Niken Lara Yuwati: Ibu Lidah Api Abadi Perempuan (Genealogi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat)

 

Muhammad Syarif Hidayatullah
Peneliti, Penulis, Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institute


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Niken Lara Yuwati,

Niken Lara Yuwati,

Iya! Perempuan dan permaisuri seorang Raja terkenal tanah Jawa, simbol ketangguhan Indonesia.


Adalah istri Raja Hamengkubuwono I,

Nenek dari sosok ulama pejuang kemerdekaan Indonesia melawan penjajah.

Pemimpin perang melawan penyamun dan perampok kebebasan.


Dialah, Pangeran Diponegoro.

Adalah anak yang berhasil dilahirkan oleh sosok perempuan tangguh, seorang yang sederhana dan bersikap bersahaja.

Namun, keberaniannya melebihi keberanian Belanda, yaitu penindas mustad'afin, kaum lemah.


Iyaa! Siapa yang tidak kenal Diponegoro?

Siapa yang tidak kenal dengan Diponegoro, sang ulama pewaris jiwa militer dan kesatria di tanah Jawa?


Perang Diponegoro disebut perang Jawa, betapa besar pengalaman dan kekuatan perang itu dalam pandangan Belanda.


200.000 ribu orang terbunuh dalam perang itu.

8000 prajurit Eropa tewas dan dihancurkan oleh tanah yang menghimpit mereka.


7000 prajurit hasil rekrutan Belanda asal Nusantara tewas sebagai pengkhianat bangsa!

Belanda rugi biaya perang dengan sang pahlawan itu sebanyak hampir 2000 triliun rupiah. Hanya dalam waktu 5 tahun pertempuran, bayangkan!


Diponegoro pemimpin kelas rakyat pribumi yang merugikan Belanda; Bangkrut!

Pangeran Diponegoro adalah sifat yang memperjuangkan cita-cita setiap orang, tekad yang kuat menghadapi kesewenang-wenangan, bagai bunga edelweis yang mampu bertahan melawan gigil kedinginan di puncak keangkuhan dan penindasan.


Niken Lara Yuwati atau ia dikenal dengan nama Ratu Ageng Tegalrejo, adalah anak perempuan dari Kyai Datuk Sulaiman Bekel Jamus, yaitu anak sulung dari Sultan Abdul Qohir Kerajaan Bima Ruma Ta Ma Bata Wadu , Raja pertama-tama yg memeluk Islam.


Ia Raja Bima ke-27 yang berkuasa antara tahun 1620-1640. Buyut Pangeran Diponegoro adalah Raja Bima.


Niken Lara Yuwati; nenek dari Pangeran Diponegoro adalah seorang perempuan tangguh darah Bima pembentuk kesatria perempuan di tanah Jawa, kerajaan Mataram. Seorang "Sufi Perempuan" yang memperdalam spiritualitas dan mencintai ilmu pengetahuan.


Apakah memang religiusitas Bima itu baru-baru saja ada di budaya masyarakatnya? Tidak!! Bima telah religius sejak sebelum Islam datang. Bima telah mengenal kekuatan supranatural tertinggi dalam masyarakat kebudayaannya.


Jika sekalipun ada yang berkata, bahwa Bima orang-orangnya kelihatan serius, sebagian org menyebut agamis-tasawuf, bahkan barangkali dianggap garang?


Jawabannya, karena memang leluhur dan orang tua dalam budaya Bima berwatak dan mengajarkan sedari kecil agar tegas, tidak ada tedeng aling-aling pada sesuatu yang batil apalagi jahat.


Sebagaimana Bima itu orang-orang pemberani, selayaknya Diponegoro dikenal putus urat takutnya menggugat penjajah Indonesia.


Falsafah Bima mengajarkan di kebudayaannya,


Maja labo Dahu,

Maja adalah malu; malu berbuat sesuatu yang tercela dan tidak patut menurut kebiasaan masyarakat di mana saja kaki berpijak!


Labo berarti "mengikutkan atau bermakna dengan",


Sedangkan Dahu, adalah takut; takut untuk menjadi pengecut, dan meninggalkan kebenaran.


Oohh Niken Lara Yuwati dan Pangeran Diponegoro,

Oohh Kyai Datuk Sulaiman Bekel Jamus putra sulung Raja

Oooh! Ruma Ta Ma Bata Wadu Abdul Khair, kau raja pelahir pahlawan terbesar bangsa,

Aku akan ajarkan anak-anakku falsafah-falsafahmu, agar suatu saat masa depan kemerdekaan Indonesia mesti terus hidup di tanah air Indonesia.


Niken Lara Yuwati adalah pembangkrut Belanda, dua kali.


Seorang yang dikenal oleh Barat sebagai perempuan tangguh dan berpikiran tajam.


Pemanah ulung, kuat mengarungi perjalanan panjang, mahir berkuda, piawai menggunakan senjata.


Di dada Niken ada api, dua kali Belanda bangkrut dan pergerakannya dibuat mati.


Pertama, ia setia tangguh mendampingi suami, mengerahkan seluruh kekuatan Kesultanan Mataram; di dadanya ada api. Sembilan tahun menghadapi Belanda dan akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti.


Kebangkrutan Belanda yang kedua oleh perempuan ini, bersama cucunya; Pangeran Diponegoro bergerilya selama lima tahun, memaksa Belanda menghasilkan gencatan senjata bersama Tuanku Imam Bonjol. Ribuan tentara Belanda selama itu dibunuh, dan jutaan gulden Belanda mati suri.


Niken Lara Yuwati atau dikenal Ratu Ageng Tegalrejo adalah Pahlawan Nasional yang namanya harum di tanah air Indonesia. Tak peduli, namanya jarang kita ketahui, ia tetap sejarah yang berapi-api abadi.


Ia fasih agama dan ahli perang. Perang melawan kebodohan, penindasan, dan luhur dalam budi keanggunan.

Yaa Allaah! Hidupkan kembali Niken-niken dan Diponegoro-Diponegoro baru melalui kami atau generasi ini, yaitu pelanjut estafet pemimpin masa depan tanah air dan bangsa; tanah ini aku cinta. Tumbuhkan tunas mereka dari rahim perempuan-perempuan yang juga tangguh, di seluruh belahan bumi tanah air Ibu Pertiwi.

Aamiin!


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

1 comment: