Kritik Sastra atas Cerpen ‘Kita Tak Pernah Sampai’

Kumpulan Cerita ‘Perempuan Tanpa Nama’


I Gede Sarjana Putra

Wartawan Fajar Bali

 

Pernah saya membayangkan, sehabis panen raya, petani Bali di suatu subak berlibur ke suatu tempat dalam dua atau tiga hari, menikmati liburan, menikmati diri bersama keluarga, refreshing. Melupakan sejenak pematang sawah, melupakan traktor, bibit, harga pupuk, melupakan kapan harus menanam dan tetek bengek urusan sawah atau tegalan. Pokoknya refreshing dan sekembalinya dari liburan kembali bercocok tanam dengan hati senang, karena badan dan hati sudah fresh, segar. Lalu kembali ke tanah yang member mereka kehidupan tanpa rasa khawatir, harga pupuk, harga, produksi pertanian bakal laku tanpa takut busuk di tangkai.

 

Lalu disusul petani lainnya, di wilayah tertentu menikmati liburan ke suatu tempat, paling tidak liburan di wilayah Indonesia, yang kaya pemandangan alam dan keramah-tamahannya sehingga roda perekonomian berputar skala lokal, domestik Indonesia. Pariwisata untuk petani dan hasil petani untuk pariwisata. Bahwa mereka, petani nelayan juga menikmati duduk santai dan mendapat pelayanan seperti tamu asing di tempat wisata.

 

Jauh sebelumnya di TVRI, sepuluh tahunan yang lalu, entah siapa nama ahli pertaniannya, mengingatkan tentang keinginan saya. Yang masih jelas dalam ingatan, ‘Setidaknya dengan 40 are lahan pertanian, bila dikelola dengan baik, maka ‘paling tidak’, sekali dalam dua tahun, petani bisa menikmati liburan’ di wilayah Indonesia, bahkan Singapura. Namun sayang, ungkapan ahli pertanian itu tidak kunjung terjadi, setidaknya dengan harapan liburan sama senangnya seperti bule-bule ke Pantai Kuta, sambil menikmati makan enak, dilayani barang sehari, berjalan di trotoar tanpa rasa takut, lalu berbelanja di pusat oleh-oleh buat keluarga tidak kunjung terjadi. Bukankah petani juga manusia, butuh liburan.

 

Membaca Kumpulan Cerita Kadek Sonia Piscayanti, Perempuan Tanpa Nama, pada judul ‘Kita tak Pernah Sampai’ saya melihat persoalan serupa. Bahwa liburan adalah hal yang mustahil bagi kaum buruh, petani atau kalangan bawah pada zaman itu. Liburan bagi anak-anak saat itu hanya dari desa itu ke kota. Menyinggahi supermarket dan toko-toko terkenal lainnya. Maka timbul pertanyaan saya, berapa kalikah orang Bali dalam hidupnya berlibur, liburan? Pertanyaan ini terbenam di benak saya sejak dulu. Pertanyaan ini masih terdengar sampai penghujung Tahun 1990-an. Dan di sebuah kantor pariwisata, PHRI Denpasar saya mendapat jawabannya. ‘Paling tidak orang Bali berlibur dua kali dalam hidupnya. Liburan pertama saat dirinya tamasya sekolah dasar dan selanjutnya saat mengantar putra-putrinya berlibur’. Tentu pernyataan ini sudah tidak berlaku lagi saat ini, dan sudah jamak orang Bali berlibur diselingi tirta yatra atau memang berlibur untuk refreshing sebutlah mulai Tahun 2000-an. Berapa warga Bali yang menikmati liburan yang sesungguhnya?

 

Bali sudah dikenal sejak Tahun 1595 tepatnya 27 Januari 1959, yang menjadikan Kuta menjadi tujuan wisata sebelum Bali dikenal dunia Barat (Jacob Kackerlack, Bali Tempo Doeloe, 7). Namun dalam naskah tersebut, tidak digambarkan seperti apa suasana Pantai Kuta, kecuali Pulau Bali yang disebut Belanda kecil, makmur, banyak celeng, unggas, telur, limau dan buah lainnya.

 

Dalam Cerpen, penulis cerita dapat menggambarkan bagaimana sebagian dari masyarakat Bali kalangan bawah, buruh, memaknai berlibur sebagai hal yang menakutkan. Barangkali bila merunut cerita tersebut, peristiwa ini terjadi di Tahun 1982-an. Digambarkan dengan jelas, bagaimana suasana angkutan umum saat itu, yang seolah tidak manusiawi, sehingga tidak memungkinkan berlibur dengan angkutan umum.

 

… Kami, dia dan mereka seolah-olah membawa semua, yang bisa dibawa, dus, keranjang, karung dan koper rombeng yang bertumpuk di bagasi hingga penuh dan terpaksa sebagian ditumpuk di bawah kaki penumpang. Sebagian diikat di atas izusu sebagian dijejalkan sekenanya diantara penumpang yang telah berdesakan tanpa jeda seincipun. Semua bawaan itu, seolah menampung segala masa lalu, masa sedih, masa suram dari para penumpang tak bernama. Seolah semua masa lalu telah terbungkus, menuju tempat baru yang menjanjikan masa-masa yang segar dan cemerlang.

 

Membaca alinea tersebut, tergambar jelas bagaimana suasana angkutan umum di Bali saat itu, yang mungkin tidak pernah dirasakan generasi mileneal saat ini. Di era Tahun 1980-an sampat Tahun 1990-an, suasana angkutan umum di Bali semuanya seperti itu, sesak, pengap dan supir adalah penguasa. Tergambar dengan jelas, bahwa kelas bawah, tidak bisa menikmati angkutan mewah dengan travel atau rent car.

 

Selanjutnya, bagaimana penulis menggambarkan liburan bagi siswa saat kenaikan kelas. Bagi kalangan bawah juga, liburan atau berwisata maka akan dipaksakan bahwa berkunjung ke Kota Denpasar adalah berwisata yang cukup mewah.

 

…..setiap akhir kenaikan kelas dan libur panjang, aku dipaksa ikut ke balik bukit (Bali Selatan, Denpasar). Berlibur disana, yang sebenarnya bukanlah sebuah liburan, namun sebuah paksaan yang selalu diawali dengan mengemas pakaian. Inilah liburan yang menyenangkan bagi bapak. Tidak bagi kami. Meskipun  sesunguhnya liburan ini dibuat untuk kami. Gila. Aku tak suka.,

 

Bagaimana orang Bali memberi penilaian terhadap berwisata/berlibur. Bagi sebagian masyarakat, berwisata adalah suatu hal yang mahal dan menghambur-hamburkan uang. Atau memang tradisi berlibur tidak dimiliki orang Bali, sampai pada Tahun 2000-an. Disisi lain, berlibur bagi orang Bali (kala itu) adalah kemewahan. Sehingga bagi masyarakat kalangan bawah, berwisata adalah suatu kemewahan, bukan kebutuhan. Seperti pada kalimat dalam cerita,

 

Air terjun Gitgit sangat terkenal, aku tak bermimpi kesana, katanya mahal. Melintasi kawasan wisata Gitgit, mobil-mobil pariwisata parkir di depan. Juga mobil mewah lainnya. Musim libur, dimana-mana penuh, juga izusu ini, meskipun liburan kami para penumpang ini, bukan liburan seperti mereka. Kami bukan berlibur, tapi memindahkan duka dari satu tempat ke tempat yang lain. Duka?

