Bermetamorfosis dalam Metaforisitas


Bermetamorfosis dalam Metaforisitas



Fadel Yasrawi
Mahasiswa Sosiologi UGM 2016

Editor: Wahyu Budi Nugroho

. . .
Keywords: Bahasan Bahasa, Sosiologi Bahasa, Bahasa Sosiologi, Uncategorized

Animal symbolicum, animal rationale, animal educandum, homo sapiens, homo ludens, homo faber, homo homini socius... “Kamu bicara apa?” Dasar binatang homo! Awal ber-ada saja sudah ada tensi! Katanya manusia adalah binatang tapi adalah tidak binatang. “Biarlah, cuma masalah sebutan saja, kok”. Katanya manusia adalah makhluk mulia tapi adalah tidak makhluk mulia. “Itu tergantung kitalah” Katanya manusia adalah bebas tapi adalah tidak bebas. “Ya ... gimana, ya” Katanya manusia adalah dari bumi tapi adalah tidak dari bumi. “Hei nyinyir! Hati-hati kalau bicara!” Kata-katamu hati-hati tapi kata-katamu adalah tidak hati-hati “Hmm..” Eh.. kata-katamu itu adalah hati-hati atau tidak, ya? “Diam!” Dasar binatang homo! Awal ber-ada saja sudah ada tensi!

Metafor sebagai Kondisi Antropologi, dan dalam Artian Semantik[1]
Mengenai pemberian arti terhadap manusia yang begitu beragam, secara sederhana bisa dilihat bersifat oposisi-oposisi komplementer dari sisi ‘ketidakberdayaan’ sebagai entitas yang keberadaannya memiliki banyak ketidaklengkapan di hadapan alam, serta sisi ‘keberdayaannya’ dalam kreativitas memanipulasi kenyataan alam dengan kemampuan uniknya menciptakan dunianya sendiri, yaitu dunia simbol. Sehingga, hubungan manusia dengan alam selalu tidak langsung, tertunda, selektif, dan metaforis. Dari sini tergambarkan posisi vital metaforisitas sebagai kondisi antropologi manusia; bahwa pada dasarnya dalam memahami dirinya dan alam, manusia tidak mempunyai akses langsung murni, dan rasionalitas sendiri pada dasarnya insufficient, bukanlah sesuatu yang pada dirinya sendiri memadai bagai cermin untuk memahami realitas. Akibatnya, cara manusia untuk memahami alam dan dirinya hanyalah melalui metafor, yaitu mempersamakanya dengan hal lain yang lebih dimengertinya, yang sebenarnya bukan hal itu sendiri.

Jika ditarik lagi, bahasa bukanlah sesuatu yang bisa disejajarkan seperti suatu penemuan alat untuk berburu atau bertani oleh manusia. Lebih mendasar lagi bahasa adalah hubungan fundamental linguistik manusia dengan dunia. Dari kenyataan yang sangat mendasar, bahwa semua kata dan nama adalah buatan manusia sendiri, sebuah transferensi dari manusia yang tidak secara murni berasal dari alam. Dalam perspektif hermeneutik[2], bahasa dilihat sebagai pusat gravitasi. Seperti halnya dalam definisi Yunani klasik bahwa manusia adalah makhluk bercerita, pengada yang memiliki logos. Segala hal yang ditangkapnya dari alam luar itu ditafsirkan ulang olehnya dan diubahnya menjadi ungkapan dari dalam dirinya sendiri. Transformasi impresi eksternal ke ekspresi internal membuat realitas alamiah yang asing menjadi lebih dapat dipahami dan dimengerti oleh manusia.

