Separuh Jiwaku adalah Bunga

 

[Cubism Art Flowers | pinterest.com]

Tanggapan untuk tulisan berjudul “Wabah Itu bernama Bunga-bunga” dari Sopian Tamrin

 

Mawar Merah

Alumni Jurusan Pendidikan Matematika

Universitas Sawerigading Makassar

Pemerhati bunga-bunga

 

Bunga Baik untuk Kesehatan

Bunga (kembang) merupakan salah satu tanaman hias yang telah lama  berpagutan berkelindan dengan sejarah manusia. Sebut saja bunga mawar, dalam pengobatan tradisional China digunakan sebagai kiranti alamiah memperlancar haid. Masyarakat Romawi Kuno menjadikan mawar sebagai simbol kemenangan perang. Bagi masyarakat Bali yang beragama Hindu, bunga merupakan sarana ritual yang wajib ada. Dalam sholat, umat Islam juga disunnahkan memakai wewangian, aroma bunga tentu salah satu pilihannya.

Melalui keanekaragaman warna-warni dan aromanya, bunga tidak saja memikat kumbang untuk datang, namun juga dapat membuat ekstase para penikmat bunga. Tidak hanya sampai di situ, bunga-bunga banyak yang diekstraksi menjadi berbagai macam parfum dan pengharum ruangan. Dalam ritual mistik, mandi  kembang tujuh rupa sudah sangat melegenda dalam kehidupan masyarakat kita. Terkesan klenik namun jika kita menelusuri lebih dalam, bunga memberikan manfaat bagi Kesehatan. Menurut studi yang dilakukan oleh Depertemen Fiologi dan Patologi Universitas Paraiba-Caixa, indera penciuman akan terangsang oleh aroma wewangian begitu mandi kelopak mawar, sehingga memberikan efek yang menenangkan, mengobati stres dan depresi. Namun, beberapa bunga juga berbahaya jika dikomsumsi, misalnya bunga Jepun (Oleander) yang dapat menyebabkan kematian.

“Wabah itu bernama bunga-bunga”, tulis Sopian tamrin (selanjutnya Daeng ST) sebagai judul dalam tulisannya. Pilihan kata—“wabah”—tanpa tanda petik pada judul tersebut berarti menunjuk pada makna sebenarnya. Tampaknya Daeng ST secara serius ingin mengatakan bahwa fenomena sosial mengoleksi bunga adalah suatu penyakit, penyakit sosial. Secara etimologis dalam KBBI, wabah adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah orang di suatu daerah, Covid-19 contoh kekiniannya. Dengan begitu, Daeng ST hendak mengatakan bahwa merawat dan mengoleksi bunga di halaman rumah layaknya telah terjangkit virus yang harus segera disembuhkan dengan berbagai cara.

Mengoleksi bunga bukanlah wabah, apalagi disebut sebagai penyakit menular. Ia, memelihara bunga, merupakan bagian dari suatu yang inheren dalam jiwa manusia, ia lahir dari kecenderungan manusia pada keindahan (estetika). Psikologi memandang lebih jauh lagi soal ini, bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk berteman dengan sesuatu yang hidup, salah satunya merawat bunga yang hidup. Oleh sebab itu, dalam rancangan rumah hunian sekarang ini, taman bunga menjadi begitu penting; menghadirkan unsur-unsur lingkungan hidup; elemen-elemen alam dalam area rumah adalah bagian dari usaha manusia menemukan keindahan.

Sebagai dosen, Daeng ST mungkin akan mengalami kebosanan jika ruangan ia mengajar setiap harinya hanya dihadiri oleh mahasiswa saja tanpa mahasiswi. Begitu pula jika setiap harinya kita berada dalam ruang kamar yang polos, hanya ada lemari dan meja makan, kita akan merasa ada sesuatu yang kurang, dengan memelihara bunga-bunga, itu tak sekadar menghiasi meja dan menjadi pelengkap ruangan, tetapi juga mengisi ruang kosong pada jiwa kita. Tidak hanya melalui bunga, bisa juga lewat tetesan air mancur kecil atau menatap sisik-sisik ikan Arwana dalam akuarium.


Merawat Bunga Betul Melampaui Patriarki (Nomena di Balik Fenomena)

Sejalur judul subbab di atas, merawat bunga bukanlah wabah, karena itu merupakan kegiatan yang tak memandang gender atau jenis kelamin. Laki-laki maupun perempuan memiliki kecenderungan yang sama terhadap estetika. Walaupun memang dalam pandangan masyarakat umum, perempuan masih dilihat lebih telaten dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan rawat-merawat tanaman. Di sisi lain, kita dapat memandang laki-laki dan perempuan pada posisi maskulin dan taman bunga adalah sisi femininnya, keduanya berpadu seperti yin dan yang dalam ajaran Tao, berjalan berkelindan menuju titik keseimbangan.

Sebagaimana predisposisi kita terhadap estetika, kita juga memiliki kecondongan mencari keuntungan: homo economicus. Jadi menurut saya, wajar saja jika sebagian masyarakat kita menemukan momentum dalam gejala sosial bunga-bunga ini, tepatnya dalam usaha jual-beli bunga. Toh, sudah sejak lama toko bunga ada, jika hari libur kita sempatkan ke Malino (salah satu objek wisata Sulsel) yang dikenal juga sebagai “kota bunga”, sepanjang jalan kita akan menjumpai pedagang-pedagang berbagai macam bunga. Atau yang lebih dekat dengan kota Makassar, penjual bunga bisa kita jumpai di sepanjang sisi kanan Danau Metro Tanjung Bunga. Bahwa sekarang beberapa jenis bunga harganya mencapai ratusan juta: biasa saja. Ini fenomena wajar, bisa jadi itu disebabkan oleh begitu langkanya jenis bunga tersebut. Hal ini berbanding lurus dengan hukum ekonomi, jika permintaan tinggi namun komoditasnya langka, maka harganya pasti akan tinggi.

