Perempuan yang Membawa Semesta di Punggung dan Sapu Lidinya

 

[Yard Broom | bhinneka.com]

Muhammad Syarif Hidayatullah

Penyair sehimpun puisi (2019) "Secarik Rindu untuk Tuhan"

Direktur Eksekutif @salajapustaka Institute)

 

Tiap pagi seorang yang berjalan tak lagi tegap menyapu dengan sapu lidi di kedua genggaman tangan sucinya diiringi keringat semesta, mengalir di sungai-sungai wajah itu perempuan tua.

Ia menyapu keangkuhan dan menjaga agar kemalasan orang-orang sebuah kompleks agar tak dilihat punggung gelap para penghuni kota; masyarakat yang mendaku urban, jauh dari desa dan kesesatan, kekolotan. Berpegang mati-matian, kota adalah tidak bisa tidak merupakan evolusi manusia. Perempuan yang sepertinya masih paruh baya tapi terlihat renta, ia menjaga cairan toksin penduduk kompleks modern itu agar tak sering kali keluar dari pemiliknya. Atas keinginan mereka.

Tubuh para penghuni itu yang hampir semuanya gendut, bertumpuk lemak. Di dua sisi pinggang melebar, melorot ke depan lemak perut. Betis susu dengan urat-urat syaraf, diperindah juga banyaknya bekas cacar, luka jerawat, ada pula sebagian nanah membengkak di masyarakat industri itu.

Sebelumnya lengan tangan kekuasaan yang membengkak dipegang rapat-rapat. Ibu paruh baya itu sesekali membuka sekrap kain dan topi hitam luntur warnanya yang menutup wajah dan mahkota kepalanya kecuali ia tak pernah menutup kedua mata kegigihan yang hampir tiap hari letih mengemis-ngemis meminta pasrah pada kepongahan kota.

Knalpot kendaraan tiap pagi hampir tiap hari melototi membenci si Ibu Penjaga Kebersihan itu. Tak lupa sebuah rumah di ujung kompleks berdiri minimarket, pembeli makan dan minum; buang bungkusan. Barangkali, sejurus merasa besok akan ada yang membersihkan. Pembeli yang membuang sampah itu, membuang sampah di dalam jiwanya. Setitik, demi setitik, menambah menjadi bintik. Akhirnya hati menjadi hitam, gelap. Olehnya, pun mereka tak dapat melihat jiwanya sendiri.

Di saat panas mulai terik, sesekali ia duduk telentang, menggelar harapan-harapan yang ia hitung satu persatu. Bermimpi satu harapan memenuhi semesta kecil yang di rumah sedang menunggu sabar. Ia mengambil topi luntur di setiap sudut lipatannya yang tak lagi hitam warnanya; dikipas-kipaskan ke arah pohon-pohon dan taman bunga di wajahnya.

Hampir tak dilihat, atau dapat terhitung jari orang datang menyapa atau menyemangati si Ibu paruh baya.

Si Ibu tiap hari hanya disambut pagar besi dan tembok menjulang tinggi tanpa bunyi, hanya angin tercemar menemani.

Urban yang kehilangan evergreen, setelah setumpuk lidi sederhana tiap harinya patah hingga menipis, mulai semakin hari menyusut bahan bakunya yang ada di desa. Desa yang bertransformasi urban, semi atau latah mengopy-paste wajah pembangunan juga kota.

Pernah pula seorang Ibu pemilik warung kios di kota itu ditanya “Mengapa tak disediakan ruang hijau dan telaga untuk menghidupi taman jiwa-jiwa teruntuk manusia sendiri sekitar daerah sini?”, si Ibu pemilik warung menjawab “Orang di sini jika ada lahan emas kosong saja, itu tak mungkin dilupakan. Sayang jika tak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya” jawabnya lirih. Ketika lagi ditimpali “Dimanfaatkan sebaiknya-baiknya untuk ada ditebari bunga matahari dan mawar kebun lahan hijau?”.

“Untuk dibangun kosan atau kontarakan!”  jawab si Ibu cepat.

Tiba-tiba suara klakson dan knalpot berbagai variasi bunyi mulai perlahan kembali ramai di telinga, simponi yang dibuat urban. Percakapan itu berakhir, si Ibu kembali memegang gawai dan mimik wajahnya tiap detik berubah. Ketenggelaman di jutaan tawaran kemajuan kota. Tetangganya dan perempuan tukang sapu yang tak diajak bicara olehnya, kucing yang sekujur badannya kurus, berbau air busuk comberan, dan luka. Terpinggirkan oleh keangkuhan, ditebas oleh kepongahan, tersungkur tidur selamanya saat seorang anak kos perantau baru asal desa memungutnya di pinggir selokan, tertendang jauh oleh kaki kekuasaan urban.


*****

0 Comments