 

Dalam kalimat lain selanjutnya, bagaimana penulis menggambarkan wilayah Bukit Wanagiri, Buleleng yang dipenuhi monyet. Hanya penulis tidak menggambarkan bagaimana suasana bukit tersebut terlihat danau, pohon cemara dan keindahan lainnya. Walau demikian, digambarkan bagaimana  keadaan orang berwisata saat itu termasuk perilaku terhadap monyet-monyet disana.

 

Puncak bukit memesona bagi wisatawan, tidak bagiku. Monyet-monyet kelaparan, selalu menjadi ironi bagiku. Mereka menjadi tontonan, saat mereka terancam kematian.

 

Penulis menyampaikan kritik yang jelas dan tegas terhadap kondisi Danau Beratan. Bahwa sejak Tahun 1980-an, atau sebelumnya kondisi di sepanjang Beratan sudah tercemar, baik oleh pedagang dan sampah di sisi kiri dan kanan jalan.

 

Terseok-seok, akhirnya kami tiba di depan danau. Danau yang dulu sangat sakral. Kini berbeda, danau itu telah dikurung oleh pedagang bakso dan strawberry. Danau telah tercemar, danau telah berubah menjadi kolam renang yang besar. Danau telah kalah, danau telah habis.

 

Lalu, benarkah anak desa, anak kampung yang datang ke kota sebagai liburan, hiburan. Penulis menegaskan bahwa Kota Denpasar saat ini (Badung), bahwa Kota Denpasar adalah kota yang tidak ramah. ‘Jadi bagiku, bagi kami, liburan ini bukan liburan, tapi lebih pada menemani bapak menghadapi keangkuhan kota ini.’ Sebelum mengakhiri cerita dengan liburan yang tidak lebih dari siksaan, penulis menggambarkan bagaimana liburan dimaknai masih sederhana, sebagaimana anak-anak desa yang liburan (melali, Bali) ke kota besar.

 

Kenapa kita selalu menempuh perjalanan yang sama, terus dilakukan lagi, tanyaku pada bapak. Bapak menjawab, sebuah perjalanan, meski tujuannya sama, perjalanannya pasti berbeda. Sekarang kamu mengeluh, suatu saat kamu akan tahu tak ada perjalanan yang sia-sia. Kota ini ditempuh dengan perjuangan dan akan menghasilkan sesuatu, minimal sebuah cerita.

 

Cerita ditutup bahwa generasi milenial sudah menikmati kemudahan dalam berbagai hal, juga tidak menghayati sebuah perjalanan dalam menikmati liburan. Ada yang mungkin terlupakan oleh penulis, yang mana saat liburan di masa anak-anaknya tentu mengenal yang namanya Pesta Kesenian Bali (PKB). Hampir setiap tamasya anak sekolah dasar asal Buleleng, tamasyanya ke Taman Budaya, Denpasar, lalu mungkin dilanjutkan ke Taman Ayun, Mengwi dan ke Sangeh. PKB juga bertepatan dengan liburan siswa sekolah. Bahkan dalam 20 kali ke Denpasar, tanpa satu kalimatpun berbicara PKB ataupun Pantai Sanur. Bilapun tidak berkunjung ke PKB, paling tidak ada dalam narasi, keinginan menonton salah satu pertunjukan di Art Center.

 

Lalu dalam benak saya, kembali kepada tulisan di awal, bisakah pariwisata (kita) ramah terhadap pemilik pariwisatanya. Selain ramah, apakah memungkinkan mendorong lebih banyak lagi agar kalangan petani dan pekerja kelas bawah menikmati yang namanya berwisata? Hal ini menjadi pemikiran saya berulang. Sedangkan ketika saya bertanya kepada guide yang menurunkan wisatawan dari bus, menyebutkan wisatawan yang menikmati Kertagosa, Klungkung adalah tukang kebun dari negeri Sakura. Yang berlibur adalah rombongan petani dari salah satu Negara di Eropa.

 

Paradigma yang masih dihadapi dalam memajukan pariwisata selalu berkutat pada kuantitas. Selalu disuguhkan jumlah kunjungan wisatawan, dan jumlah penerbangan yang turun di Bandara Ngurah Rai. Pariwisata yang selalu berhubungan dengan dunia luar, sangat mudah terkena guncangan. Satu wisatawan Jepang mengalami diare di Bali maka kunjungan wisata ke Bali anjlok, dan seterusnya. Mari Elka Pangestu, sewaktu menjabat Menteri Pariwisata disaat talkshow di Kantor PHRI, meminta kepada Gubernur Bali, Made Mangku Pastika kala itu agar pariwisata Bali diarahkan ke kualitas. Bahwa dengan mengundang satu Julia Robert akan setara dengan 200 wisatawan gembel, miskin dan seringkali membuat rusuh.

 

Di Tahun 2019, Kasatpol PP Gianyar menyebutkan setiap bulannya, setidaknya Satpol PP menangkap bule yang depresi di wilayah Gianyar. Depresi ini bahasa yang diperhalus, yang sesungguhnya adalah wisatawan miskin, gember dan kehabisan uang. Dan di destinasi wisata lain juga mengahdapi persoalan serupa, akibat mengedepankan kuantitas. Lalu, kapankah pernyataan Mari Elka Pangestu yang 10 tahun lalu terwujud? 

 

Sebagai jalan tengah, bisakan pariwisata juga untuk kita masyarakat Bali. Yang selalu mendapatkan tugas menjaga menggawangi adat, budaya dan alam Bali, tanpa pernah menikmati apa yang mereka perbuat untuk budayanya. Apa yang saya bayangkan, jauh dari kenyataan. Saat ini, bagi petani dan kalangan buruh, jangankan sisa dana untuk liburan, gaji sebulan atau hasil panen yang akan diterima sudah ada menunggu. Hutang. Lalu berkutat pada persoalan yang sama, harga bibit mahal, membajak dan menunggu air irigasi yang hulunya sudah mulai mengering dan hasil panen yang tidak menentu.

 

Lalu dengan cara apa, mengajak petani kita, kaum buruh dan nelayan untuk menikmati liburan. Tentu salah satunya dengan memberi mereka jaminan, bahwa harga bibit yang nanti mereka beli masih murah, dan hasil panen mereka dijamin ada harganya. Sehingga apa yang dikatakan ahli pertanian, puluhan tahun silam itu terbukti bahwa dengan 40 are, bila dikelola dengan baik, setidaknya dua tahun sekali sempat berwisata, wisata yang sesungguhnya. Dan ketika turun dari bus, dengan bangga juga guide berkata, bahwa yang berwisata adalah petani dari subak A, nelayan dari pantai anu.

 

‘Kita Tak Pernah Sampai’, dan memang tidak pernah sampai. Sebelum akhir tahun nanti, kita tetap disuguhi angka-angka jumlah kunjungan wisatawan. Dan lupa bertanya, apakah liburannya menyenangkan, apakah sudah sampai, seperti pada cerita tersebut. Bukankan dengan berlibur itu, mereka petani bisa saling berbagi informasi dan saling berpacu untuk membuat semuanya lebih baik. Bila sesama petani memajukan wilayahnya, menata wilayahnya, maka mau tidak mau wisatawan asingpun datang, tentunya dengan pilihan kualitas. apakah dengan cara ini, kita bisa sampai? Walau tidak, setidaknya pernah mencoba.