Kemudian, metafor dalam arti sempit atau makna semantik tertentu sebenarnya juga tidak hanya ornamen memperindah belaka, hal ini karena mendasari anggapan fungsi substitutif metafor saja. Sedangkan yang terpenting dari metafor adalah deviasi atau kesalahan kategori, yang bukan hanya menghancurkan tata logika tertentu, melainkan justru menemukan tatanan logika baru pula. Menurut Paul Ricoeur lebih jauh, bahwa untuk menangkap nilai metafor seperti itu, kita harus melihat metafor tidak hanya dari sudut ‘kata’, melainkan dari sudut ‘pernyataan’, bahkan lebih jauh lagi dari sudut ‘diskursus’ atau keseluruhan wacana. Setelah itu Ricoeur menyimpulkan bahwa metaforisitas sebenarnya terletak dalam kopula kata “adalah” yang menghubungkan subjek dengan predikat. Dari sana konsepnya tentang acuan terbelah (split reference) menemui bahwa kebenaran metaforisitas itu sendiri mengandung ketegangan atau dengan kata lain bersifat tensive.

Paul Ricoeur [philosophynow.org]

Dari sana, keunggulan fungsi transformatif bahasa melampaui urgensi fungsi deskriptif-representatifnya. Permasalahanya di sini adalah paradigma fungsi deskriptif bahasa menyebabkan bahasa memiliki keterbatasan dalam menjelaskan dunia. Akibatnya terdapat anggapan-anggapan akan hal transenden yang bersifat ekstralinguistik. Sebagai akibat dari cita-cita filsafat tradisional yang berupaya menjaga konsep-konsep universalitas bahasa yang deskriptif, logis dan ketat-tertutup serta menjunjung univoisitas. Berhadapan dengan pluralitas kehidupan real dan keragaman permainan bahasa yang bersifat ekuivokal. Atau lebih terjelaskan lagi dalam perbandingan kubu-kubu yang menjujung bahasa denotatif-literal berhadapan dengan yang menyetujui kemurnian metaforis.

Dari kegagalan ‘cermin besar’ fungsi deskriptif tersebut yang berakar dari representasionalisme dan fondasionalisme, maka lalu lintas reflektif bahasa digantikan dengan fungsi transformatifnya. Ketika pandangan hermeneutika menjelaskan bahwa memahami sesuatu berarti menafsirkanya, berarti ketika kita merefleksikan suatu pengalaman atau teks, bukan berarti kita merepresentasikannya, melainkan mentransformasikannya pada diri kita. Ricouer berkata: “Pendeknya ini adalah soal bagaimana teks (atau yang sejajar dengan teks)  itu memberikan dimensi subjektivitas: pada saat membaca saya tidak menyadari diri. Membaca itu memperkenalkan saya pada berbagai variasi ego. Metamorfosis dunia dalam permainan teks adalah juga metamorfosis ego”.

Kebenaran yang Bersifat Konvensional[3]
Yang metaforis dan yang literer semakin memicu tensionalitas antara pandangan realisme metafisik dengan relativisme. Realisme metafisik di satu sisi bergagasan bahwa dunia terdiri dari totalitas objek-objek yang pada dasarnya tidak tergantung akal-budi. Relativisme dari sisi lain adalah gagasan yang menganggap bahwa tidak mungkin ada standar rasionalitas dan kebenaran yang mengatasi linguistik dan budaya partikular. Pemaknaan makna mana yang kita bela[4] menjadi kemenangan subjektivitas yang dikhawatirkan terperangkap ke dalam nominalisme atau relativisme radikal, bahkan nihilis. Tapi tetap saja, upaya dialogal penyeimbangan bineral-bineral yang terlanjur terbuat ataupun mungkin memang bersifat kodrati tersebut perlu disiasati.[5]

Dalam kerangka permainan bahasa, kesadaran (yang tidak terlepas dari bahasa) dan bahasa (atau yang analog dengan teks ), atau dalam bahasa tradisional: “subjek” dan “objek” saling menentukan satu sama lain. Konsekuensinya, tidak memungkinkan adanya metode yang kokoh dan pasti “objektif murni” di luar dialog itu sendiri, jadi yang terpenting adalah menjaga kesinambungan dialog itu saja. Walaupun kemudian proses dialogal itu sendiri terus berkesinambungan dan memiliki banyak kemungkinan, jusru hal tersebut membuat ketidakterukuran permainan bahasa yang membuatnya juga relatif, tegasnya, pluralitas permainan bahasa itu sendiri sebenarnya dapat terjembatani.

