Tara Basro Melawan Standar Kecantikan Media




Jagat maya baru-baru ini dihebohkan oleh foto Tara Basro. Foto yang diunggah Tara Basro dalam akun media sosialnya menuai berbagai tanggapan. Beberapa di antaranya menganggap foto tersebut mengandung unsur pornografi, termasuk Kabiro Humas Kominfo. Sedang yang lain, mendukung apa yang dilakukan Tara Basro. Foto artistik hitam putih dengan senyum lebar Tara Basro di foto tersebut seolah menyiratkan penerimaan diri atas kondisi tubuhnya. Lipatan lemak di perut yang terlihat jelas menunjukkan itu dengan gamblang. Lewat unggahan foto tersebut dengan caption yang menggugah, Tara Basro mengajak pengikutnya untuk mencintai diri sendiri, melihat sisi positif dari diri sendiri dan fokus pada apa yang dimiliki. Kesadaran ini tak tumbuh seketika dari Tara Basro sebagaimana ia tulis dalam lanjutan captionnya, bahwa setelah melawati perjalanan panjang ia bisa mencintai tubuhnya dan bangga akan itu. Kesadaran Tara Basro setelah melewati perjalanan panjang soal penerimaan atas kondisi tubuh menjadi masuk akal melihat catatan perjalanan kariernya. Perempuan yang menyabet penghargaan Aktris Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015 ini pernah ditolak untuk ikut proyek film karena dianggap tidak sesuai standar kecantikan banyak orang.  Karena kebanyakan definisi cantik dalam industri perfilman adalah memiliki kulit putih, hidung mancung, tinggi, kaki jenjang, dan sederet label standar cantik lainnya.

Perempuan sejak zaman dulu sudah dikonstruksikan cantik dan identik dengan keindahan. Menjadi perempuan berarti menjadi cantik dan sebaliknya. Cantik adalah kata yang sebagian besar mengacu pada sifat fisikal. Dalam beberapa literatur mitologi, sejarah hingga karya sastra kecantikan selalu digambarkan dengan keindahan. Bulan adalah satu penggambaran cantik yang paling sering dipakai. Standar kecantikan kerap berubah tiap saat. Hal ini dipengaruhi berbagai sebab mulai dari status sosial, perkembangan teknologi, mitos dan media. Di awal tahun 1900-an misalkan, konstruksi cantik adalah memiliki lesung pipi, maka dibuatlah sebuah alat pembuat lesung pipi semacam kawat yang direkatkan di antara telinga, dagu, dan pipi yang lama-kelamaan akan membuat pipi tertekan ke dalam hingga membentuk semacam lesung pipi. Mundur ke belakang di abad ke-17 cantik adalah putih. Produk kecantikan dengan cuka dan timbal bertebaran, konon inilah yang membuat Ratu Elizabeth 1 menjadi terlalu putih hingga dikenal dalam sejarah sebagai mask of youth. Masih di abad yang sama, di Inggris juga pernah mucul standar kecantikan perempuan putih dengan urat vena yang tampak.  Berbeda dengan abad sebelumnya, di abad ke-18 memiliki tahi lalat di wajah juga menjadi standar kecantikan pada eranya. Tahun 1960-an seiring muculnya indsutri media dan periklanan, media massa banyak memunculkan figur langsing. Di tahun itu muncul satu model langsing asal Inggris bernama Twiggy. Perlahan perempuan di berbagai belahan bumi yang terhubung dengan media kala itu menjadikan Twiggy sebagai rujukan cantik, ia bahkan dijuluki inovasi British. Perkembangan terbaru, teknologi yang berevolusi membuat dunia kecantikan terseret arus transformasi yang dikenal dengan istilah beauty 4.0. Standar kecantikan di era ini sangat dipengaruhi oleh pengguna media sosial, dan perkembangan teknologi yang memunculkan smartphone dengan teknologi kamera canggih dan aplikasi edit foto. Snapchat dysmorphia adalah sebutan atas kondisi ini, dimana orang-orang gandrung menjadikan hasil retouch foto sebagai tampilan ideal.