 

*****

[Pic: pinterest.com]

Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana

 

Sadie Plant secara tegas menolak humanisme, baginya humanisme adalah otoritarian(isme) maskulin, dan Pencerahan Eropa dianggapnya sebagai proyek laki-laki. Terkait hal ini, seluruh tokoh filsafat rasionalisme dan empirisme yang lahir di masa Pencerahan memanglah laki-laki. Di kubu rasionalisme ada nama-nama seperti Rene Descartes, Baruch de Spinoza, Gottfried W. Leibniz, dan Blaise Pascal, sementara di kubu empirisme ada nama-nama seperti Thomas Hobbes, John Locke, George Berkeley, serta David Hume.

 

Bias maskulinitas di masa Pencerahan juga bisa ditilik lewat pendefinisian awal istilah “individu”. Individu didefinisikan sebagai manusia yang mampu memikul tanggung jawab sektor publik, dan itu adalah laki-laki. Dengan kata lain, istilah individu sekadar mengacu pada sosok laki-laki, bukan perempuan. Implikasi dari Pencerahan Eropa dan humanisme yang bias laki-laki adalah perempuan yang terkungkung dalam peradaban modern laki-laki, mengingat modernitas lahir dari rahim Pencerahan Eropa.

 

Merespons hal di atas, Plant menganggap jika komputer dan teknologi informasi, terutama internet, sebagai sarana yang bisa membebaskan perempuan. Pertama-tama, ia membangun argumen jika sosok perempuan lah yang paling berjasa di awal perkembangan kedua teknologi ini, bahkan ia mengatakan jika komputer dan teknologi informasi mencerminkan sifat perempuan. Plant menjelaskan bahwa tulisan tangan adalah representasi maskulin, sedangkan tulisan ketik adalah representasi feminin karena mengandalkan “sentuhan rasa”—barangkali ini menjelaskan mengapa dahulu seluruh sekretaris atau juru ketik adalah perempuan.

 

Kedua, Plant menyatakan jika sebagian besar yang bekerja di bidang teknologi ini—komputer dan informasi—awalnya adalah perempuan; sebagai operator telegram, operator telpon, dan operator komputer misalnya. Ketiga, internet jauh berbeda dari sistem patriarki di mana tak ada kontrol secara menyeluruh, tak ada ada pusat, atau struktur komando sebagaimana ditemui dalam sistem patriarki. Dalam kondisi seperti ini, kekuasaan gender pun dapat ditantang dan ditentang karena memungkinkan hadirnya “pikiran tanpa tubuh”. Kondisi “pikiran tanpa tubuh” ini pulalah yang memungkinkan perempuan membebaskan diri dari tubuh biologis, bahkan bebas mengonstruksi tubuh berikut identitasnya.

 

Lebih jauh, era internet yang “diagungkan” Plant sebetulnya adalah era yang memang telah melampaui modernitas, hal ini sebagaimana diutarakan Anthony Giddens tentang definisi posmodenitas sebagai era di mana produksi informasi jauh lebih masif ketimbang produksi manufaktur (benda).

 

Di sisi lain, beberapa pemikiran Plant pun turut menemui persinggungan dengan beberapa pemikiran Julia Kristeva. Baik Plant maupun Kristeva sepakat jika nilai-nilai keperempuanan seperti kasih sayang, cinta, dan kelembutan bukanlah hal yang tabu dan tidak perlu—bahkan tidak bisa—dipertentangkan dengan maskulinitas. Di samping itu, kebebasan perempuan di dunia internet ala Plant sedikit-banyak dapat pula merepresentasi kebebasan perempuan untuk bergerak di antara kekacauan dan keteraturan, atau di antara masa pra-Oedipal dengan masa Oedipal sebagaimana dinyatakan Kristeva.

 

*****

 

 

[pinterest.com]

Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana

 

Robert Pepperell dalam The Posthuman Condition (1995) menyajikan berbagai fakta bahwa saat ini teknologi telah menyamai bahkan melampaui manusia. Ia memisalkannya lewat hal sepele dari “kreativitas yang diotomatiskan”, yakni bagaimana aplikasi teknologi telah menjadi lebih dominan dalam proses kreatif manusia dibandingkan proses kreatif murni manusia itu sendiri; hingga hal yang begitu vital seperti fenomena “prostetik”, yakni penanaman teknologi canggih dalam tubuh manusia untuk menjaga kelangsungan hidup; alat pacu jantung atau jantung buatan contohnya.

 

Bersamaan dengan itu, beragam instrumen teknologi pun seakan tak bisa dipisahkan dari keseharian manusia. Dalam kondisi yang demikian fenomenologi seolah telah usang, karena manusia tak lagi mengandalkan inderawinya semata dalam merespons, menghadapi, dan memahami dunia, melainkan telah sedemikian rupa bergantung pada instrumen, bahkan ini dapat dimisalkan secara mudah lewat seseorang yang menggunakan kacamata.

 

Fenomenologi sebagai salah satu tradisi hermeunetik klasik, berfokus pada pengalaman eksistensial tubuh, semisal bagaimana Jean Paul Sartre dalam novel Le Nausee yang sangat fenomenologis mengatakan jika kulit pohon yang dilihatnya seperti kulit monster, atau kursi trem yang didudukinya seperti perut lembu yang telah membangkai.

 

Sementara, posfenomenologi, sebagaimana diutarakan Don Ihde, berfokus pada penalaran relasi manusia dengan teknologi dalam konteks bagaimana cara manusia mengada dan menghadapi dunia. Dengan demikian dalam hal ini, manusia selalu diperantarai instrumen teknologi dalam memahami dunia. Menurut Ihde, hal tersebut melahirkan empat bentuk relasi, yaitu relasi kemenubuhan, relasi hermeunetis, relasi alteritas, serta relasi latar belakang.

 

Relasi kemenubuhan berkaitan erat dengan berbagai instrumen teknologi yang menjadi  kepanjangan organ manusia. Semisal bagaiamana kacamata, teleskop, mikroskop menjadi kepanjangan mata; stetoskop, headphone menjadi kepanjangan telinga; mic, pengeras suara menjadi kepanjangan mulut, atau sekop, remote TV menjadi kepanjangan tangan.

 

Relasi hermeunetis berkenaan dengan upaya manusia memahami dunia melalui instrumen teknologi yang kemudian tertafsirkan menjadi simbol, angka, atau teks. Semisal penggunaan termometer atau timbangan badan yang membuat kita mengetahui suhu atau berat badan lewat angka-angka yang ditunjukkan instrumen itu; penggunaan alat tes kehamilan yang hasilnya dapat dilihat lewat simbol garis; atau tes-tes kesehatan yang membuat kita memahami kondisi tubuh lewat teks positif ataukah negatif.

 

Relasi alteritas berkaitan dengan perkembangan teknologi yang membuat jarak atau pembeda dibandingkan inovasi teknologi sebelumnya. Semisal penemuan mobil membuat jarak dengan teknologi transportasi zaman dahulu berupa grobak; atau penemuan komputer yang menjadi pembeda dibandingkan mesin ketik di era terdahulu.

 

Adapun relasi latar belakang berkenaan dengan teknologi yang seringkali tak disadari membentuk kehidupan dunia sosial kita. Sebagai misal gawai pintar yang mengubah perilaku manusia, teknologi ekonomi-informasi yang menyebabkan kita sarat meredefinisi pengertian pasar dan aktivitas jual-beli, atau bisa juga terknologi televirtual conference yang menyebabkan mungkinnya aktivitas belajar-mengajar jarak jauh.

