"There's nothing more dangerous than someone who wants to make the world a better place."  
Banksy


Tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang ingin menjadikan dunia lebih baik,” begitu kata Banksy, seniman jalanan yang identitasnya masih jadi misteri hingga saat ini.  Beruntungnya saya berkesempatan untuk mengunjungi Banksy Museum, pada Desember 2021 lalu ketika sedang ada pekerjaan di Dubai, Uni Emirat Arab. Pameran pertama terbesar Banksy di Dubai ini memajang 120 coretan serta lukisan yang fenomenal. Karya-karya seniman misterius yang diduga berasal dari Bristol, Inggris tersebut memang penuh sensasi.


Banksy adalah seorang seniman grafiti yang banyak mengkritik praktik-praktik kapitalisme lanjut hingga isu-isu sosial dan politik. Pesan-pesan satire cenderung ditampilkan di setiap karyanya, terutama yang berkaitan dengan penindasan di Palestina. Meski begitu, karya-karya Banksy selalu ditunggu oleh penikmatnya, bahkan ada yang membelinya dengan angka fantastis.


Sebut saja artis-artis Hollywood dan desainer kenamaan seperti Brad Pitt, Angelina Jolie, dan Paul Smith yang rela merogoh kocek hingga puluhan miliar dolar Amerika. Bahkan di tahun 2008, saat dunia tengah menghadapi krisis finansial global, karya Banksy tetap terjual mahal hingga mencapai 1,8 Miliar Dolar.


Momen itu memiliki sebutan “The Banksy Effect”, yakni meningkatnya minat pada seni jalanan yang muncul setelah popularitas Banksy. Sama seperti Andy Warhol yang merupakan pelopor budaya pop pada pertengahan abad ke-20, Banksy telah mendefinisikan ulang mengenai seni yang mungkin tidak pernah dihargai oleh banyak orang sebelumnya: mengaburkan batas antara grafiti dan seni.


Andy Warhol turut menjadi inspirasi Banksy melalui lukisan Marilyn Monroe yang dilukis ulang dengan potret supermodel Kate Moss.

Jika menurut kebanyakan orang grafiti hanyalah bentuk dari vandalisme yang merugikan, namun seni jalanan adalah ‘galeri yang berharga’ bagi beberapa orang. Meski Banksy bukanlah pelopor seni jalanan, ia telah mengembangkan seni jalanan sebagai imajinasi baru dan menciptakan pasar yang menguntungkan bagi gerakan tersebut.


Lalu apa yang membuat karya-karya Bansky begitu memikat hati orang-orang?


Karya tentang Tikus sebagai Inspirasi Banksy


If you are dirty, insignificant and unloved then rats are the ultimate role model.” – Banksy


Banksy banyak menggambar tentang tikus pada karya-karyanya. Bahkan tikus menjadi identitas atas seniman misterius tersebut. Sebagai hewan pengerat, tikus sangat dibenci oleh masyarakat karena dianggap merugikan. Hal tersebutlah yang membuat tikus tidak kebal hukum, yang mengubah mereka menjadi semacam penjahat.


Ada dua analisis tentang tikus bagi Banksy, yang pertama adalah berkaitan dengan tikus sebagai simbol seniman jalanan, yang tidak begitu diinginkan masyarakat karena mengungkapkan ketidakadilan pada kehidupan masyarakat secara gamblang melalui karya-karyanya. Sedangkan yang kedua adalah tentang “masyarakat tikus” yang begitu merugikan manusia lainnya.



Karya fenomenal Banksy terkait tikus tersebut ada pada dinding di Clipstone Street, Fitzrovia pada tahun 2011 silam. Dengan kutipan berwarna merah yang berbunyi “If Graffiti changed anything it would be illegal’. Kutipan tersebut sesungguhnya mengacu pada kutipan dari aktivis politik Emma Goldman yang mengampanyekan hak-hak perempuan, yang salah satu kutipannya berbunyi “If voting changed anything, they'd make it illegal”.




Gambar tentang tikus-tikus lainnya yang memegang cat juga bisa jadi merupakan representasi dari seniman jalanan yang tidak dianggap baik oleh masyarakat. Di mana quote yang ditulis adalah yang berkaitan dengan depresi dan ketidakmampuan diri. Banksy menggambarkan seniman jalanan sebagai tikus yang beraksi pada malam hari, menyuarakan suara-suara tertindas yang kalah pada konsumerisme dan praktik kapitalisme lanjut.


 

Banksy Mendobrak Batasan Normal Melalui Gambar dengan Pesan yang Menohok



Pesan-pesan satire yang selalu ditampilkan Banksy pada setiap karyanya tentu memiliki arti tersendiri. Seperti misalnya gambar simpanse dengan tulisan “Laugh now, but one day we’ll be in charge” yang berkaitan dengan teori evolusi Darwin. Meskipun asal-mula manusia disebut-sebut berasal dari bangsa kera, mereka saat ini malah menjadi bahan tontonan kebun binatang.




Banksy juga banyak mengkritik pendudukan Israel terhadap Palestina. Gambar-gambarnya dapat ditemukan di tembok perbatasan dua negara tersebut, terutama di daerah Bethlehem dan Jerusalem. Gambar yang paling fenomenal adalah Flying Balloon Girl yang mengisyaratkan pesan tentang-anak-anak yang mencari kebebasan karena terjebak dalam konflik yang tidak berkesudahan.


Penampakan The Walled Off Hotel yang memiliki tagline di websitenya bahwa manajemen dan staff hotel yang berasal dari Palestina dengan senang hati menyambut para pemuda Israel yang datang dengan hati yang lapang.

Bahkan di Bethlehem sendiri, dibangunlah hotel yang sekaligus menjadi instalasi politik yang dipenuhi oleh karya-karya Banksy. Dinamakan The Walled Off Hotel yang menawarkan pemandangan hotel yang paling buruk sedunia karena letaknya benar-benar hanya beberapa langkah dari Tembok Bethlehem dan setiap kamarnya menghadap ke Tembok Tepi Barat (West Bank) yang dibangun oleh Israel.




