Psikoanalisis JOKER



Wahyu Budi Nugroho
Pengamat film amatir

I said, that's life and as funny as it may seem
Some people get their kicks, stompin' on a dream

But I don't let it, let it get me down
'cause this fine old world it keeps spinnin' around.
(That’s Life, Frank Sinatra)

Pertama-tama, mohon maaf, saya harus katakan, film Joker (2019) yang dibintangi Joaquin Phoenix, biasa-biasa saja. Jika itu film thriller, maka thriller-nya hanya setengah, tak total. Begitu juga, jika itu film bergenre psikologi, psikologinya cuma setengah, tak total juga. Jika itu setengah thriller dan setengah psikologi, maka film itu tak jadi. Awalnya, saya mengharapkan sesuatu yang menyentak atau mengejutkan-akut, mengapa Arthur Fleck bisa menjadi sosok Joker, setidaknya sama menyentaknya seperti film Hannibal Rising (2007) yang menjelaskan mengapa Dr. Hannibal Lecter bisa menjadi seorang psikopat tak ketulungan. Dan memang, dalam Hannibal Rising, latar mula dirinya bisa menjadi seperti itu, dinarasikan secara apik, termasuk pengalamannya yang sangat traumatis melihat adik kandungnya sendiri dibunuh dan disantap dagingnya oleh para prajurit NAZI yang kelaparan, kemudian ia juga dipaksa ikut memakannya—tergambar jelas dalam adegan.

Dalam film Joker, narasi “keras” layaknya di atas tak ditampilkan—saya tidak tahu apakah karena sudah disensor, akan saya tanyakan pada teman yang bekerja di Lembaga Sensor Film—narasi-narasi traumatis sekadar ditampilkan secara siluet, itu pun lebih banyak ibunya Joker, Penny Fleck, bukan masa kecil Joker sendiri—si Arthur Fleck. Bagi saya, aktor Joaquin Phoenix yang memerankan Joker juga sudah terlalu tua. Meskipun ia didandani secara muda, namun ingatan tentang usia Joaquin Phoenix yang sebenarnya, terlebih karena saya juga sangat menyukai film yang ia bintangi sebelumnya, Walk the Line (2005)­­—memerankan Johnny Cash—membuat bayangan usia asli Joaquin Phoenix mau tak mau mengganggu kepala saya saat menontonnya.

Begitu juga, aktingnya sebagai Joker saya nilai kurang luwes dan spontan. Ini ketika saya bandingkan dengan Joker—Heath Ledger—dalam film Batman The Dark Knight (2008). Pun, saya semakin yakin jika versi Joker yang diperankan Heath Ledger adalah yang terbaik dibandingkan versi-versi Joker sejauh ini. Tetapi saya juga tidak tahu, apakah kurang luwes dan spontannya Joker Joaquin Phoneix dalam film itu juga dikarenakan “Joker baru belajar menjadi Joker”, sehingga memang sengaja belum menampakkan karakternya yang mapan? Tegas dan jelasnya, Arthur Fleck gagal menggugurkan diktum imajiner Joker Heath Ledger: “Saya lebih Joker daripada Joker”.

Melalui kacamata psikologi, saya melihat rangkaian narasi film sedari awal hingga akhir tak ubahnya sebagai perjalanan perkembangan psikoanalisis dari Sigmund Freud, Jacques Lacan, hingga Gilles Deleuze dan Felix Guattari. Dalam psikoanalisis Freud, hasrat atau libido sarat ditekan. Itulah mengapa Freud berkata, “...dimana ada Id, di situ ada ego (yang berpatroli)”. Ego bertugas untuk menjaga dan memenjara Id (dorongan alam bawah sadar) agar tak membudalkan seluruh hasratnya. Tentu, tugas ego yang berat ini dibantu oleh superego yang merupakan kristalisasi nilai, norma, dan budaya yang diinternalisasi individu dari lingkungan sosial. Hal ini dapat kita temukan dalam beberapa adegan Arthur Fleck yang berupaya menahan amarah (baca: emosi) kala menuai beragam perilaku tak menyenangkan dari orang-orang; dari gerombolan anak-anak yang mengganggunya, atasan yang memarahinya, ibu dari anak kecil di bus yang menuduhnya, atau orang-orang yang menganggapnya aneh.

Psikoanalisis Sigmund Freud --> Psikoanalisis Radikal Jacques Lacan --> Skizoanalisis Gilles Deleuze & Felix Guattari.

