Perkembangan Psikologis Manusia menurut Max Stirner

 

Max Stirner | pinterest.com


Fiqri Muliathoha T.

 

Max Stirner dalam bukunya, The Ego and Its Own (1844), membagi sejarah perkembangan psikologis manusia dalam tiga tahap. Pertama adalah realisme (kanak-kanak), kedua adalah idealisme (pemuda), dan terakhir adalah egoisme. Pemikiran Stirner tentang pembagian sejarah perkembangan psikologis manusia ini dapat ditemukan pada bagian pertama The Ego and Its Own, yang berjudul Manusia (Man). Khususnya, pada subbab Kehidupan Manusia (Human Life). Pada subbab berikutnya, Stirner membahas secara detail implikasi dari tiga tahap sejarah manusia dengan kaitannya terhadap diri sendiri (psikologis) dan sesuatu di luar diri kita (sosial-budaya). Beberapa pembaca Stirner melihat bahwa pemikiran Stirner sangatlah terkait dan tidak dapat dipisahkan, penulis juga berpikir seperti itu, dari pemikiran Hegel tentang roh (spirit)—subjective-objective-absolute spirit. Meskipun Stirner tidak secara gamblang membahas dan menunjukkan penggunaan konsep roh hegelian, paling tidak dari seperempat bukunya yang saya baca, saya melihatnya demikian.

Sebelum kita membahas tentang tiga tahapan sejarah perkembangan psikologis manusia, saya akan menjabarkan perihal bagaimana kehidupan bekerja, dan juga dunia, menurut Stirner. Max Stirner melihat bahwa realitas dunia adalah realitas konflik kuasa. Ketika manusia dilahirkan di dunia, sejak pertama, dia akan selalu dihadapkan dengan ‘sesuatu’ yang bersinggungan dengan diri manusia tersebut. Di sini, manusia diharuskan untuk mempertahankan dirinya, begitu juga dengan ‘segala sesuatu’ itu. Dikarenakan ‘segala sesuatu’ termasuk manusia tersebut hanya peduli dengan dirinya sendiri, pada saat yang bersamaan, pertarungan untuk menyatakan diri (combat of self-assertion) tidak terhindarkan. Realitas dan dunia bekerja, karenanya didasarkan pada dua takdir yang dihasilkan dari pertarungan brutal tersebut, yaitu Pemenang atau Si Kalah. Pemenang menjadi Tuan, Si Kalah menjadi Budak: dialektika Tuan-Budak yang abadi. Kemudian, keduanya, baik Si Tuan maupun Si Budak, akan terus mengawasi satu sama lain, memantau kelemahan satu sama lain, dan selalu mencari siasat untuk bertahan diri berikut menjatuhkan lawannya.

*

Lebih jauh, kita akan membahas tahap pertama, realisme. Manusia yang baru lahir, harus berhadapan dengan musuh pertamanya, yaitu orangtuanya. Ketika seorang anak kecil menginginkan sesuatu, dia harus berhadapan dengan otoritas orangtuanya. Semua yang ia inginkan haruslah berdasarkan persetujuan orangtuanya. Seorang anak-anak dan bayi, lahir dengan sebuah insting. Insting adalah dasar untuk melakukan apa pun yang ia inginkan, seperti menghancurkan mainan, menyoret dinding, memakan pasir, dan lain sebagainya. Ketika insting yang ia miliki harus berhadapan dengan otoritas orangtua, maka rasa takut muncul.

Pada awalnya adalah rasa takut. Ketika si anak-anak itu dapat melihat apa yang mendasari otoritas tersebut, si anak akan memformulasikan langkah-langkah ‘pembebasan’ pertamanya. Langkah atau strategi pembebasan yang akan mendasari tindakannya untuk dapat melakukan apa yang ia inginkan. Sebagai contoh, hukuman yang muncul dari otoritas orangtua tersebut, ternyata memiliki kelemahan. Kelemahan dari otoritas itu adalah munculnya sifat keras kepala (obduracy). Ketika si anak-anak sadar bahwa sifat keras kepalanya bisa mengalahkan otoritas, atau paling tidak berhadapan dengannya, si anak akan terus memakai strategi itu untuk mencoba mendapatkan apa yang instingnya inginkan.