 

Ihde sekali lagi menegaskan betapa teknologi telah menyamai bahkan melampaui manusia melalui misal bagaimana intrumen teknologi mampu mengubah persepsi manusia secara global. Teleskop Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei mengubah persepsi masyarakat bahwa bumi tidaklah datar melainkan bulat, serta bagaimana bumi sesungguhnya mengelilingi matahari (heliosentris), bukan sebaliknya—contoh terbaru adalah mulai beroperasinya teleskop James Webb milik NASA yang menghasilkan citra-citra luar angkasa menakjubkan dibandingkan teleskop-teleskop sebelumnya.

 

Hasil pencitraan teknologi di atas diistilahkan Ihde sebagai “realisme instrumental”, dan ketika realisme instrumental ini mengglobal, ia menjadi “plurikulturalitas”, yakni budaya yang dihasilkan dari citra instrumen teknologi. Sebagai misal, teleskop maupun teknologi yang memungkinkan kita mengetahui permukaan Mars dan dominan merahnya warna planet ini menyebabkan Hollywood membuat film The Red Planet (2000). Hal serupa juga berlaku untuk tokoh Plankton dalam film kartun SpongeBob SquarePants, hasil pencitraan teknologi mikroskop lah yang memungkinkan wujud plankton diketahui dan kemudian menjadi salah satu figur dalam budaya pop.


*****


Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana

 

“Mengapa tubuh kita harus berakhir sampai kulit?”. Itulah retorika terkenal yang dilontarkan Donna Jeanne Haraway. Bagi Haraway, tubuh cyborg adalah keniscayaan, yakni bersintesisnya organ manusia dengan mesin. Ia turut melihat ini sebagai sarana pembebasan terparipurna perempuan. Praktik cyborg menurut Haraway, sesungguhnya sudah lama dilakukan, hanya saja urung begitu disadari, semisal lewat operasi tubuh manusia dalam dunia kedokteran, serta dalam industri perang modern di mana berbagai teknologi canggih menubuh bersama para prajurit. Dengan demikian, batasan antara fiksi-ilmiah dengan kenyataan sosial sesungguhnya nyaris tak ada lagi saat ini.

 

Berbeda halnya dengan Jean Francois Lyotard yang menolak inhumanisme, Haraway justru merayakan inhumanisme. Pengaburan batas-batas antara manusia dengan mesin, di mana mesin cenderung diposisikan lebih tinggi daripada manusia; dinilai Haraway sebagai jalan pembebasan perempuan dari determinisme biologis, jebakan gender, serta doktrin-doktrin esensialisme. “Saya lebih suka menjadi cyborg ketimbang menjadi seorang dewi”, kata Haraway. “Menjadi dewi berarti hidup dalam dunia laki-laki sekaligus diobjekkan secara seksual, dengan begitu, perempuan ditawan oleh tubuh biologisnya sendiri”, lanjutnya.

 

Bagi Haraway, penanaman mesin pada tubuh manusia tak hanya memberi peluang “perakitan ulang” tubuh secara konkrit dan radikal, tetapi juga mampu merekonstruksi ulang pohon evolusi manusia yang dipopulerkan oleh Charles Robert Darwin di mana konsep spesies begitu ditekankan di dalamnya sehingga menyangatkan dikotomi antara jantan dengan betina, serta laki-laki dengan perempuan. Dengan kata lain, cyborgism pada akhirnya bakal merubuhkan kontruksi biologi yang telah mapan selama ratusan tahun, sekaligus meruntuhkan seluruh sejarah sosial dikarenakan “spesies baru” telah tercipta: cyborg.

 

“Mesin adalah kita, proses kita, aspek penubuhan kita”, demikian tegas Haraway. Keyakinan ini pun diamini oleh para poshumanis, salah satunya Robert Pepperell. Pepperell menyatakan bahwa jenis manusia baru yang jauh berbeda akan muncul di kemudian hari, manusia ini akan jauh lebih kuat secara fisik maupun psikologis; mengatasi berbagai batasan dan kekurangan manusia sebelumnya; berada di puncak tangga evolusi biologis: ia adalah cyborg.

 

Lebih jauh, penyatuan antara tubuh manusia dengan mesin dimungkinkan lewat (kondisi) trance menurut Haraway. Trance dapat dimisalkan secara mudah lewat seseorang yang tengah hanyut dalam penggunaan teknologi—entah itu komputer atau gawai—sehingga kesadaran yang terhelat pun bersifat nonreflektif. Dalam tipe kesadaran ini, batas-batas kebertubuhan antara organ dengan mesin bakal lenyap. Namun demikian, Haraway tak menampik jika cyborgism dapat terjebak dalam jejaring dominasi dan penindasan baru, yakni ketika teknologi ini dikuasai oleh kapitalisme-lanjut. Apakah technosocialism dari Brett King dan Richard Petty menjadi solusinya?

 

*****


Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana

 

Inhumanisme adalah pemikiran yang memosisikan dimensi teknologi lebih tinggi daripada kemanusiaan. Senada dengan itu, Jean Francois Lyotard mendefinisikan inhumanisme sebagai pengaburan secara sengaja batas-batas antara manusia dengan mesin, di mana mesin menjadi lebih tinggi atas manusia. Dalam The Inhuman: Reflections on Time (1991), Lyotard menyuarakan penolakannya terhadap inhumanisme. Ia berupaya mengantisipasi Artificial Intelligence (AI) bertransformasi menjadi Artificial Life (AL), yang kemudian berpotensi menantang Human Life ‘Kehidupan Manusia’ (HL).

 

Alasan penolakan Lyotard sangatlah sederhana, semakin canggih suatu teknologi, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung manusia. Sebagai misal, ketergantungan akut kita terhadap komputer, bagaimana jika sewaktu-waktu terjadi supernova dan menyebabkan listrik di seluruh dunia padam, bayangkan kekacauan yang terjadi akibat tak bisa beroperasinya komputer di seluruh dunia. Terkait hal ini, Lyotard mengingatkan betapa besarnya otonomi manusia diambilalih oleh komputer. Contoh lain yang lebih “sepele” namun cukup menghawatirkan adalah peristiwa merajalelanya sebuah virus komputer di tahun 2000 yang menyebabkan tak berfungsinya 10% server e-Mail di seluruh dunia dalam sehari dan menyebabkan kerugian milyaran dolar.

 

Lebih jauh, Lyotard turut menyoroti problem tekno-sains dalam kapitalisme-lanjut dengan mengambil misal AL berupa bayi tabung yang sama sekali tak mengetahui siapa orangtuanya. Hal ini menunjukkan bahwa tekno-sains kapitalisme-lanjut tak berurusan dengan apa yang benar, apa yang baik, atau apa yang adil, melainkan sekadar efisiensi dalam pencapaian tujuan, dan dalam kondisi ini, moralitas bisa lenyap karena yang manusiawi menjadi tak manusiawi. Ini pulalah karakter tekno-sains kapitalisme-lanjut yang dikecam Lyotard.