Di museum ini, ada satu ruangan yang didekorasi percis seperti salah satu kamar The Walled Off Hotel. Kamar yang didominasi dengan warna hijau tersebut dihiasi dengan lukisan-lukisan di sepanjang dinding bagian kiri dan kanan. Lukisan-lukisan tersebut menceritakan bagaimana kondisi Palestina di masa perang. Mulai dari rumah yang digusur hingga pelampung para pengungsi yang terdampar di tepi laut. Gambar yang ikonik tentu saja grafiti tentang perang bantal antar tentara Israel dan pemuda Palestina yang ditutupi wajahnya.



Di sisi lainnya, Banksy Museum juga menampilkan instalasi terkait kondisi perang di Palestina, di mana ruangan tersebut benar-benar dibuat porak-poranda seperti berada pada kondisi perang. Seperti batu, pasir, dan sampah-sampah yang berserakan. Di sekeliling temboknya juga dipenuhi oleh mural seperti gambar pemuda Palestina yang memegang bunga dan bergaya bak melempar benda berat dengan tulisan di sebelahnya “I have a dream”.


Banksy dan Mazhab Situasionis Internasional Guy Debord


Situasionis merupakan aliran yang identik dengan seniman dan teoretisi yang lebih radikal. Resmi berdiri pada tahun 1957 dengan basis epistemologi dari aliran pemikiran Marx terkait alienasi, reifikasi, dan fetisme komoditas dan juga dipengaruhi oleh dadaisme dan surrealisme. Guy Debord sebagai tokoh pencetus mazhab situasionis internasional terkenal akan karyanya yang berjudul The Society of the Spectacle (masyarakat tontonan).


Di era kapitalisme lanjut, hubungan antarmanusia digantikan oleh “tontonan” dengan berbagai gambar dan simbol-simbol. Semua gambar yang ditonton tersebut telah mengambilalih apa yang seharusnya dimiliki dan dibutuhkan oleh manusia modern. Masyarakat saat ini hanya semakin hidup dengan kekacauan representasi, di mana kehidupan sosial tak lagi soal kehidupan itu sendiri.


Kapitalisme lanjut telah membius masyarakat dengan tontonan yang spektakuler. Menurut Debord, diperlukan situasi(onis) yang radikal dan menggebrak untuk membangunkan masyarakat tontonan yang sedang terbius tersebut agar mereka kembali pada kehidupan nyata yang revolusioner. Banksy telah berhasil menggebrak kapitalisme lanjut melalui karya-karyanya.




Sepertihalnya Debord melalui metode detournement yang merupakan pembajakan terhadap berbagai simbol dan logo kapitalisme. Bansky turut menggunakan metode detournement tersebut melalui gambar “Festival” yang dikenal dengan “Destroy Capitalism”. Melalui karyanya tersebut, Banksy menyindir penggemar band Misfits yang dianggap sebagai masyarakat anti-kapitalis, namun tetap sudi mengantri untuk membeli kaus seharga 30 dolar di festival musik. Gambaran tersebut merupakan sindiran tentang para penentang kapitalisme yang paling kuat pun dapat terperangkap melalui festival musik alternatif dan menjadi versi munafik dari diri mereka sendiri.




Selain itu, Banksy juga pernah mengkritik parlemen Inggris melalui lukisan yang diberi nama “Devolved Parliament” yang mengganti seluruh wajah parlemen menjadi sosok kera. Karya ini merupakan bentuk protes Banksy pada pemerintah mengenai Brexit (British Exit) yang diperdebatkan selama bertahun-tahun.


Sebagai kelanjutan dari metode detournement, Debord mengembangkan psikogeografi sebagai tindakan “pengembaraan ruang-ruang kota”. Di mana kota-kota industri saat ini adalah penjara besar. Pengembaraan pada ruang-ruang kota, terutama pada konstruksi dan arsitekturnya mengarahkan manusia pada kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan bagi aktivitas produk kapitalis. Namun semuanya terbungkus dalam sebuah tontonan yang spektakuler dan membisukan, seolah memang seharusnya seperti itu.


Bagi Debord, dibutuhkan penciptaan situasionis-situasionis yang spesifik dan menggebrak relung-relung kota agar masyarakat dapat merasa “hidup” dan merasakan pembebasan kehidupan sehari-hari. Karya-karya Banksy adalah salah satu penciptaan situasionis yang dapat mengejawantahkan hasrat yang sejati, bahwa saat ini masyarakat yang terbius dengan kapitalisme lanjut dapat tersadarkan.


Hingga saat ini, Banksy masih terus menjadi sosok yang misterius, menyusup pada tengah malam untuk menorehkan gambar tikus, atau hal-hal nyeleneh lain yang sesungguhnya benar terjadi di era sekarang. Museum Bansky bukan hanya jadi tempat untuk memamerkan karya-karyanya, namun juga menjadi upaya Banksy untuk “mengejek” orang-orang yang datang atau terimbas “The Banksy Effect”.




Bahkan berita terbaru menyebutkan bahwa lukisan Bansky “Girl with Baloon” yang berhasil terjual dengan harga 1,4 Dolar Amerika atau sekitar 20 Miliar Rupiah rusak dengan sendirinya. Rupanya ada mesin penghacur kertas di dalam pigura lukisan tersebut. Melalui aksi tersebut, Bansky juga turut mengunggahnya di media sosialnya dengan mencantumkan quote dari Picasso, “Dorongan untuk menghancurkan adalah sebuah dorongan kreatif”.


Bacaan lebih lanjut;

Memahami Marx, Marxisme dan Perkembangannya, Wahyu Budi Nugroho.


