Sosiologi Kehidupan Sehari-hari

Wahyu Budi Nugroho

Pustaka Egaliter, 2021

x + 423 Halaman

Bookpaper 15 x 23 cm

ISBN 978-623-97821-0-8

 

Harga Pre-Sale Promo 125k sudah termasuk ongkir

Harga Normal 150k belum termasuk ongkir

Pemesanan

WA Komunitas Menulis Sanglah

08983872756

 

Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana jika kartun SpongeBob dikaji secara sosiologis, atau mungkin serial anak Teletubbies? Begitu pula, pemikiran sosiologis seperti apa yang bisa menjelaskan interaksi intens antara Chuck Noland dengan sebuah bola voli dalam film Cast Away? Bagaimana proses psikososiologis hadirnya sosok Joker, musuh bebuyutan Batman? Atau, berbagai fenomena sosial yang lebih akrab di tanah air, seperti; bagaimana jika figur idola generasi milenial seperti Mimi Peri, Young Lex, dan Bowo TikTok dikaji secara sosiologis, juga Godfather of Broken Heart Didi Kempot? Pun, bagaimana penjelasan budaya alay yang kerap digunakan muda-mudi tanah air, juga kebiasaan selfie mereka? Buku ini hadir untuk mengulas dan menjawab serangkaian rasa penasaran di atas.

 

*Wahyu Budi Nugroho adalah sosiolog Universitas Udayana yang telah menulis tidak kurang dari sepuluh buku sosial-humaniora dan ratusan esai yang tersebar di berbagai media. Ia kerap pula menjadi narasumber berbagai media massa, serta menjadi pembicara di banyak kesempatan.


 

[Pic: bbc.com]


I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

Beberapa waktu belakangan ini, dunia perfilman dihebohkan oleh kemunculan salah satu serial terbaru dari Netflix yang berjudul Squid Game. Serial ini berhasil meraih 111 juta penonton kurang dari empat minggu pasca debutnya. Maka tak heran, Chief Content Officer (COO) Netflix Ted Sarandos, menobatkan Squid Game sebagai serial terpopuler sepanjang masa di jagad Netflix.

 

Squid Game merupakan salah satu serial film asal Korea Selatan karya sutradara Hwang Dong Hyuk. Serial ini bercerita mengenai permainan bertahan hidup yang diikuti oleh sejumlah orang demi mendapatkan hadiah 45,6 Milyar Won. Ada banyak hal yang membuat film ini menarik dan ikonik, seperti permainan anak-anak yang dimainkan, diversitas karakter, drama kehidupan yang disuguhkan, dan juga tentunya maskot terpopuler mereka, yakni boneka anak perempuan yang dapat mendeteksi gerak di permainan pertama.

 

Melejitnya popularitas Squid Game semakin menaikkan nama Korea Selatan sebagai negara penghasil film drama/serial dengan cerita epik. Mendunianya nama Korea Selatan tampaknya sarat dengan muatan “glokalisasi”. Menurut George Ritzer (2014), glokalisasi adalah salah satu bentuk perbaduan budaya antara budaya lokal dengan budaya global yang membentuk sebuah realitas baru. Dalam kasus Squid Game, budaya lokal yang dimaksud adalah industri film Korea Selatan dan permainan tradisional di dalam film tersebut, sementara budaya globalnya adalah Netflix itu sendiri. Budaya global sering diidentikkan dengan budaya Barat, sehingga produk yang datang dari budaya Timur dapat digolongkan sebagai bagian dari budaya lokal.

 

Di ranah yang agak berlainan, contoh sederhana dari glokalisasi adalah menu-menu makanan khas Indonesia yang disajikan di rumah makan cepat saji seperti McD atau KFC. Tidak jarang setiap hari kemerdekaan RI mereka mengeluarkan menu-menu dengan cita rasa khas Indonesia seperti burger balado, ayam goreng gulai, es krim rasa cendol, atau kue rasa klepon.

