, contoh rumus-rumus atau angka-angka matematika yang hanya ada di ruang konseptual kita tapi tidak ada di dunia nyata. Sepuluh jari tangan kita, tidak memiliki hubungan langsung dengan angka sepuluh yang kita ciptakan di dalam pikiran.

Mustahil wujud (absistensi) yaitu apa-apa saja yang mustahil ada, misal pensil yang kedua sisinya tidak memiliki pangkal ujungnya, atau segitiga berbentuk bulat, atau piramid berbentuk bola, dan lain-lain.

Namun ada satu eksistensi yang berbeda dari jenis teori objek yang disebut Meinong  yaitu “niscaya wujud. Niscaya wujud diandaikan adalah entitas yang menjadi sebab bagi segala akibat di alam ini.

Dalam klasifikasi Meinong tadi, niscaya wujud tidak bisa diletakkan di level eksistensi, subsistensi, dan atau apalagi absistensi. Itu karena niscaya wujud meliputi ketiga klasifikasi yang dibuat Meinong. Seperti jika kita andaikan pada segelas teh manis; air sebagai eksistensi, teh sebagai subsistensi, dan gula diwakili sebagai absistensi.

Jika tanpa air, teh dan gula tidak bisa larut, jika tanpa teh maka air dan gula tidak bisa menjadi berwarna sebagaimana teh manis yang kita kenal, kemudian jika tanpa gula maka tiada pernah ada rasa manis. Niscaya wujud tercampur hingga tiada bisa dibedakan lagi dan tiada tempat ia tak hadir di dalamnya.

Konsep Meinong ini sudah dipikirkan jauh lebih awal oleh para filsuf muslim seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Isyraq Suhrawardi, Mulla Sadra, dan pemikir muslim lainnya.

Apakah ada yang disebut ketiadaan dan ada itu sendiri? Apa bukti bahwa ada sesuatu di luar eksistensi? Jawabannya ialah, visi. Visi artinya gambaran masa depan atau bahkan hal-hal abstrak yang tidak (belum saatnya) ada bentuknya secara konkrit. Visi merupakan contoh nyata bahwa mumkin wujud itu ada meski dia di awal masih setengah ada atau hanya ada di dalam pikiran (akan ada).

 

*****

                                                            fastcompany.com

Kepercayaan adalah komponen terpenting dalam keberlangsungan interaksi sosial (Seligman, 1997; 13). Kepercayaan turut menjadi salah satu faktor terpenting dalam tercapainya tujuan dari perencanaan kebijakan, khususnya implementasi kebijakan selama pandemi COVID-19. Permasalahan kompleks dan dinamis yang diakibatkan oleh pandemi serta berbagai bentuk perkembangan terbaru dampak pandemi, mengharuskan pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang adaptif dan mampu diterima masyarakat secara umum. Pemerintah menggunakan berbagai kebijakan untuk menangani COVID-19, namun menuai reaksi negatif dari publik. Inkonsistensi koordinasi antar lembaga pemerintahan dalam penanganan COVID-19 telah menghasilkan reaksi negatif publik terhadap kinerja pemerintah. Kebingungan publik muncul sebagai respon ketidakjelasan strategi pemerintah dalam mencegah penyebaran virus yang cenderung diskriminatif.

Pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi penyebaran virus COVID-19 sejak pertama kali mengkonfirmasi kasus COVID-19 pada 2 Maret 2020. Namun demikian, pemerintah cenderung merespon kasus virus COVID-19 dengan pernyataan yang belum didukung oleh data ilmiah. Pernyataan tersebut antara lain: “kebalnya orang Indonesia karena senang makan nasi kucing”; “efektivitas kalung anti-virus COVID-19”; atau “himbauan untuk tetap tenang dan berdoa”.