 

Menurut Lyotard, inovasi teknologi kapitalisme-lanjut tak pernah terpuaskan, digerakkan oleh hasrat libidinal yang begitu irasional dengan praktik yang sangat rasional instrumentalis; satu target yang telah dicapai akan segera disusul oleh target-target lainnya, hingga menuju pada hal-hal tak manusiawi; bahkan menurut Lyotard, seakan batasan dari inovasi kapitalisme-lanjut adalah ledakan matahari (baca: kiamat).

 

Ia juga mengatakan bahwa istilah “mesin yang berpikir seperti manusia” adalah mitos. Baginya, mesin tetaplah mesin dan tak bisa menjadi manusia. Mesin tak pernah bisa merespons heterogenitas atau dissensus, melainkan selalu penyeragaman. Sementara, heterogenitas dan dissensus adalah karakter utama manusia, di mana di dalamnya terdapat ketidaktetapan dan ketidakpastian. Maka, ketika heterogenitas dan dissensus lenyap, sirna pulalah kemanusiaan. Teknologi, dalam hal ini komputer sebagaimana diutarakan Lyotard, tak memiliki tanggung jawab; sekadar memiliki tugas.

 

Komputer hanya beroperasi dengan sistem kode dan biner sehingga tak menolerir kesalahan sekecil apa pun. Ini dimisalkan Lyotard dengan seseorang yang mengirim surat via pos dengan sedikit kesalahan alamat namun surat tersebut tetap sampai ke tujuan. Berbeda halnya jika tugas mengirim surat itu diserahkan kepada robot atau komputer, kesalahan sekecil apa pun dalam penulisan alamat surat, akan membuatnya tak pernah tiba di tujuan. Terkait hal ini, Lyotard menyatakan diktumnya yang terkenal: “Serahkan yang manusiawi pada manusia, dan yang tak manusiawi pada nonmanusia”.

 

Lyotard turut mengatakan jika teknologi beroperasi lewat serangkaian prosedur yang dibatasi namun berulang-ulang secara tak terbatas, ini tentu berbeda dari manusia yang bisa jenuh. Teknologi juga selalu berupaya mencapai presisi tertinggi, sedangkan pikiran manusia menolak presisi dan batasan. Hal yang lebih penting lagi adalah, teknologi tak memiliki emosi dan sensasi.

 

Serangkaian perbedaan antara teknologi dengan manusia di ataslah yang membuat Lyotard menyemooh anggapan bahwa teknologi atau mesin bisa menyerupai bahkan menyamai manusia. Baginya, jika teknologi hendak menjadi manusia, ia harus menyertakan ketidaktetapan, ketidakpastian, perbedaan, bahkan penderitaan, sebagaimana berbagai kualitas ini juga ditemui pada diri manusia. Namun, kualitas-kualitas yang demikian tentu berkontradiksi dengan tujuan tekno-sain kapitalisme lanjut yang selalu berupaya mencapai efisiensi.

 

*****


Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana

 

Ideologi teknologi menunjuk pada keyakinan bahwa berbagai persoalan teknis dapat disolusikan lewat teknologi dan perkembangannya. Hal ini sebagaimana pengertian teknologi yang berasal dari kata techne dan logos dalam bahasa Yunani Kuno, yang kemudian turut ditafsirkan ulang oleh Martin Heidegger sebagai “pengetahuan tentang cara untuk membuat atau mengubah sesuatu”. Seturut dengan itu, Heidegger menyebut keberadaan teknologi sebagai poeisis atau cara (seni) dalam mengungkap realitas. Istilah poesis di sini bertalian erat dengan enframing atau kemampuan teknologi dalam menyingkap tujuan-tujuan baru.

 

Sebagai misal, penemuan mesin uap memunculkan tujuan-tujuan baru dalam penggunannya, di samping sebagai alat produksi baru dalam berbagai industri, ia juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan transportasi, dan lain-lain. Perkembangan teknologi pun berjalan liniear dengan kemampuannya menyingkap beragam tujuan baru. Jika kita menilik fase-fase perkembangan teknologi sedari fase penggunaan otot, fase pemanfaatan binatang ternak dan elemen-elemen alam (air, api, angin), kemudian beranjak ke fase penggunaan uap serta listrik, dan terakhir di fase penggunaan nuklir; tersurat jelas implikasinya sebagai penyingkap berbagai tujuan baru—salah satu contoh termirisnya adalah penggunaan teknologi nuklir sebagai senjata perang.

 

Di sisi lain, perkembangan fase-fase di atas turut mengungkap betapa semakin canggih suatu teknologi, semakin ia sulit dimengerti dan mengasingkan sebagian besar manusia, terkecuali bagi mereka yang memang sehari-hari berkutat di dunia teknologi dan umumnya mendapati julukan sebagai “pakar”. Dari sini, teknologi yang awalnya merupakan mimiesis (baca: tiruan) anggota tubuh manusia, yang berfungsi sebagai perpanjangan kemampuan anggota tubuh, berubah semakin kompleks sehingga memunculkan problem monopoli pengetahuan. Perkembangan teknologi yang semakin kompleks dan rumit inilah yang memunculkan dikotomi teknologi dalam ranah makna dan ranah teknis sebagaimana diutarakan Dr. Karlina Supeli.

 

Ranah makna menyangkut berbagai fungsi teknologi yang “siap pakai”, atau tinggal kita gunakan dalam keseharian hidup, sementara ranah teknis menyangkut komponen-komponen penyusun teknologi yang cara kerjanya tak diketahui dan dipahami setiap orang. Makna teknologi dapat dimisalkan lewat kita yang menggunakan gawai di keseharian, namun ketika gawai itu rusak, kita tak bisa membetulkannya sendiri, tetapi harus membawanya ke teknisi gawai; di sinilah ranah teknis dari teknologi. Ironisnya, sebagaimana dicontohkan lewat penggunaan gawai di keseharian, semakin canggih suatu teknologi, semakin mampu ia menubuh bersama kita, sehingga kita menjadi bergantung akannya. Werner Heisenberg pun menganalogikan ketergantungan manusia terhadap teknologi lewat laba-laba yang begitu bergantung pada jaringnya.

 

Namun demikian, ideologi teknologi masih berhadapan dengan serangkaian persoalan politis, etis, sosial, dan budaya. Persoalan politis sebagaimana telah disinggung sebelumnya, yakni terkait penguasaan teknologi yang berpotensi memunculkan dominasi salah satu pihak terhadap pihak lain. Sementara, persoalan etis berkaitan dengan dilema moral yang disebabkan oleh teknologi, sebagai misal, penemuan teknologi obstetric ultrasound yang mampu menyajikan citra janin di dalam kandungan memunculkan dilema etis pada negara-negara yang melegalkan aborsi. Haruskah janin yang diketahui tak sempurna lewat teknologi obstetric ultrasound digugurkan?

 

Problem sosial yang muncul akibat teknologi lebih tak terkira lagi, dari persoalan kecanduan teknologi sebagai instrumen hiburan, hingga menurunnya berbagai kualitas dasar manusia akibat teknologi. Theodor W. Adorno memisalkan ini lewat semakin canggihnya komputer yang dibuat berimplikasi terhadap semakin lemahnya otak manusia. Adapun problem budaya akibat teknologi berkenaan erat dengan kesenjangan dan keterkejutan dalam penggunaan teknologi, dan mereka yang tak menguasainya kemungkinan besar akan kehilangan akses-akses tertentu. Ini dapat dicontohkan lewat proses digitalisasi birokrasi—dalam segala bentuknya—yang seringkali mengeksklusi golongan tua sehingga cara-cara analog mereka tak lagi relevan.