 

Adopsi nilai-nilai global ini menunjuk pada upaya untuk menyeimbangkan antara budaya global dengan budaya lokal, seringkali masyarakat baru mau menerima unsur kelokalan ketika suatu entitas disisipi unsur global yang bersifat universal.

 

Sebelumnya, strategi glokalisasi sudah berhasil dilakukan Jepang melalui industri film animasinya (anime), dan juga makanan-minuman khas mereka seperti sushi, ramen, sake, dan lain-lain. Hal ini berdampak pada semakin dikenalnya nama Jepang berikut beragam budayanya. Langkah ini tampaknya diikuti oleh Korea Selatan melalui industri musik dan perfilmannya.

 

Kurang dari dua dekade, Korea Selatan berhasil memperkenalkan K-Pop, K-Drama, hingga kuliner-kuliner mereka ke seluruh penjuru dunia. Padahal apabila melihat kilas balik di awal tahun 2000-an, tidak banyak orang yang tahu apa itu kimchi, tteokbokki, atau ramyun. Tetapi sekarang, rumah makan Korea sudah menjamur dari yang tanpa bintang hingga berbintang lima. Semua ini berkat K-Drama (drama Korea) yang menayangkan para tokohnya menyantap makanan-makanan tersebut dengan sangat nikmat.

 

Tidak menutup kemungkinan Indonesia nantinya dapat menyusul langkah Jepang dan Korea Selatan yang telah dahulu mendunia, melihat banyaknya potensi-potensi budaya yang dapat kita promosikan. Tantangannya sekarang adalah, ‘apakah orang-orang muda Indonesia masih memahami budaya mereka untuk bisa memromosikannya ke seluruh dunia?’

 

Referensi;

Braindilog Sosiologi Indonesia. 2017. Problematika Glokalisasi di Indonesia : Melestarikan Vs Menghilangkan Budaya Indonesia. Diakses dari: http://www.braindilogsociology.or.id/2017/02/problematika-glokalisasi-di-indonesia.html

CNNIndonesia. 2021. Squid Game Resmi Jadi Serial Terpopuler Netflix. Diakses dari: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20211013070754-220-706979/squid-game-resmi-jadi-serial-terpopuler-netflix

Nugroho, Wahyu Budi. 2021. Sosiologi Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta:Penerbit Egaliter.

Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenadamedia Group

The Guardian. 2021. Squid Game Is Netflix’s Biggest Debut Hit, Reaching 111m Viewers Worldwide. Diakses dari: https://www.theguardian.com/tv-and-radio/2021/oct/13/squid-game-is-netflixs-biggest-debut-hit-reaching-111m-viewers-worldwide

 

Angga Wijaya, penyair kelahiran Jembrana-Bali diundang membaca puisi-puisi pada Adilango (Pergelaran) Pembacaan Karya Sastra “Malam Kata Rupa dan Suara-Harmoni Diri dan Bumi” Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III, 28 Oktober 2021 mendatang. Baginya, ini merupakan kesempatan bagus, sastra modern mendapat tempat yang setara dan sama dengan seni tradisional Bali—imej yang terlanjur melekat jika kita membicarakan hal-ihwal seni (di) Pulau Dewata.

 


Berikut puisi-puisinya yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Menurut salah satu kurator festival tersebut "Tiga puisi ini sublim, sosial dan personal luluh padu".

 

Sajak-sajak Angga Wijaya

[Dibacakan pada Festival Bali Jani, 28 Oktober 2021]

 

 

 

Lagu untuk Ibu

Jika engkau selalu berdendang tentang
kepalsuan dunia, aku pernah ingin mati
tinggalkan semua kenangan tentang diri

Mimpi buruk hantui malam, walau aku
tahu masa lalu telah lama berlalu dan
kalender berganti tanpa pernah kusadari

Engkau di mana saat aku kecil dirawat
di rumah sakit dan terus menanyakan
mengapa kau belum juga datang melihat

