Bola Voli Wilson dalam Film Cast Away: Wujud Relasi yang Tertukar

Bola Voli Wilson dalam Film Cast Away:
Wujud Relasi yang Tertukar

[pic: quora.com]

Wahyu Budi Nugroho
Pegiat Sanglah Institute

Tulisan ini didekasikan untuk Fidiana Rakmawati Mujiatno
dan Riko Agusman—para mahasiswa/i gabut.

Cast Away, Biasa sekaligus Luar Biasa
…inilah tanggapan singkat saya terhadap film Cast Away: “biasa sekaligus luar biasa”. Jalan cerita film ini cukup sederhana, yakni bagaimana seorang eksekutif muda perusahaan jasa pengiriman barang lintas negara Federal Express (FedEx) bernama Chuck Noland—diperankan Tom Hanks—mengalami kecelakaan pesawat, kemudian terdampar seorang diri di sebuah pulau terpencil yang belum tersentuh peradaban manusia. Cerita-cerita “keterasingan” seperti ini menjadi biasa karena kita dapat menemui berbagai narasi serupa dalam banyak budaya pop, semisal Swiss Family Robinson (1960), Lord of The Flies (1990), serta yang lebih baru seperti; Into The Wild (2007), I am Legend (2007), 127 Hours (2011), serta Life of Pi (2012); namun dari kesemua daftar ini, novel The Life and Strange Suprizing Adventures of Robinson Crusoe karya Daniel Defoe (1719) tetap menjadi yang terklasik dan agaknya menjadi pelopor narasi keterasingan individu dalam budaya pop—diangkat ke layar lebar pada tahun 1997. Tetapi apabila dibandingkan, Life of Pi menjadi yang termirip dengan Cast Away karena sama-sama mengangkat kehampaan akut manusia tanpa interaksi dengan sesamanya, sementara Robinson Crusoe misalnya, pada akhirnya bersentuhan dengan peradaban suku primitif di pulau terpencil tempatnya terdampar.

Apa yang menjadi luar biasa dalam film Cast Away adalah kemampuan sutradara dan mungkin juga penulis skenario membuat adegan-adegan biasa menjadi begitu dalam dan mengena. Memang tak dapat dipungkiri, terdapat upaya dramatisasi dalam adegan-adegan tersebut, namun hal itu sama sekali tak terkesan dibuat-buat hingga kita berpikir tak mungkin terjadi dalam kehidupan manusia, berbeda dengan film-film lain, terutama film tanah air dan juga India dengan unsur-unsur dramatisasi yang menerabas batas sehingga kita justru menganggapnya konyol dan tak masuk akal. Mungkin memang, kelemahan kita terletak pada riset yang sangat minim. Apa yang terjadi secara psikologis ketika seorang manusia mengalami situasi ini atau itu? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kiranya urung dieksplor lebih jauh, atau memang, tak tersedia alokasi dana yang cukup untuk melakukan riset sebelum membuat film.

Wilson: Relasi I-It yang Tertukar dengan I-Thou
Keberadaan bola voli bermerk Wilson dalam film ini sebetulnya sangat sepele, namun justru bola voli inilah yang memberikan sentuhan sangat mendalam. Ketika Noland telah cukup lama tak berinteraksi dengan manusia, ia menjadikan bola voli bermerk Wilson sebagai temannya bicara. Ia pun memanggilnya dengan nama “Wilson”. Anda yang sudah menonton film ini boleh jadi berpikir, kehadiran Wilson tidaklah terduga atau tak sengaja, yakni ketika telapak tangan Noland yang berlumur darah membekas pada bola itu, kemudian ia secara spontan membentuknya menyerupai wajah manusia. Dari sinilah percakapan antara Noland dengan Wilson yang notabene adalah bola voli dimulai. Secara psikologis, Wilson sebagai substitusi keberadaan manusia lain untuk berinteraksi tidaklah terjadi secara tiba-tiba. Ini mengingat, apabila manusia tak berinteraksi dengan manusia lain dalam waktu lama, ia akan mengalami kegilaan—inilah arti penting curhat. Apabila Wilson tidak ada, maka akan muncul Wilson-wilson lainnya, entah itu sebatang pohon, topeng dari kayu, atau bisa juga buah kelapa.

