Esai Iblis, Perang, dan Tuan-tuan Bumi



Muhammad Syarif Hidayatullah

Esais, kritikus, direktur eksekutif Salaja Pustaka Institute

 

Seorang lelaki yang diutus ke dunia, yang penuh kanvas dan hamparan warna. Namun tanda pada kepalanya adalah bukti, ia telah mengawali datang ke dunia dengan luka dan amat betapa semangat untuk bertahan dalam gigih-kerasnya usaha setan beserta segala serdadu mereka.

Ia ditakdirkan untuk mengarungi indah dan sulitnya hidup di tengah keluarga yang membesarkannya. Keluarga yang sebenarnya adalah satu garis keturunan terpilih (The Chosen One) untuk memimpin manusia, sebuah keturunan-darah yang peduli dan membela pada berlangsungnya kedamaian di seluruh alam.

Dia dan seluruh nenek moyangnya bersenjata dan terpandang, berbudi luhur, dihormati. Namun, tak sedikit manusia mengacuhkan dan mencemooh mereka. Masyarakat dalam segelintir mereka, adalah kumpulan orang-orang buta. Mereka dalam sebagiannya tak pernah tahu betapa dia dan keturunannya telah menyelamatkan dan mengangkat banyak manusia di setiap zamannya.

Di tiap zaman, dia dan jauh pada masa nenek moyangnya selalu berjuang secara fisik dan terutama secara metafisik melawan dan menebas, pula memanah setiap Iblis dan Setan yang selalu mengintip dari muka tiap arah penjuru; menjerumuskan manusia. 

Dalam tiap pertarungan telah diresapi tujuan, strategi, dan makna sesungguhnya perang. Apa itu Iblis? Apa itu Setan? Mengapa manusia selalu sepenuhnya me-negatif-kan mereka? Salahkan juga mereka sebagai ciptaan Tuhan? Mereka adalah pejuang dan wakil Tuhan dalam bentuknya yang lain menjalankan tugas yang diberikan Tuhannya.

Iblis dan manusia adalah dua ciptaan yang berbeda, terpancar dari sumber air yang sama. Menjadi peran-peran yang telah digariskan.

Dia dalam tugasnya terus bertemu dan bermusyawarah-diplomasi dengan Iblis untuk selalu membumikan kedamaian di antara tiap entitas ciptaan. Bukan saling membenci, menutup penuh, saling membelakangi tapi saling menginsyafi tujuan dan tugas masing-masing. Tenggelam dalam bau anyir darah selamanya, atau hidup dalam sifat pemaaf dan budi demi bau gemercik segar air.

Dia, bertemu dengan Ifrit, Sang Penguasa kegelapan yang sangat sombong dan amat suka membanggakan diri.

Ifrit: "Hahahahahaha. Hei kalian semua di sini, silahkan kalian berdiri berjajar atau bertumpuk-tumpuk di depanku. Maka kalian akan kupukul dengan sekali pukulan, hancurlah tubuh-tubuh kecil kalian, huh!!",

"Hei kamu!", Ifrit menunjuk salah satu orang dalam pertemuan itu, ia mengarahkan telunjuknya tepat ke arah Ayahku; orang yang dia panggil dengan kasar.

Ayah: "Wah, hebat sekali yaa bisa menghancurkan manusia dengan satu pukulan", Ayah menanggapi.

Ifrit: "Hei kamu anak kecil! Jangan berani-berani bicara denganku. Dasar anak kecil, mau saya hancurkan kamu! Jangankan kamu, satu gugusan gunung di belakangmu akan hancur dengan hanya satu pukulanku!", Ia berteriak sambil menunjuk hamparan gunung tepat di belakang kami.

Aku: "Waah, dasar preman", timpaku tersinggung. Tanpa seakan kejiwaanku takut pun sedikit, mengamati perlakuan dia pada Ayahku.

Ifrit: "Hei kamu! Berani-beraninya kamu, mau ku injak? Dasar anak kecil! Kamu punya ilmu apa berkata seperti itu?", Emosinya pitam dan kasar dengan meneriaki aku.

Sesungguhnya aku juga emosi mendengar perkataan kasar dari Ifrit, maka agar marahku tak terlalu terlihat, maka ku menolehkan pandangan di belakangku. Seakan tak kudengar apa yang baru saja ia tantang.