Aku terpaksa pulang ke kampung halaman
saat skizofrenia merampas mimpi indah
hidupku, harapan yang sekejap kandas

Akhirnya aku mengenalmu, tak ada lagi
sesal kelahiran, kupeluk masa lalu seperti
memeluk tubuh tuamu di dingin dini hari

Kutemui lagi ibu yang dulu tak sempat
kukenal, ia mengusap kesedihan di hati
yang gundah dan kalah oleh kenyataan

Ibu membaca puisi-puisiku dalam buku.
Ia sangat senang melihat diriku kembali
temukan kepingan diri yang dulu hilang

Kudengar suara pelan di telepon, ibu
datang ke kota tempatku kini bekerja
Kami saling menatap penuh rasa haru


2020

 

 

 

 

A Song for Mother

 

If you always sing about

the fake world, I’ve ever wished to die

leaving memories behind about myself

 

Nightmares haunted the nights, ‘though I

knew that pasts had long gone and

calendar was replaced without I ever notice

 

Where were you when the little me was left

in the hospital and continuously inquired

why hadn’t you come yet to visit

 

I was forced to go back home

when schizophrenia robbed my fancy dream

my life, a hope that ran aground in seconds

 

I could finally recognize you, no more

regret about birth, I’d embraced the past like

embracing your old body in a cold dawn

 

I saw again a mother that I hadn’t

acknowledged before, she wiped sadness in heart

that was restless and defeated by reality

 

Mother read my poems in the book.

Immensely happy to see me back

to find the lost piece of me.

 

I heard her soft voice in the telephone, mother

came to the city where I worked

Stared at each other, we’re filled with emotion

 

2020

 

(Translated from Bahasa Indonesia by Dian Purnama Dewi)

 


 

 

Malam Hari, Lampu-lampu Padam

Ada bisik sepasang kekasih
Di malam ramai bunyi jangkrik
Lampu-lampu seketika padam
Jalanan sepi bagai kota mati

"Apakah harimu bahagia?",
tanya perempuanku tiba-tiba
Lapar yang datang menikam
Mataku jatuh di dompet lusuh

Awal bulan saatnya membayar utang
Tagihan ini-itu membuat pening diri
Sementara tabungan tak banyak ada
Habis untuk makan dan rokok keparat

Malam adalah waktu yang aku rindu
Insomnia, terjaga hingga pagi datang
Obat tidur aku telan dengan terpaksa
Teman setia sepuluh tahun belakangan

Terlelap, di pagi hari kecemasan datang
Datang dan pergi bagai hujan di kota ini
Sampai kapan seperti ini, kau bertanya
Kujawab dengan entah; kepalaku penuh!

2018


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Night Time, The Lights Went Out

 

Whisper of lovers

in the night jazzed up by crickets

Lights suddenly went out

Roads, as empty as a dead city

 

“Are your days filled with happiness?”,

my woman asked all of sudden.

Hunger came stabbing

my eyes, down to the shabby wallet

 

Beginning of the month, time to pay debts

the bills of this and that, granting me headache

While not much of the savings left

gone for food and those damn cigarettes

 

Nights are times that I missed

Insomnia, kept me awake ‘till morning came

sleeping pills, I swallowed in force

my loyal friend in the last ten years

 

Falling asleep, in the morning anxiety showed up

Come and go like the rain in the city

How long will this last, you wondered

I answered with who knows; my head is all stuffed!

 

2018

 

(Translated from Bahasa Indonesia by Dian Purnama Dewi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JL. Sri Wedari, Ubud

Roti yang kau beri belum kumakan
Aku telah kenyang oleh perjalanan
Patung-patung di sepanjang jalan
Mengajarkanku makna masa silam
; kasih, kesabaran adalah awal dan
akhir bagi para pencari.