Kemudian, masalah keabsahan intersubjektif dalam kesinambungan dialog tadi menjadi urgen. Keabsahan—atau dalam bahasa ilmiah yang lebih rendah hati yaitu “probabilitas tingkat kebenaran tertinggi”—bisa dilacak dalam pembahasan Habermas. Di sisi kritis[6] dan juga ‘lentur’, Habermas menarik permasalahan kebenaran intersubjektif atau lebih ke arah norma-norma konsensual dari kerangka filsafat tradisional yang berpusat kepada ‘kesadaran’ menuju konsep bahasa sebagai komunikasi. Gagasan sentralnya yang melakukan distingsi dua dimensi praxis, yaitu kerja dan komunikasi sebagai hal mendasar yang menentukan bagaimana manusia sebagai spesies bergerak dan hidup di kehidupannya. Atau yang lebih sentral, usaha pertalian antara teori dan praxis melalui kanal komunikasi dan juga konsensus. Habermas mengedapankan analisis kompleks terhadap masyarakat kapitalis dan akibat yang dibawanya sebagai efek dari rasionalitas instrumental melalui etika wacana dan emansipasi komunikatif.[7]

Jurgen Habermas [philosophynow.org]

Bicara rasionalitas, usaha metaforis telah jauh dilakukan dalam sosiologi dan diakui  Max Weber dengan konsepnya mengenai ideal type[8]. Ketika dunia real memiliki kompleksitas yang tinggi, tidak transparan, dan bahkan chaotic, tetap diperlukan pengonstruksian model ‘pegangan’ tipe representasi ideal untuk mengkaji kenyataan. Dengan memasukkan aspek-aspek karakter dan mengeksklusi hal-hal yang tidak esensial  dari realitas yang dikaji. Dari gambaran itu saja, terlihat bahwa usaha-usaha ekstraksi realitas literal sebelumnya dengan memilah ciri-ciri tertentu sebagai upaya klasifikasi generalisasi menemukan keberartian metafor menjadi disadari. Tetapi Weber sendiri juga terbuka dengan menganggap bahwa tipe ideal yang dimodelisasi juga tidak setara dengan realitas itu sendiri, lebih terbuka lagi, Weber memposisikan usahanya tersebut sebagai kemungkinan yang paling mungkin dilakukannya dalam sosiologi.
    
“Lah.. berarti kebenaran itu apa?” Konon kata Nietzsche, tiada lain hanyalah sepasukan metafor, metonimi, dan antropomorfisme; pendeknya sejumlah hubungan manusiawi yang secara puitik dan retorik telah diintensifkan, dimetamorfose dan dipuja sehingga setelah lama lantas dibakukan dalam kanon yang meningkat. Kebenaran, jadinya, adalah ilusi-ilusi yang segi ilusinya telah dilupakan orang; metafor yang telah usang dan tak lagi mampu membangunkan rasa; uang logam yang permukaanya telah aus hingga tinggal berupa logam belaka... “Wah gak bener tu orang”

Membaca yang Sosial
Jika kita melihat garis pemisah antara sosiologi yang individual metodis dengan holistis metodis, atau yang lebih kentaranya antara weberian dengan durkhemian[9], ‘garis imajiner monologal’ tersebut akan semakin hilang jika dilihat lebih dekat. Di sisi Weber, anggapan jika suatu konsep sosiologis general tidak bisa menjelaskan kondisi kemungkinan individu bertindak dengan cara tertentu, maka konsep tersebut harus disingkirkan. Di sisi Durkheim, menurutnya ketika fakta sosial direduksi ke dalam fakta individual, maka eksplanasi tersebut adalah salah. Pemisahnya tak lain hanya menjadi perbedaan pendekatan jika dilihat sedikit lebih jauh. Yang pertama tidak terlepas dari yang ‘diobjektifkan’ seperti bahasannya tentang rasionalisasi dan birokrasi, dan yang kedua juga memandang yang ‘disubjektifkan’ seperti kemungkinan individual ketika berada dalam keadaan anomie.