"Hei kamu, kamu pikir kamu siapa? Saya adalah penguasa seluruh jagat raya ini! Panggil seluruh Jin dan Iblis yang kamu pandang mampu, maka ku injak mereka dengan hanya ujung kelingking kakiku. Mereka pasti mati!", Suaranya congkak menggema di tengah pertemuan itu sambil melototi aku.

Sejurus setelah Ifrit berkata dengan sombongnya, ia marah dan terus tanpa bergerak melototkan padaku kedua matanya. Menggeledah-menyisir dengan tajam dan pekat matanya meneropong aku yang sedang duduk bersila. Dalam beberapa detik ia memandangiku, ia langsung kaget dan sedikit teriak.

"Haa, ternyata kamu terlindungi oleh cahaya menyilaukan dari dadamu!"

Dia sedikit heran dan takut. Kemudian melanjutkan,

"Jika seandainya, kamu tak terlindungi oleh cahaya itu maka aku akan telah mencabik dan mengoyak badan kecilmu itu!"

Seluruh hadirin dalam pertemuan itu langsung tertawa mendengar dan memperhatikan ketakutan si raja kegelapan, si sakti mantra guna tadi. Namun, suara tawa mereka tak berlangsung lama, Ifrit murka kemudian berkata,

"Hei kamu semua, tidak tahukah kalian sedang duduk dan bercengkrama dengan siapa? Huuh!!" Kalian semua itu tidak ada apa-apanya terhadapku! Kuhancurkan kalian semua mau!". Ia marah, memukul tiang pancang rumah kayu dengan tangan kanannya. Tersentak semua tamu langsung bisu, tak ada yang berani bersuara sedikitpun.

Amat begitu rahasia tiap-tiap pertemuan mereka itu, tak pernah terendus, acapkali nyaris disadap, disadari oleh manusia umum. Namun sekian kali itu pula pertemuan-pertemuan mereka itu tak mampu ditembus; pun walau diindikasikan mampu disusupi di benteng-benteng perbatasan, namun tak mampu menyisir ke dalam, ke pertemuan agung, dan bisu, sepi dan mendebarkan. Juga tidak jarang pecah ruang humor tawa, pun serta berbagai macam perbincangan rahasia dengan berbagai macam jenis suara-suara yang dihasilkannya. Bagai ritus yang diselenggarakan tiap malam, di selubung-selubung nol analisis dan perkiraan. Dua malam, tiap pekan.

Seperti pertemuan pemenang dan kalah, antara sang kreator dan mahakaryanya, gelap dengan pertemuan bersama terang. Dia dan para entitas penguasa-pembesar dan pemilik tiap-tiap inci realitas, bersama memikirkan skenario bagi dunia beserta isinya. Bumi dan langit dan apa-apa saja yang ada di antara keduanya diisi, agar teramati dan dievaluasi.

Dia itu bersama para keturunannya tak dibatasi oleh bentuk-bentuk pakem, oleh anggapan nilai-nilai tetap-pasti perkiraan manusia pada umumnya. Ia bisa berbentuk rupa apa saja, menjadi siapa saja, dia akan terus pada keturunannya ada di mana saja. Dia berseliweran, di tanah bersih dan lapang; di kerumunan-kerumunan yang tiap orang nyaris tak menyadari dan tanda-tanda pada diri dia dan keturunannya hanya diketahui oleh para manusia yang berlevel sama dan mereka yang gigih berusaha.

Tuhan bersemayam di selubung-selubung tanda, di realitas-realitas segala wilayah bumi. Agar semakin jelas pancaran dan manifestasi-Nya, bahkan begitu jelasnya tak disadari dan mampu dikenal oleh makhluk. Di dalam diri manusia, dan kekuatan yang ada di dalam dada bangsa Jin semacam Ifrit.

Sikap Ifrit itu menginsyafi diri-diri yang ada di setiap dada, Ifrit oleh karakternya tak lupa kita sebagai manusia, menganggap dan terbawa oleh sifat manusiawi. Ia terbawa oleh karakter psikologis materialisme, level jasadnya.

