Bedah Buku: Metateori Redefinisi Subyek Slavoj Zizek


Slavoj Zizek berupaya merumuskan kembali kategori subyek yang telah hilang akibat pemikiran strukturalisme, dan terutama teori sosial posmodern. Meminjam psikonanalisis Jacques Lacan, Zizek berupaya mengonstruksi subyek aktif yang bebas dari simbol serta “predikat”. Bagi Zizek, subyek merupakan “apophasis”, yakni sesuatu yang melampaui subyek itu sendiri dan sesungguhnya tak layak dinamai apa pun termasuk penandaan dengan nama “subyek” itu sendiri: “…in the subject more than the subject.”, ucapnya.[1] Di lain kesempatan, istilah apophasis kerap pula dituliskan sebagai aphoria, yang juga berarti “jalan buntu”, sebagaimana istilah ini sering digunakan Jacques Derrida dalam pengkajian teks yang selalu “menggelincir” dan selalu dapat dibaca dengan cara baru. Lebih jauh, pengkajian subyek Zizek tak terlepas dari identitas, sebagaimana pengaruh psikonalisis Jacques Lacan yang diperoleh dari Sigmund Freud mengenai penjelasan pembentukan subyektivitas, dalam hal ini, psikonalisis (radikal) tak berfokus pada pertanyaan tentang apa itu subyek, melainkan bagaimana subyek sampai pada keadaannya yang sekarang. Subyek di sini ditempatkan sebagai kategori yang bersifat temporer dan berubah-ubah, serta selalu terlibat diskursus antara penentuan “sisi dalam” dengan “sisi luar”. Hal ini mengingat, subyek sebagai hasil proses identifikasi dengan orang lain dan diskursus sosial sehingga seolah mencipta identitas yang bersifat menyeluruh (baca: lengkap), namun faktual ilusif dan fantasi belaka. Dengan kata lain, esensi subyek tak lebih sebagai investasi emosional semata yang diperoleh dari lingkungan sekelilingnya... (wbn)





[1] Mirip Harry Potter dan kawan-kawannya yang memanggil Voldemort dengan sebutan “You Know Who” atau “He Who Must Not Be Named”.

0 Comments