[Pic: medium.com]

Adelia Hardianti Muhammadia

 

Teori uses and gratification (kegunaan dan kepuasan) yang dicetuskan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada tahun 1940 merupakan sebuah model teori yang memandang khalayak sebagai audiens aktif pengguna media. Teori uses and gratification menjelaskan bagaimana media dapat memenuhi kebutuhan pribadi sosial khalayak yang aktif menggunakannya (Santoso & Setiansah, 2010: 140). Teori ini menjelaskan asal-mula kebutuhan secara psikologis dan sosial yang menimbulkan harapan-harapan tertentu akibat media.

 

Adanya keinginan khalayak mengonsumsi media tidak terlepas dari motif-motif atau keinginan. Dari keinginan yang terpenuhi maka akan tercapai sebuah kepuasan, dan jika tidak, khalayak akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk memperoleh kepuasan maksimal. Littlejohn, Foss, & Oetzel (2017) menjelaskan bahwa khalayak pengonsumsi media termotivasi oleh berbagai motif dan kebutuhan mereka dalam memilih jenis media untuk memuaskan kebutuhannya. Penggunaan media dapat diukur melalui hubungan individu dengan media, jenis media, serta jumlah waktu berdasarkan intensitasnya.

 

Khalayak memiliki sejumlah alasan dan usaha untuk mencapai tujuan tertentu ketika menggunakan media. (Mcquail, 1996: 9) mengemukakan empat alasan mengapa audiens menggunakan media, yaitu:

 

Pengalihan (disversion), yaitu melarikan diri dari rutinitas atau aktivitas sehari-hari.

 

Hubungan personal, terjadi ketika orang menggunakan media sebagai pengganti teman.

 

Identitas personal, sebagai cara memperkuat nilai-nilai individu.

 

Pengawasan (surveillance), yaitu informasi mengenai bagaimana media membantu individu mencapai sesuatu.

 

Efek yang timbul dari diri khalayak seperti emosi dan perilaku dapat dioperasionalisasikan sebagai evaluasi kemampuan media untuk memberi kepuasan. Teori ini memiliki beberapa cakupan dasar yaitu asal-mula kebutuhan, kebutuhan sosial dan psikologis, ekspektasi yang timbul dari kebutuhan tersebut, media massa atau sumber lain yang digunakan, pola pemaparan media akibat keterlibatan dalam kegiatan lain, munculnya pemenuhan kebutuhan dan munculnya konsekuensi lain yang tidak direncanakan. Dengan kata lain, teori ini berupaya memahami interaksi antara asal kebutuhan dengan konteks pengguna media (Palmgreen, 1985).

 

Jika dikaitkan dengan teori uses and gratification, dalam proses ini audiens telah menemukan gratifikasi yang diperoleh. Media bekerja dengan menyoroti bagian dari dunia sosial pada suatu waktu (Lippmann, 1965: 107). Karena audiens selektif tentang keterpaparan mereka terhadap informasi, maka audiens akan secara selektif memilih bagian dunia yang disorot yang ingin mereka lihat. Semakin banyak khalayak mengembangkan kebiasaan khusus dalam memilih media, semakin besar kemungkinan mereka terpapar pada kelompok informasi tertentu (Tewksbury, 2005). Dalam asumsi teori uses and gratification, jika audiens tidak menemukan konten yang disukainya, maka ia akan terus mencari hingga menemukan konten yang sesuai dengan preferensinya.

 

*****


[Pic: valetmag.com]

Tyo Mokoagow

 

Roman Krznaric berkata bahwa manusia pada dasarnya adalah Homo Empathicus. Sembilan puluh delapan persen dari kita sebenarnya punya potensi berempati yang tinggi. Dan fitrah ini sudah cukup sebagai alasan bahwa revolusi bisa tercipta dari empati yang paling sederhana sekalipun.

 

Ia mengatakan bahwa kita harus mengajarkan empati sejak dari dini. Bahkan setiap orangtua, tengah belajar berempati kepada anak-anaknya dengan berusaha memahami keinginan dan ketidaksukaan buah hatinya. Dalam skala yang lebih luas, empati dapat meningkatkan kerja sama sosial. Bila Anda fokus berempati kepada seseorang atau suatu kelompok, maka daya moral Anda akan meningkat cepat.

 

“Kapan pun kamu merasa bimbang, atau kamu merasa terlalu egoistis, terapkan ujian ini: Ingatlah wajah dari orang paling malang yang pernah kamu lihat, dan tanyai diri kamu sendiri, apakah ada tindakan yang berguna yang bisa kamu lakukan untuknya sekarang? Dengan begitu, keraguan dan individualitasmu akan mencari,” demikian ujar Mahatma Gandhi, seorang praktisi empati radikal.Gandhi prrmah berkata bahwa ia tidak sekadar Hindu, ia juga Katolik, ia juga Muslim, dan lain-lain…

 

Yang lebih radikal lagi, kita bahkan harus berempati kepada musuh kita. Saya pikir, Robert Green yang menulis 48 Hukum Kekuasaan dan Sun Tzu pun melakukan hal yang sama. Peperangan adalah seni membaca siasat musuh, dan untuk itu, diperlukan energi empati yang tinggi.

 

Ada satu saran menarik yang saya petik dari filsuf ini. Ia berkata, demi mengasah empati, cobalah untuk sekali seminggu berbicang-bincang dengan orang asing. Memancing percakapan dengan siapapun dari pelbagai latar belakang yang acak dan tak tertebak. Berbincanglah tentang cuaca, atau situasi politik terkini, atau tentang pekerjaan, atau tentang rumah, dan macam-macam lagi. Yang lebih menantang lagi, berbincanglah dengan orang yang secara signifikan berbeda dengan Anda, orang yang dilekati oleh stereotip tertentu bahkan.

 

Krznaric memperkenalkan konsep petualangan eksperensial dalam melatih empati. Namanya “Dialogue in the Dark”. Ini seperti museum di mana orang-orang datang dengan penutup mata, di ruangan gelap gulita, tak ada cahaya sama sekali. Semua pengunjung masuk dan dipandu pelayan. Di sana mereka akan belanja, makan malam, berbincang-bincang, dalam situasi di mana mata sama sekali tak bekerja. Aktivitas tersebut dilakukan selama sejam. Kita tampaknya dilatih untuk memahami kegelapan, dan memahami seseorang di balik dinding kegelapan yang mengahalangi kita. Kita lebih terlatih memahami hal-hal yang banyak tak kita hiraukan.

 

Konsep terakhir yang menarik adalah outrospeksi. Kebalikan dari introspeksi. Bila dahulu sekali Sokrates bilang, kalau untuk jadi manusia bijak dan bajik kita harus menyelami diri kita sendiri (introspeksi), maka Krznaric menyeimbangkan introspeksi dan outrospeksi untuk memenuhi tujuan Sokrates itu. Outrospeksi ialah gagasan tentang siapa Anda, dan melangkah keluar dari diri Anda lalu menatap mata orang lain demi memahami dunia mereka.