The “Banksy Effect” and Street Art in the Middle East, Sabrina DeTurk via https://www.urbancreativity.org/uploads/1/0/7/2/10727553/deturk_journal2015_v1_n2.pdf

[Pic: a7ma.art.br]

I. G. A. Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

The Itsy-Bitsy Spider merupakan salah satu lagu anak-anak yang paling populer. Lagu ini kerap kali diajarkan di tingkat taman kanak-kanak dan disertai gerakan jari yang menyesuaikan dengan lirik lagunya. Selain iramanya menyenangkan, lirik lagu ini juga sangat mudah dihafal sehingga sering diajarkan pada mereka yang baru memulai belajar Bahasa Inggris.


Namun apabila dibaca lebih seksama lagi, lirik lagu dari The Itsy-Bitsy Spider ini sangat mirip dengan salah satu cerita karangan seorang filsuf Perancis, Albert Camus, yang berjudul Mitos Sisifus. Mitos Sisifus secara singkat menceritakan mengenai seorang tokoh dalam mitologi Yunani bernama Sisifus, ia adalah seorang raja yang dihukum karena kezaliman dan kelicikannya. Namun ia tak pernah habis akal untuk melarikan diri dari semua hukuman yang diberikan. Hingga pada satu saat, Dewa Zeus geram dan mengasingkan Sisifus ke Tartarus. Zeus memberikan hukuman pada Sisifus untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak gunung, dan ketika sudah sampai di puncak, batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah dan Sisifus harus mengulangi kembali pekerjaannya. Dengan demikian, Zeus berharap Sisifus tak akan bisa lagi meloloskan diri dari hukumannya.


Albert Camus sendiri menggambarkan hukuman Sisifus ini sebagai sebuah gambaran kehidupan. Kesadaran manusia adalah bahwa hidup merupakan sesuatu yang tanpa makna dan tujuan. Camus yang merupakan seorang filsuf eksistensialis mengatakan bahwa usaha manusia dalam mencari makna atau tujuan hidup adalah tindankan yang absurd, karena hal tersebut tidak akan menemukan ujung.


Tahu bahwa bebatuan di atas akan berguling lagi, kenapa masih ada keinginan untuk mendorong kembali ke atas? Pada titik inilah Camus menolak pernyataan bahwa hukuman Sisifus merupakan sebuah bentuk penderitaanm, tetapi baginya inilah gambaran kehidupan manusia.  Ketidakbermaknaan hidup dapat dijalani ketika kita manusia menganggap kehidupan ini menyenangkan. Camus menekankan bahwa kita harus menyadari bahwa Sisifus suka mendorong batu tersebut. Camus tidak mengalah pada kematian, ia memberikan solusi atas ketidakberartian hidup dengan berpikir bahwa hidup adalah hal yang menyenangkan.


Kembali lagi pada lirik lagu The Itsy-Bitsy Spider, baris pertama dan keduanya berbunyi “The itsy-bitsy spider went up the water spout. Down came the rain and washed the spider out Dalam lirik tersebut laba-laba digambarkan sedang memanjat cerat air, laba-laba seharusnya sudah paham bahwa jaring yang ia buat di sekitar cerat pasti tidak akan mampu menahan air yang akan lewat dan juga tidak akan mampu melindungi dirinya dari limpasan. Namun ia tetap saja membuat jaring tersebut dan bukan karena alasan spesifik tapi karena memang itulah kehidupannya, yakni membuat jaring.


“Out came the sun and dried up all the rain. The itsy-bitsy spider went up the spout again”


Apakah dari lirik tersebut menyiratkan kesedihan pada laba-laba ketika ia terlimpas? Tidak. Justru ia kembali memanjat cerat air ketika matahari terbit dan mengeringkan jalur tersebut. Matahari disini menyimbolkan harapan atau semangat hidup, sehingga meskipun ia tahu akan jatuh kembali, laba-laba tidak pernah menganggap bahwa kehidupannya menyedihkan. Sama seperti tindakan Sisifus yang kembali mendorong batu ke atas gunung, tindakan laba-laba kembali memanjat cerat air ini digambarkan sebagai kehidupannya. Ia tidak berusaha menggali makna tindakan memanjat cerat air, karena hal tersebut adalah hal yang absurd, ia memilih untuk kembali bersemangat dan menjalankan begitu saja kehidupannya tersebut.

 

*****

 

[Pic: culturetrip.com]

I. G. A. Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

Ruang publik merupakan salah satu elemen penting dalam diskursus mengenai demokrasi. Terlepas dari pengertian “ruang” sebagai objek fisik yang statis, ruang publik merupakan objek penuh dinamika yang erat relasinya dengan kebebasan. Ruang publik merupakan salah satu prasyarat sebuah negara apabila ingin mewujudkan sistem pemerintahan yang demokratis.

 

Ruang publik memiliki keanekaragaman pemaknaan dan pengertian, hal ini karena istilah ruang publik seringkali digunakan secara bebas. Dalam berbagai bidang ilmu seperti arsitektur dan planologi, ruang publik dipahami dalam pengertian teknis-arsitektural contohnya seperti taman, plaza, atau ruang terbuka. Dalam konteks dunia digital, ruang publik merupakan cyberspace tempat interaksi terjadi secara maya. Ruang publik pula dapat diartikan sebagai perusaan penyiaran yang disponsori oleh pemerintah apabila menilik dari sudut pandang aktivis media. Dalam kesadaran feminis, ruang publik adalah arena sosial tempat dibuatnya aneka hukum, kontrak, dan persetujuan yang mengeklusi kaum perempuan (Prasetyo, 2012: 170).

 

Kajian mengenai ruang publik sendiri tak bisa lepas dari salah satu tokoh dalam generasi mazhab Frankfurt yakni, Jürgen Habermas. Habermas memulai kajian konsep mengenai public sphere ini pada tahun 1962 melalui esainya yang berjudul The Structural Transformastion of The Public Sphere. Bagi Habermas (1989) (dalam Barker, 2004: 384), ruang publik adalah suatu wilayah yang timbul pada ruang spesifik dalam ‘masyarakat borjuis’. “Ruang” ini memerantarai masyarakat sipil dengan negara, di mana publik mengorganisir dirinya sendiri dan di mana ‘opini publik’ dibangun. Individu dapat mengembangkan dirinya sendiri sekaligus terlibat dalam debat tentang arah dan tujuan masyarakat dalam suatu ruang publik. Maka dari itu ruang publik dikatakan menjadi salah satu prasyarat dari terwujudnya negara demokrasi yang ideal.