Konon, sudah menjadi perdebatan abadi antara pandangan-pandangan dualistis dalam melihat fenomena sosial: agensi-struktur, individualisme-kolektivisme, kebebasan-determinisme, kreatifitas-pengondisian, ‘kesadaran subjektif’-‘realitas objektif’, autonomi-sosialisasi, dst. Mungkin juga konon, bahwa beberapa teori sosiologi telah ‘berhasil melampaui’ dikotomi-dikotomi tersebut, seperti Pierre Bourdieu dalam penyajian dialektika ‘externalising the internal’, dan ‘internalising the external’ dalam masyarakat. Kemudian juga ada Anthony Giddens yang melihat bahwa struktur sosial adalah ‘the medium’ dan ‘the outcome’ sekaligus dari tindakan sosial, dan bahwa agensi dan struktur adalah hal konstituen yang bersifat mutual dengan status ontologi yang setara.

Adam B. Seligman dalam tulisanya mengenai penafsiran modernitas dalam postmodernitas,[10] menganggap bahwa persoalan mengenai hubungan antara partikular dan universal jelas merupakan masalah yang lebih bersifat sosiologis daripada filosofis. Demikian terdapat ajakan untuk melampaui perdebatan-perdebatan ‘abstrak’ terhadap isu-isu tersebut; seperti serangan terhadap eksistensi universalitas dan perdebatan mengenai filsafat subjek. Bahwa perhatian terhadap individu dalam matriks sosial ini ‘membumikan’ suatu upaya memikirkan yang partikular (dalam hal ini individu), dalam hubungannya dengan kerangka kerja universal (sosial). Baginya, hal tersebut merupakan sebuah refleksi lain dari persoalan sosiologis cum filosofis mengenai partikular dan universal yang menjadi inti perdebatan kontemporer mengenai modernitas.

Di dalam dikotomi-dikotomi itu sendiri sebenarnya juga terdapat konsep-konsep kontradiktif dan ambigu dalam membaca pandangan teoritis tertentu. Seperti contoh populernya dalam membaca pemikiran Marx[11]; di satu sisi dikatakan positivis tetapi juga ada yang menganggap antipositivis, pemikiran Marx dikatakan terlalu reduktif dengan determinismenya, di seberangnya ada serangan bahwa pemikiran tersebutlah yang terlalu reduktif dan pembacaan yang kurang memadai disalahkan sebagai penyebab anggapan bahwa pandangan Marx terlalu determinisme terhadap ekonomi. Lebih jauh, bahwa Marx juga diserang dengan anggapan bahwa upayanya terlalu menghilangkan dimensi ide dari kehidupan, bahkan jawabannya juga lebih jauh: tidak mungkin Karl Marx menghabiskan sangat banyak waktunya di British Library mempelajari banyak literatur, bahkan Smith dan Ricardo jika Marx tidak percaya dengan keberdayaan ide.

Bahasa dalam hal ini juga terlihat bukan lagi masalah penamaan saja jika konsep acuan yang menjadi mendium acuan real-nya pun juga memiliki implikasi rigoris yang selalu bisa dipermasalahkan. Maka suatu upaya melewati fungsi deskriptif dalam artian mengikuti objektifikasi konsepsi yang ditemukan dan kemudian memasuki ruang subjektifitas dengan dijembatani fungsi transformatif bahasa untuk melampaui kebuntuan monologal dalam diskursus realitas sosial. Paul Ricouer mengatakan, “Bila wacana masih menjadi problem bagi kita saat ini, maka ini dikarenakan pencapaian-pencapaian utama linguistik yang sangat perhatian terhadap bahasa sebagai struktur dan sistem, bukan kepada penggunaan bahasa tersebut”.