 

Zaman empati tidak berhenti. Justru baru dimulai pada era internet ini. Sepuluh tahun terakhir, kata empati di mesin pencarian raksasa frekuensinya meningkat dua kali lipat. Kita semakin terhububung dengan orang asing dalam sekali waktu terasing dari diri sendiri. Kita mungkin perlu orang asing, supaya bisa belajar mengenali diri sendiri, supaya tahu cara  terbaik memperlakukan penderitaan manusia dengan penuh takzim.

 

*****

[Pic: sfmoma.org]

Tyo Mokoagow

 

Apa itu keindahan? Pertanyaan tersebut telah berusia 2500 tahun lamanya diperdebatkan oleh para filsuf estetika dan sejarawan seni. Ketidaksepakatan soal karakter tunggal keindahan tak dapat dielakkan.

 

Semir Zeki, neurolog Turki mengutip Clive Bell, yang menurutnya berhasil merangkum soal itu dalam buku "Art" (1914): "Apakah satu persamaan umum antara Santa Sofia di Istanbul, jendela di Katedral Chartres Perancis, pahatan Meksiko, mangkuk Cina, karpet Persia, lukisan dinding Giotta di Padua, dan karya agung Poussin, Pierro Della Franciska, dan Cezanne?" Mereka yang punya mata sehat, tentu akan menjawab keindahan sebagai benang merah di antara semua objek itu.

 

Filsuf Amerika-Irlandia, Edmund Burke, mengartikan keindahan sebagai kualitas dalam tubuh yang bertindak secara mekanis berdasarkan pikiran manusia lewat intervensi inderawi. Namun keindahan dalam filsafat estetika, tidak berkorelasi dengan keindahan visual atau keindahan teatrikal atau keindahan piotis atau keindahan sastrawi atau keindahan musikal; keindahan adalah konsep yang teramat abstrak.

 

Lebih lanjut, Burke mengidentikkan seni dan keindahan. Tapi dua hal itu lantas dipisahkan oleh Marcel Duchamp lewat instalasi seninya yakni urinoir, kakus yang diberi tanda tangan olehnya. Seni avant garde Duchamp ialah upaya menceraikan seni dan keindahan. Satu-satunya yang membedakan benda yang terkesan jorok tersebut hanyalah tanda tangan Duchamp sendiri. Semir Zeki turut memisahkan kedua hal tersebut, ia lalu berfokus pada topik soal keindahan.

 

Zeki amat mengagumi Clive Bell, ia mendengar nasihatnya dengan baik. "Kalau kamu mau tahu apa itu keindahan, jangan bertanya kepada sejarawan karena mereka tahu terlalu banyak, kamu mesti pergi kepada orang primitif dan anak-anak dan orang-orang yang tak berpendidikan, sebab mereka juga bisa menikmati keindahan.".

 

Syahdan, Zeki dan para koleganya membuat eksperimen yang melibatkan pelbagai macam subjek di dalamnya. Partisipan eksperimen itu berasal banyak latar belakang: gender, etnis, agama, profesi, dan usia yang bervarian. Tak satupun dari mereka berlatar belakang seniman atau musisi. Tujuan eksperimen tersebut sederhana, menyelidiki pengalaman tiap individu ketika mempersepsi keindahan.

 

Mereka dibawa ke laboratorium, lalu masing-masing diperlihatkan lukisan serta secuplik musik yang terus berganti setelah enam belas detik berselang. Setelahnya, masing-masing partisipan diminta tanggapan tentang musik dan lukisan yang mereka nikmati. Ketika memberi tanggapan, Zeki memindai kepala mereka untuk mengetahui bagaimana aktivitas otak para partisipan.

 

Sebagian besar partisipan menilai Adagietto dari Simfoni ke-5 Mahler sebagai musik yang indah. Sebagian besar partisipan menilai konser biola Ligeti jelek. Lewat pindaian MRI, diketahui bahwa semakin intens pengalaman keindahan partisipan, semakin tinggi pula aktivitas perubahan aliran darah di area medieval orbito-frontal cortex (mOFC) mereka. Sedangkan kejelekan visual dan musikal menstimulus area amygdala dan motor cortex, seolah otak hendak memobilisasi sistem psikomotorik untuk melindungi diri melawan kejelekan.

 

Fakta lain menarik adalah keindahan juga berkorelasi dengan hasrat dan cinta. Bagian otak yang sama yang merespon keindahan (mOFC) turut aktif ketika kita melihat orang yang sangat kita cintai. Tidak heran orang pada lazimnya suka menjadikan pasangan romantis sebagai wallpaper gawai, sebagaimana kurator seni suka menempel lukisan yang ia gemari di sudut rumah favoritnya.

 

Penelitian Semir Zeki menjawab arti keindahan yang tak terpecahkan oleh para filsuf dan sejarawan seni, bahwa keindahan merupakan output dari area otak mOFC kita. Temuan Zeki menambah satu pendekatan baru terhadap wacana estetika yakni neuro-estetika. Namun temuan itu tak lepas dari penolakan. Mazhab yang menolak keras neuro-estetika adalah golongan romantis yang menganggap keindahan sebagai ekspresi jiwa murni manusia. Mereka tidak terima kalau keindahan direduksi menjadi fenomena materi semata, seolah itu mengikis sifat luhung dan agung keindahan.

 

*****

 

Pic: reddit.com

Hans Hayon

……..

Oh, I hope you’re happy, but not like how you were with me

Aku berharap kau bahagia, tapi tidak sebahagia seperti saat kau bersamaku

I’m selfish, I know, I can’t let you go

Aku tahu aku egois, aku tidak bisa melepaskanmu

So find someone great, but don’t find no one better

Jadi temukanlah seseorang yang baik, tapi jangan temukan yang lebih baik dariku

I hope you’re happy, but don’t be happier

Aku berharap kau bahagia, tapi jangan terlalu bahagia.

……..

(Happier, Olivia Rodrigo).

 

***

Sudah terlalu sering kita diberitahu bahwa kebahagiaan dan perasaan tidak bahagia merupakan predisposisi batin yang bersifat personal, dengan kadar dan derajat yang berbeda, dari satu orang dengan yang lain, dari satu masa ke masa yang lain. Namun benarkah demikian?

Tulisan ini menyoba membongkar mekanisme monopoli kebahagiaan dalam masyarakat kita sejak masa industrial hingga pos-Industri hari ini. Dengan memeriksa sejumlah asumsi filosofis dan kultural melalui pendekatan ekonomi-politik, tulisan ini berargumen bahwa dimensi kebahagiaan mesti melampaui nilai-nilai pasar sekaligus membuka medan pembahasan baru tentang kebahagiaan sebagai sebuah proses yang tidak pernah rampung digarap.

 

Tiga Cara Memahami Kebahagiaan

Ketidakbahagiaan dapat dibagi ke dalam tiga arus pemikiran utama yakni: Pertama, utilitarianisme. Mereka percaya bahwa kebahagiaan selalu berhubungan dengan kemampuan mengakses kesenangan atau hedonia. Kedua, etis dan teologis, di mana kebahagiaan dipahami sebagai hasil pencapaian dari kehidupan yang baik atau eudaimonia. Ketiga, perspektif historis dan mesianik yang berhubungan dengan janji Pencerahan yang senantiasa ditunda. Ini terutama dipengaruhi oleh pemikiran Frankfurt School yang mendeskripsikan kemungkinan kebahagiaan melalui ketidakhadirannya yang abadi.

