Posmodernitas, Degradasi Komunikasi, dan HOAX

Posmodernitas, Degradasi Komunikasi, dan HOAX
 
(pic: bintang.com)
Wahyu Budi Nugroho
Sosiolog Universitas Udayana

Disampaikan dalam seminar nasional bertema “Hoax, Hilangnya Akal Sehat, dan Ancaman Ruang Publik” di Grha Widya Sabha, Universitas Udayana, 8 Oktober 2017.

Posmodernitas
Membincang istilah posmodern atau “pascamodern” setidaknya selalu berkaitan dengan istilah serupa yang menyertainya, yaitu; posmodernitas, posmodernisme, dan teori sosial posmodern. Istilah posmodernitas menunjuk pada periodesasi waktu antara era modern dengan era setelah modern, dalam arti, terdapat garis damarkasi jelas yang membedakan karakter keduanya. Adapun istilah posmodernisme menunjuk pada produk-produk budaya yang lahir di era pascamodern, dalam hal ini, banyak pihak mendaulat karya-karya arsitektur Charles Jenks sebagai pelopor budaya posmodern. Sementara, istilah teori sosial posmodern digunakan sebagai pembeda corak teori-teori sosial yang muncul di era sebelumnya, yakni era modern dengan karakter teori-teori sosial yang universal, rasional, dan ahistoris—sangat positivis.

Istilah posmodernitas yang hendak dibahas lebih jauh dalam subbab ini mengacu pada pendefinisian Anthony Giddens, yakni suatu era di mana produksi informasi jauh lebih masif ketimbang produksi manufaktur (barang/benda). Era ini, sesungguhnya dimulai ketika internet mulai digunakan secara masif oleh masyarakat Amerika Serikat dan Eropa pada awal tahun 1980-an. Sementara, pemikir lain seperti Jean Baudrillard mendefinisikan posmodern sebagai era di mana konsumsi lebih masif ketimbang produksi. Corak yang demikian ini jelas berdampak pada struktur dunia kerja di mana sektor jasa pun menjadi lebih dominan kemudian.

Kembali pada pendefinisian Giddens mengenai posmodernitas. Hal yang menarik dari masifnya produksi informasi daripada manufaktur nyatanya sekaligus membawa masyarakat pada era “kebingungan informasi”. Bagaimana tidak, setiap detik terjadi pembaharuan informasi dari segala penjuru dunia, dan lewat perspektif produsen informasi yang berbeda-beda, sudut pandang masyarakat sebagai pengonsumsi informasi pun menjadi beragam pula. Tak hanya itu saja, informasi yang begitu deras membanjiri masyarakat turut menciptakan morfologi sosial tertentu berdasarkan isu yang dibawa arus informasi tersebut, inilah yang kemudian disebut sebagai kultur “masyarakat jaringan” oleh Manuel Castells.

Degradasi Komunikasi dan Sampah Visual
Membanjirnya arus informasi memiliki sisi positif maupun negatif. Ihwal negatif yang agaknya mulai dirasakan dewasa ini adalah terjadinya “degradasi komunikasi” atau “komunikasi yang kehilangan makna”. Degradasi komunikasi terjadi ketika kita serba dimudahkan untuk berkomunikasi; kapan pun dan dimana pun. Kemudahan itu seringkali memancing atau menjebak kita pada bentuk-bentuk komunikasi yang tak penting. Pakar komunikasi asal Inggris, George Mierson misalnya, membuat sebuah rumus: apabila dalam satu jam, lebih dari tiga ribu kata keluar dari mulut kita, maka itu bisa dipastikan sebagai “komunikasi sampah”. Hal inilah yang dimaksudkan Mierson sebagai komunikasi yang kehilangan makna, yakni ketika banyak hal remeh dan tak penting yang diungkapkan dalam proses komunikasi.