“Kebarat-baratan sekali gaya anak zaman sekarang” Hmm ... maksudmu anak-anak tetanggamu sekarang suka makan di Burjo? “Lah?” Atau jangan-jangan maksudnya adek-adekmu suka baca Lévinas? “Kamu sehat?” Keponakanku yang masih anak-anak tidak suka Burjo dan tidak tau Lévinas, kok. “Dasar kuper!” Saya bergurau tapi kenapa tidak lucu, ya?” Makannya berinteraksi sama orang banyaklah! Jangan sibuk sendiri” Kata-katamu menarik! “Biasa saja kok ... sudah menjadi saran orang banyak” Saranmu memang menarik, tapi kata-katamu dari awal lebih menarik. “Maksudnya?” Menariknya kenapa yang menarik seperti itu sudah biasa saja kok, ya? “Maksudnya?” Hmm ... mbuh..   

Relasi Kebahasaan; Relasi Kekuasaan
Di Prancis tahun 1960-an, muncul aliran strukturalisme yang mereaksi humanisme yang terlalu optimis mengatakan bahwa subjek manusia adalah bebas dan sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Akibat pencapaian linguis Swiss Ferdinand de Saussure­­[12] yang sangat dipengaruhi Durkheim, Saussure mempertimbangkan linguistik sebagai cabang sosiologi[13]. Lewat analisis struktur bahasa, strukturalisme menunjukkan bahwa bukan manusia yang membentuk lingkungan mereka, namun justru sebaliknya: manusia dibentuk! Bahwa bahasa yang kita pakai secara alamiah merupakan cermin dari kultur pemakainya. Kemudian direspon oleh pos-Strukturalis dengan kritik bahwa konstruksi biner dan hierarkis bukanlah sesuatu yang alamiah dalam bahasa (dan struktur masyarakat), melainkan sesuatu yang dibuat oleh manusia.[14]

Di antaranya ada Michael Foucault, yang antifinalis, yang dengan pendekatan arkeologis melihat bahwa semua wacana yang memiliki pretensi obyektifitas ilmu adalah wacana seseorang yang memiliki kekuasaan. Dari sisi ini, kekuasaan bukan lagi mengacu pada suatu sistem dominasi umum oleh suatu kelompok terhadap yang di luarnya, tetapi nama yang diberikan kepada suatu strategis kompleks dalam suatu masyarakat, yang ada dimana-mana, bukan dalam artian kekuasaan mencangkup semuanya, tetapi kekuasaan datang dari mana-mana. Jadi kekuasaan awalnya bukan represi (Freud) atau pertarungan kekuatan dan manipulasi ideologi (Marx)[15], tetapi sesuatu yang tidak dapat dilokalisir, tatanan disiplin (dalam artian teknologi kekuasaan) dan dihubungkan dengan jaringan, memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tetapi produktif,  yang menempatkan konflik dalam berbagai institusi sosial, dalam ekonomi, dalam bahasa, bahkan di dalam tubuh kita masing-masing.

Michel Foucault [philosophynow.org]

Di sisi konsumerisme, Jean Baudrillard[16] melihat logika nilai guna komoditas bukan berdasarkan kepuasan individual saja, melainkan logika produksi dan manipulasi yang bermakna sosial. Proses klasifikasi dan pembedaan sosial, serta proses pemaknaan dan komunikasi yang yang didasarkan pada kode di mana praktik konsumsi dikondisikan dan mempunyai makna. Perspektif ini mau menunjukkan bahwa konsumsi adalah sistem pertukaran yang sejajar dengan bahasa: objek selalu dimanipulasi sebagai petanda yang membedakan atau masuk ke suatu kelompok. Maka komoditas akan menjadi bernilai atau menjadi sumber hasrat ketika sudah menjadi tanda integrasi sosial, prestise, atau kekuasaan. Konsep tanda yang menjadi distinction dalam konteks ‘meninggi’, dan juga pembalikan tanda formal sebagai distinction yang ‘merendah’ terhadap keberadaan orang orang lain. Dalam konteks yang ‘merendah’ disebut sebagai strategi condescendance, yang mana yang merendah malah bermotif menunjukkan kelasnya.