 

Cara pandang ketiga tampak dalam karya-karya psikoanalisa awal Sigmund Freud. Bagi Freud, hasrat kita tidak akan pernah terpenuhi tetapi selalu berhubungan dengan kegagalan. Dalam Civilization and its Discontents (2010), buku yang ditulis pada akhir hidupnya, Freud menyimpulkan, “upaya menjadi bahagia, di mana prinsip kesenangan justru membebankan kita, tidak akan pernah terpenuhi”. Ini mengarahkan kita pada perspektif lain bahwa kita bukan lagi mencari kepuasan kita dari salah satu sisi saja. Singkatnya, kita ditakdirkan untuk mencari kebahagiaan meskipun kita tidak pernah bisa lepas dari momen tragis dalam hidup.

 

Distribusi Risiko Ke(tidak)bahagiaan

Pada awal tahun 1970-an, kelompok kanan menggelar parade kemenangan Margaret Thatcher di Inggris dan tentu saja Ronald Reagan di Amerika Serikat, bersamaan dengan kebangkitan krisis minyak global dan selanjutnya robohnya pasar saham pada pertengahan 1970. Mengatasi hal tersebut, tidak butuh waktu lama, Thatcher mengubah agenda politiknya dengan menginisiasi program melawan dan mengalahkan Partai Buruh Inggris. Semua orang tahu, thatcherisme mendukung pasar bebas, kontrol ketat atas belanja publik, privatisasi pelayanan publik. Bagian terakhir inilah yang hari ini kita kenal dengan sebutan neoliberalisme. Sebuah sistem ekonomi yang dibangun dan bertahan melalui mekanisme utang. Atau mengutip Tohmas Piketty dalam Capital in the Twenty-First Century (2014) sebagai “masa lampau yang melahap masa depan”. Pernyataan Piketty itu dapat kita lihat hari ini, dimana-mana.

 

Watak buruk dari neoliberalisme terletak, bukan hanya pada ekonomi melainkan juga merangsek masuk ke dalam sistem sosial, budaya, dan politik. Dengan menjadikan pasar bebas sebagai rule of the game, perhatian publik dibuat kabur untuk melihat bahwa mitos itu diciptakan untuk menyembunyikan monopoli dan privatisasi. Hebatnya lagi, privatisasi diterapkan dalam dua arah, yakni privatisasi modal di satu sisi dan privatisasi serentak distribusi risiko yang dihasilkan di lain sisi. Akibatnya, ketika berbicara tentang ke(tidak)bahagiaan, dimensi itu cenderung direduksi menjadi kesenangan (pleasure) yang dapat dikomodifikasi sedemikian rupa, menyentuh orang per orang secara pribadi dari ruang seminar hingga kamar tidur dan toilet. Akibatnya, ke(tidak)bahagiaan otomatis dianggap sebagai risiko yang mesti ditanggung oleh seseorang secara personal.

 

Gagal menjelaskan akar ekonomi politik ke(tidak)bahagiaan, orang diajak untuk mengunjungi psikiater, psikolog, membeli buku psikologi how to, dan sesekali berlatih berpikir positif. “Segalanya akan indah pada waktunya” merupakan ungkapan paling konkret untuk menjelaskan hal tersebut. Argumentasi ini tidak mengada-ngada. Barbara Ehrenreich dalam bukunya Smile or Die: How Positive Thinking Fooled America and the World (2010) mengeksplorasi tirani positif thinking yang menjauhkan kita dari problem ekonomi politik. Orang dibujuk untuk menghabiskan uang dan waktunya pada janji akan masa depan cerah yang palsu. Ajakan untuk berpikir positif justru membuat kita semakin bodoh, sulit menganalisis akar dari soal yang sedang kita hadapi. Atau kalau pun menemukan akarnya, itu terletak di dalam diri kita sendiri. Akibatnya, situasi ketidakamanan, kerja dengan upah rendah, kemiskinan kelaparan, pengangguran, disebabkan oleh karena mentalitas malas dan tidak mau berusaha. Klaim problem personal semacam ini justru melanggengkan praktik kapital finansial yang memberikan berbagai jenis tawaran mulai dari pinjaman online, kredit “murah”, hingga judi. Seperti Durkheim dalam studinya tentang bunuh diri dalam Suicide (2005) menunjukkan bahwa bunuh diri sebenarnya merupakan efek tak kelihatann dari ketidakbahagiaan yang ditimbulkan oleh kebangkitan industri dan sistem pabrik yang merusak masyarakat tradisional yang juga turut menjelaskan kesengsaraan modern yang ekstrim.

 

Ke(tidak)bahagiaan dan Politik

Subjudul ini dirumuskan persis ketika saya mengingat Ode to Joy karya Ludwig van Beethoven yang disusun pada tahun 1824 khususnya Simphony Nomor 9. Pada tahun 1972, Dewan Eropa menjadikan itu sebagai lagu kebangsaan internasional Uni Eropa. Teks Ode to Joy sebenarnya hasil sedikit modofikasi dari tulisan penyair Jerman, Johann Christoph Friedrich von Schiller pada musim panas 1785. Itu adalah puisi perayaan yang membahas persatuan seluruh umat manusia di dunia.

 

Tanpa harus menuliskan secara lengkap teksnya di sini, dapat disebut bahwa musik di atas mau menegaskan satu hal yang paradoksal. Bahwa beberapa emosi seperti cinta atau benci, kegembiraan atau duka cita, penerimaan atau penolakan, dapat membuat kita bahagia tapi juga membuat kita mudah terluka. Paradoks-paradoks di atas hadir bukan untuk dipecahkan melainkan untuk dialami secara eksistensial. Maksudnya, hadirnya pardoks tersebut hendak membuka percakapan baru tentang basis material eksistensi manusia.

 

Kegagalan filsafat Barat dan metafisika Barat justru terletak di sini yakni mengembalikan dimensi ketidakbahagiaan dan kesengsaraaan manusia pada eksistensinya sebagai manusia yang diliputi oleh dualisme abadi. Tanpa membongkar mekanisme beroperasinya ekonomi politik yang berhubungan secara langsung dengan dimensi eksistensial manusia, percakapan ini terkunci pada isu demokratisasi sebagai sebuah sistem. Itu tampak dalam definisi yang diberikan oleh Hannah Arendt yang berargumen bahwa “tidak seorang pun disebut bahagia atau bebas tanpa partisipasi dan saling berbagi dalam kekuasaan publik”. Arendt menulis tentang “kebahagiaan publik” dalam bukunya On Revolutions yang dipublikasikan pada 1963, melanjutkan esainya berjudul “Revolution and Public Happines” (1960). Apa yang Arendt harapkan dan tekankan yakni semangat radikal untuk memberi energi bagi orang dalam momen-momen revolusioner, membawa orang banyak ke dalam ikatan aktif dengan politik untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan menciptakan dunia yang lebih adil, lebih egaliter, di mana setiap orang dapat memiliki apa yang Arendt lihat sebagai kesenangan (pleasure) berpartisipasi dalam musyawarah publik tentang isu-isu penting.