Semakin lama, semakin dia tau bahwa apa yang mendasari sebuah otoritas adalah keberanian. Kemudian, ia berusaha untuk mendapatkan keberanian juga untuk dirinya, untuk mendapatkan superioritas atas dirinya sendiri, ataraxia. Sekarang, dia dan otoritas sama-sama memiliki keberanian. Melalui keberanian yang kini ia miliki, ia berani untuk bermuslihat, menggunakan kelicikan, dan lain sebagainya, ketika berhadapan dengan otoritas yang ada di depannya. Insting, muslihat, kelicikan, keberanian semuanya lahir dari pikiran (geist). Pikiran adalah sebutan dari ‘penemuan diri yang pertama’, kesadaran pertama untuk tidak mau tunduk begitu saja pada otoritas, the Father, the Divine.

Pada tahap ini, nalar atau penalaran belum terbentuk. Segala hal yang anak-anak hadapi adalah kuasa alam (natural powers). Anak kecil tidak dapat dibujuk dengan penalaran, ia tuli dengan argumen logis, sedangkan apa yang bersifat praktis, seperti hukuman dan rayuan susah untuk dilawan. Kemudian, semakin otaknya berkembang, semakin sadar ia bahwa selama ini ia hanya menatap dunia, tidak berusaha untuk memahaminya (secara intelektual). Karenanya, kemudian, ia mulai mengembangkan penalaran (reason).

Tahapan berikutnya adalah idealisme. Tahap kedua ini dikaitkan dengan pemuda (youth). Awal perkembangan tahap ini adalah ketika ia sadar dengan penalaran (reason) dan berikutnya terus berkembang. Bagi pemuda yang mendasarkan dirinya pada rasionalitas, segala yang ia hadapi bukanlah kuasa alam. Ia merasa bahwa segala macam kuasa alam, haruslah ada yang mendasari, sesuatu yang lebih kuat dari itu. Orangtua, kakak, dan segala orang dewasa secara umum, bukanlah lagi hambatan. Pada tahapan ini, segala hal yang bersifat ‘kebumian’ (earthly) dianggap hina, dan ia mengalihan titik pandangnya pada apa pun yang bersifat ‘transendental’ (heavenly).

Ia tidak lagi patuh pada manusia, melainkan pada ‘Tuhan’. Pemuda tidak lagi mencoba menggantungkan dirinya pada sesuatu (things), tetapi pada pemikiran (thoughts) yang mendasari segala sesuatu. Sedangkan anak-anak hanya memahami hubungan (connections) antar segala sesuatu, tapi bukan ide (ideas) dan spirit dari sejarah dunia. Akhirnya, pada tahap ini, ketika pemuda diharuskan untuk berhadapan (berkonflik) dengan segala sesuatu di luar dirinya, dia berhadapan dengan hukum dunia (laws of the world). Bedanya, kali ini apa pun yang ia inginkan harus berurusan dengan penolakan penalarannya dan kesadaran dirinya (own conscience). Apa yang ia takutkan saat ini, bukanlah lagi tongkat hukuman ayahnya, melainkan kesadaran diri yang di hadapkan dengan pemikiran-pemikiran di luar dirinya.

Pertarungan ini menciptakan anxiety dalam dirinya. Pemuda, berjalan didasarkan pada pemikirannya, dan memilih mengikutinya dibanding mengikuti apa kata orangtuanya. Tindakan-tindakannya ditentukan oleh pemikirannya (ide-ide, konsepsi-konsepsi, atau dogma iman), berbeda dengan anak kecil yang tindakannya terkait dengan perintah orangtua. Penalaran membuat ia sekali lagi diperbudak. Kali ini, ia diperbudak oleh kuasa spiritual (bukan lagi kuasa alam) dari kesadaran, penalaran, dan pemikiran (internal), jika sebelumnya ia yang masih anak-anak diperbudak oleh materialitas (eksternal).