Pada perkembangan berikutnya, yakni psikoanalisis (radikal) Jacques Lacan, hasrat tak lagi (harus) ditekan, tetapi disalurkan, yakni ke dalam tataran simbolik. Tataran simbolik yang dimaksudkan di sini, bisa berupa bahasa, gestur tubuh, seni, atau beragam bentuk ekspresi manusia lainnya. Itulah mengapa, Lacan mendaulat seni sebagai salah satu sarana “sublimasi”, ia—seni—bisa menyatukan antara “bahasa” dengan jouissance ‘kenikmatan’. Dalam arti, membudalkan hasrat terdalam manusia (Id) ke dalam ranah simbolik. Itu pulalah yang menyebabkan Lacan dituduh sebagai pemenjara Id ke dalam kerangkeng simbolik. Dalam konteks ini, kita bisa melihat adegan Arthur Fleck yang mulai kerap menari-nari dengan gerakan anehnya. Di situ, sesungguhnya ia sedang menyalurkan Id lewat ekspresi gestur—gerakan tubuh—atau dengan kata lain: hasrat yang mulai disalurkan ke tataran simbolik.

Satu hal yang perlu dicatat juga, kondisi Arthur Fleck yang “ter-Odipal” juga kian tampak. Ia menjadi lebih sering berkhayal menjadi seorang bintang komedi tunggal (stand up comedy), memiliki hubungan spesial dengan wanita kulit hitam yang disukainya, serta menjadi bintang tamu di acara talkshow TV terkenal, Murray Franklin Show. Ini secara jelas menunjukkan “fantasi sebagai penjaga minat subyek” sebagaimana ungkap Lacan. Dengan begitu, satu-satunya alasan yang membuat Fleck terus bertahan dari hidupnya yang sangat menyedihkan itu hanyalah berbagai fantasinya. Sementara, dirinya yang ter-Odipal ditunjukkan lewat keinginannya menjadi bintang itu sendiri—dalam bahasa Lacan: berhasrat menjadi phalus; suatu entitas yang lengkap, serba terpenuhi, atau pusat dari segala sesuatu.

Pada perkembangan (psikoanalisis) terakhir, sekaligus memasuki akhir cerita film, psikoanalisis Gilles Deleuze dan Felix Guattari yang lebih sering disebut sebagai “skizoanalisis” seakan menjadi muara. Skizoanalisis menolak psikoanalisis Freud yang menekan hasrat, juga psikoanalisis radikal Lacan yang menyalurkannya lewat tataran simbolik. Skizoanalisis justru ingin membebaskan hasrat, meliarkannya, pun mengajak subyek (manusia) untuk larut dan menikmati kegilaannya secara total dan bebas. Dari sinilah kemudian, lahir “agen skizofrenik” yang siap meluluhlantak setiap tatanan—sistem Oedipus. Ini tampak lewat tokoh Arthur Fleck yang mulai benar-betul melawan nilai dan norma sosial, jika sebelumnya ia sekadar berkhayal dan mempertanyakannya. Ia mulai membunuh ibunya, temannya, menembak mati Murray Franklin, juga membunuh perawat RSJ. Adegan-adegan itu menunjukkan secara eksplisit bagaimana hasrat dibebasliarkan, dan sebagaimana karakter agen skizofrenik, Arthur Fleck mulai siap menghancurkan sistem atau tatanan yang jauh lebih besar darinya SEORANG DIRI.

Barangkali, ini pula yang menjelaskan mengapa karakter Joker Arthur Fleck di awal masih belum begitu luwes dan spontan; karena ia belum betul-betul membebaskan hasratnya, atau menjadi agen skizofrenik yang paripurna; ia masih mengekang dan menekan dirinya. Lebih jauh, secara sosio-ideologis, aksi-aksi Arthur Fleck mencirikan wujudnya sebagai “anarkisme teror”. Anarkisme teror, berbeda dari gerakan anarkisme lainnya yang cenderung bersifat kolektif. Anarkisme teror menekankan pada “gerakan individual” dan tak pernah mengatasnamakan organisasi atau kolektivitas tertentu—gerakan ini sangat dipengaruhi oleh “anarkisme individual” Max Stirner. Anarkisme teror kerap dikaitkan dengan impuls tak terbendungkan individu yang sangat berambisi menghancurkan simbol-simbol kekuasaan. Gerakan ini juga bersifat tak terukur dan tak terprediksi, karena setiap individu dapat melancarkan aksi terornya kapan pun, dimana pun, dan tanpa diketahui siapa pun sebelumnya.

Sebagai penutup, secara keseluruhan, film ini justru mengingatkan saya pada kata-kata Yesus: “Jika kamu hanya berbuat baik pada orang-orang yang berbuat baik padamu; lalu, dimana nilai lebihmu?”.

*****

2 Comments

  1. terus dari semua penjelasan diatas, yg mana yg mendefinisikan film ini biasa saja 😑

    ReplyDelete