Kita dalam memandang orang lain cenderung berdasarkan pada apa yang tampak, dan apa yang pernah dilakukan di masa lalu. Ifrit dan melihat sesuatu bukan secara individual, tapi melihat individual sebagai kelompok sebagai satu-kesatuan. Penilaian ditentukan oleh keseluruhan (general) dibanding memberikan penilaian secara individual pada subjek yang ada di depannya. Ini benar adanya, ketika melihat prinsip kelangkaan. Kita lebih menghargai dan memberi nilai lebih kepada hal-hal yang menuntut usaha keras. Kita akan tidak begitu menghargai atau bahkan seringkali tidak menghargai sesuatu yang berlimpah-berlimpah, Ifrit terlalu sering melihat secara mayoritas (menjeneralkan) selama ribuan tahun usianya tingkah laku bangsa manusia; dan sesuatu yang langka cenderung kita hargai dan dianggap bernilai.

Penampakan yang terlalu sering dari satu entitas tertentu meniscayakan akan hadirnya kebosanan dan menjadi penilaian yang semu, yang bias. Olehnya, daya tarik itu tidak hadir pada sesuatu yang begitu sering hadir, kita lebih tidak menghargai udara dan air yang berlimpah, sesuatu yang taken for granted dibandingkan intan dan berlian yang sulit diraih. Kekurangan kesyukuran itu mengantarkan kita pada alamat ketidakbahagiaan, dan hilangnya kekuatan kepekaan pada diri manusia. Namun sifat alamiah kita sebaliknya menyukai dan menghargai sesuatu yang langka, yang amat sulit ditemukan, pun Tuhan, dan mereka yang sebagian ditunjuk sebagai Tuan bumi.

Olehnya, kita butuh mendekati dan jika berbesar hati untuk menyukai terlebih dahulu pada entitas tertentu, agar kita dapat menilai atau memahaminya. Tidak seperti Filsuf Jerman, Nietzsche yang terkenal menggaungkan kematian pada upaya pengenalan. Nietzsche gagal mencapai tahap pengenalan, disebabkan oleh kuatnya pembatasan dan garis cukup yang dibuatnya.

Nietzsche berkata "Tuhan telah mati!" diucapnya, namun di usia 55 tahunnya justru yang ada "Nietzsche telah mati, kata Tuhan setelahnya".

Kegagalan yang terus disebabkan oleh keterbatasan kita, disebabkan oleh piciknya kita pada ilmu tertentu saja, oleh kepongahan pribadi. Kita lebih membesar-besarkan penilaian pada satu sumber yang kita telah akrab padanya. Akhirnya, ketika satu sumber tadi yang kita percaya dan nilai tinggi pada akhirnya mengecewakan, maka kita kembali berujung pada keputusasaan, dan hidup yang murung. Disebabkan oleh hanya menilai pada yang nampak fisikal semata, namun tak ingin menilai di balik tabir-lembaran selanjutnya.

Seperti teriakan para materialisme yang berucap "Yang tetap dan permanen adalah perubahan", digemakan di sudut-sudut kota dan tertelan dalam perut intelektualnya. Padahal ada yang kurang dipahami bahwa "Yang berubah tidak pernah permanen" atau setara dengan "Ke-eksistensi-an yang terbatas, mengindikasikan adanya yang tidak terbatas".

Ada semacam gema pelanjut dan penerus dari Nietzsche, yaitu gemanya seorang Filsuf berkebangsaan Perancis bernama Jean-Paul Sartre kembali menafsir sendiri "Tuhan telah bukan karena mati, Ia telah berbicara begitu banyak namun kini membisu dan diam". Padahal, seharusnya yang eksis adalah "Tuhan bukan entitas yang sama dengan makhluk. Maka seandainya Sartre berumur 1000 tahun pun,  gagal selamanya dia memahami Tuhan jika hanya mengikuti tuntunan menurut pikiran dan imajinasinya".

Olehnya pengendalian dan pengenalan amat penting, sesuatu itu berharga pada dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, panjang atau pendek, namun pada praktiknya sesuatu itu mesti ditempatkan pada letaknya. Pada levelnya dan kemampuannya serta kepada tujuannya. Olehnya, mengapa Tuan-tuan bumi terus selalu akan ada, dan akan selalu ada masyarakat madani yang akan ikhlas dan penuh damai untuk dipimpin oleh para Tuan-tuan bumi? Itu sebab tiap hal mesti diberikan hak-hak dan tempatnya; yang membuat hal-hal tersebut tidak terwujud disebabkan oleh pemimpin itu diberikan bukan pada orangnya dan pada akhirnya kita akan menyadari betapa kita telah meletakkan jauh panggang terhadap api.

M.S.H.


1 Comments