Gambar 1. Martin Buber [wikimedia.org]

Interaksi antara Noland dengan sebuah bola voli sesungguhnya menunjukkan relasi yang tertukar antara I-It dengan I-Thou. Hal ini sebagaimana dikemukakan seorang eksistensialis bernama Martin Buber bahwa manusia memiliki dua cara mengada terhadap segala sesuatu di luar dirinya. Dua cara mengada ini sekaligus menunjukkan “AKU ganda” di hadapan being-being lainnya, dan bagaimana AKU sesungguhnya tak pernah terisolasi, melainkan selalu berada dalam jalinan relasi. I-It menunjuk pada jalinan relasi antara manusia dengan benda, yakni antara AKU dengan obyek (it-/itu-). Dalam relasi ini, terciptalah dunia benda-benda, sesuatu yang dibendakan, hak milik, atau penguasaan atas yang lain. Relasi I-It memiripkan wujudnya sebagai zwerk rational atau “rasionalitas instrumental”, suatu kesan pada obyek atau “yang lain” sebagai alat untuk mencapai tujuan atau memuaskan kehendak.

Sebaliknya, relasi I-Thou adalah relasi terhadap subyek, yakni “yang lain yang dianggap sepertiku”, ia bukan obyek, ia adalah diriku yang menjelma pada yang lain, ia juga memiliki pemikiran dan perasaan sepertiku juga. Secara ringkas, relasi I-Thou adalah relasi kita terhadap sesama manusia: AKU-Engkau. Dalam relasi I-Thou terjadi dialog untuk saling memahami, memenuhi kebutuhan masing-masing, suatu interaksi yang bersifat orisinal. Namun demikian, kerapkali relasi antara I-It dengan I-Thou tak jarang pula tertukar. Baik secara sadar ataupun tidak, seringkali kita mengganti relasi dengan sesama manusia seperti dengan benda; memanipulasinya, merekayasa, bahkan menjadikan manusia lain sebagai “alat” untuk mencapai tujuan. Begitu pula, tak jarang relasi kita dengan benda justru menemui wujudnya layaknya relasi dengan manusia. Bagaimana kita memperlakukan gawai, laptop, atau benda-benda lainnya secara lebih intim dan “manusiawi” dibandingkan memperlakukan sesama manusia. Pada misal yang pertama, relasi I-Thou tertukar oleh I-It, sedangkan pada misal yang kedua: I-It tertukar oleh I-Thou.

Gambar 2. Noland mulai mencoba berbicara pada Wilson [tenor.com]

Dalam hal ini, relasi yang terjalin antara Noland dengan Wilson yang seharusnya berwujud I-It (AKU-itu atau AKU-benda), berubah menjadi I-Thou (AKU-Engkau). Relasi I-Thou ini ditunjukkan lewat beberapa adegan. Pertama, ketika Noland mulai berbicara dengan Wilson saat berupaya membuat api. Kedua, saat Noland tak bisa membendung emosinya berteriak-teriak pada Wilson, lalu melemparnya ke luar goa, namun setelahnya Noland berusaha mencari Wilson sambil terus meminta maaf padanya bahwa hal yang sama takkan terulang lagi. Ketiga, ketika Wilson terlepas dari ikatan rakit yang dibuat Noland saat mengarungi laut untuk kembali ke peradaban. Dalam adegan ini, pagi hari ketika Noland terbangun pasca menghadapi badai malam sebelumnya, Wilson telah diombang-ambing arus laut dan berada cukup jauh dari rakit Noland.

Gambar 3. Noland mulai terbiasa berbicara pada Wilson, bahkan meneriakinya [eswau.net]

Saya yakin, apabila Anda menyaksikan adegan ini, Anda tidak bisa tidak bersepakat jika inilah adegan paling menyentuh dalam Cast Away. Noland segera menceburkan diri ke laut begitu menyadari Wilson tak lagi bersamanya. Ia berusaha sekuat tenaga berenang ke arah Wilson untuk kembali merengkuhnya, namun berulangkali ia melakukan ikhtiar itu, berulangkali pula ia gagal dikarenakan ombak laut terlalu besar. Ketika Wilson terus menjauh dari dirinya terbawa arus laut, Noland terus berteriak sambil menangis: “Wilson...! Im sorry, Wilson! Im sorry…!”. Adegan ini mampu menghipnotis kita dan memaksa kita untuk memaklumi relasi I-Thou yang terjalin antara Noland dengan Wilson, bahwa Wilson … selayaknya manusia. Bagaimana tidak, empat tahun lamanya sudah Wilson menemani Noland dari isolasi peradaban.

