Menjadi Emansipator seperti Harley Quinn

[cultura.id]

I.G.A Ayu Brenda Yanti

Pegiat Sanglah Institute

 

Kita mengenal sosok Harley Quinn sebagai sidekick The Clown Prince of Crime, Joker. Sosoknya selalu ditampilkan sebagai eksekutor sekaligus tumbal Joker dalam aksinya. Harley adalah seorang budak cinta yang taat pada sang pangeran, tak lain dan tak bukan hanya demi sebuah pengakuan darinya. Ia adalah si nomor dua. Sosok Harley Quinn digambarkan sebagai tokoh yang sangat bergantung pada Joker secara emosional, hingga tak jarang banyak orang yang meremehkan sosoknya karena dianggap hanya bermodal nekat dan bucin saja. Lantas apa yang menarik dari sosok Harley Quinn, Sang Nomor Dua ini?

Dalam salah satu film besutan DC, Bird of Prey, Harley Quinn berusaha mematahkan stereotipe kebergantungannya terhadap Joker. Film ini menceritakan kondisi Harley pascaputus dengan Sang Pangeran, dimulai dari fase penolakan (denial) hingga ke fase emansipasinya. Lebih jauh, proses emansipasi dari Harley Quinn dapat kita bedah melalui sudut pandang feminisme eksistensial.


Harley Quinn dalam Kacamata Feminisme Eksistensial

Perempuan kerapkali dihadapkan pada kesadaran nonreflektif, di mana ia ‘menjadikan dirinya’ sebagaimana harapan publik ingin menjadikannya, seperti menjadi lemah-lembut atau berpenampilan menarik. Kesadaran reflektif dalam feminisme eksistensial membantu para perempuan untuk ‘menjadikan dirinya’ sebagaimana keinginannya, karena ketika hal tersebut terjadi ia baru bisa disebut ‘ada’ atau exist.

Kondisi inilah yang dialami Harley Quinn di fase-fase awal, ia mengiyakan dirinya adalah Si Nomor Dua.

“Do you know what a harlequin is? A harlequin’s role is to serve. It’s nothing without a master. And no one gives two shits who we are beyond that.” —Harley Quinn dalam Bird of Prey 

Dia menyadari dirinya tercipta untuk melayani tuannya. Namun tindakannya mengiyakan kondisi ini adalah tahap awal dirinya untuk memasuki kesadaran reflektif. Mengapa demikian? Karena dalam kesadaran nonreflektif, perempuan justru tidak akan mengiyakan kondisinya sebagai nomor dua, namun menjalankan stereotipe yang diberikan karena merasa dirinya memang seharusnya begitu.

Kesadaran reflektif Harley Quinn ini semakin meningkat pasca ia mendeklarasikan dirinya sudah tidak berpatner lagi dengan Joker. Ia bisa saja tetap mengatakan pada publik bahwa dirinya adalah patner Joker sehingga tak ada satu pun dari warga Gotham berani menggugatnya. Namun ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Dalam misinya di film tersebut, ia benar-benar menolak untuk kembali dikaitkan dengan Joker, dan ingin keluar dari bayang-bayang mantan kekasihnya itu.

“I’m the one they should be scared of. Boo! Not you! Not Mister J! Because I’m Harley freaking Quinn!” —Harley Quinn dalam Bird of Prey

Stereotipe yang dilekatkan warga Gotham terhadap Harley sebagai Jester Sang Pangeran sama halnya dengan stereotipe yang dilekatkan masyarakat patriarkat terhadap perempuan, bahwa perempuan adalah yang nomor dua setelah laki-laki. Segala tata tingkahnya sudah ditentukan, sehingga jika perempuan berusaha bertingkah di luar tata aturan tersebut, ia sendiri akan merasa dirinya asing. Menjadi perempuan yang berpenampilan maskulin adalah asing, menjadi perempuan yang bekerja di lapangan adalah asing, menjadi perempuan dengan penghasilan di atas laki-laki adalah asing.

Harley Quinn pun merasa asing dengan dirinya ketika pertama kali harus memulai hidup tanpa Joker. Ia merasa sedetik ketika melangkah keluar dari bayang-bayang Joker, seisi dunia mulai mengejar-ngejarnya—dahulu Harley terbiasa dengan kondisi dunia yang takut pada dirinya.

Simone de Beauvoir, sebagai pelopor aliran feminisme eksistensial, beranggapan bahwa menjadi feminis berarti berusaha membebaskan perempuan sebebas-bebasnya. Artinya, ia berhak menjadi dirinya sendiri, melampaui batas-batas stereotipe akan dirinya, dan lepas dari bayang-bayang sebagai ‘sang liyan’ atau ‘yang lain’.

Harley Quinn, sosok liyan yang berhasil mengemansipasi dirinya dari bayang-bayang Joker memberikan gambaran awam mengenai bagaimana perempuan seharusnya menjadi. Jikapun pada akhirnya ‘menjadi’ yang ia pilih merupakan jalan yang terjal, tidak nyaman, atau bahkan membahayakan dirinya, itu tetaplah dirinya, pilihannya; yang ia buat tanpa dominasi kesadaran siapa pun.

"If you want boys to respect you, show them you're serious. Shoot something, blow it up!" —Harley Quinn dalam Bird of Prey

 

*****

0 Comments:

Post a Comment