Sufi Bukanlah Eskapisme

[consciousreminder.com]


Angga Wijaya
Pegiat Komunitas Menulis Sanglah

Sufi Kota Mencari Tuhan. Itulah laporan utama majalah Tempo, Oktober 2008. Liputan yang menarik mengenai fenomena merebaknya sufisme di kota-kota besar. Sufi, yang merupakan istilah bagi mereka yang mendalami tasawuf, dengan jalan menyucikan diri—sebagaimana makna ”sufi” yang berasal dari kata safa yang berarti “kesucian”.

Mereka memperbanyak dzikir, puasa, menggenapi salat sunnah, dan belajar hidup sederhana (zuhud). Bagi yang lebih serius, mereka berkhalwat (menyepi) ke luar kota selama beberapa hari untuk berdzikir. Ada pula yang menekuni tarian Rumi (whirling dervishes), atau berguru pada seorang mursyid ‘guru’ di sebuah kelompok tarekat.

Julia Day Howel, antropolog dari Universitas Griffith Australia, menyebut fenomena ini sebagai fenomena “sufi urban”. Mereka yang ramai-ramai belajar tasawuf kebanyakan orang-orang muda yang secara ekonomi telah mapan.

Mereka tak lagi mempermasalahkan 'tarif' yang dipasang lembaga-lembaga yang menjajakan tasawuf. Memang, ketika seseorang telah mapan secara ekonomi biasanya merasa ‘hampa’, lalu mencoba mengisi kehampaan itu dengan berjalan ke dalam diri melalui tasawuf.

Namun, seperti yang ditulis Tempo, orang-orang yang belajar tasawuf lebih untuk meningkatkan spiritualisme pribadi, bukan spiritualisme kolektif. Sufisme cuma punya efek terhadap diri sendiri, belum pada lingkungan di luar dirinya. Mereka lebih sibuk mengurusi Tuhan, yang sebetulnya tak meminta diurus, ketimbang mengurusi kemaslahatan bersama.

Mereka ini sesungguhnya telah melupakan esensi tasawuf yang jauh lebih penting: khidmat, pelayanan terhadap manusia lain, dan inilah dakwah yang sesungguhnya.

Sufi juga bukanlah sebuah eskapisme. Menjadi sufi bukanlah pelarian; ia tidak melarikan diri dari masyarakat. Ia bukan seorang pertapa. Beberapa Sufi bisa jadi memilih untuk hidup sebagai fakir, tapi itu bukan satu-satunya pilihan. Itu bukan syarat ataupun kriteria utama untuk menjadi seorang sufi.

Sufi, yang yakin bahwa agama mereka adalah “agama cinta”, tentu menjadi penyejuk di tengah radikalisme agama yang menghalalkan kekerasan atas nama agama. Sufi adalah para pejalan di jalan cinta. Seperti yang pernah ditulis Ibn Arabi (1165-1240):

“Hatiku telah terbuka sepenuhnya: ini menjadi padang rumput bagi kawanan domba, biara bagi para pertapa, kuil bagi arca-arca sembahan, Kaaba bagi para peziarah, meja bagi kitab Taurat dan kitab Suci Alquran. Saya mempraktikkan agama cinta: Kemanapun arah kereta meluncur, agama cinta akan selalu menjadi agamaku dan keyakinanku”.

*****

0 Comments