 

Absen mengelaborasi bagaimana ideologi neoliberalisasi beroperasi, tulisan ini coba menyodorkan perspektif pembanding. Perspektif itu bertolak dari problem mendasar yang menjadi konsentrasi kajian sosial-politik global yakni privatisasi dan monopoli.  

 

Menjadikan Ke(tidak)bahagiaan sebagai Industri

Sulit menebak bagaimana ketidakbahagiaan dibuat menjadi komoditas. Namun dalam bukunya Let Them Eat Prozac (2004), David Healy menjelaskan bahwa pada tahun 1950-an dan 1960-an, hanya ada pasar kecil obat-obatan bagi mereka yang didiagnosa menderita depresi menengah. Tetapi sejak tahun 1970-an, terjadi ekspansi sistematis dan ketika perusahaan farmasi global bernama Eli Lilly yang berbasis di Amerika Serikat meluncurkan Prozac pada tahun 1987 sebagai obat bagi depresi serius dan gangguan mental lainnya, secara cepat Prozac menjadi salah satu obat terlaris di dunia. Patut dicatat bahwa Prozac ini merupakan merk obat minum berupa kapsul dengan bahan aktif utama fluoxetine.

 

Bahkan WHO pada tahun 2012 memprediksi bahwa depresi segera menjadi problem kesehatan tersebesar kedua di dunia sesudah penyakit jantung. Media massa juga terlibat dalam proyek ini untuk memopulerkan gangguan terbaru itu. Pada tahun 2006, BBC menghadirkan komedian populer Stephen Fry untuk mewawancarai selebriti yang membagikan pengalaman schizophrenia dan gangguan bipolarnya. Tidak berhenti di situ. Program ini juga didukung kuat oleh kelompok peneliti fisika terkenal di Harvard Medical School, termasuk Joseph Biederman, yang sekarang diketahui menerima dana dari perusahan-perusahan besar obat. Artikel kritis dari fisikawan Amerika Marcia Angell di New York Review of Books (2011) menyoroti banyak publikasi tentang bahaya dari obat-obat golongan psikotropika dan risiko mempromisikan mereka. Mengkritik publikasi Fisikawan Amerika Daniel Carlat bertajuk Unhinged: The Trouble with Psychiatry (2010), Angel secara gamblang mengatakan bahwa profesi fisikawan sedang dalam krisis sejak secara blak-blakan dihubungkan dengan, dan dimanipulasi oleh, perusahan farmasi. Daniel mengakui bahwa seperti banyak fisikawan lain, dia menerima ribuan dolar dari perusahan obat untuk mendukung penelitian dan pengembangan obat anti-depresan di universitas-universitas.

 

Meskipun demikian, ada juga perspektif lain yang menganalisis depresi dan ketidakbahagiaan sebagai fenomena sosial-kultural daripada penyakit medis. Ada hubungan antara kebahagiaan dan persatuan sebagai perasaan kepublikan. Itu dibentuk pada tahun 2001, dalam bayang-bayang 11 September dan invansi AS ke Irak. Ini juga menjelaskan mengapa masyarakat memilih Bush dan menyetujui adanya perang yang dimulai dengan agresi militer ke Afganistan pada Oktober 2001.

 

Singkatnya, budaya kapitalisme menjaga individu-individu agar tidak puas sehingga mereka dapat terus mencari kepuasan dari sana, tetapi tidak akan pernah puas dengan cara apa pun. Semangat kapitalisme mengatur ekonomi-politik ketidakbahagiaan dan memastikan setiap individu menemukan pemenuhan parsial dengan bekerja dan konsumsi. Kebahagiaan riil, tegas Adorno mengingatkan kita, mestinya bukan terus mencari sumber baru kebahagiaan. Selama periode stabilitas, kapitalisme secara sukses mengatur distribusi kebahagiaan dan ketidakbahagiaan. Tanpa ada analisis ekonomi-politik yang komprehensif, ketidakbahagiaan lalu menjadi konsentrasi kajian psikologi semata. Seolah-olah tidak bahagia hanyalah problem psikologis dan bukan ekonomi-politik. Pereduksian ini dibuat dalam rangka mengembalikan problem tersebut dengan cara melalkukan proses produksi dan konsumsi.

 

Bacaan Lebih Lanjut:

William Davies, The Political Economy of Unhappiness. New Left Review 71, Sep-Oct. 2011:65-80.

Lynne Segal, Radical Happiness (Moments of Collective Joy). London and USA: Verso, 2017.

Keith Dowding, James Hughes, and Helen Margetts (eds.). 2000. Challenges to Democracy (Ideas, Involvement and Institution). Political Studies Association (PSA) Yearbook Series 1999. Palgrave Macmillan.

 

 

“Aku dibaringkan di atas bale yang didominasi dengan warna emas. Kaki, tangan, hingga kepala dipegangi oleh orang terdekat. Aku diselimuti dan terus diperingati agar tetap awas. Kidung kematian turut mewarnai. Jangan sampai kesadaranku hilang selama ritual ini berlangsung…”

Metatah, atau potong gigi adalah upacara adat yang wajib dijalani oleh setiap umat Hindu di Bali. Kami percaya bahwa setiap orangtua harus menunaikan beberapa rangkaian upacara adat mulai dari anak-anak mereka berada dalam kandungan hingga saat dewasa dan siap untuk menikah. Salah satu upacara adat yang prosesinya sangat sakral dan penting saat anak-anak mereka beranjak dewasa adalah metatah.

Metatah merupakan prosesi untuk menghilangkan Sad Ripu, yakni enam sifat buruk dalam diri manusia mulai dari hawa nafsu, rakus, marah, mabuk, iri hati, dan bingung. Peleburan keenam sifat buruk yang ada pada diri manusia ini kemudian direfleksikan dengan mengikis perlahan enam gigi bagian atas yang berbentuk taring agar sama-sama rata. Setelah prosesi ini selesai, kami dianggap telah ‘terlahir’ kembali menjadi sosok yang lebih dewasa.

Di balik semua ritual yang sakral dan sarat akan makna, ternyata ada hal-hal yang selalu diwaspadai oleh setiap orang yang tengah bersiap menjalani prosesi metatah. Saat kami berbaring di bale dan bersiap untuk dipotong giginya, kami sama sekali tidak boleh menutup mata. Kami juga disarankan untuk tidak keluar dari rumah sehari sebelum acara bahkan ada yang tidak boleh menginjak tanah. Semua hal tersebut bergantung pada kepercayaan adat di masing-masing daerah Bali yang berbeda.

Hal ini tidak terlepas dari mitos yang menyertainya, bahwa setiap orang yang sedang menjalankan ritual metatah akan rentan disakiti oleh orang-orang yang menggunakan ilmu hitam, bahkan disebut-sebut dapat berasal dari keluarga sendiri.