Oleh karena itu, tendensi-tendensi yang swabukti, logika keingintahuan, etika pada kebaikan, estetika akan keindahan, serta homo economicus; berjalan seiring dalam waktu yang sama. Semuanya mesti terpuaskan. Karena itu wajar saja, jika seorang lelaki menukar mobilnya dengan Keladi, atau berburu bunga hingga ke hutan, ataupun seorang sosialita ingin dipandang memiliki derajat sosial tinggi dengan memiliki bunga berharga ratusan juta. Serangkaian hal tersebut adalah bagian dari cara memuaskan hasrat-hasrat bawaan itu. Menurut saya, hasrat-hasrat inilah yang menjadi nomena dari fenomena sosial yang dianggap sebagai wabah oleh Daeng ST; sebagaimana dalam terma Immanuel Kant: ada nomena di balik fenomena.


Arus balik

Sekali lagi, saya tidak melihat fenomena sosial merawat bunga sebagai wabah. Malah, saya melihat fenomena ini sebagai titik balik, dan dapat menjadi solusi atas beberapa problem lingkungan.

Mungkin sekitar sepuluh tahun terakhir sebelum pandemi, tampak muncul kecenderungan sebagian masyarakat kita mulai malas menanam bunga, bisa jadi karena tak memiliki waktu luang, atau memang sudah mulai jenuh, menyiram setiap pagi dan sore, memupuk, menyiangi, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, banyak kemudian yang memilih memelihara bunga yang terbuat dari plastik atau silikon. Bunga-bunga ini (plastik atau silikon) memang tampak indah dan segar, juga tak mengenal kata layu dan mati, pun dari segi harga tampaknya hampir sama, bahkan boleh jadi lebih murah. Selain itu, bunga plastik lebih simpel, perawatanya mungkin hanya sekali dalam setahun, itupun ketika hendak Lebaran, dan jikapun bosan, bisa beli yang baru. Bunga yang lama akan dikemanakan? Dibuang? Jadi isi tong sampah? Inilah salah satu persoalannya.

Indonesia merupakan penyumbang terbesar sampah plastik kedua dunia setelah China. Dalam catatan KLHK, penggunaan kantong plastik di Indonesia: lebih dari satu juta permenitnya. Itu baru kantong plastik, belum botol plastik, popok bayi hingga kondom bekas, jangan lagi ditambah dengan sampah bunga plastik. Karena itu jika dorongan untuk mengunakan bunga-bunga plastik ini terus berkembang di masa-masa yang akan datang, maka kita bisa membayangkan efek dan dampaknya terhadap lingkungan.

Selain memiliki dampak terhadap lingkungan. Memelihara bunga plastik sama halnya memelihara benda mati—yang kita sentuh bukanlah daun yang berfotosintesis memroduksi oksigen. Kumbang tak mungkin datang mengisap saripatinya, dan tak mungkin ada aroma wewangian yang kita hirup. Ia hanya seperti boneka seks “Made in China” yang memberi kenikmatan sesaat namun tak mungkin diajak bertukar pikiran, berbagi suka maupun duka: bunga plastik hanya akan berakhir menjadi sampah plastik perusak lingkungan.

Oleh sebab itu, munculnya fenomena sosial menanam bunga di tegah pandemi ini layaknya arus balik: kembalinya gairah merawat bunga hidup. Padamnya minat memelihara bunga plastik, bangkit kembali gejolak untuk mencari janda bolong walau harganya selangit. Ini tidak jadi masalah, yang terpenting memiliki uang dan bunganya adalah tumbuhan hidup, bukan benda mati seperti silikon.

 

Revolusi bunga

Merawat bunga menyebabkan hidup lebih hidup, mungkin ini bisa menjadi jargon fenomena sosial terkait. Di tengah pandemi, menyiram bunga menjadi sarana pelepas kejenuhan isolasi mandiri di rumah. Bagi yang tetap bekerja di luar rumah, sepulangnya, taman bunga menjadi tempat terapi mengusir kepenatan. Jika kita merawatnya dengan baik, bunga akan membalas dengan kelopaknya, warna indah, dan aroma yang semerbak: stres pun hilang.

Fenomena merawat bunga, juga menguntungkan bagi pedagang bunga karena harga naik dan permintaan banyak. Para pecinta bunga akan mendapatkan banyak tanaman bunga secara mudah, lewat daring maupun luring ke toko-toko bunga. Para pedagang pot baik yang merajin dari tanah liat, semen, ataupun pastik, ikut kecipratan fenomena ini. Roda ekonomi dari sektor perbungaan bergeliat, berputar kencang. Jadi, tak perlu gusar akan kondisi ekonomi kita yang anjlok, masyarakat tahu bagaimana caranya bertahan hidup, dalam kondisi apa dan bagaimanapun.

Karena itu, jangan memandang remeh fenomena sosial bunga-bunga ini. Ini bisa saja merupakan tanda kurang baik untuk oligarki. Masyarakat hanya butuh sedikit saja sentuhan yang terorganisir, hingga bunga-bunga itu menjadi revolusi. Baru saja dunia dihebohkan dengan kudeta militer di Myanmar dan isu kudeta di tubuh Partai Demokrat. Namun kita jangan lupa, pada satu masa,  25 April 1974, terjadi kudeta tak berdarah, mengulingkan rezim yang telah berkuasa selama lima puluh tahun di Portugal, mengubah wajah Portugal dari rezim diktator ke negara demokratis: itulah Revolusi Anyelir atau Revolusi Bunga.

Demikian tanggapan tak penting ini.

Wassalam.

0 Comments