Memasuki rumahmu, aku merasa
kembali pulang. Keheningan
menyambutku seperti dulu.
Potretmu tergantung di dinding
Mata yang tajam namun teduh
Telanjangi diri yang penuh khilaf

Aku ingin duduk bersamamu
Mendengar petuah dan nasihatmu
Meski pernah kubaca sebelumnya
pada buku-bukumu yang menohok
sanubari. Kau tunjukkan jalan dan
mengajakku berjalan ke dalam diri
Perjalanan bagi para pemberani.

Ah, jiwa-jiwa yang rindu pulang
Aku bersama mereka menemuimu
Bersila di temaram cahaya, lagumu
membawaku terbang, tak terasa
mata ini basah oleh haru-bahagia
Kututup mata dan masuki diri
Hening. Rumah yang kucari
di keramaian dunia.


2018



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Street of Sri Wedari, Ubud

 

The bread you gave, I hadn’t eaten

I was full with journeys

Statues along the streets

taught me what the past means

; compassion, patience is a beginning and

ending for a seeker

 

Getting into your house, I felt

like going home. Silence

greeted me like it used to be.

Your portrait hung on the wall

Keen but calm eyes

stripped off myself full of mistakes

 

I wanted to sit with you

Listening to your words and advice

Though I’ve ever read them before

in your books, striking

my mind. You showed the way and

took me to walk into myself

Journeys for the braves

 

Ah, the souls who are missing home

I walked with them to see you

crossing my legs in the dim light, your song

made me fly, unconsciously

these eyes are wet by happiness

I closed my eyes and entering myself

Solitude. It’s the home I’ve been searching

in this hustling world.

 

2018

 

(Translated from Bahasa Indonesia by Dian Purnama Dewi)

 


 

Tentang Penyair

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Mengawali karir kepengarangan sebagai penulis puisi sejak SMA tahun 2001 saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya di kota kelahirannya, tempat ia menimba banyak ilmu pada Nanoq da Kansas, guru pertama yang mengajarinya menulis, bermain teater, membaca kehidupan, dan melihat dunia dari sisi lain.

Melanjutkan studi ke kota Denpasar, ia tetap menulis puisi, mengisi lembar sastra-budaya koran lokal dan membawanya pada banyak perhelatan sastra, di antaranya Festival Sastra Internasional (2003) yang digagas Komunitas Utan Kayu Jakarta dan jejaring komunitas sastra di Bali. Ia mulai menekuni esai sejak 2008, saat menjadi wartawan tabloid budaya di Denpasar dan kolumnis koran Independent News yang memberinya ruang berekspresi dan mengasah mata pena serta kemampuan menulisnya.

Pernah kuliah di Program Studi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, tak rampung karena penyakit mental skizofrenia mendera di ujung studi membuat ia berada di titik nol kehidupan. Ia terselamatkan berkat cinta dan dorongan kekasih yang membuatnya bangkit, kembali berkarya dan bekerja di Denpasar.

Perkenalan dengan seorang psikiater membuatnya bisa pulih, bersama kawan-kawan senasib membangun Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang kini menjadi garda depan pemberdayaan ODS (Orang dengan Skizofrenia) di Bali dan aktif mengedukasi masyarakat terkait isu kesehatan mental.

Sejak awal 2018 ia telah menerbitkan 6 (enam) buku kumpulan puisi, Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018), Dua Kota Dua Ingatan (Basabasi, 2019), Taman Bermain (Purata Publishing, 2019) dan Notes Going Home (Pustaka Ekspresi, 2019), Tidur di Hari Minggu (Mahima Institute Indonesia, 2020) dan Menulis Halusinasi (Lire Publisher, 2021). Juga, buku kumpulan esai Masa Depan Itu Nisbi (Pustaka Larasan, 2020), buku kumpulan artikel Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (Megalitera, 2020), dan buku kumpulan esai Umbu, Simfoni, Sunyi (Renungan Anak Muda) (Narulis Publisher, 2021).