Apalagi pada saat ritual ini berlangsung, kami akan dibaringkan di atas bale (tempat tidur) dan dianggap sebagai orang mati. Maka dari itu, seluruh anggota tubuh mulai dari kaki, tangan, hingga kepala harus dipegangi keluarga terdekat dari berbagai sisi. Konon katanya, bagi yang menutup mata akan kehilangan kesadaran dan bisa jadi jiwanya akan melayang menuju Nirwana. Kidung atau lagu kematian juga turut dikumandangkan, karena prosesi metatah memang bertujuan untuk ‘melahirkan’ kembali sosok baru yang dewasa dan dianggap telah berhasil meninggalkan masa kanak-kanaknya.

Bahkan sebelum hari H metatah, banyak mitos yang beredar bahwa kami akan kesulitan untuk tidur nyenyak karena ‘diganggu’ makhluk-makhluk gaib. Mendengar berbagai mitos yang beredar, ditambah pengalaman nyata dari yang pernah merasakan hal ini, tentu menjadi ketakutan tersendiri bagi orang-orang yang akan melaksanakan ritual metatah.

Perasaan cemas, khawatir, dan ketakutan karena menganggap akan tidak bisa tidur nyenyak hingga takut ‘diganggu’ tersebut ternyata telah memunculkan kesadaran nonreflektif pada diri individu yang tengah menjalani prosesi metatah. Kesadaran nonreflektif merupakan “muara diri yang hilang”. 

Dalam psikologi eksistensial ala sartean, terdapat dua jenis kesadaran, yakni kesadaran reflektif di mana kesadaran ini memunculkan diri kita untuk hadir dan mengada di dunia. Dengan demikian, bentuk-bentuk ‘ada’ yang lain akan dianggap tiada, karena seseorang telah menganggap bahwa “hanya ada dirinya semata”.

Sedangkan kesadaran nonreflektif adalah ‘berada bagi pihak lain’. Kesadaran ini membuat objek lain adalah hal yang utuh dan membuat seseorang meniadakan diri demi keberadaan yang lain (baca: objek tersebut).

Ketakutan akan ‘diganggu’ makhluk halus, curiga dengan anggota keluarganya yang dianggap sedang mendalami ilmu hitam, hingga kecemasan jika kehilangan kesadaran saat prosesi metatah berlangsung, ternyata dapat menjadi hal yang diwaspadai bahkan menakutkan bagi setiap orang yang akan menjalani prosesi metatah. 

Di sinilah diri mereka berada dalam kesadaran non-reflektif. Mereka terlalu takut akan mitos-mitos yang telah melekat dan terus berlarut dalam kecurigaan dan kewaspadaan akan mitos-mitos metatah yang menyertai mereka.

Sebagai seorang yang telah menjalani prosesi metatah dan telah mendengar berbagai pengalaman serta peringatan akan mitos metatah, saya tetap berusaha agar tidak terlalu ambil pusing untuk memikirkannya. Karena saya percaya bahwa prosesi ini adalah hal yang sakral dan memiliki kekuatan doa yang luar biasa. 

Selama rangkaian prosesi metatah berlangsung, saya memang tetap mengindahkan beberapa aturan seperti tidak keluar rumah, bahkan tidak keluar dari pintu pekarangan. Saya pun berusaha untuk tidur tepat waktu karena besok pagi harus bersiap mepayas agung (riasan perempuan Bali yang cukup menghabiskan waktu). 

Tidak ada hal-hal aneh yang saya rasakan saat menjalani rangkaian prosesi metatah. Saya menjalani ritual sebagaimana mestinya, menuruti apa yang seharusnya dilakukan. Meski beberapa kali saya mendengar mitos-mitos yang menyeramkan baik dari teman-teman maupun kerabat, saya berusaha untuk tidak takut ataupun cemas.

Ketakutan atau kecemasan menurut Sartre merupakan pengalaman di mana individu merasa berada di luar kendalinya. Seorang individu tidak akan merasa takut atau cemas jika segala sesuatunya, termasuk dirinya sendiri berada di dalam kendalinya. Maka dari itu, kita sebagai manusia sesungguhnya memiliki kebebasan. 

Timbulnya pengalaman eksistensial, yakni ‘kebebasan’ atau segala sesuatu yang berada dalam kendali diri sendiri, memungkinkan kita untuk mempertahankan kesadaran reflektif. Salah satu hal yang membuat manusia tidak bisa mencapai kebebasan dalam meyakini diri adalah adalah orang lain. 

Orang-orang yang memberi mitos menakutan, hingga mereka yang disebut-sebut akan menyakiti dengan ilmu hitam saat metatah membuat kita berada pada posisi di luar penilaian diri sendiri. Kita juga menjadi takut dengan hal-hal tentang masa depan, sesuatu yang bahkan belum terjadi. 

Prosesi metatah yang akan dilaksanakan bulan depan, bisa membuat kita takut dan cemas selama sebulan penuh. Di sinilah kita sebagai seorang individu, harus bisa mempertahankan kesadaran reflektif untuk mencapai ‘kebebasan’, meyakini diri untuk melawan ketakutan dan kecemasan yang berkecamuk dalam pikiran. 

Inilah sebuah pengalaman eksistensial yang bisa kita lakukan pada kondisi apa pun, tak terkecuali saat kita harus menjalani prosesi metatah yang banyak memuat mitos menakutan. Satu hal yang bisa saya pastikan saat mempertahankan kesadaran reflektif ini adalah tidak ada satu pun hal-hal yang saya takuti terjadi saat itu. Saya adalah manusia bebas yang meruntuhkan segala kecemasan dalam diri saya sendiri. 

Pada akhirnya, yang bisa mengalahkan ketakutan dalam diri adalah kesadaran saya sendiri. 


                                                            multiplesclerosis.net


"Banyaknya TKA adalah kesalahan kita"

-Luhut Binsar Pandjaitan-



Penyangkalan secara umum diartikan sebagai tindakan aktif yang mengabaikan realitas  atau informasi yang relevan. Pun, penyangkalan juga diletakkan sebagai alat untuk menjauhkan diri dari sebuah tanggung jawab. Lebih jauh, terdapat tiga bentuk penyangkalan; literal, interpretatif, dan implikatif.

Penyangkalan literal

Bentuk penyangkalan secara literal diartikan sebagai bentuk pernyataan bahwa sesuatu tidak terjadi atau tidak benar (Cohen: 2001). Dalam penyangkalan literal, fakta sekaligus informasi di baliknya disangkal (Zerubavel: 2010). Adapun contoh dari praktik penyangkalan literal di ranah pemerintahan: “penggundulan hutan di Indonesia menurun secara signifikan.” Namun, secara fakta dan data, penggundulan hutan mengalami peningkatan. Di ranah konflik: “tidak ada konflik di sini, tidak ada pembantaian, mereka semua berbohong, kami tidak percaya, kami tidak melihat apa-apa.” Pernyataan-pernyataan tersebut menolak untuk mengakui fakta yang terjadi – dengan berbagai alasan, dengan itikad baik atau buruk, dan secara sengaja berbohong sebagai mekanisme pertahanan yang tidak disadari.