GIF 1. Noland berupaya menyelamatkan Wilson [giphy.com]

Lebih jauh, ada sebuah aura “sakral” yang dibangun adegan ini, hilangnya Wilson tak ubahnya hilangnya seorang sahabat, saudara dekat entah kakak atau adik kandung bagi seseorang, atau yang tak kalah parah: seorang ayah yang tak mampu berbuat apa pun ketika harus kehilangan anaknya—begitu penuh penyesalan. Kita dapat segera menemui tipikal serangkaian peristiwa itu dalam adegan ini sehingga memunculkan emosi yang sama. Tragedi pun menjadi sempurna ketika adegan ini ditutup dengan parau tangis Noland di permukaan rakit yang terombang-ambing arus laut sambil terus menyesali kepergian Wilson. Kali ini ia benar-benar sendiri.

GIF 2. Noland terpaksa harus merelakan Wilson [mtv.com]

Wilson tentang Identitas Sinkronis dan Nilai Sinkronis
Semenjak setiap obyek atau entitas memiliki pertanda (signified) dan penanda (signifier) sebagaimana ungkap Ferdinand de Saussure, teorisasi atasnya pun mulai berkembang jauh. Pertama-tama, perlu kita ingat bahwa tak ada hubungan alamiah antara pertanda dengan penanda. Secara sederhana, pertanda adalah “sebuah kehadiran”, obyek atau entitas tertentu yang dimaksudkan; sedangkan penanda adalah “penamaan” atasnya. Ketiadaan hubungan alamiah antara kedua hal ini ditunjukkan secara jelas ketika Kapten James Cook berlabuh di Benua Australia pada tahun 1770. Ia bertanya lewat isyarat kepada penduduk lokal (Aborigin) tentang binatang yang baru saja dilihatnya, tak lupa sambil menirukan laku binatang tersebut. Kemudian salah seorang di antaranya menjawab: “Kangaroo, kangaroo!”, jawaban tersebut sesungguhnya berarti: “Saya tidak tahu, saya tidak tahu!”, namun kemudian justru dijadikan nama binatang yang dimaksudkan Cook—kangguru.

Buntut dari ketiadaan hubungan alamiah antara pertanda dengan penanda juga memunculkan dikotomi antara identitas sinkronis dengan nilai sinkronis dari suatu obyek atau entitas. Sebagai misal, seorang raja dapat diidentifikasi lewat mahkota bertahtakan berlian yang dikenakannya, jubah mewah yang dipakainya; tanpa kesemua itu, ia bisa dianggap sebagai rakyat biasa—Bagaimana jika seorang raja didandani seperti petani miskin?. Di samping itu, Saussure turut mencontohkannya secara apik lewat sebuah permainan catur. Apabila bidak menteri kita hilang, kita bisa menggantinya dengan benda apa pun dan menganggapnya sebagai menteri, semisal dengan tutup botol sirup. Uniknya, tutup botol sirup ini hanya akan tetap menjadi menteri ketika ia berada di papan catur, di luar itu, ia akan kembali menjadi tutup botol sirup. Di sini pun kita bisa dibingungkan, apakah sebetulnya ia sesosok menteri, ataukah tutup botol sirup?

Begitu pula yang terjadi pada Wilson. Identitas sinkronisnya sebagai bola voli dan nilai sinkronisnya sebagai benda untuk dilempar dan dipukul kesana-kemari dipisahkan secara sengaja oleh Noland. Bola voli tak lagi menjadi identitas sinkronisnya, melainkan manusia. Nilai sinkronisnya tak lagi menjadi benda untuk dioper atau dipukul kesana-kemari, tetapi sebagai teman interaksi layaknya manusia. Uniknya, Wilson akan tetap menjadi manusia sejauh Noland menganggapnya demikian. Inilah misal apik bagaimana identitas sinkronis dengan nilai sinkronis dapat tertukar layaknya relasi I-It dengan I-Thou.


Referensi lanjutan:
Film;
Cast Away (2000), 20th Century Fox & Dream Works.

Buku;
Buber, Martin. 1923. I and Thou. New York: Charles Scribner’s Sons.
Holdcroft, David. 1991. Saussure: Signs, System, and Arbitrariness. Cambridge: Cambridge University Press.
Schilpp, Paul Arthur & Maurice Friedman. 1991. The Philosophy of Martin Buber. Illnois: Open Court Publishing Company.  

1 Comments

  1. Mantap gan artikel-nya, sangat dinantikan untuk artikel yang anda buat selanjutnya

    Agen Bola
    Casino Online
    Judi Slot Online

    ReplyDelete