Kebijakan penekanan penularan COVID-19 melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tercantum pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020. Kemudian diikuti pemerintah kabupaten atau kota yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diberlakukan di beberapa daerah di Indonesia dan diikuti aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro yang berlaku dari desa, kelurahan hingga Rukun Tetangga dan Rukun Warga. Namun pada pelaksanaannya, terdapat beberapa pejabat publik yang tidak mampu menunjukan komunikasi publik yang baik untuk meyakinkan masyarakat dalam penanganan pandemi.

Korupsi dana bantuan COVID-19 memperburuk citra penanganan COVID-19 dan turut meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemerintahan. Kasus korupsi dana bantuan sosial untuk pandemi COVID-19 yang menjerat Menteri Sosial, Juliari Batubara, diduga telah merugikan uang negara sebanyak Rp 17 miliar. Di Sumatera Utara, Sekretaris Daerah Samosir dan Plt Kepala Dinas Perhubungan, diduga korupsi dana bantuan makanan. Di tingkat desa, sekelompok aparat desa di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengorganisasi lima belas warga untuk menyelewengkan dana bantuan dengan membuat data penerima palsu. Di Bandung Barat, kasus korupsi menjerat bupati yang melibatkan keluarga serta pihak swasta, yang merugikan negara sekitar Rp 4,7 miliar.

Terbaru, kebijakan larangan mudik turut menjadi kontroversi di Indonesia. Publik menganggap aturan pelarangan mudik cenderung diskriminatif. Masyarakat mengkritik larangan mudik yang tidak diikuti dengan penutupan tempat-tempat wisata dan arus kedatangan warga asing dari luar negeri. Sama halnya dengan aturan mudik pada tahun sebelumnya, pemerintah tidak mampu mengatur lonjakan arus mudik. Masyarakat pun enggan untuk diatur dan melontarkan berbagai argumen akan pentingnya mudik bagi mereka. Harus diakui, larangan mudik di Indonesia akan sangat sulit untuk dilaksanakan karena adanya faktor kultural yang melekat kuat di masyarakat. Akibatnya, pihak kepolisian terlihat kewalahan dalam mengantisipasi lonjakan arus mudik dan berbagai pelanggaran aturan di berbagai daerah.

Paradoks Kepercayaan dan Ketidakpercayaan Publik

Piotr Sztompka dalam Tulisan ini menganalisis teori kepercayaan sosial karyanya Trust, Distrust, and Paradox of Democracy (1997) dan Trust: A Sociological Theory (2000), Sztompka menjelaskan ukuran kepercayaan yang diberikan masyarakat terhadap sesama dan institusi bergantung pada tiga dimensi. Tiga dimensi tersebut adalah pencerminan kepercayaan yang didasarkan pada rasionalitas baik dan buruk, dasar kepercayaan yang dihasilkan oleh proses dan hasil sosialisasi, dan budaya kepercayaan yang didasarkan pada pengalaman sejarah dan tradisi kepercayaan (Sztompka, 1997; 3). 

Pada dimensi pertama, Sztompka menggunakan dasar jika manusia adalah makhluk rasional yang menggunakan rasionalitasnya sebagai dasar kalkulasi untuk mengambil keputusan (Sztompka, 1997; 7). Landasan umum dan penting untuk kepercayaan adalah tingkat kepercayaan dari target yang kita percaya akan turut memberikan kepercayaan atau tidak (Sztompka, 2000; 71). Tindakan tersebut turut melibatkan instrumen kepercayaan terhadap orang lain atau institusi, di mana munculnya kepercayaan didasarkan pada kualitas dari siapa yang dipercaya. Kualitas tersebut antara lain reputasi, performa, dan penampilan. Hal tersebut turut didukung pada pernyataan di mana tema dominan dalam teori kepercayaan kontemporer adalah mengungkap logika yang kompleks yang terlibat dalam perkiraan rasional yang terjadi. Masyarakat memiliki kecenderungan menggunakan rasionalitasnya sebagai dasar kalkulasi untuk mengambil keputusan. Konstruksi kepercayaan publik terbentuk berdasarkan berbagai keputusan yang diambil dan perilaku yang dicerminkan para pejabat selama penanganan COVID-19.   