Penyangkalan interpretatif

Dalam penyangkalan interpretatif, fakta umum (sesuatu yang terjadi) tidak disangkal. Sebaliknya, mereka diberi arti atau interpretasi yang berbeda dari apa yang terlihat bagi orang lain (Cohen: 2001; Norgaard 2011). Di ranah pribadi, wujud penyangkalan interpretatif seperti: “Saya hanya peminum, bukan pecandu alkohol; saya tidak menderita, hanya diuji dengan berbagai masalah; seks oral adalah perilaku yang tidak pantas, tetapi bukan benar-benar tindakan seks atau hubungan seksual.”  Di ranah konflik: ini adalah pertukaran populasi, bukan pembersihan etnis; kami membunuh karena mereka menyerang terlebih dahulu. Di ranah kebijakan: Covid-19 ada, tetapi tidak perlu dianggap berbahaya; oksigen tidak langka, tapi terbatas; tidak ada penangkapan aktivis, kami hanya mengamankan; ini bukan penggusuran, tapi relokasi. Dengan mengubah kata-kata, dengan eufemisme, atau dengan jargon teknis, para penyangkal membantah makna kognitif yang diberikan pada suatu peristiwa dengan memberikan makna kembali ke peristiwa lain.

Penyangkalan implikatif

Penyangkalan implikatif terjadi ketika upaya penyangkalan atau interpretasi suatu fakta tidak tercapai (Cohen: 2001). Bentuk penyangkalan ini turut dihasilkan dari suatu anggapan bahwa suatu fakta terjadi akibat dari implikasi psikologis, politik atau moral yang mengikuti suatu peristiwa (baca: rasionalisasi sebab-akibat). Adapun praktik penyangkalan implikatif: sebagai saksi perampokan, kita melihat persis apa yang terjadi, tetapi kita menyangkal tanggung jawab sebagai warga negara untuk campur tangan; korupsi dan obral jabatan dianggap wajar dalam sistem politik; adanya penggundulan hutan dianggap lumrah, demi keberlangsungan industri dan pertumbuhan ekonomi. Praktik-praktik penyangkalan tersebut sering disebut “rasionalisasi” (Norgaard 2011). Menganggap peristiwa yang terjadi tidak memiliki hubungan dengan diri kita, sebagai tindakan untuk menghindari risiko menjadi korban atau menganggap orang lain akan akan menangani dan memperbaiki masalah tersebut. 




*****

 

Referensi;

Cohen, Stanley. 2001. States of Denial: Knowing about Atrocities and Suffering. Cambridge: Polity Press. 

Norgaard, Kari Marie. Living in Denial: Climate Change, Emotions, and Everyday Life. Cambridge, Mass: MIT Press, 2011.

Zerubavel, Eviatar. 2010. The Social Sound of Silence: Toward a Sociology of Denial. Pp. 32–44 in Shadows of War: A Social History of Silence in the Twentieth Century, edited by E. Ben-Ze’ev, J. Winter, and R. Ginio. Cambridge: Cambridge University Press.


 


Sosiologi Kehidupan Sehari-hari

Wahyu Budi Nugroho

Pustaka Egaliter, 2021

x + 423 Halaman

Bookpaper 15 x 23 cm

ISBN 978-623-97821-0-8

 

Harga Pre-Sale Promo 125k sudah termasuk ongkir

Harga Normal 150k belum termasuk ongkir

Pemesanan

WA Komunitas Menulis Sanglah

08983872756

 

Pernahkah kita bertanya-tanya, bagaimana jika kartun SpongeBob dikaji secara sosiologis, atau mungkin serial anak Teletubbies? Begitu pula, pemikiran sosiologis seperti apa yang bisa menjelaskan interaksi intens antara Chuck Noland dengan sebuah bola voli dalam film Cast Away? Bagaimana proses psikososiologis hadirnya sosok Joker, musuh bebuyutan Batman? Atau, berbagai fenomena sosial yang lebih akrab di tanah air, seperti; bagaimana jika figur idola generasi milenial seperti Mimi Peri, Young Lex, dan Bowo TikTok dikaji secara sosiologis, juga Godfather of Broken Heart Didi Kempot? Pun, bagaimana penjelasan budaya alay yang kerap digunakan muda-mudi tanah air, juga kebiasaan selfie mereka? Buku ini hadir untuk mengulas dan menjawab serangkaian rasa penasaran di atas.

 

*Wahyu Budi Nugroho adalah sosiolog Universitas Udayana yang telah menulis tidak kurang dari sepuluh buku sosial-humaniora dan ratusan esai yang tersebar di berbagai media. Ia kerap pula menjadi narasumber berbagai media massa, serta menjadi pembicara di banyak kesempatan.


 

[Pic: bbc.com]


I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

Beberapa waktu belakangan ini, dunia perfilman dihebohkan oleh kemunculan salah satu serial terbaru dari Netflix yang berjudul Squid Game. Serial ini berhasil meraih 111 juta penonton kurang dari empat minggu pasca debutnya. Maka tak heran, Chief Content Officer (COO) Netflix Ted Sarandos, menobatkan Squid Game sebagai serial terpopuler sepanjang masa di jagad Netflix.

 

Squid Game merupakan salah satu serial film asal Korea Selatan karya sutradara Hwang Dong Hyuk. Serial ini bercerita mengenai permainan bertahan hidup yang diikuti oleh sejumlah orang demi mendapatkan hadiah 45,6 Milyar Won. Ada banyak hal yang membuat film ini menarik dan ikonik, seperti permainan anak-anak yang dimainkan, diversitas karakter, drama kehidupan yang disuguhkan, dan juga tentunya maskot terpopuler mereka, yakni boneka anak perempuan yang dapat mendeteksi gerak di permainan pertama.

 

Melejitnya popularitas Squid Game semakin menaikkan nama Korea Selatan sebagai negara penghasil film drama/serial dengan cerita epik. Mendunianya nama Korea Selatan tampaknya sarat dengan muatan “glokalisasi”. Menurut George Ritzer (2014), glokalisasi adalah salah satu bentuk perbaduan budaya antara budaya lokal dengan budaya global yang membentuk sebuah realitas baru. Dalam kasus Squid Game, budaya lokal yang dimaksud adalah industri film Korea Selatan dan permainan tradisional di dalam film tersebut, sementara budaya globalnya adalah Netflix itu sendiri. Budaya global sering diidentikkan dengan budaya Barat, sehingga produk yang datang dari budaya Timur dapat digolongkan sebagai bagian dari budaya lokal.

 

Di ranah yang agak berlainan, contoh sederhana dari glokalisasi adalah menu-menu makanan khas Indonesia yang disajikan di rumah makan cepat saji seperti McD atau KFC. Tidak jarang setiap hari kemerdekaan RI mereka mengeluarkan menu-menu dengan cita rasa khas Indonesia seperti burger balado, ayam goreng gulai, es krim rasa cendol, atau kue rasa klepon.

 

Adopsi nilai-nilai global ini menunjuk pada upaya untuk menyeimbangkan antara budaya global dengan budaya lokal, seringkali masyarakat baru mau menerima unsur kelokalan ketika suatu entitas disisipi unsur global yang bersifat universal.

