“Tumpek Pengatag”, Etika Lingkungan Hidup Manusia Bali?

 


Gede Kamajaya

Sosiolog Universitas Udayana

Direktur Sanglah Institute

 

Dua puluh lima hari menjelang Hari Raya Galungan masyarakat Bali melaksanakan satu prosesi penting yang dikenal dengan Hari Tumpek Pengatag. Peringatan hari Tumpek Pengatag ini jatuh tiap 210 hari. Jika menggunakan perhitungan kalender Bali, Tumpek Pengatag jatuh pula pada Saniscara Kliwon wuku Wariga. Itulah kenapa Tumpek Pengatag juga dikenal dengan sebutan Tumpek Wariga. Dalam kamus bahasa Jawa, Tumpek berasal dari kata Tampa yang artinya “turun”, kata Tampa ini berkembang menjadi Tumampak yang berarti berpijak atau dekat, hingga pelafalannya berkembang menjadi Tumpek. Belakangan, berkembang pemaknaan lain dari Tumpek Pengatag sebagai salah satu ritual pemujaan kepada Dewa Sangkara—dewa kesuburan semua tumbuhan jika merujuk pada Lontar Sundarigama. Bagaimana Tumampak bermakna pijakan atau kedekatan akan begitu tampak ketika masyarakat Bali melangsungkan prosesi upacara Tumpek Pengatag atau Wariga ini. Dalam prosesi Tumpek Pengatag ini terjadi monolog antara manusia dengan pepohonan. Kurang lebih begini;

Nini-nini buin selae dina Galungan, mebuah apang nged…nged..nged” (Nenek-nenek, 25 hari lagi Galungan, berbuahlah dengan lebat) lalu diikuti dengan “atag” atau memukulkan pisau tiga kali ke batang pohon.

Kebutuhan manusia Bali pada keperluan upacara menjelang Hari Raya Galungan sangat tinggi. Karenanya, komunikasi searah ini menyimpan harapan sekaligus menunjukkan kedekatan personal manusia terhadap pepohonan, agar apa yang menjadi keperluan menjelang Hari Raya Galungan dapat terpenuhi secukupnya dari kebun mereka setelah sebelumnya mereka rawat. Dalam prosesi ini juga dapat ditemui satu sesajen bubur berwarna merah dan putih yang terbuat dari tepung. Bubur berwarna merah melambangkan purusa (maskulinitas) sedangkan bubur berwarna putih melambangkan pradana (feminis). Penyatuan keduanya adalah sumber dari kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Tak jelas asal-usul dan kapan praktik ini dimulai, juga oleh siapa. Namun, dapat diduga praktik adat masyarakat Bali semacam ini sudah berlangsung beriringan dengan perkembangan interpretasi manusia Bali atas semesta dan lingkungan mereka.

Praktik-praktik semcam ini sejatinya adalah kristalisasi nilai dari segala bentuk keterbatasan, ucapan syukur, kekaguman, harmonisasi, bergantung dan harapan dari setiap praktik budaya masyarakat adat. Dengan kata lain, lewat praktik dan pemaknaan semacam ini, Tuhan berada sangat dekat atau menubuh dalam setiap gerak dan laku budaya masyarakat Bali. Penghormatan pada pohon ala masyarakat Bali ini juga menegaskan bagaimana alam dipandang memiliki nilai intrinsik, tak hanya diposisikan memiliki nilai sejauh memberi manfaat bagi manusia—nilai instrumental dan objektivasi. Dengan kata lain, tak ada posisi hirarkis di dalamnya. Monolog antara manusia dengan pepohonan dalam praktik ritus Tumpek Pengatag ini juga menunjukkan semacam holisme metafisis di mana identitas setiap organisme ditentukan oleh relasi dengan organisme lain yang membentuk simpul jejaring lingkungan hidup. Ke-“ada”-an yang lain tidak meniadakan “ada”  lainnya.

Laku budaya dan pemaknaan semacam ini menunjukkan bagaimana manusia Bali menempatkan dirinya sejajar dengan alam berikut isinya. Namun demikian, kita mendapati praktik kedekatan manusia Bali pada alam sebagaimana tampak dalam prosesi dan pemaknaan Tumpek Wariga hanya berhenti pada tataran ritus. Menjadi pekerjaan berat bagi kita semua untuk kembali menggali, menyebarkan berikut memperluas makna dari praktik budaya ini untuk menjadi pijakan dalam membangun kedekatan yang intim dengan semesta, lebih-lebih melihat kondisi Bali belakangan ini yang didera arus interkoneksi global (tourism) yang sedikit-tidaknya mengubah cara pandang manusia Bali atas praktik sosiokultural dan lingkungan mereka.  Jika nilai dan praktik budaya semacam ini berhasil digali, dimaknai lebih luas dan disebarluaskan hingga menjadi nilai universal, maka ini bisa jadi pintu masuk awal menuju Renaisance kebudayaan Bali sekaligus menjadi catatan refleksi kritis atas kondisi kita hari ini.

*****

0 Comments:

Post a Comment