Dimensi kedua adalah dasar kepercayaan yang dihasilkan oleh proses dan hasil sosialisasi.  Penjelasan mengenai dasar kepercayaan dapat ditemukan pada sisi psikologis individu. kepercayaan dibentuk oleh sosialisasi primer yang dilakukan oleh keluarga dan sosialisasi sekunder, yang berkaitan dengan pengalaman dan interaksi dengan pihak lain di luar keluarga (Sztompka, 2000; 65). Dengan kata lain, dasar kepercayaan merupakan bentuk modal personal yang kita akumulasi. Dasar kepercayaan yang dimiliki oleh seorang individu merupakan faktor terpenting dalam mempengaruhi perhitungan kepercayaan yang dilandaskan oleh rasionalitas. Kepercayaan dalam dimensi kedua dianggap bukan hanya sekedar sikap, namun meliputi orientasi khas, dimiliki oleh individu atau institusi, diobjektifkan secara sosial dimana hal-hal tersebut memberikan dorongan dan kendala pada setiap individu (Sztompka, 1997; 8). Dalam pengertian ini, kepercayaan menjadi ciri dasar kolektivitas manusia, sebagai modal yang dikumpulkan dimana individu menerapkan tindakan mereka. Lebih jauh, dasar kepercayaan bukanlah sekedar fakta psikologis individu, namun lebih kepada sebuah pembentukan “fakta sosial” budaya (Durkheim, 1895: 50).

Dasar kepercayaan sebagai hasil sosialisasi primer dan sekunder dapat dijadikan dasar bagaimana individu membentuk kepercayaan akan sesama individu maupun institusi. Dalam pengelolaan kebijakan, tidak adil jika kita hanya membahas dimensi pelaksanaan yang dilakukan oleh pemerintah. Namun, bagaimana kemampuan masyarakat dalam mempercayai dan mematuhi aturan juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan kebijakan. Ketidakpatuhan atau pengabaian akan protokol kesehatan dan meningkatnya kasus COVID-19 dipengaruhi oleh ketidakpercayaan terhadap bahaya COVID-19 itu sendiri. 

Kekeliruan yang disebabkan minimnya pengetahuan dan sikap acuh diakibatkan oleh bentuk sosialisasi yang membentuk struktur psikologis individu. Pemahaman mengenai penyebaran pandemi melalui pelarangan mudik menjadi masalah utama akibat adanya faktor budaya yang melekat erat di masyarakat. Pun, berbagai narasi seperti orang Indonesia telah berpengalaman menghadapi pandemi, COVID-19 hanya penyakit flu biasa, kebalnya orang Indonesia karena senang makan nasi kucing, mitos kalung anti-virus COVID-19 dari pohon minyak kayu putih yang mampu melawan virus, hingga himbauan untuk tetap tenang dan berdoa adalah contoh-contoh bagaimana dasar kepercayaan masyarakat Indonesia menjadi penghalang pencegahan penyebaran COVID-19. 

Meminjam istilah fakta sosial Durkheim, masyarakat Indonesia dapat dikategorikan sebagai golongan yang sangat mempercayai mitos atau hal-hal yang bersifat transenden daripada mempercayai fakta ilmiah. Kegagalan penanganan COVID-19 di Indonesia bukan hanya sekedar tanggung jawab pemerintah sebagai perumus kebijakan, namun juga menjadi tanggung jawab individu-individu yang cenderung memiliki dasar kepercayaan yang bersifat transenden.