Standar kecantikan yang kerap berubah memaksa perempuan dengan rela secara terus menerus “memperbaiki”, mengorbankan waktu, tenaga, kesehatan bahkan uang untuk membayar impian menjadi cantik dan memiliki tubuh ideal sebagaimana standar cantik yang berkembang. Serangkaian diet ketat dan ritual-ritual lainya untuk memenuhi standar kecantikan di maksud pun giat dilakukan. Lebih-lebih di era sekarang, dimana standar kecantikan diatur oleh pasar, kecantikan menjadi komoditas yang diperdagangkan sehingga perempuan tak  lagi punya pilihan untuk mendifinisikan kecantikannya sendiri. Konstruksi media tentang tubuh ideal ini tidak hanya menjangkiti kaum hawa semata tapi juga laki-laki. Munculnya berbagai sanggar kebugaran, suplemen khusus untuk tubuh ideal, barbershop bukan fenomena yang aneh jika hari ini kita biasa melihat laki-laki keluar masuk klinik kecantikan atau yang lebih ekstrem lagi melakukan operasi plastik untuk mendapatkan kulit, wajah dan tubuh yng ideal. Dengan kata lain, tubuh adalah proyek abadi yang tak pernah berhenti untuk dipoles. Karena itu, pembahasan menyoal tubuh membentang sejak era filsafat Yunani, Kekristenan, Renaisance, Rene Descartes hingga Posmodern. 

Sejatinya cantik adalah putih, langsing dan ganteng adalah memiliki perut rata digambarkan secara apik oleh seorang peneliti Ras Ricard Dyer sebagai sebuah ambiguitas. Cantik adalah putih langsing dan ganteng adalah perut rata, sejatinya adalah konstruksi yang ambigu lagi arbitrer. Ia sengaja dibuat demikian untuk membuka peluang standar bisa berubah tiap saat bahkan ambiguitas itulah yang memberi kekuatan pada konstruksi cantik dan tubuh ideal. Ia sengaja disajikan dengan kondisi demikian, agar selalu ada kemungkinan untuk dapat dicapai, sembari tetap memberi kreteria terbuka yang dapat digeser.

Hari ini konstruksi cantik adalah putih, langsing, jenjang, rambut lurus, wajah tirus merujuk pada kultur K-Pop. Standar kecantikan ala K-Pop ini makin meneguhkan standar kecantikan hasil konstruksi media yang pada akhirnya hanya memandang tubuh sebatas komoditas. Standar kecantikan semacam ini menjadikan perempuan yang tidak sesuai dengan standar cantik tersebut akan melakukan berbagai hal untuk memperolehnya. Tak jarang citra tubuh ideal dan cantik hasil konstuksi media menyebabkan perempuan mudah mengalami citra tubuh negatif berikut membenci tubuhnya karena adanya kesenjangan antara citra tubuh ideal dangan tubuh nyata. Dalam bahasa yang lebih sederhana Naomi Wolf menyebut kecantikan hasil konstruksi media ini sebagai mitos atas kecantikan. Kondisi inilah yang hendak dilawan Tara Basro di tengah struktur masyarakat yang dibentuk oleh standar cantik ala media. Tara Basro menjadi agen melawan konstruksi itu.

Menempatkan tubuh dalam definisi komoditas tak ayal menjadikan baik laki-laki maupun perempuan tak lagi punya otonomi atas tubuhnya sendiri. Standar kecantikan dan tubuh ideal yang terus berubah sejatinya adalah bentuk teknokrasi sensualitas, semacam mekanisme pengendalian pikiran consumer melalui penampilan sensualitas. Dalam teknokrasi sensualitas bekerja satu prinsip voyeurism yaitu kepuasan khayalan yang diperoleh melalui citra tubuh dalam berbagai sistem komoditas.  




0 Comments