 

Sebelumnya, strategi glokalisasi sudah berhasil dilakukan Jepang melalui industri film animasinya (anime), dan juga makanan-minuman khas mereka seperti sushi, ramen, sake, dan lain-lain. Hal ini berdampak pada semakin dikenalnya nama Jepang berikut beragam budayanya. Langkah ini tampaknya diikuti oleh Korea Selatan melalui industri musik dan perfilmannya.

 

Kurang dari dua dekade, Korea Selatan berhasil memperkenalkan K-Pop, K-Drama, hingga kuliner-kuliner mereka ke seluruh penjuru dunia. Padahal apabila melihat kilas balik di awal tahun 2000-an, tidak banyak orang yang tahu apa itu kimchi, tteokbokki, atau ramyun. Tetapi sekarang, rumah makan Korea sudah menjamur dari yang tanpa bintang hingga berbintang lima. Semua ini berkat K-Drama (drama Korea) yang menayangkan para tokohnya menyantap makanan-makanan tersebut dengan sangat nikmat.

 

Tidak menutup kemungkinan Indonesia nantinya dapat menyusul langkah Jepang dan Korea Selatan yang telah dahulu mendunia, melihat banyaknya potensi-potensi budaya yang dapat kita promosikan. Tantangannya sekarang adalah, ‘apakah orang-orang muda Indonesia masih memahami budaya mereka untuk bisa memromosikannya ke seluruh dunia?’

 

Referensi;

Braindilog Sosiologi Indonesia. 2017. Problematika Glokalisasi di Indonesia : Melestarikan Vs Menghilangkan Budaya Indonesia. Diakses dari: http://www.braindilogsociology.or.id/2017/02/problematika-glokalisasi-di-indonesia.html

CNNIndonesia. 2021. Squid Game Resmi Jadi Serial Terpopuler Netflix. Diakses dari: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20211013070754-220-706979/squid-game-resmi-jadi-serial-terpopuler-netflix

Nugroho, Wahyu Budi. 2021. Sosiologi Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta:Penerbit Egaliter.

Ritzer, George. 2014. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenadamedia Group

The Guardian. 2021. Squid Game Is Netflix’s Biggest Debut Hit, Reaching 111m Viewers Worldwide. Diakses dari: https://www.theguardian.com/tv-and-radio/2021/oct/13/squid-game-is-netflixs-biggest-debut-hit-reaching-111m-viewers-worldwide

 

Angga Wijaya, penyair kelahiran Jembrana-Bali diundang membaca puisi-puisi pada Adilango (Pergelaran) Pembacaan Karya Sastra “Malam Kata Rupa dan Suara-Harmoni Diri dan Bumi” Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III, 28 Oktober 2021 mendatang. Baginya, ini merupakan kesempatan bagus, sastra modern mendapat tempat yang setara dan sama dengan seni tradisional Bali—imej yang terlanjur melekat jika kita membicarakan hal-ihwal seni (di) Pulau Dewata.

 


Berikut puisi-puisinya yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Menurut salah satu kurator festival tersebut "Tiga puisi ini sublim, sosial dan personal luluh padu".

 

Sajak-sajak Angga Wijaya

[Dibacakan pada Festival Bali Jani, 28 Oktober 2021]

 

 

 

Lagu untuk Ibu

Jika engkau selalu berdendang tentang
kepalsuan dunia, aku pernah ingin mati
tinggalkan semua kenangan tentang diri

Mimpi buruk hantui malam, walau aku
tahu masa lalu telah lama berlalu dan
kalender berganti tanpa pernah kusadari

Engkau di mana saat aku kecil dirawat
di rumah sakit dan terus menanyakan
mengapa kau belum juga datang melihat

Aku terpaksa pulang ke kampung halaman
saat skizofrenia merampas mimpi indah
hidupku, harapan yang sekejap kandas

Akhirnya aku mengenalmu, tak ada lagi
sesal kelahiran, kupeluk masa lalu seperti
memeluk tubuh tuamu di dingin dini hari

Kutemui lagi ibu yang dulu tak sempat
kukenal, ia mengusap kesedihan di hati
yang gundah dan kalah oleh kenyataan

Ibu membaca puisi-puisiku dalam buku.
Ia sangat senang melihat diriku kembali
temukan kepingan diri yang dulu hilang

Kudengar suara pelan di telepon, ibu
datang ke kota tempatku kini bekerja
Kami saling menatap penuh rasa haru


2020

 

 

 

 

A Song for Mother

 

If you always sing about

the fake world, I’ve ever wished to die

leaving memories behind about myself

 

Nightmares haunted the nights, ‘though I

knew that pasts had long gone and

calendar was replaced without I ever notice

 

Where were you when the little me was left

in the hospital and continuously inquired

why hadn’t you come yet to visit

 

I was forced to go back home

when schizophrenia robbed my fancy dream

my life, a hope that ran aground in seconds

 

I could finally recognize you, no more

regret about birth, I’d embraced the past like

embracing your old body in a cold dawn

 

I saw again a mother that I hadn’t

acknowledged before, she wiped sadness in heart

that was restless and defeated by reality

 

Mother read my poems in the book.

Immensely happy to see me back

to find the lost piece of me.

 

I heard her soft voice in the telephone, mother

came to the city where I worked

Stared at each other, we’re filled with emotion

 

2020

 

(Translated from Bahasa Indonesia by Dian Purnama Dewi)

 


 

 

Malam Hari, Lampu-lampu Padam

Ada bisik sepasang kekasih
Di malam ramai bunyi jangkrik
Lampu-lampu seketika padam
Jalanan sepi bagai kota mati

"Apakah harimu bahagia?",
tanya perempuanku tiba-tiba
Lapar yang datang menikam
Mataku jatuh di dompet lusuh

Awal bulan saatnya membayar utang
Tagihan ini-itu membuat pening diri
Sementara tabungan tak banyak ada
Habis untuk makan dan rokok keparat

Malam adalah waktu yang aku rindu
Insomnia, terjaga hingga pagi datang
Obat tidur aku telan dengan terpaksa
Teman setia sepuluh tahun belakangan

Terlelap, di pagi hari kecemasan datang
Datang dan pergi bagai hujan di kota ini
Sampai kapan seperti ini, kau bertanya
Kujawab dengan entah; kepalaku penuh!

2018


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Night Time, The Lights Went Out

 

Whisper of lovers

in the night jazzed up by crickets

Lights suddenly went out

Roads, as empty as a dead city

 

“Are your days filled with happiness?”,

my woman asked all of sudden.

Hunger came stabbing

my eyes, down to the shabby wallet

 

Beginning of the month, time to pay debts

the bills of this and that, granting me headache

While not much of the savings left

gone for food and those damn cigarettes

 

Nights are times that I missed

Insomnia, kept me awake ‘till morning came

sleeping pills, I swallowed in force

my loyal friend in the last ten years

 

Falling asleep, in the morning anxiety showed up

Come and go like the rain in the city

How long will this last, you wondered

I answered with who knows; my head is all stuffed!