Sementara, usaha untuk menghapus keraguan-keraguan yang ia hadapi, akan dilakukannya dengan berpegang pada ide atau pemikiran ‘yang utama’ dan mengisyaratkan kebajikan, seperti kebenaran, kebebasan, kemanusiaan, dan lain-lain. Melalui penalarannya, apa yang baik dan utama haruslah menjadi tolak ukur dari berkehidupan. Karenanya, dia meninggalkan kehidupan itu sendiri (materialitas, earthly), dan lebih mengutamakan apa yang ideal (transendental, heavenly). Ia melihat dirinya sebagai spirit (refleksi diri atas pemikiran manusia). Ia sadar, sebagai spirit (sifatnya personal, subjective spirit) ia tidaklah pernah sempurna, ia selalu akan kalah, dan berusaha untuk menyatu dengan spirit yang lebih besar (contoh: objective spirit dan absolute spirit).

Permasalahan akan muncul ketika ia mengandaikan bahwa spirit adalah titik utama dari segalanya, terutama objective spirit. Ia merasa bahwa ia bukan spirit yang utuh, dan akan tunduk pada spirit yang ia rasa lebih utuh dan ideal (objective spirit). Baginya, spirit utuh dan ideal adalah Holy Spirit, spirit yang ideal adalah, spirit yang bersifat transendental. Spirit yang dapat menjadi pendasaran atas segala sesuatu, spooks atau ide kekal (fixed idea). Dia yang ragu, memenuhi kekosongan yang ia rasakan dalam dirinya dengan ide kekal transendental, dan kemudian, ia akan selalui dihantui oleh ide kekal. Sekali lagi, ia sebagai manusia kehilangan dirinya sendiri. Di sini dapat dikatakan, ia menolak apa yang ada di luar dirinya, dan mendasarkan semuanya pada spirit, yang ideal.

**

 

Dewasa (Man) membedakan dirinya dengan pemuda (youth), dengan melihat dunia sebagaimana adanya, tidak dengan mencari kesalahan dan berusaha memperbaiki dunia berdasarkan apa yang menurutnya ideal. Menurutnya, pandangan atas dunia bukanlah tentang apa yang ideal, tetapi apa yang menjadi minatnya (interest). Dewasa mencintai tubuh jasmaninya, tubuh hidup yang tersusun oleh organ dan darah, dan memiliki minat/kepentingan yang sifatnya personal atau egois, yang membuat tiap-tiap manusia menjadi unik. Sebuah minat/kepentingan yang tidak hanya bertujuan untuk memuaskan spirit nya, tetapi juga untuk memuaskan kepentingan egoisnya. Pemuasan tubuh jasmani dan rohani, pemuasan total atas segala sesuatu dalam dirinya. Karenanya, di sinilah kemudian Dewasa (Man) menunjukkan ‘penemuan diri yang kedua’, sebagai sebuah embodied spirit (roh yang mewujud/menubuh), bukan spirit yang kehilangan dirinya di hadapan spirit yang lebih besar.

 

Anak-anak adalah realis, ia dikuasi oleh segala sesuatu yang ada di dunia ini, sampai kemudian perlahan-lahan dia mulai menyadari ‘apa yang ada dibelakang’ (apa yang mendasari) segala sesuatu. Pemuda adalah idealis, ia dikuasai oleh pemikiran-pemikiran, sampai kemudian ia belajar untuk melihat dunia apa adanya, dan melihat pentingnya ‘dirinya’. Dewasa adalah manusia egois, ia yang berhadapan dengan segala sesuatu dan pemikiran-pemikiran, dan mendasarkan semua itu kepada apa yang hatinya rasakan. Ia yang meletakkan kepentingan/minat personalnya di atas apa pun. Ia yang menjadikan dirinya sendiri, sebagai tolak ukur atau titik pusat dari dunia, bukan sesuatu (material) ataupun pemikiran (ide). Manusia egois mengutuk mereka yang menjadikan sesuatu di luar dirinya sebagai tujuan, dia juga mengutuk mereka yang tidak dapat mengendalikan pikirannya sendiri, manusia egois adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya sendiri dan menjadikannya pusat dari dunia.

 

***

0 Comments:

Post a Comment