 

Menilik dari sejarah munculnya ruang publik hingga menjadi dasar sistem demokrasi, ruang publik muncul sejak berkembangnya ‘kapitalisme uang’ dan ‘kapitalisme-niaga-awal’ (early finance and trade capitalism). Sejak abad ke-13, muncul elemen-elemen dari sebuah tatanan sosial baru yang menyebar dari negara kota-negara kota di Italia Utara hingga ke seluruh Eropa bagian Barat dan Utara, melahirkan sentra penghasil barang-barang pokok seperti Brugers, Lutterich, Brussels, Ghent, dan lainnya. Perdagangan jarak jauh ini kemudian memunculkan pekan raya raksasa (great trade fair) di persimpangan-persimpangan jalan.

 

Singkat cerita, adanya perluasan jaringan perdagangan ini pula menuntut perluasan akses informasi khususnya mengenai perniagaan oleh para pedagang tersebut, sehingga lalu-lintas berita berkembang seiring dengan lalu lintas barang dengan pola yang serupa. Surat menyurat yang awalnya dibawa para saudagar diorganisasikan menjadi sistem korespondensi gilda dalam rangka mencapai tujuan mereka. Pengorganisasian surat tersebut berkembang menjadi jasa-jasa pos, pasar saham, dan pers yang mulai melembagakan komunikasi dan kontak yang reguler.

 

Para saudagar ini puas dengan sistem tersebut dan tetap membatasi informasi yang disebar hanya bagi kalangan mereka sendiri. Hanya berita-berita dari luar negeri, mengenai peradilan dan peristiwa-peristiwa niaga yang tidak begitu penting saja yang lolos saringan lembaga pengendali berita. Publik pembaca semakin meluas saat pertengahan abad ke-17 dimana jurnal-jurnal telah dirilis secara berkala, bukan hanya memuat informasi-informasi penting, namun juga memuat instruksi pedagogia bahkan kritik dan kajian-kajian. Menuju abad ke-18, tradisi diskusi informasi berkembang pesat di Inggris, Prancis, dan Jerman melalui cafe, literary salon, atau pubs (Habermas, 2007: 21-40).

 

Ruang publik borjuis bukanlah representasi dari status aristokrasi ataupun tindakan elit politis yang terjadi dalam satu lingkup yang disebut ‘ruang publik borjuis’ tadi, melainkan partisipasi warga menggunakan rasio mereka dalam memperbincangkan persoalan-persoalan publik. Habermas menganggap bahwa ruang publik terbentuk dari sebuah ‘perjuangan diskursif’ para aktor kepentingan untuk menguji klaim-klaim kesahihan alasan-alasan yang dilontarkan. Ia mengklaim kesahihan alasan-alasan yang dilontarkan. Ia menghitung “kekerasan struktural” dan kemungkinan adanya “komunikasi yang terdistorsi secara sistematis” sebagai sesuatu yang beroperasi di dalam ruang publik. (Hardiman, 2010: 188-190).

 

*****

 

Refrensi;

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori & Praktik. Nurhadi (terj.) Bantul: Kreasi Wacana

Habermas, Jurgen. 2007. Ruang Publik: Sebuah Kajian tentang Masyarakat Borjuis. Yudi Santoso (terj.). Bantul: Kreasi Wacana

Hardiman, F. Budi.  2010. Ruang Publik: Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis sampai Cyberspace. Yogyakarta: Kanisius.

Prasetyo, Antonius Galih. 2012. Menuju Demokrasi Rasional: Melacak Pemikiran Jurgen Habermas tentang Ruang Publik. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.16(2).

[Pic: medium.com]

Adelia Hardianti Muhammadia

 

Teori uses and gratification (kegunaan dan kepuasan) yang dicetuskan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1940 merupakan sebuah model teori yang memandang khalayak sebagai audiens aktif pengguna media. Teori uses and gratification menjelaskan bagaimana media dapat memenuhi kebutuhan pribadi sosial khalayak yang aktif menggunakannya (Santoso & Setiansah, 2010: 140). Teori ini menjelaskan asal-mula kebutuhan secara psikologis dan sosial yang menimbulkan harapan-harapan tertentu akibat media.

 

Adanya keinginan khalayak mengonsumsi media tidak terlepas dari motif-motif atau keinginan. Dari keinginan yang terpenuhi maka akan tercapai sebuah kepuasan, dan jika tidak, khalayak akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk memperoleh kepuasan maksimal. Littlejohn, Foss, & Oetzel (2017) menjelaskan bahwa khalayak pengonsumsi media termotivasi oleh berbagai motif dan kebutuhan mereka dalam memilih jenis media untuk memuaskan kebutuhannya. Penggunaan media dapat diukur melalui hubungan individu dengan media, jenis media, serta jumlah waktu berdasarkan intensitasnya.

 

Khalayak memiliki sejumlah alasan dan usaha untuk mencapai tujuan tertentu ketika menggunakan media. (Mcquail, 1996: 9) mengemukakan empat alasan mengapa audiens menggunakan media, yaitu:

 

Pengalihan (disversion), yaitu melarikan diri dari rutinitas atau aktivitas sehari-hari.

 

Hubungan personal, terjadi ketika orang menggunakan media sebagai pengganti teman.

 

Identitas personal, sebagai cara memperkuat nilai-nilai individu.

 

Pengawasan (surveillance), yaitu informasi mengenai bagaimana media membantu individu mencapai sesuatu.