Pada gilirannya, komunikasi sampah ini juga akan melahirkan “sampah visual”, yakni teks-teks yang bertebaran di dunia maya—terutama media sosial—yang sesungguhnya tidak perlu kita konsumsi tetapi terpaksa harus dikonsumsi. Tak hanya itu saja, dikarenakan keberadaan-nya dalam ruang-ruang publik dunia maya, maka ia pun menjelma menjadi “perkosaan visual”. Lebih jauh, hal ini diperparah dengan psikologis pengguna media sosial di mana seseorang yang mengoperasikannya ibarat “mengintip lewat lubang kunci” tetapi ia tak sadar jika dirinya juga sedang diintip banyak orang. Inilah mengapa, seringkali muncul hal-hal yang tak sepatutnya dipublikasi di media sosial—ia mengira hanya dirinya yang melihat orang lain, padahal banyak orang juga melihat dan mengamatinya.

Hoax sebagai Kulminasi?
Pakar sosial-internet Kieron O’hara mengatakan bahwa apa yang kita hadapi dalam era internet ini adalah bercampur-baurnya antara informasi benar, informasi salah, dan keyakinan. Sintesis dari serangkaian hal tersebutlah yang kiranya dapat kita sebut sebagai “hoax”. Kerapkali suatu citra adalah benar, namun teks yang menyertainya salah, begitu pula sebaliknya: teks yang benar, tetapi citra yang salah; atau yang lebih parah lagi ketika baik keduanya salah sehingga informasi palsu absolut tercipta. Setidaknya terdapat dua poin utama penyebab hoax tumbuh subur di tanah air dewasa ini. Pertama, beralihnya media offline pada online sehingga terkadang memancing produsen informasi membuat berita-berita bersifat bombastis, mengusik, berikut menggoda demi menaikkan rating mengingat pemasukan mereka beralih pada iklan-iklan online. Kedua, kepentingan politik praktis. Agaknya, dunia maya menjadi sarana yang paling mudah dan murah untuk melancarkan kepentingan ini.

Sialnya, penggunaan media maya sebagai sarana politik praktis cenderung mengarah pada praktek-praktek provokatif dan berpotensi memecah-belah persatuan bangsa. Sementara, dunia maya atau kultur masyarakat jaringan sesungguhnya bisa menjadi modal strategis dalam memperkokoh integrasi nasional. Inilah mengapa pemerintah kemudian mencetuskan UU ITE yang salah satu butirnya melarang praktek-praktek ujaran kebencian di dunia maya. Akan tetapi, jarang disadari khalayak bahwa hadirnya UU ITE turut mengancam keberadaan ruang publik. Sebagaimana diungkapkan Jurgen Habermas, ruang publik adalah wadah terbentuknya masyarakat sipil yang dipertentangkan dengan kekuasaan negara, juga kekuatan modal. Dengan kata lain, ruang publik haruslah netral dari intervensi negara. Dalam hal ini, hadirnya UU ITE justru mengancam dan mendistorsi keberadaan ruang publik itu sendiri. Seyogiyanya, keberadaan UU ITE tidak diperlukan apabila masyarakat kita telah cerdas bersosial-media.

Refleksi
Hoax takkan bisa dihilangkan, hanya bisa direduksi, ibarat sebuah pepatah, dimana ada kehidupan, di situ ada penyakit; begitu juga, selama ada jaringan internet, di situ akan selalu ditemui hoax. Tegas dan jelasnya, kita tak perlu terlampau risau dalam merespon fenomena hoax yang tengah menggejala. Ini menjadi bagian dari fase pencerdasan masyarakat maya tanah air. Nyatanya, internet masih cukup baru di tanah air, berbeda dengan masyarakat Amerika Serikat dan Eropa yang sudah mulai menggunakannya secara masif di awal tahun 1980-an. Bukti lain betapa internet masih baru di Indonesia adalah: saat ini kita baru mulai menggalakkan proses digitalisasi birokrasi.

*****

Bacaan lanjutan;
Barker, Chris. 2009. Cultural Studies. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Giddens, Anthony. 2009. Konsekuensi-konsekuensi Modernitas. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Habermas, Jurgen. 2009. Ruang Publik. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Mierson, George. 2002. Heidegger, Habermas, dan Telepon Genggam. Yogyakarta: Jendela.
O’hara, Kieron. 2002. Plato dan Internet. Yogyakarta: Jendela.
Ritzer, George. 2013. Teori Sosial Posmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.


0 Comments