Pada September 2021, beberapa puisinya diterjemahkan dan diterbitkan di Korea Selatan dalam program penerjemahan puisi penyair disabilitas oleh Korean Cultural Centre bekerja sama dengan Yayasan Bina Ilmu Bali.

Selain bekerja sebagai penulis dan wartawan, dia juga bergiat di Rumah BISAbilitas Denpasar, berbagi ilmu tentang kepenulisan serta mengelola portal sastra sebagai wadah berkarya bagi kawan-kawan penyandang disabilitas di Bali. Ia bisa dihubungi di akun Instagram @anggawijaya548

 

 

About the Poet

 

I Ketut Angga Wijaya was born in Negara, Bali, 14th February 1984, starting his career in writing as a poet since high school in 2001 when he was taking part in Kertas Budaya Community in his hometown, where he learned a lot from Nanoq da Kansas, his first teacher guiding him in writing, theatrical act, reading life, and seeing the world from different point of view.

 

Continuing his study in Denpasar, he kept writing poems, writing for culture and literature column of local newspaper and it took him to many literary events, including International Literature Festival (2003) initiated by Utan Kayu community Jakarta and literature community networks in Bali. He began to write essays since 2008, upon being a journalist of cultural tabloid in Denpasar and columnist of Independent News newspaper, giving him a space to express and sharpen his skills and writing ability.

 

Angga once studied anthropology at Faculty of Letters of Udayana University, but couldn’t finish his study since mental illness - schizophrenia - stroke him in his final years of study, taking him to the bottom point of his life. He was then saved thanks to love and support given by his girlfriend, encouraging him to rise, back to write and work in Denpasar.

 

His acquaintanceship with a psychiatrist enabling him to recover, together with friends of the same fate found Indonesian Schizophrenia Care Community (KPSI) of Bali which now become the front line to empower people with schizophrenia (ODS) in Bali and actively educate the society in regards to mental health issue.

 

Since early 2018, he has published 6 (six) books of poems: Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018), Dua Kota Dua Ingatan (Basabasi, 2019), Taman Bermain (Purata Publishing, 2019), Notes Going Home (Pustaka Ekspresi, 2019), Tidur di Hari Minggu (Mahima Institute Indonesia, 2020), and Menulis Halusinasi (Lire Publisher, 2021). Also, book of essays: Masa Depan Itu Nisbi (Pustaka Larasan, 2020), book of articles: Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (Megalitera, 2020), and book of essays: Umbu, Simfoni, Sunyi (Renungan Anak Muda) (Narulis Publisher, 2021).

 

In September 2021, some of his poems were translated and published in South Korea in a program of poems translation of disabled poets, initiated by Korean Cultural Centre in cooperation with Bina Ilmu Bali Foundation.

 

Apart from working as a writer and a journalist, he’s also active at Rumah BISAbilitas Denpasar, sharing his knowledge on writing and managing a literature portal as a media of creativity for disabled people in Bali. Angga can be reached out at his Instagram account @anggawijaya548

[Pic: furiaflix.net]

Wahyu Budi Nugroho


Tak Segalanya soal Uang?

Orang-orang yang sudah frustasi; banyak menanggung hutang, harus menanggung bea sakit orangtua tanpa siapa pun bisa membantu, dan seabrek masalah hidup lainnya; menjadi wajar bersedia berpartisipasi dalam Squid Game dengan hadiah kurang-lebih 550 Milyar Rupiah, meskipun nyawa menjadi taruhannya.


Mereka adalah orang-orang yang takkan kehilangan apa pun—nothing to lose. Kehidupan telah menempatkan mereka pada kerak struktur sosial; terhina, tergadai, dan tertindas. Tak heran, manusia-manusia seperti ini kerapkali berpikir fatalis: kematian adalah pembebasan.


Hadiah 550 Milyar Rupiah sesungguhnya hanyalah bonus. Jika mereka tiada, segala penderitaan hidup akan terakhiri; tetapi jika menang, mereka akan menjadi milyuner, pun bakal “bahagia” hingga akhir hayat, bahkan sampai ke anak-cucu.