 

Efek yang timbul dari diri khalayak seperti emosi dan perilaku dapat dioperasionalisasikan sebagai evaluasi kemampuan media untuk memberi kepuasan. Teori ini memiliki beberapa cakupan dasar yaitu asal-mula kebutuhan, kebutuhan sosial dan psikologis, ekspektasi yang timbul dari kebutuhan tersebut, media massa atau sumber lain yang digunakan, pola pemaparan media akibat keterlibatan dalam kegiatan lain, munculnya pemenuhan kebutuhan dan munculnya konsekuensi lain yang tidak direncanakan. Dengan kata lain, teori ini berupaya memahami interaksi antara asal kebutuhan dengan konteks pengguna media (Palmgreen, 1985).

 

Jika dikaitkan dengan teori uses and gratification, dalam proses ini audiens telah menemukan gratifikasi yang diperoleh. Media bekerja dengan menyoroti bagian dari dunia sosial pada suatu waktu (Lippmann, 1965: 107). Karena audiens selektif tentang keterpaparan mereka terhadap informasi, maka audiens akan secara selektif memilih bagian dunia yang disorot yang ingin mereka lihat. Semakin banyak khalayak mengembangkan kebiasaan khusus dalam memilih media, semakin besar kemungkinan mereka terpapar pada kelompok informasi tertentu (Tewksbury, 2005). Dalam asumsi teori uses and gratification, jika audiens tidak menemukan konten yang disukainya, maka ia akan terus mencari hingga menemukan konten yang sesuai dengan preferensinya.

 

*****


[Pic: valetmag.com]

Tyo Mokoagow

 

Roman Krznaric berkata bahwa manusia pada dasarnya adalah Homo Empathicus. Sembilan puluh delapan persen dari kita sebenarnya punya potensi berempati yang tinggi. Dan fitrah ini sudah cukup sebagai alasan bahwa revolusi bisa tercipta dari empati yang paling sederhana sekalipun.

 

Ia mengatakan bahwa kita harus mengajarkan empati sejak dari dini. Bahkan setiap orangtua, tengah belajar berempati kepada anak-anaknya dengan berusaha memahami keinginan dan ketidaksukaan buah hatinya. Dalam skala yang lebih luas, empati dapat meningkatkan kerja sama sosial. Bila Anda fokus berempati kepada seseorang atau suatu kelompok, maka daya moral Anda akan meningkat cepat.

 

“Kapan pun kamu merasa bimbang, atau kamu merasa terlalu egoistis, terapkan ujian ini: Ingatlah wajah dari orang paling malang yang pernah kamu lihat, dan tanyai diri kamu sendiri, apakah ada tindakan yang berguna yang bisa kamu lakukan untuknya sekarang? Dengan begitu, keraguan dan individualitasmu akan mencari,” demikian ujar Mahatma Gandhi, seorang praktisi empati radikal.Gandhi prrmah berkata bahwa ia tidak sekadar Hindu, ia juga Katolik, ia juga Muslim, dan lain-lain…

 

Yang lebih radikal lagi, kita bahkan harus berempati kepada musuh kita. Saya pikir, Robert Green yang menulis 48 Hukum Kekuasaan dan Sun Tzu pun melakukan hal yang sama. Peperangan adalah seni membaca siasat musuh, dan untuk itu, diperlukan energi empati yang tinggi.

 

Ada satu saran menarik yang saya petik dari filsuf ini. Ia berkata, demi mengasah empati, cobalah untuk sekali seminggu berbicang-bincang dengan orang asing. Memancing percakapan dengan siapapun dari pelbagai latar belakang yang acak dan tak tertebak. Berbincanglah tentang cuaca, atau situasi politik terkini, atau tentang pekerjaan, atau tentang rumah, dan macam-macam lagi. Yang lebih menantang lagi, berbincanglah dengan orang yang secara signifikan berbeda dengan Anda, orang yang dilekati oleh stereotip tertentu bahkan.

 

Krznaric memperkenalkan konsep petualangan eksperensial dalam melatih empati. Namanya “Dialogue in the Dark”. Ini seperti museum di mana orang-orang datang dengan penutup mata, di ruangan gelap gulita, tak ada cahaya sama sekali. Semua pengunjung masuk dan dipandu pelayan. Di sana mereka akan belanja, makan malam, berbincang-bincang, dalam situasi di mana mata sama sekali tak bekerja. Aktivitas tersebut dilakukan selama sejam. Kita tampaknya dilatih untuk memahami kegelapan, dan memahami seseorang di balik dinding kegelapan yang mengahalangi kita. Kita lebih terlatih memahami hal-hal yang banyak tak kita hiraukan.

 

Konsep terakhir yang menarik adalah outrospeksi. Kebalikan dari introspeksi. Bila dahulu sekali Sokrates bilang, kalau untuk jadi manusia bijak dan bajik kita harus menyelami diri kita sendiri (introspeksi), maka Krznaric menyeimbangkan introspeksi dan outrospeksi untuk memenuhi tujuan Sokrates itu. Outrospeksi ialah gagasan tentang siapa Anda, dan melangkah keluar dari diri Anda lalu menatap mata orang lain demi memahami dunia mereka.

 

Zaman empati tidak berhenti. Justru baru dimulai pada era internet ini. Sepuluh tahun terakhir, kata empati di mesin pencarian raksasa frekuensinya meningkat dua kali lipat. Kita semakin terhububung dengan orang asing dalam sekali waktu terasing dari diri sendiri. Kita mungkin perlu orang asing, supaya bisa belajar mengenali diri sendiri, supaya tahu cara  terbaik memperlakukan penderitaan manusia dengan penuh takzim.

 

*****

[Pic: sfmoma.org]

Tyo Mokoagow

 

Apa itu keindahan? Pertanyaan tersebut telah berusia 2500 tahun lamanya diperdebatkan oleh para filsuf estetika dan sejarawan seni. Ketidaksepakatan soal karakter tunggal keindahan tak dapat dielakkan.

 

Semir Zeki, neurolog Turki mengutip Clive Bell, yang menurutnya berhasil merangkum soal itu dalam buku "Art" (1914): "Apakah satu persamaan umum antara Santa Sofia di Istanbul, jendela di Katedral Chartres Perancis, pahatan Meksiko, mangkuk Cina, karpet Persia, lukisan dinding Giotta di Padua, dan karya agung Poussin, Pierro Della Franciska, dan Cezanne?" Mereka yang punya mata sehat, tentu akan menjawab keindahan sebagai benang merah di antara semua objek itu.