 

*****

[Bruno Latour | Pic: science.org]

Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana

 

Actor network theory (ANT) atau “teori pelaku jaringan” yang dikembangkan Bruno Latour, Michel Callon, dan John Law menolak dikotomi antara agen dengan struktur, juga dikotomi antara dunia mikrososial dengan makrososial. Menurutnya, segala hal terhubung dan termediasi melalui jaringan. Latour mendefinisikan “jaringan” sebagai entitas nonsosial; bukan masyarakat, tetapi pembentukan interaksi melalui beragam alat atau media yang memunculkan lokus-lokus kecil.

 

Dari sinilah Latour memiliki ide tentang decentering yang menggeser fokus perhatian sedari aktor (manusia) kepada jaringan. Pergeseran ke ranah jaringan akan menghantarkan pada eksisten-eksisten nonmanusia, atau ihwal yang disebutnya sebagai “aktan”. Dewasa ini, perkembangan teknologi dan beragam instrumennya membuat manusia menjadi begitu tergantung, bahkan tak mampu menjalani hidup tanpanya. Oleh karenanya, aktan, atau hal-hal nonmanusia yang bersifat material tak berkesadaran dan—bisa juga—tak bertujuan, harus diposisikan dan dianalisis secara setara sebagaimana kita memosisikan dan menganalisis aktor-manusia.

 

Sebagai misal, untuk menyelesaikan skripsi, mahasiswa tak bisa melakukannya tanpa laptop, jaringan internet, gawai, alat perekam, dan lain-lain; atau contoh yang lebih ekstrim, ketika sekelompok orang hendak merampok bank, mereka begitu bergantung pada senjata dan alat komunikasi yang harus bekerja dengan baik untuk melancarkan aksinya. Melalui misal ini, artefak material pun memiliki kualitas aktor—mempunyai derajat yang sama pentingnya—sehingga mereka menyerupai agen, di sinilah arti penting aktan sebagai entitas nonmanusia yang juga bisa menjadi “pelaku” atau bisa juga “bertindak”. Dalam hal ini, “jaringan” pun bisa dimaknai sebagai aktivitas yang dilakukan oleh proses-proses bekerjanya aktan—grup WA?

 

Dalam ANT, karakter material nonmanusia yang tak berkesadaran dan tak bertujuan justru memungkinkan entitas ini untuk terus dimaknai dan terhubung dalam dunia manusia—mirip filsafat eksistensialisme yang mendiktum segalanya hadir tanpa makna dan tanpa tujuan. Akan tetapi, keterhubungan ini hanya akan ada sejauh terdapat “gerakan”. Dengan kata lain, ia akan memiliki kualitas layaknya aktor (manusia) ketika dijalankan dalam hubungan-hubungan antara keduanya, atau apa yang kemudian disebut sebagai “sirkulasi”—gerakan hubungan saling memengaruhi antara manusia dengan objek nonmanusia.

 

Melaluinya, jaringan pun akan ditemui sebagai “performativitas”—sebentuk/sebuah tindakan. Sebagai misal, barang-barang pun memiliki performa, pakaian bermerek yang dipakai seseorang, atau gawai bermerek keluaran terbaru yang digunakan seseorang; turut serta dalam relasi kuasa, penciptaan informasi tertentu, serta hubungan subjektivitas-objektivitas. Dengan demikian, dapat ditegaskan kembali bahwa hal-hal nonmanusia adalah partisipan aktif dalam jaringan, dan bagaimana manusia turut aktif mengambil berbagai atribut (sumberdaya) darinya.

 

Lebih jauh, inti dari performativitas dalam ANT adalah: sejauh mana jaringan dapat mempertahankan bentuk ketika terus bergerak. Dalam hal ini, ketika relasi manusia dengan nonmanusia diperformakan, terdapat dua kemungkinan yang selalu menyertai; ketahanan dan kesesuaian, ataukah disintegrasi dan kesirnaan. Derajat ketahanan inilah yang kemudian disebut sebagai immutable mobiles. Boleh jadi, perangkat-perangkat atau aplikasi yang dulu begitu akrab dalam keseharian manusia, lalu kini seolah tak relevan dan tak berguna lagi; memisalkan secara sederhana derajat ketahanan yang tak lagi berdaya dalam gerak jaringan. Pada akhirnya, ANT pun menghantarkan kita pada era pos-Sosial.

 

****

 

 

 

Pic: noria-research.com

Wahyu Budi Nugroho

Sosiolog Universitas Udayana


Pra-Materi Kuliah Umum Prodi Sosiologi,

FISIP, Universitas Sumatera Utara, 14 Juli 2022.


Dalam perjalanannya, disiplin sosiologi menghadapi berbagai tantangan dan krisis. Tantangan pertama sempat hadir dari disiplin psikologi yang menelurkan cabang kajian psikologi sosial sehingga menjadikan batasan antara kedua disiplin menjadi begitu samar, termasuk bagaimana berbagai pemikiran psikologi pada akhirnya menginfiltrasi perkembangan teori-teori sosiologi, salah satunya tampak lewat hadirnya pemikiran interaksionisme simbolik dalam sosiologi; sementara, konstruksi disiplin sosiologi yang sejak awal digagas Emile Durkheim sesungguhnya berupaya “membersihkan” sosiologi dari pengaruh psikologi dan filsafat.


Tantangan berikutnya hadir di era late modernity ‘modernitas akhir’, di mana beragam pemikiran mengenai agensi mulai tumbuh subur sehingga memaksa sosiologi meredefinisi kembali pengertian “masalah sosial”, perihal yang semestinya ditetapkan berdasarkan konsensus, kesepakatan bersama; bukan secara sepihak oleh mereka yang dijuluki “pakar” atau para teknokrat. Di sisi lain, era modernitas akhir turut membuat sosiologi sarat memikirkan kembali gerakan sosial melalui pertimbangan-pertimbangan ideologi serta kepentingan para aktor yang terlibat di dalamnya. Berbagai pertimbangan ini pada akhirnya melahirkan embrio gerakan sosial baru sebagai ekspresi telah sedemikian terfragmentasinya ideologi dan kepentingan berbagai aktor dalam masyarakat.


Sebelumnya, di era 1960-an, masa di mana teori-teori sosiologi sedang kuat-kuatnya bercokol lewat serangkaian premis rasionalitas, ahistorisitas, dan universalitas; disiplin sosiologi memperoleh tantangan dari arus filsafat posmodern yang mewartakan partikuralitas, historisitas, serta memberikan ruang bagi irasionalitas. Banyak pihak menganggap, disiplin sosiologi serta berbagai disiplin lain yang lahir dari rahim Pencerahan Eropa telah menemui ajalnya di era ini, dan memang, pada akhirnya, untuk menghindari kekritisan dan kematian, disiplin sosiologi terpaksa harus mengadopsi beragam pemikiran posmodern kemudian—untuk membuatnya kembali bernapas.