 

2018

 

(Translated from Bahasa Indonesia by Dian Purnama Dewi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JL. Sri Wedari, Ubud

Roti yang kau beri belum kumakan
Aku telah kenyang oleh perjalanan
Patung-patung di sepanjang jalan
Mengajarkanku makna masa silam
; kasih, kesabaran adalah awal dan
akhir bagi para pencari.

Memasuki rumahmu, aku merasa
kembali pulang. Keheningan
menyambutku seperti dulu.
Potretmu tergantung di dinding
Mata yang tajam namun teduh
Telanjangi diri yang penuh khilaf

Aku ingin duduk bersamamu
Mendengar petuah dan nasihatmu
Meski pernah kubaca sebelumnya
pada buku-bukumu yang menohok
sanubari. Kau tunjukkan jalan dan
mengajakku berjalan ke dalam diri
Perjalanan bagi para pemberani.

Ah, jiwa-jiwa yang rindu pulang
Aku bersama mereka menemuimu
Bersila di temaram cahaya, lagumu
membawaku terbang, tak terasa
mata ini basah oleh haru-bahagia
Kututup mata dan masuki diri
Hening. Rumah yang kucari
di keramaian dunia.


2018



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Street of Sri Wedari, Ubud

 

The bread you gave, I hadn’t eaten

I was full with journeys

Statues along the streets

taught me what the past means

; compassion, patience is a beginning and

ending for a seeker

 

Getting into your house, I felt

like going home. Silence

greeted me like it used to be.

Your portrait hung on the wall

Keen but calm eyes

stripped off myself full of mistakes

 

I wanted to sit with you

Listening to your words and advice

Though I’ve ever read them before

in your books, striking

my mind. You showed the way and

took me to walk into myself

Journeys for the braves

 

Ah, the souls who are missing home

I walked with them to see you

crossing my legs in the dim light, your song

made me fly, unconsciously

these eyes are wet by happiness

I closed my eyes and entering myself

Solitude. It’s the home I’ve been searching

in this hustling world.

 

2018

 

(Translated from Bahasa Indonesia by Dian Purnama Dewi)

 


 

Tentang Penyair

I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Mengawali karir kepengarangan sebagai penulis puisi sejak SMA tahun 2001 saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya di kota kelahirannya, tempat ia menimba banyak ilmu pada Nanoq da Kansas, guru pertama yang mengajarinya menulis, bermain teater, membaca kehidupan, dan melihat dunia dari sisi lain.

Melanjutkan studi ke kota Denpasar, ia tetap menulis puisi, mengisi lembar sastra-budaya koran lokal dan membawanya pada banyak perhelatan sastra, di antaranya Festival Sastra Internasional (2003) yang digagas Komunitas Utan Kayu Jakarta dan jejaring komunitas sastra di Bali. Ia mulai menekuni esai sejak 2008, saat menjadi wartawan tabloid budaya di Denpasar dan kolumnis koran Independent News yang memberinya ruang berekspresi dan mengasah mata pena serta kemampuan menulisnya.

Pernah kuliah di Program Studi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana, tak rampung karena penyakit mental skizofrenia mendera di ujung studi membuat ia berada di titik nol kehidupan. Ia terselamatkan berkat cinta dan dorongan kekasih yang membuatnya bangkit, kembali berkarya dan bekerja di Denpasar.

Perkenalan dengan seorang psikiater membuatnya bisa pulih, bersama kawan-kawan senasib membangun Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali yang kini menjadi garda depan pemberdayaan ODS (Orang dengan Skizofrenia) di Bali dan aktif mengedukasi masyarakat terkait isu kesehatan mental.

Sejak awal 2018 ia telah menerbitkan 6 (enam) buku kumpulan puisi, Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018), Dua Kota Dua Ingatan (Basabasi, 2019), Taman Bermain (Purata Publishing, 2019) dan Notes Going Home (Pustaka Ekspresi, 2019), Tidur di Hari Minggu (Mahima Institute Indonesia, 2020) dan Menulis Halusinasi (Lire Publisher, 2021). Juga, buku kumpulan esai Masa Depan Itu Nisbi (Pustaka Larasan, 2020), buku kumpulan artikel Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (Megalitera, 2020), dan buku kumpulan esai Umbu, Simfoni, Sunyi (Renungan Anak Muda) (Narulis Publisher, 2021).

Pada September 2021, beberapa puisinya diterjemahkan dan diterbitkan di Korea Selatan dalam program penerjemahan puisi penyair disabilitas oleh Korean Cultural Centre bekerja sama dengan Yayasan Bina Ilmu Bali.

Selain bekerja sebagai penulis dan wartawan, dia juga bergiat di Rumah BISAbilitas Denpasar, berbagi ilmu tentang kepenulisan serta mengelola portal sastra sebagai wadah berkarya bagi kawan-kawan penyandang disabilitas di Bali. Ia bisa dihubungi di akun Instagram @anggawijaya548

 

 

About the Poet

 

I Ketut Angga Wijaya was born in Negara, Bali, 14th February 1984, starting his career in writing as a poet since high school in 2001 when he was taking part in Kertas Budaya Community in his hometown, where he learned a lot from Nanoq da Kansas, his first teacher guiding him in writing, theatrical act, reading life, and seeing the world from different point of view.

 

Continuing his study in Denpasar, he kept writing poems, writing for culture and literature column of local newspaper and it took him to many literary events, including International Literature Festival (2003) initiated by Utan Kayu community Jakarta and literature community networks in Bali. He began to write essays since 2008, upon being a journalist of cultural tabloid in Denpasar and columnist of Independent News newspaper, giving him a space to express and sharpen his skills and writing ability.

 

Angga once studied anthropology at Faculty of Letters of Udayana University, but couldn’t finish his study since mental illness - schizophrenia - stroke him in his final years of study, taking him to the bottom point of his life. He was then saved thanks to love and support given by his girlfriend, encouraging him to rise, back to write and work in Denpasar.

 

His acquaintanceship with a psychiatrist enabling him to recover, together with friends of the same fate found Indonesian Schizophrenia Care Community (KPSI) of Bali which now become the front line to empower people with schizophrenia (ODS) in Bali and actively educate the society in regards to mental health issue.

 

Since early 2018, he has published 6 (six) books of poems: Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018), Dua Kota Dua Ingatan (Basabasi, 2019), Taman Bermain (Purata Publishing, 2019), Notes Going Home (Pustaka Ekspresi, 2019), Tidur di Hari Minggu (Mahima Institute Indonesia, 2020), and Menulis Halusinasi (Lire Publisher, 2021). Also, book of essays: Masa Depan Itu Nisbi (Pustaka Larasan, 2020), book of articles: Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (Megalitera, 2020), and book of essays: Umbu, Simfoni, Sunyi (Renungan Anak Muda) (Narulis Publisher, 2021).

 

In September 2021, some of his poems were translated and published in South Korea in a program of poems translation of disabled poets, initiated by Korean Cultural Centre in cooperation with Bina Ilmu Bali Foundation.

 

Apart from working as a writer and a journalist, he’s also active at Rumah BISAbilitas Denpasar, sharing his knowledge on writing and managing a literature portal as a media of creativity for disabled people in Bali. Angga can be reached out at his Instagram account @anggawijaya548