 

Filsuf Amerika-Irlandia, Edmund Burke, mengartikan keindahan sebagai kualitas dalam tubuh yang bertindak secara mekanis berdasarkan pikiran manusia lewat intervensi inderawi. Namun keindahan dalam filsafat estetika, tidak berkorelasi dengan keindahan visual atau keindahan teatrikal atau keindahan piotis atau keindahan sastrawi atau keindahan musikal; keindahan adalah konsep yang teramat abstrak.

 

Lebih lanjut, Burke mengidentikkan seni dan keindahan. Tapi dua hal itu lantas dipisahkan oleh Marcel Duchamp lewat instalasi seninya yakni urinoir, kakus yang diberi tanda tangan olehnya. Seni avant garde Duchamp ialah upaya menceraikan seni dan keindahan. Satu-satunya yang membedakan benda yang terkesan jorok tersebut hanyalah tanda tangan Duchamp sendiri. Semir Zeki turut memisahkan kedua hal tersebut, ia lalu berfokus pada topik soal keindahan.

 

Zeki amat mengagumi Clive Bell, ia mendengar nasihatnya dengan baik. "Kalau kamu mau tahu apa itu keindahan, jangan bertanya kepada sejarawan karena mereka tahu terlalu banyak, kamu mesti pergi kepada orang primitif dan anak-anak dan orang-orang yang tak berpendidikan, sebab mereka juga bisa menikmati keindahan.".

 

Syahdan, Zeki dan para koleganya membuat eksperimen yang melibatkan pelbagai macam subjek di dalamnya. Partisipan eksperimen itu berasal banyak latar belakang: gender, etnis, agama, profesi, dan usia yang bervarian. Tak satupun dari mereka berlatar belakang seniman atau musisi. Tujuan eksperimen tersebut sederhana, menyelidiki pengalaman tiap individu ketika mempersepsi keindahan.

 

Mereka dibawa ke laboratorium, lalu masing-masing diperlihatkan lukisan serta secuplik musik yang terus berganti setelah enam belas detik berselang. Setelahnya, masing-masing partisipan diminta tanggapan tentang musik dan lukisan yang mereka nikmati. Ketika memberi tanggapan, Zeki memindai kepala mereka untuk mengetahui bagaimana aktivitas otak para partisipan.

 

Sebagian besar partisipan menilai Adagietto dari Simfoni ke-5 Mahler sebagai musik yang indah. Sebagian besar partisipan menilai konser biola Ligeti jelek. Lewat pindaian MRI, diketahui bahwa semakin intens pengalaman keindahan partisipan, semakin tinggi pula aktivitas perubahan aliran darah di area medieval orbito-frontal cortex (mOFC) mereka. Sedangkan kejelekan visual dan musikal menstimulus area amygdala dan motor cortex, seolah otak hendak memobilisasi sistem psikomotorik untuk melindungi diri melawan kejelekan.

 

Fakta lain menarik adalah keindahan juga berkorelasi dengan hasrat dan cinta. Bagian otak yang sama yang merespon keindahan (mOFC) turut aktif ketika kita melihat orang yang sangat kita cintai. Tidak heran orang pada lazimnya suka menjadikan pasangan romantis sebagai wallpaper gawai, sebagaimana kurator seni suka menempel lukisan yang ia gemari di sudut rumah favoritnya.

 

Penelitian Semir Zeki menjawab arti keindahan yang tak terpecahkan oleh para filsuf dan sejarawan seni, bahwa keindahan merupakan output dari area otak mOFC kita. Temuan Zeki menambah satu pendekatan baru terhadap wacana estetika yakni neuro-estetika. Namun temuan itu tak lepas dari penolakan. Mazhab yang menolak keras neuro-estetika adalah golongan romantis yang menganggap keindahan sebagai ekspresi jiwa murni manusia. Mereka tidak terima kalau keindahan direduksi menjadi fenomena materi semata, seolah itu mengikis sifat luhung dan agung keindahan.

 

*****

 

Pic: reddit.com

Hans Hayon

……..

Oh, I hope you’re happy, but not like how you were with me

Aku berharap kau bahagia, tapi tidak sebahagia seperti saat kau bersamaku

I’m selfish, I know, I can’t let you go

Aku tahu aku egois, aku tidak bisa melepaskanmu

So find someone great, but don’t find no one better

Jadi temukanlah seseorang yang baik, tapi jangan temukan yang lebih baik dariku

I hope you’re happy, but don’t be happier

Aku berharap kau bahagia, tapi jangan terlalu bahagia.

……..

(Happier, Olivia Rodrigo).

 

***

Sudah terlalu sering kita diberitahu bahwa kebahagiaan dan perasaan tidak bahagia merupakan predisposisi batin yang bersifat personal, dengan kadar dan derajat yang berbeda, dari satu orang dengan yang lain, dari satu masa ke masa yang lain. Namun benarkah demikian?

Tulisan ini menyoba membongkar mekanisme monopoli kebahagiaan dalam masyarakat kita sejak masa industrial hingga pos-Industri hari ini. Dengan memeriksa sejumlah asumsi filosofis dan kultural melalui pendekatan ekonomi-politik, tulisan ini berargumen bahwa dimensi kebahagiaan mesti melampaui nilai-nilai pasar sekaligus membuka medan pembahasan baru tentang kebahagiaan sebagai sebuah proses yang tidak pernah rampung digarap.

 

Tiga Cara Memahami Kebahagiaan

Ketidakbahagiaan dapat dibagi ke dalam tiga arus pemikiran utama yakni: Pertama, utilitarianisme. Mereka percaya bahwa kebahagiaan selalu berhubungan dengan kemampuan mengakses kesenangan atau hedonia. Kedua, etis dan teologis, di mana kebahagiaan dipahami sebagai hasil pencapaian dari kehidupan yang baik atau eudaimonia. Ketiga, perspektif historis dan mesianik yang berhubungan dengan janji Pencerahan yang senantiasa ditunda. Ini terutama dipengaruhi oleh pemikiran Frankfurt School yang mendeskripsikan kemungkinan kebahagiaan melalui ketidakhadirannya yang abadi.

 

Cara pandang ketiga tampak dalam karya-karya psikoanalisa awal Sigmund Freud. Bagi Freud, hasrat kita tidak akan pernah terpenuhi tetapi selalu berhubungan dengan kegagalan. Dalam Civilization and its Discontents (2010), buku yang ditulis pada akhir hidupnya, Freud menyimpulkan, “upaya menjadi bahagia, di mana prinsip kesenangan justru membebankan kita, tidak akan pernah terpenuhi”. Ini mengarahkan kita pada perspektif lain bahwa kita bukan lagi mencari kepuasan kita dari salah satu sisi saja. Singkatnya, kita ditakdirkan untuk mencari kebahagiaan meskipun kita tidak pernah bisa lepas dari momen tragis dalam hidup.

 

Distribusi Risiko Ke(tidak)bahagiaan

Pada awal tahun 1970-an, kelompok kanan menggelar parade kemenangan Margaret Thatcher di Inggris dan tentu saja Ronald Reagan di Amerika Serikat, bersamaan dengan kebangkitan krisis minyak global dan selanjutnya robohnya pasar saham pada pertengahan 1970. Mengatasi hal tersebut, tidak butuh waktu lama, Thatcher mengubah agenda politiknya dengan menginisiasi program melawan dan mengalahkan Partai Buruh Inggris. Semua orang tahu, thatcherisme mendukung pasar bebas, kontrol ketat atas belanja publik, privatisasi pelayanan publik. Bagian terakhir inilah yang hari ini kita kenal dengan sebutan neoliberalisme. Sebuah sistem ekonomi yang dibangun dan bertahan melalui mekanisme utang. Atau mengutip Tohmas Piketty dalam Capital in the Twenty-First Century (2014) sebagai “masa lampau yang melahap masa depan”. Pernyataan Piketty itu dapat kita lihat hari ini, dimana-mana.

 

Watak buruk dari neoliberalisme terletak, bukan hanya pada ekonomi melainkan juga merangsek masuk ke dalam sistem sosial, budaya, dan politik. Dengan menjadikan pasar bebas sebagai rule of the game, perhatian publik dibuat kabur untuk melihat bahwa mitos itu diciptakan untuk menyembunyikan monopoli dan privatisasi. Hebatnya lagi, privatisasi diterapkan dalam dua arah, yakni privatisasi modal di satu sisi dan privatisasi serentak distribusi risiko yang dihasilkan di lain sisi. Akibatnya, ketika berbicara tentang ke(tidak)bahagiaan, dimensi itu cenderung direduksi menjadi kesenangan (pleasure) yang dapat dikomodifikasi sedemikian rupa, menyentuh orang per orang secara pribadi dari ruang seminar hingga kamar tidur dan toilet. Akibatnya, ke(tidak)bahagiaan otomatis dianggap sebagai risiko yang mesti ditanggung oleh seseorang secara personal.

 

Gagal menjelaskan akar ekonomi politik ke(tidak)bahagiaan, orang diajak untuk mengunjungi psikiater, psikolog, membeli buku psikologi how to, dan sesekali berlatih berpikir positif. “Segalanya akan indah pada waktunya” merupakan ungkapan paling konkret untuk menjelaskan hal tersebut. Argumentasi ini tidak mengada-ngada. Barbara Ehrenreich dalam bukunya Smile or Die: How Positive Thinking Fooled America and the World (2010) mengeksplorasi tirani positif thinking yang menjauhkan kita dari problem ekonomi politik. Orang dibujuk untuk menghabiskan uang dan waktunya pada janji akan masa depan cerah yang palsu. Ajakan untuk berpikir positif justru membuat kita semakin bodoh, sulit menganalisis akar dari soal yang sedang kita hadapi. Atau kalau pun menemukan akarnya, itu terletak di dalam diri kita sendiri. Akibatnya, situasi ketidakamanan, kerja dengan upah rendah, kemiskinan kelaparan, pengangguran, disebabkan oleh karena mentalitas malas dan tidak mau berusaha. Klaim problem personal semacam ini justru melanggengkan praktik kapital finansial yang memberikan berbagai jenis tawaran mulai dari pinjaman online, kredit “murah”, hingga judi. Seperti Durkheim dalam studinya tentang bunuh diri dalam Suicide (2005) menunjukkan bahwa bunuh diri sebenarnya merupakan efek tak kelihatann dari ketidakbahagiaan yang ditimbulkan oleh kebangkitan industri dan sistem pabrik yang merusak masyarakat tradisional yang juga turut menjelaskan kesengsaraan modern yang ekstrim.

 

Ke(tidak)bahagiaan dan Politik

Subjudul ini dirumuskan persis ketika saya mengingat Ode to Joy karya Ludwig van Beethoven yang disusun pada tahun 1824 khususnya Simphony Nomor 9. Pada tahun 1972, Dewan Eropa menjadikan itu sebagai lagu kebangsaan internasional Uni Eropa. Teks Ode to Joy sebenarnya hasil sedikit modofikasi dari tulisan penyair Jerman, Johann Christoph Friedrich von Schiller pada musim panas 1785. Itu adalah puisi perayaan yang membahas persatuan seluruh umat manusia di dunia.

 

Tanpa harus menuliskan secara lengkap teksnya di sini, dapat disebut bahwa musik di atas mau menegaskan satu hal yang paradoksal. Bahwa beberapa emosi seperti cinta atau benci, kegembiraan atau duka cita, penerimaan atau penolakan, dapat membuat kita bahagia tapi juga membuat kita mudah terluka. Paradoks-paradoks di atas hadir bukan untuk dipecahkan melainkan untuk dialami secara eksistensial. Maksudnya, hadirnya pardoks tersebut hendak membuka percakapan baru tentang basis material eksistensi manusia.