Di saat yang bersamaan—era 1960-an—cultural studies yang digagas Richard Hoggart tampil sebagai sebuah “antidisiplin” yang turut memberikan tantangan bagi sosiologi. Cultural studies menolak keras pengotakkan dalam berbagai disiplin ilmu, dengan asumsi, pengotakkan tersebut hanya akan memunculkan sudut pandang yang sempit, picik, dan dangkal. Sejak saat itu, dimulailah proyek besar Hoggart dan kawan-kawan yang “tanpa ampun” mengelaborasi seluruh teori dan metode dari beragam disiplin ilmu—termasuk sains—ke dalam cultural studies. Hal ini tentu saja membuat batasan sosiologi dengan berbagai disiplin sosial-humaniora lainnya menjadi semakin tak jelas, serta seakan mengekspos terlalu kering kerontangnya perspektif sosiologi dalam memandang gejala sosial jika dibandingkan dengan cultural studies yang begitu kaya dan “semarak”.


Lebih jauh, tantangan terakhir dan terkini terhadap sosologi kiranya hadir melalui poshumanisme. Poshumanisme hadir untuk menolak “humanisme”, antroposentrisme, serta premis-premis homo mensura yang memosisikan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Ia—poshumanisme—hendak menjadi diktum kematian sekaligus batu nisan bagi warisan ide-ide Pencerahan Eropa yang menempatkan manusia sebagai satu-satunya “ada” di dunia, causa prima ‘penyebab utama’ dari setiap gejala, termasuk gejala sosial. Poshumanisme hendak mengakhiri kenarsisan dan keegoisan manusia yang nyatanya sekadar melahirkan kekacauan dan “kehancuran” dunia.


Dalam hal ini, poshumanisme mengajak berrefleksi dan menghayati kembali “ada-ada lain” selain manusia, setelah sebelumnya manusia bisa berbangga diri menaklukkan alam lewat pola pikir rasional, industrialisasi, dan teknologi; namun pada akhirnya terjebak pada ketergantungan akut terhadap teknologi, yang bahkan pada berbagai segi justru teknologi lah yang kini melampaui manusia. Dari sini, poshumanisme melontarkan sebuah pertanyaan retoris: “...lantas, apakah manusia masih bisa ditempatkan sebagai pusat segala sesuatu, sebab dari segala gejala?”.


Di sisi lain, poshumanisme turut mengekspos batasan-batasan manusia dalam menalukkan alam, di mana ketika batasan itu dilampaui, manusia justru akan membahayakan dan menghancurkan dirinya. Itulah mengapa beberapa pihak turut mengatakan jika enviromentalisme dan animalisme turut serta dalam gerbong poshumanisme dikarenakan premis dasar mereka yang menolak nilai-nilai antroposentrisme.


Tegas dan jelasnya, poshumanisme menitikberatkan pada entitas-entitas nonmanusia yang selama ini diremehkan dan “tak dianggap”, padahal berbagai entitas tersebut memiliki dampak besar bagi kehidupan manusia, juga gejala sosial. Terhadap perkembangan pemikiran ini, tentu sosiologi sarat merespons mengingat disiplin ini berfokus pada studi relasi antarmanusia, bukan relasi antara manusia dengan entitas nonmanusia. Dalam dekade ini, respons sosiologi terhadap perkembangan poshumanisme sangatlah urgen, karena ini akan menentukan apakah ke depan sosiologi akan mengalami kemandulan dalam merespons gejala sosial, ataukah revitalisasi.

 

*****

 

 

 



"There's nothing more dangerous than someone who wants to make the world a better place."  
Banksy


Tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang ingin menjadikan dunia lebih baik,” begitu kata Banksy, seniman jalanan yang identitasnya masih jadi misteri hingga saat ini.  Beruntungnya saya berkesempatan untuk mengunjungi Banksy Museum, pada Desember 2021 lalu ketika sedang ada pekerjaan di Dubai, Uni Emirat Arab. Pameran pertama terbesar Banksy di Dubai ini memajang 120 coretan serta lukisan yang fenomenal. Karya-karya seniman misterius yang diduga berasal dari Bristol, Inggris tersebut memang penuh sensasi.


Banksy adalah seorang seniman grafiti yang banyak mengkritik praktik-praktik kapitalisme lanjut hingga isu-isu sosial dan politik. Pesan-pesan satire cenderung ditampilkan di setiap karyanya, terutama yang berkaitan dengan penindasan di Palestina. Meski begitu, karya-karya Banksy selalu ditunggu oleh penikmatnya, bahkan ada yang membelinya dengan angka fantastis.


Sebut saja artis-artis Hollywood dan desainer kenamaan seperti Brad Pitt, Angelina Jolie, dan Paul Smith yang rela merogoh kocek hingga puluhan miliar dolar Amerika. Bahkan di tahun 2008, saat dunia tengah menghadapi krisis finansial global, karya Banksy tetap terjual mahal hingga mencapai 1,8 Miliar Dolar.


Momen itu memiliki sebutan “The Banksy Effect”, yakni meningkatnya minat pada seni jalanan yang muncul setelah popularitas Banksy. Sama seperti Andy Warhol yang merupakan pelopor budaya pop pada pertengahan abad ke-20, Banksy telah mendefinisikan ulang mengenai seni yang mungkin tidak pernah dihargai oleh banyak orang sebelumnya: mengaburkan batas antara grafiti dan seni.


Andy Warhol turut menjadi inspirasi Banksy melalui lukisan Marilyn Monroe yang dilukis ulang dengan potret supermodel Kate Moss.

Jika menurut kebanyakan orang grafiti hanyalah bentuk dari vandalisme yang merugikan, namun seni jalanan adalah ‘galeri yang berharga’ bagi beberapa orang. Meski Banksy bukanlah pelopor seni jalanan, ia telah mengembangkan seni jalanan sebagai imajinasi baru dan menciptakan pasar yang menguntungkan bagi gerakan tersebut.


Lalu apa yang membuat karya-karya Bansky begitu memikat hati orang-orang?


Karya tentang Tikus sebagai Inspirasi Banksy


If you are dirty, insignificant and unloved then rats are the ultimate role model.” – Banksy


Banksy banyak menggambar tentang tikus pada karya-karyanya. Bahkan tikus menjadi identitas atas seniman misterius tersebut. Sebagai hewan pengerat, tikus sangat dibenci oleh masyarakat karena dianggap merugikan. Hal tersebutlah yang membuat tikus tidak kebal hukum, yang mengubah mereka menjadi semacam penjahat.


Ada dua analisis tentang tikus bagi Banksy, yang pertama adalah berkaitan dengan tikus sebagai simbol seniman jalanan, yang tidak begitu diinginkan masyarakat karena mengungkapkan ketidakadilan pada kehidupan masyarakat secara gamblang melalui karya-karyanya. Sedangkan yang kedua adalah tentang “masyarakat tikus” yang begitu merugikan manusia lainnya.



Karya fenomenal Banksy terkait tikus tersebut ada pada dinding di Clipstone Street, Fitzrovia pada tahun 2011 silam. Dengan kutipan berwarna merah yang berbunyi “If Graffiti changed anything it would be illegal’. Kutipan tersebut sesungguhnya mengacu pada kutipan dari aktivis politik Emma Goldman yang mengampanyekan hak-hak perempuan, yang salah satu kutipannya berbunyi “If voting changed anything, they'd make it illegal”.




Gambar tentang tikus-tikus lainnya yang memegang cat juga bisa jadi merupakan representasi dari seniman jalanan yang tidak dianggap baik oleh masyarakat. Di mana quote yang ditulis adalah yang berkaitan dengan depresi dan ketidakmampuan diri. Banksy menggambarkan seniman jalanan sebagai tikus yang beraksi pada malam hari, menyuarakan suara-suara tertindas yang kalah pada konsumerisme dan praktik kapitalisme lanjut.