Pendekatan lain yang lebih sempit dalam konteks wacana telah dikembangkan sebelumnya oleh filsuf Inggris J.L Austin. Fokusnya bermula dari menjauhnya pernyataan-pernyataan ‘assertoric’ dalam filsafat yang menyatakan sesuatu tentang dunia ke arah ucapan-ucapan ‘performatif’. Judith Butler lebih jauh menganalisa retorika dalam wacana politik, Habermas berbicara etika wacana, dan kemudian pembahasan yang lebih luas ditemukan salah satunya dalam uraian karya Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe, yang menyintesis aspek pos-Strukturalisme, psikoanalisis, marxisme, dan beberapa aspek karya Wittgeinstein, untuk membuat wacana yang koekstensif dengan masyarakat, dan dimensi konstitutif dari semua masyarakat.[17]

“Saya sebenarnya marxis, saya sangat antikapitalis” Seperti apa itu, marxis? “Ya paham saya berdasar pandangan-pandangan Marx” Seperti apa itu pandangan Marx? “Komunisme” Paham yang berdasar komunisme itu seperti apa? “Antikapitalis!” Sudah baca German Ideology atau Das Kapital? “Tidak boleh kamu bertanya seperti itu... ini soal kepercayaan, bukan sekadar seorang yang mengkaji teks-teks Marx!” Marxis ortodoks, bukan? “Ya, intinya saya setuju antikapitalisme” Paling tidak Communist Manifesto atau Tesis tentang Feuerbach?” Banyak tanya! Saya keluar dulu sebentar mau beli Morlbaro di Indemaret” Tunggu dulu ... antikapitalisme maksudmu seperti apa? “Mana kunci Fortuner saya?!”
  
Bahasa ‘Biasa’ dan Bahasa ‘Akademis’
Pierre Bourdieu yang juga berpandangan bahwa relasi kebahasaan selalu merupakan relasi kekuasaan (rapports de force) suatu ketika secara implisit menampilkan suatu ilustrasi tentang distingsi bahasa ‘literer’ dan bahasa ilmu sosial—yang juga menjadi kritik internal pelanggengan kapital budaya akademisi—serta tulisan akademis lainya: “melalui gaya ‘promosi’ status suatu wacana ditampilkan.. orang tidak bereaksi atas kalimat seperti ini: ’memburuknya tempat tinggal sebenarnya terletak di dalamnya, di mana kematian selalu mencari sesuatu yang baru demi hunian yang alami, sehingga mereka harus terus belajar untuk tinggal’, dengan cara yang sama orang akan bereaksi atas suatu pernyataan dalam bahasa umum, seperti: kondisi perumahan semakin buruk..”.[18]

Pada dasarnya, Bourdieu lebih dalam lagi mengemukakan konsepnya tentang bahasa sebagai kritik terhadap karya Saussure dan Chomsky, dan dari pengembangan karya antropologis serta studinya tentang pendidikan dan konsumsi budaya, dia menyimpulkan bahwa pembagian antara linguistik dan sosiologi berbahaya bagi kedua disiplin tersebut.[19] Lebih jauh lagi, kaitan antara habitus bahasa dengan pasar bagi produknya. Tetapi dari uraian singkat di atas, terdapat pembahasan berupa kritik Bourdieu ke dalam legitimasi para akademisi dengan konteks kekuasaanya melalui bahasa akademik itu sendiri. Walaupun pada akhirnya Bourdieu menyatakan antisipasi terhadap suatu wacana yang terlalu disederhanakan dan terlalu menyederhanakan tentang dunia sosial, di luar sisi ambiguitasnya, di sini menjadi menarik bahwa cara penyajian wacana di dalam dunia akademik sendiri pun juga diproblematisasi secara internal.