Oleh karenanya, saya secara tegas menolak berbagai analisis tentang Squid Game yang cenderung mereduksi segalanya dalam persoalan uang semata: bahwa motivasi utama manusia-manusia dalam serial itu bertindak dikarenakan-nya.


Orang-orang yang berpartisipasi dalam Squid Game sebelumnya memang telah memilih jalan kematian akibat keputusasaannya, hanya saja mereka mencari “cara mati yang terhormat”. Mereka adalah orang-orang yang telah kenyang dengan absurditas kehidupan, namun sebisa mungkin atau setidaknya, menghendaki cara mati yang tak absurd untuk meninggalkan nama.


Jika mereka memilih bunuh diri, mereka bakal dikenang buruk, itu juga memunculkan stigma bagi orang-orang terdekat mereka untuk waktu lama. Dengan kata lain, penderitaan tak hanya berhenti di satu orang.


Cara mati yang lebih terhormat adalah dengan ikut berperang, menjadi awak kapal pencarian dunia baru, mengorbankan nyawa untuk orang lain, atau bisa juga: berpartisipasi dalam Squide Game. Kematian-kematian ini lebih bisa diterima, bahkan untuk kematian di deretan awal, pelakunya justru bakal diganjar penghargaan oleh masyarakat.


Dengan demikian, rumusan layaknya “uang mampu menguantitafifkan atau mengukur segala sesuatu”, termasuk harga diri, kehormatan, bahkan nyawa; tak selalu berlaku. Hanya orang-orang yang sebelumnya sudah memilih kematian-lah yang bisa memertaruhkan nyawanya.



Tak Perlu Heran, Squid Game Nyata Pernah Ada di Indonesia

Masih ingat dengan salah satu program televisi swasta yang membuat kontes menyanyi, kemudian pemenangnya bakal dilunasi seluruh hutangnya? Ini adalah Squid Game nyata di tanah air, hanya saja dengan format yang berbeda, dan yang dibunuh bukan “kehidupan biologis” pesertanya, tetapi “karakternya”.


Bayangkan, seseorang dengan besaran hutang tertentu—kebanyakan belasan hingga puluhan juta—secara sukarela harus mengakui besaran hutang yang ditanggungnya di sebuah stasiun televisi, disiarkan secara nasional, dan ditonton puluhan bahkan ratusan juta orang. Singkat kata, seseorang terpaksa harus menanggung malu sedemikian hebatnya agar hutang-hutangnya terlunasi.


Faktual, tak hanya dirinya semata yang sedang dipermalukan—atau menanggung malu—tetapi juga keluarganya, kerabat-kerabat dekatnya, juga kawan-kawan dekatnya; kemana mereka selama ini? Mengapa Si Kontestan sampai harus menempuh jalan ini untuk melunasi hutangnya?


Hal yang tak kalah parah adalah tertutupnya akses ekonomi Si Kontestan setelahnya. Pasca dirinya tersiar secara nasional, tentu orang-orang akan berpikir dua kali memberikan pinjaman kepadanya: “Kali ini ia bisa melunasi karena memenangi kontes menyanyi, tetapi bagaimana untuk ke depannya?”.


Dalam kacamata analisis normatif, boleh jadi ada dua hal yang disorot. Pertama, acara-acara semacam itu tidaklah etis, bahkan tidak manusiawi. Kedua, acara-acara semacam itu seakan membenarkan tesis, orang mau melakukan apa pun demi uang—homo economicus—termasuk menggadaikan harga diri, rasa malu, juga mengorbankan modal sosialnya.


Tetapi lagi-lagi, analisis normatif seringkali lupa (baca: gagal) menempatkan diri dalam posisi aktor atau si pelaku. Jika memang seseorang sudah tak memiliki cara lain untuk melunasi hutangnya, hendak bagaimana lagi? Apakah si pembuat analisis normatif bersedia melunasi hutang-hutangnya? Ataukah ia hanya menjadikan para korban sebagai objek analisisnya, yang dengan demikian bebas untuk dinilai dan dihakimi?