 

Banksy Mendobrak Batasan Normal Melalui Gambar dengan Pesan yang Menohok



Pesan-pesan satire yang selalu ditampilkan Banksy pada setiap karyanya tentu memiliki arti tersendiri. Seperti misalnya gambar simpanse dengan tulisan “Laugh now, but one day we’ll be in charge” yang berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Meskipun asal-mula manusia disebut-sebut berasal dari bangsa kera, mereka saat ini malah menjadi bahan tontonan kebun binatang.




Banksy juga banyak mengkritik pendudukan Israel terhadap Palestina. Gambar-gambarnya dapat ditemukan di tembok perbatasan dua negara tersebut, terutama di daerah Bethlehem dan Jerusalem. Gambar yang paling fenomenal adalah Flying Balloon Girl yang mengisyaratkan pesan tentang-anak-anak yang mencari kebebasan karena terjebak dalam konflik yang tidak berkesudahan.


Penampakan The Walled Off Hotel yang memiliki tagline di websitenya bahwa manajemen dan staff hotel yang berasal dari Palestina dengan senang hati menyambut para pemuda Israel yang datang dengan hati yang lapang.

Bahkan di Bethlehem sendiri, dibangunlah hotel yang sekaligus menjadi instalasi politik yang dipenuhi oleh karya-karya Banksy. Dinamakan The Walled Off Hotel yang menawarkan pemandangan hotel yang paling buruk sedunia karena letaknya benar-benar hanya beberapa langkah dari Tembok Bethlehem dan setiap kamarnya menghadap ke Tembok Tepi Barat (West Bank) yang dibangun oleh Israel.




Di museum ini, ada satu ruangan yang didekorasi percis seperti salah satu kamar The Walled Off Hotel. Kamar yang didominasi dengan warna hijau tersebut dihiasi dengan lukisan-lukisan di sepanjang dinding bagian kiri dan kanan. Lukisan-lukisan tersebut menceritakan bagaimana kondisi Palestina di masa perang. Mulai dari rumah yang digusur hingga pelampung para pengungsi yang terdampar di tepi laut. Gambar yang ikonik tentu saja grafiti tentang perang bantal antar tentara Israel dan pemuda Palestina yang ditutupi wajahnya.



Di sisi lainnya, Banksy Museum juga menampilkan instalasi terkait kondisi perang di Palestina, di mana ruangan tersebut benar-benar dibuat porak-poranda seperti berada pada kondisi perang. Seperti batu, pasir, dan sampah-sampah yang berserakan. Di sekeliling temboknya juga dipenuhi oleh mural seperti gambar pemuda Palestina yang memegang bunga dan bergaya bak melempar benda berat dengan tulisan di sebelahnya “I have a dream”.


Banksy dan Mazhab Situasionis Internasional Guy Debord


Situasionis merupakan aliran yang identik dengan seniman dan teoretisi yang lebih radikal. Resmi berdiri pada tahun 1957 dengan basis epistemologi dari aliran pemikiran Marx terkait alienasi, reifikasi, dan fetisme komoditas dan juga dipengaruhi oleh dadaisme dan surrealisme. Guy Debord sebagai tokoh pencetus mazhab situasionis internasional terkenal akan karyanya yang berjudul The Society of the Spectacle (masyarakat tontonan).


Di era kapitalisme lanjut, hubungan antarmanusia digantikan oleh “tontonan” dengan berbagai gambar dan simbol-simbol. Semua gambar yang ditonton tersebut telah mengambilalih apa yang seharusnya dimiliki dan dibutuhkan oleh manusia modern. Masyarakat saat ini hanya semakin hidup dengan kekacauan representasi, di mana kehidupan sosial tak lagi soal kehidupan itu sendiri.


Kapitalisme lanjut telah membius masyarakat dengan tontonan yang spektakuler. Menurut Debord, diperlukan situasi(onis) yang radikal dan menggebrak untuk membangunkan masyarakat tontonan yang sedang terbius tersebut agar mereka kembali pada kehidupan nyata yang revolusioner. Banksy telah berhasil menggebrak kapitalisme lanjut melalui karya-karyanya.




Sepertihalnya Debord melalui metode detournement yang merupakan pembajakan terhadap berbagai simbol dan logo kapitalisme. Bansky turut menggunakan metode detournement tersebut melalui gambar “Festival” yang dikenal dengan “Destroy Capitalism”. Melalui karyanya tersebut, Banksy menyindir penggemar band Misfits yang dianggap sebagai masyarakat anti-kapitalis, namun tetap sudi mengantri untuk membeli kaus seharga 30 dolar di festival musik. Gambaran tersebut merupakan sindiran tentang para penentang kapitalisme yang paling kuat pun dapat terperangkap melalui festival musik alternatif dan menjadi versi munafik dari diri mereka sendiri.




Selain itu, Banksy juga pernah mengkritik parlemen Inggris melalui lukisan yang diberi nama “Devolved Parliament” yang mengganti seluruh wajah parlemen menjadi sosok kera. Karya ini merupakan bentuk protes Banksy pada pemerintah mengenai Brexit (British Exit) yang diperdebatkan selama bertahun-tahun.


Sebagai kelanjutan dari metode detournement, Debord mengembangkan psikogeografi sebagai tindakan “pengembaraan ruang-ruang kota”. Di mana kota-kota industri saat ini adalah penjara besar. Pengembaraan pada ruang-ruang kota, terutama pada konstruksi dan arsitekturnya mengarahkan manusia pada kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan bagi aktivitas produk kapitalis. Namun semuanya terbungkus dalam sebuah tontonan yang spektakuler dan membisukan, seolah memang seharusnya seperti itu.


Bagi Debord, dibutuhkan penciptaan situasionis-situasionis yang spesifik dan menggebrak relung-relung kota agar masyarakat dapat merasa “hidup” dan merasakan pembebasan kehidupan sehari-hari. Karya-karya Banksy adalah salah satu penciptaan situasionis yang dapat mengejawantahkan hasrat yang sejati, bahwa saat ini masyarakat yang terbius dengan kapitalisme lanjut dapat tersadarkan.


Hingga saat ini, Banksy masih terus menjadi sosok yang misterius, menyusup pada tengah malam untuk menorehkan gambar tikus, atau hal-hal nyeleneh lain yang sesungguhnya benar terjadi di era sekarang. Museum Bansky bukan hanya jadi tempat untuk memamerkan karya-karyanya, namun juga menjadi upaya Banksy untuk “mengejek” orang-orang yang datang atau terimbas “The Banksy Effect”.




Bahkan berita terbaru menyebutkan bahwa lukisan Bansky “Girl with Baloon” yang berhasil terjual dengan harga 1,4 Dolar Amerika atau sekitar 20 Miliar Rupiah rusak dengan sendirinya. Rupanya ada mesin penghacur kertas di dalam pigura lukisan tersebut. Melalui aksi tersebut, Bansky juga turut mengunggahnya di media sosialnya dengan mencantumkan quote dari Picasso, “Dorongan untuk menghancurkan adalah sebuah dorongan kreatif”.


Bacaan lebih lanjut;

Memahami Marx, Marxisme dan Perkembangannya, Wahyu Budi Nugroho.


The “Banksy Effect” and Street Art in the Middle East, Sabrina DeTurk via https://www.urbancreativity.org/uploads/1/0/7/2/10727553/deturk_journal2015_v1_n2.pdf