Pierre Bourdieu [philosophynow.org]

Di ‘seberang Frankfurt’, Niklas Luhmann pernah mengungkapkan ketergangguannya dari  orang-orang yang menyederhanakan refleksi yang ada di dalam diskursusnya, bahkan dikomodifikasi. Kesalahpahaman pun menurutnya tak akan terhindar jika suatu teori dikomodifikasi sebagai produk instan melalui reduksi dan simplifikasi.[20] Memang sepertinya dilematis ketika usaha-usaha ‘reduktif’ para teoritis besar dalam membahasakan masyarakat harus disimplifikasi kembali dalam upaya pembahasaanya kembali kepada masyarakat. Dilematis ketika bahasa teori yang seharusnya membawa yang ingin mempelajarinya terganggu dan terjaga dalam artian ikut hanyut dan menumbuhkan rasa ingin tau, malah tidak laku dan membuat ‘mengantuk’.

Di luar maupun di dalam keadaan dilematis tersebut, fungsi bahasa yang memiliki explanatory power yang kuat dan sudah ditradisikan oleh disiplin sosiologi maupun dalam upaya-upaya disiplin keilmuan lainya sangat tidak bisa dikatakan tidak berperan. Sistem kategorisasi dan pengonstruksian tipe-tipe ideal dalam usaha memahami maupun ‘pembebasan’ masyarakat terus mengiringi dialektika masyarakat itu sendiri. Kesadaran kita sebagai individu yang ingin mempelajari paling diperlukan dalam upaya ikut serta dalam proses dialogal-transformatif dan peleburan ego di dalam budaya tersebut. Sampai di sini, teringat kata-kata Deleuze bahwa “Tugas ‘filsafat’ pada dasarnya adalah membuat nama-nama atas realitas”. Kata-kata tersebut menjadi lebih diterima dengan keterbukaan dan penghargaan.

Manuver lamban yang terus berimplikasi memberi ruang terhadap proses yuridikasi akan memberi kebebasan bagi oknum yang secara eksplisit terus mencoba mengintervensi prosesnya dan berpretensi untuk... “Bapak ini bahas apa, sih? Ganti siaranya! Lebih bermanfaat menambah wawasan nonton acara delapan fakta unik tentang dunia daripada mendengarkan berita ini” Seriously? “Atau nonton kontes dangdut saja” Ya sudah dangdut saja.. “Ya sudah” Tapi saya sedang bingung mengenai modernisme dan modernitas, kemudian posmodern, posmodernisme, dan posmodernitas, serta strukturalis dan pos-Strukturalis di antaranya... “Sudah!”

Ketidaksimpulan: Setelah penulis menulis dan membaca kembali tulisan ini, kesan yang paling dominan terasa kemudian—sebagai mahasiswa awal sosiologi—adalah bahwa secara langsung ataupun tidak langsung—dalam kerangka rasionalitas sebagai practical matter—tulisan ini meminta (entah kepada siapa) semacam ‘pengantar sosiologi’ (entah seperti apa) bagi orang-orang yang bersedia terganggu dalam masyarakat dan secara sadar merasa diganggu ketika berada di dalam teori-teori sosial. Khususnya bagi manusia-manusia yang ‘bermetafor’ dengan, dan di dalam bahasa Indonesia. Kemudian, di luar perdebatan antara kematian atau tidak matinya posmodernitas,  terbayangkan sebentuk pengantar sosiologi yang ‘melampaui posmodernitas’ (entah bagaimana kongkritnya) tanpa menurunkan gambaran para precursors klasik, yang terasa masih digambarkan secara ‘membosankan’ di dalam buku-buku pengantar sosiologi di Indonesia pada umumnya. Dengan harapan bahwa sosiologi tidak lagi berkesan seperti sekedar produk impor yang dicangkok dan dicocok-cocokkan dengan keadaan sosial kita sendiri. Harapan hadirnya suatu pengantar sosiologi yang terbuka, dan tentu saja membuka pemikiran tubuh-tubuh sosial untuk menyadari bahwa “sosiologi ada”, bahkan ‘di kehidupan biasa kita sehari-hari’. Harapan bahwa kita tidak terasing dalam pengasingan diri mengkaji keterasingan sebagai upaya melawan pengasingan masyarakat, dan tentu saja diri sendiri. Harapan bahwa kita bisa secara sadar bermetamorfosis dalam metaforisitas yang lebih menumbuhkan kesadaran. Itu saja.