Lebih jauh, apakah negara bisa melunasi hutang-hutangnya? Lembaga-lembaga sosial tempat ia bernaung bisa melunasi hutang-hutangnya? Tidak. Sekali lagi, kata-kata Chairil Anwar terbukti: “Nasib adalah kesunyian masing-masing”.



Negara yang Salah, bukan Masyarakat?

Kita bisa dengan mudah menyalahkan negara karena membuat warganya tak memperoleh kehidupan yang layak, terjerat hutang, terlebih untuk biaya pendidikan dan kesehatan, karena seharusnya, dalam negara yang berkonsep welfare state terutama, seyogiyanya menanggung seluruh investasi sektor publik—pendidikan, kesehatan, jaminan hari tua, dan lain-lain. Tetapi, bagaimana jika negara juga terjerat hutang?


Memang, negara bisa dikritik atau disalahkan ketika warganya tak memperoleh kehidupan yang layak, dalam arti, tak terpenuhinya berbagai jaminan sosial dasarnya. Bahkan secara lebih spesifik, kita bisa menuding pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota, juga berbagai perangkat pemerintahan yang ada di bawahnya untuk bertanggung jawab.


Tetapi, negara tak bisa dikritik atau disalahkan untuk warganya yang sengsara terjerat hutang akibat perilaku hidup konsumtif, foya-foya, dan membudalkan libido ekonominya. Apakah dikarenakan salah satu aplikasi belanja daring menawarkan kemudahan belanja lewat hutang, kemudian para penggunanya tak mampu melunasi, aplikasi belanja daring itu bisa disalahkan?


Sebaliknya, negara pun juga bisa disalahkan ketika korupsi masih merajalela sehingga menghambat pembangunan sosial warganya. Lalu, siapakah yang patut disalahkan? Jangan-jangan, kita memang tak pernah membutuhkan solusi, tetapi pihak untuk disalahkan. Absurd.

 

*****

 



“Cepat sembuh ya!”

