Kamar dan Ingatan tentang Bapak



Angga Wijaya

Penyair


Di tanganku ada sebuah buku, aku baru membacanya setelah kudapatkan dari toko buku daring sekitar setahun lalu, membeli dengan menyisihkan upah sebagai wartawan. Membaca buku, kegemaran yang kuingat tumbuh sejak duduk di sekolah dasar.

Ayahku pembaca yang tekun. Di rumah tua yang besar dan penuh cinta, setiap pagi, seusai mendengar berita radio dari kantor berita luar negeri, bersama Ibu, ia duduk di kursi malas dengan khidmat—seperti sebuah ritual—membaca koran, membolak-balik halaman dengan serius. Setelah itu ia menceritakan pada Ibu apa yang ia baca, seperti seorang pendongeng handal. Ibu menimpalinya, dan mereka terlibat dalam perbincangan hangat.

Momen itu sepertinya membekas di ingatanku, menularkan kegemaran membaca pada diriku hingga kini. Ditemani musik klasik, kebiasaan itu kulakukan lagi. Aku berpikir, ketimbang bermain gawai ada baiknya kubaca lagi buku-buku yang teronggok di rak buku. Kebetulan aku sedang menulis esai tentang candu gawai, kuhubungkan dengan teori antropologi yang pernah kudapatkan semasa kuliah dulu.

Membaca buku sambil mendengar musik klasik, suasana itu membawaku pada negeri-negeri jauh, seperti dalam baris sajak atau novel penulis asing. Di luar kamar hujan turun perlahan, kedua tanganku terpaku pada laptop-- tak berhenti menulis, hingga istriku memanggil dan mengajakku minum kopi di beranda rumah mungil yang kami sewa. Imajinasi memang luar biasa, dan benar, otak adalah organ manusia yang paling seksi. Kalimat terakhir adalah perkataan seorang artis ibukota yang pernah berperan sebagai kekasih pemuda penulis puisi, dalam film yang konon membuat generasi muda kita mulai menyukai sastra.

Di masa wabah melanda saat ini, membaca adalah kebiasaan yang perlu banyak orang tekuni kembali. Terlebih adanya pembatasan kegiatan masyarakat yang membawa konsekuensi penggunaan internet yang meningkat. Dan, di era media sosial dimana manusia modern "berumah" di dalamnya, membaca (buku) bisa jadi dianggap kebiasaan manusia masa lalu, ketika orang-orang tak henti menjadi narsistik dengan memamerkan apa pun, untuk diakui keberadaannya. Kita larut dan tenggelam dalam budaya massa, lalu perlahan menjadi bodoh dan juga bebal.

Di kamar, aku menemukan diriku: buku-buku adalah benda berharga yang memiliki arti dan makna mendalam. Ia adalah alat dan amunisi yang memperkaya karya-karya yang pernah dan akan aku tulis. Hal yang sama saat orang lain mencintai barang miliknya; mobil, sepeda mahal, gitar, atau burung-burung dalam sangkar. Buku—saat ini dan semoga hingga akhir hayatku—aku tetap mencintainya. Sederhana saja: menulis butuh membaca, dan sumber bacaan sahih adalah buku.

Denpasar, 25 Februari 2021, 15:40 WITA

0 Comments