Dimensi ketiga dalam penciptaan kepercayaan dan ketidakpercayaan adalah budaya kepercayaan. Berbeda dengan dimensi pertama dan kedua, budaya kepercayaan bukan hanya dijelaskan sebagai kalkulasi rasional kepercayaan maupun dasar psikologis kepercayaan individu. Lebih jauh, budaya kepercayaan merupakan sumber daya sosial yang digunakan sebagai pertaruhan atas tindakan kontingen yang lain (Sztompka, 1997; 9). Dengan kata lain, semakin besar kepercayaan terhadap individu lain atau institusi, maka semakin banyak konsekuensi yang akan diterima. Terbentuknya budaya kepercayaan tergantung pada kekuatan ekspektasi positif yang dimiliki individu maupun masyarakat.

Masyarakat cenderung percaya pada instrumen efisiensi (kompetensi, rasionalitas dan efektivitas). Institusi mampu melaksanakan kebijakan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan oleh publik.  Hal tersebut dapat diamati pada tingkat kepercayaan, seperti percaya jika pemerintah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan keadilan, dan kesetaraan kesempatan. Budaya kepercayaan turut menyumbang pembentukan solidaritas, partisipasi dengan orang lain dalam berbagai bentuk asosiasi, dan memperkaya atau memperluas jaringan interaksi. Budaya kepercayaan meningkatkan “kepadatan moral” menurut Emile Durkheim (Cladis 1992: 196). Apabila keberhasilan pelaksanaan keadilan, kesetaraan, kesempatan yang seimbang, dan perlindungan hak asasi manusia bertemu dengan ekspektasi masyarakat, maka hal-hal tersebut akan meningkatkan budaya kepercayaan. Sebaliknya, apabila inkonsistensi, ambiguitas, atau penyelewengan wewenang lebih dominan, maka ketidakpercayaan publik akan cenderung terbentuk.

Berdasarkan dimensi kepercayaan, masyarakat memiliki harapan dan kepercayaan dalam memberikan jaminan sosial ekonomi untuk menanggulangi dampak pandemi. Maraknya kasus korupsi dana bantuan sosial untuk pandemi COVID-19 di baik di tingkat nasional, kabupaten, hingga desa, cenderung memberikan konsekuensi negatif yang diterima oleh publik dan meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Penyalahgunaan wewenang terhadap kebijakan bantuan sosial yang diharapkan mampu memperbaiki dampak pandemi turut menyumbang tidak tercapainya partisipasi masyarakat dalam penanganan penyebaran COVID-19.

Ketidakpercayaan publik yang disebabkan oleh rendahnya dasar kepercayaan publik terhadap bahaya beserta aturan penanganan COVID-19 turut diperparah oleh komunikasi pejabat publik yang tidak mampu memberikan contoh dalam mematuhi kebijakan yang dibuatnya. Kecenderungan masyarakat dan beberapa pejabat publik yang lebih percaya akan hal yang bersifat transenden maupun kultural turut menjadi salah satu faktor penghambat dalam penurunan kasus COVID-19 di Indonesia. Terlebih, kasus korupsi dana bantuan sosial turut melegitimasi lemahnya kapasitas pejabat publik dalam menangani dampak pandemi. Oleh karena itu, untuk membentuk kepercayaan publik, pemerintah sebagai pemangku kebijakan diharuskan untuk mampu mengelola ketidakpercayaan publik. Masyarakat pun diharuskan untuk meningkatkan dasar kepercayaan dalam menanggapi bahaya COVID-19 dan mematuhi aturan yang dibentuk demi tercapainya tujuan penurunan penyebaran virus di Indonesia.


*****

 

Referensi;

Cladis, M.S. 1992. A Communitarian Defense of Liberalism: Emile Durkheim and Contemporary Social Theory. Stanford: Stanford University Press.

Durkheim, Emile. 1982. The Rules of Sociological Method Translated by W.D. Halls. New York: The Free Press.

Seligman, A. 1997. The Problem of Trust. Princeton: Princeton University Press.

Sztompka, Peter. 1997. Trust, Distrust, and Paradox of Democracy. Berlin: WZB.

Sztompka, Peter. 2000. Trust: A Sociological Theory. Cambridge: Cambridge University Press.