Ujar satgas yang bertugas mengantar pasien suspect Covid-19. Sambil menutup pintu mobil, sepertinya ia bergegas untuk kembali menjemput pasien lain. Saat itu pukul 8 malam. Bahkan katanya mereka tak sempat untuk makan malam di jam yang tepat. Plastik bening seukuran dua kali kursi pengemudi itu menjadi pembatas antara yang menyetir dengan penumpang di dalamnya.
Aku turun dan mengangkut barang-barangku. Dua tas tenteng dan satu ransel yang cukup berat sangat merepotkan untuk diangkut sendiri. Tak ada yang membantu, bahkan menyapaku saat sampai di Lobi. Yang menyambutku hanyalah meja kuning dengan berbagai makanan dan barang titipan yang terlihat berserakan.
Aku masih tak percaya bahwa pada akhirnya akan menjalani karantina di Isolasi Terpusat. Meski begitu, saat sampai di sana aku masih tenang-tenang saja. Mengisolasi diri adalah hal yang sebenarnya biasa aku lakukan. Lebih tepatnya menjauhkan diri dari manusia.
Tapi yang aku pikirkan adalah: apakah aku bisa betah berdiam diri di balik tembok selama 10 hari lebih?
Entahlah. Hingga aku mendapatkan nomor kamar, aku masih tak ingin berpikir yang aneh-aneh.
Keseharianku biasanya habis untuk menulis. Karena pekerjaanku memang begitu. Terkadang pikiran dan diri ini sudah lelah lama-lama berdiam diri di depan laptop. Cara untuk mengusir lelah biasanya adalah mengobrol dengan teman-teman dekatku.
Meski aku benci berinteraksi dengan banyak orang, aku bukanlah anti sosial. Aku tak punya masalah jika harus memulai percakapan atau mengobrol tentang banyak hal.
Aku hanya benci jika obrolan yang dibangun adalah hal-hal menyebalkan, yang seharusnya tak perlu diutarakan. Hal tersebutlah yang membuat diriku sangat ingin sekali mengisolasi diri. Setidaknya energiku bisa diisi ulang saat sendiri. Ini adalah waktu yang tepat. Tapi mengapa aku masih saja merasa kosong?
Hari pertama, sepertinya aku betah melakukan apapun sendiri. Hanya melakukan hal-hal untuk diri sendiri bukanlah sesuatu yang sulit.
Hari kelima, kegundahan itu mulai tiba. Rasanya seperti ulat yang menggeliat ingin keluar dari tanah. Aku mulai sering memposting hal-hal remeh di sosial mediaku. Kesannya memang seperti sedang mencari simpati.
Aku ingin orang-orang memberi perhatian. Aku ingin mereka selalu membalas pesan singkatku dan berujung pada percakapan tanpa batas.
Sepertinya isolasi telah menumbuhkan energiku untuk berinteraksi dengan manusia. Meski ada beberapa dari mereka yang belum pernah kutemui sebelumnya. Percakapan tanpa berhadapan satu sama lain, hanya bergantung pada seberapa cepat masing-masing dari kami membalas pesan singkat itu sesungguhnya membantuku untuk membunuh sepi.
Merawat kesendirian dalam waktu yang lama bukanlah hal yang mudah. Kerentanan akan kerap dialami bagi mereka yang memutuskan untuk menjadi seorang individual.
Ketika mereka, seorang individu yang dituntut untuk mengisolasi diri. Murni bukan dari keinginan mereka sendiri, ternyata dapat memicu perasaan kosong.
Kemungkinan hal ini terjadi karena tak ada energi yang membuat mereka hidup. Meski terkadang mereka tak ingin berbicara dengan orang lain, mereka bisa saja mendapatkan energi dari apa yang mereka lihat ketika berada di ruang terbuka. 
Bisa jadi energi mereka adalah melihat bagaimana orang-orang saling bercakap atau hanya duduk di atas pasir sambil menghirup udara laut.
Mengisolasi diri di dalam ruang tertutup memang hanya membuat diri ini menjadi semakin kosong. Pelarian terbaik adalah dengan membangun percakapan melalui pesan singkat. 
Usaha mencari perhatian kepada orang-orang melalui pesan singkat itu ternyata malah membuatku merasa superior. Dengan begitu aku bisa membunuh sepi. Kesendirian yang biasa aku lalui tetaplah terawat. Aku tak perlu kontak fisik dengan mereka. Aku bisa menemukan diriku bahwa energi yang ku dapatkan adalah melalui kata-kata.
Seperti membaca buku, berlarut dalam kisah si penulisnya. Aku bisa berbagi cerita kepada mereka. Menyelami percakapan yang semakin dalam. Aku bisa mendengar kisah mereka. Kami saling bersahutan sama lain. Seolah-olah percakapan ini tidak ada habisnya. Tak perlu menunggu waktu yang akan datang untuk membuat janji temu. 
10 hari mengisolasi diri bukanlah waktu yang begitu lama. Akan tetapi, rentang waktu tersebut membuatku banyak merenung. Mengilhami berbagai pertanyaan yang berputar di kepala. Aku bisa perlahan menyusun puzzle kehidupan, menemukan diri.
Terima kasih untuk kalian yang menyempatkan diri untuk membalas pesan singkatku. Atau menanggapi hal-hal bodoh yang kerap aku unggah ketika diriku merasa gundah.
Kalian lah yang telah menjadi energi untuk membunuh rasa sepi. Terima kasih karena sudah ada.

—Tulisan ini dibuat ketika penulis, Laksmi Mutiara Prameswari sedang berada di isolasi terpusat pada akhir Agustus 2021. Ada banyak hal yang ia temukan ketika tengah menjalani isolasi, salah satunya adalah terciptanya esai ini.