*****




[1] Pembahasan dalam subjudul ini didasarkan dari Prof. Dr. Bambang Sugiharto, dalam bukunya yang berjudul Posmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1996. Dan sebagai inspirasi utama tulisan ini.
[2] Untuk kajian yang lebih diakronis tentang hermeneutika, lih. Hardiman, F. Budi, Seni Memahami: Hermeneutika dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2015.
[3] Untuk membaca sejarah perkembangan gagasan-gagasan modern (Barat) yang cukup komprehensif, lih. Brinton, Crane. Pembentukan Pemikiran Modern. Mutiara: Jakarta, 1981.
[4] Penggalan lirik lagu Barasuara yang berjudul  Bahas bahasa, sebuah single yang rilis pada tahun 2015.
[5] Lih. Channel Youtube: Komunitas Salihara yang berjudul Kelas filsafat. Seni Ketidaksepahaman: Habermas dan Hermeneutika Kritis, dengan pembicara F. Budi Hardiman. Dipublikasi tanggal 22 Agustus 2016.
[6] Lih. Hardiman, F. Budi. Kritik Ideologi: Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jürgen Habermas. Kanisius: Yogyakarta. 2009.
[7] Lih. Osborne, Richard, dan Borin Van Loon; Introducing Sociology. Totem Books: Malta, 2005.
[9] Lih. Channel Youtube: University of Amsterdam dalam playlist Session 7: Max Weber (1864-1920), dengan pembicara Bart van Heerikhuizen, Ph.D., dengan update terakhir pada tanggal 11 Agustus 2011.
[10] Lih. Turner, Bryan. Teori-teori Sosiologi: Modernitas dan Posmodernitas. Pustaka Pelajar: Yogyakarta 2008.
[11] Lih. Channel Youtube: Yale Course yang berjudul  Marx's Theory of Historical Materialism (cont. , dengan pembicara Professor Ivan Szelenyi. Dipublikasi tanggal 4 maret 2011.
[12] Lih. Kridalaksana, Harimurti. Ferdinand De Saussure: Peletak Dasar Strukturalisme dan Linguistik Modern, Yayasan Obor: Jakarta.
[13] Lih. Ricoeur, Paul. Teori Interpretasi, IRCiSoD: Yogyakarta, 2012.
[14] Diambil dari teks pengantar kuliah kelas filsafat LSF Cogito oleh A.Setyo Wibowo dengan judul Problem Pikiran/Bahasa dan Dunia: KhÔra .2017.
[15] Lih. Fromm, Erich. Beyond the Chain of Illusion: Pertemuan Saya dengan Marx dan Freud. Octopus: Yogyakarta, 2017.
[16] Lih. Haryatmoko. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Pos-Strukturalis, Kanisius: Yogyakarta. 2016, hal: 63-85.
[17] Lih. Scott, John. Sociology: The Key Concepts. Raja Graffindo Persada: Jakarta, 2013.
[18] Lih. Jenkins, Richard. Membaca Pikiran Pierre Bourdieu, Kreasi Wacana: Yogyakarta, 2016.
[19] Ibid. at 246.
[20] Diakses dari rumahfilsafat.com, Teori Sistem Masyarakat Niklas Luhmann


0 Comments