 

Kegagalan filsafat Barat dan metafisika Barat justru terletak di sini yakni mengembalikan dimensi ketidakbahagiaan dan kesengsaraaan manusia pada eksistensinya sebagai manusia yang diliputi oleh dualisme abadi. Tanpa membongkar mekanisme beroperasinya ekonomi politik yang berhubungan secara langsung dengan dimensi eksistensial manusia, percakapan ini terkunci pada isu demokratisasi sebagai sebuah sistem. Itu tampak dalam definisi yang diberikan oleh Hannah Arendt yang berargumen bahwa “tidak seorang pun disebut bahagia atau bebas tanpa partisipasi dan saling berbagi dalam kekuasaan publik”. Arendt menulis tentang “kebahagiaan publik” dalam bukunya On Revolutions yang dipublikasikan pada 1963, melanjutkan esainya berjudul “Revolution and Public Happines” (1960). Apa yang Arendt harapkan dan tekankan yakni semangat radikal untuk memberi energi bagi orang dalam momen-momen revolusioner, membawa orang banyak ke dalam ikatan aktif dengan politik untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan menciptakan dunia yang lebih adil, lebih egaliter, di mana setiap orang dapat memiliki apa yang Arendt lihat sebagai kesenangan (pleasure) berpartisipasi dalam musyawarah publik tentang isu-isu penting.

 

Absen mengelaborasi bagaimana ideologi neoliberalisasi beroperasi, tulisan ini coba menyodorkan perspektif pembanding. Perspektif itu bertolak dari problem mendasar yang menjadi konsentrasi kajian sosial-politik global yakni privatisasi dan monopoli.  

 

Menjadikan Ke(tidak)bahagiaan sebagai Industri

Sulit menebak bagaimana ketidakbahagiaan dibuat menjadi komoditas. Namun dalam bukunya Let Them Eat Prozac (2004), David Healy menjelaskan bahwa pada tahun 1950-an dan 1960-an, hanya ada pasar kecil obat-obatan bagi mereka yang didiagnosa menderita depresi menengah. Tetapi sejak tahun 1970-an, terjadi ekspansi sistematis dan ketika perusahaan farmasi global bernama Eli Lilly yang berbasis di Amerika Serikat meluncurkan Prozac pada tahun 1987 sebagai obat bagi depresi serius dan gangguan mental lainnya, secara cepat Prozac menjadi salah satu obat terlaris di dunia. Patut dicatat bahwa Prozac ini merupakan merk obat minum berupa kapsul dengan bahan aktif utama fluoxetine.

 

Bahkan WHO pada tahun 2012 memprediksi bahwa depresi segera menjadi problem kesehatan tersebesar kedua di dunia sesudah penyakit jantung. Media massa juga terlibat dalam proyek ini untuk memopulerkan gangguan terbaru itu. Pada tahun 2006, BBC menghadirkan komedian populer Stephen Fry untuk mewawancarai selebriti yang membagikan pengalaman schizophrenia dan gangguan bipolarnya. Tidak berhenti di situ. Program ini juga didukung kuat oleh kelompok peneliti fisika terkenal di Harvard Medical School, termasuk Joseph Biederman, yang sekarang diketahui menerima dana dari perusahan-perusahan besar obat. Artikel kritis dari fisikawan Amerika Marcia Angell di New York Review of Books (2011) menyoroti banyak publikasi tentang bahaya dari obat-obat golongan psikotropika dan risiko mempromisikan mereka. Mengkritik publikasi Fisikawan Amerika Daniel Carlat bertajuk Unhinged: The Trouble with Psychiatry (2010), Angel secara gamblang mengatakan bahwa profesi fisikawan sedang dalam krisis sejak secara blak-blakan dihubungkan dengan, dan dimanipulasi oleh, perusahan farmasi. Daniel mengakui bahwa seperti banyak fisikawan lain, dia menerima ribuan dolar dari perusahan obat untuk mendukung penelitian dan pengembangan obat anti-depresan di universitas-universitas.

 

Meskipun demikian, ada juga perspektif lain yang menganalisis depresi dan ketidakbahagiaan sebagai fenomena sosial-kultural daripada penyakit medis. Ada hubungan antara kebahagiaan dan persatuan sebagai perasaan kepublikan. Itu dibentuk pada tahun 2001, dalam bayang-bayang 11 September dan invansi AS ke Irak. Ini juga menjelaskan mengapa masyarakat memilih Bush dan menyetujui adanya perang yang dimulai dengan agresi militer ke Afganistan pada Oktober 2001.

 

Singkatnya, budaya kapitalisme menjaga individu-individu agar tidak puas sehingga mereka dapat terus mencari kepuasan dari sana, tetapi tidak akan pernah puas dengan cara apa pun. Semangat kapitalisme mengatur ekonomi-politik ketidakbahagiaan dan memastikan setiap individu menemukan pemenuhan parsial dengan bekerja dan konsumsi. Kebahagiaan riil, tegas Adorno mengingatkan kita, mestinya bukan terus mencari sumber baru kebahagiaan. Selama periode stabilitas, kapitalisme secara sukses mengatur distribusi kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Tanpa ada analisis ekonomi-politik yang komprehensif, ketidakbahagiaan lalu menjadi konsentrasi kajian psikologi semata. Seolah-olah tidak bahagia hanyalah problem psikologis dan bukan ekonomi-politik. Pereduksian ini dibuat dalam rangka mengembalikan problem tersebut dengan cara melalkukan proses produksi dan konsumsi.

 

Bacaan Lebih Lanjut:

William Davies, The Political Economy of Unhappiness. New Left Review 71, Sep-Oct. 2011:65-80.

Lynne Segal, Radical Happiness (Moments of Collective Joy). London and USA: Verso, 2017.

Keith Dowding, James Hughes, and Helen Margetts (eds.). 2000. Challenges to Democracy (Ideas, Involvement and Institution). Political Studies Association (PSA) Yearbook Series 1999. Palgrave Macmillan.