Belajar Analisis Wacana Kritis dan Mempraktekkannya (2)


Belajar Analisis Wacana Kritis dan Mempraktekkannya (2)
 
[pic: thoughco.com]

Bagus Ardiansyah
Pegiat Sanglah Institute

Baca artikel sebelumnya:

Lanjutan...

Kalimat kedua, secara keseluruhan menggambarkan hubungan dominasi Gunawan pada anak-anaknya. Biasanya malam Minggu dijadikan anak-anak remaja sebagai malam yang bebas untuk bersenang-senang, jalan-jalan, bermain, dan sebagainya baik dengan teman maupun pasangan; tetapi berbeda dengan yang dilakukan Satya dan Cakra. Melalui dominasi dan konstruksi yang dilakukan Gunawan (dalam hal ini patriarki) membuat Satya dan Cakra menghabiskan malam Minggu dengan cara yang berbeda, yaitu menonton rekaman video bapaknya. Dengan demikian, terlihat bahwa penulis menempatkan kekuasaan Gunawan lebih dominan dalam hubungannya dengan Itje serta Satya dan Cakra.

Namun, identitas yang ditampilkan penulis novel juga mewakili perasaan anak-anak yang kehilangan salah satu orangtuanya, dalam hal ini meninggal dunia. Tergambar dalam rangkaian kalimat berikut:

“Di kebanyakan waktu, Ibu Itje dapat mendengar gelak tawa keluar dari ruangan itu. Bapak mereka memang lucu. Di lain waktu, hening. Di lain waktu, Satya keluar dari ruang keluarga dan masuk ke dalam kamar mandi. Ibu Itje sekilas menangkap air mata yang tertahan. Di lain waktu, Ibu Itje menemukan Cakra—si Bungsu, menangis dalam sepi. Menutup mukanya dengan bantal. Menyadari bahwa dia beruntung tidak kehilangan sosok Bapak setelah meninggal. Menyadari betapa dia merindukan beliau juga. Terkadang, Cakra memutar video sampai pagi”.

Penulis novel juga menggambarkan citra lain yang harus dimiliki oleh seorang ayah. Guna menunjukkan dirinya sebagai seorang ayah, seorang laki-laki biasanya membuat citra diri yang galak, tegas, keras, dan sejenisnya supaya disegani anggota keluarganya. Selain itu, untuk menunjukkan diri sebagai sosok ayah bisa juga dilakukan dengan citra yang humoris, seperti gambaran Gunawan dalam kalimat di atas menunjukkan citranya sebagai ayah dengan cara humoris, tetapi Gunawan menunjukkan citra dirinya sebagai ayah yang juga tegas, galak, dan keras.

Lebih jauh, penulis novel menggambarkan bagaimana kondisi anak-anak yang kehilangan sosok ayah dari sisi mereka. Seberapa pun tegarnya anak yang kehilangan sosok ayahnya, pasti ada saat mereka akan sedih dan menangis karena rindu atau kangen akan kehadiran ayah di sisi mereka. Walaupun sebelum meninggal sang ayah melakukan persiapan untuk membuat anak-anaknya tidak merasa kehilangan sosok ayah dan tetap merasa beruntung sang ayah masih di sisi mereka, tetap saja hal itu akan membuat anak-anak sedih dan menambah rasa kerinduannya pada sang ayah.

Kalimat di atas tidak luput dari cengkraman dominasi Gunawan (praktik patriarki) sebagai bapak dari Satya dan Cakra. Terlihat dari kalimat “menyadari bahwa dia beruntung tidak kehilangan sosok bapak”. Teks tersebut merepresentasikan praktik bahasa patriarki yang menghasilkan sebuah pemikiran yang mendominasi pihak tertentu, dalam hal ini yang terdominasi adalah Satya dan Cakra, dari dominasi teks tersebut menghasilkan pemikiran bahwa keberuntungan mereka adalah tetap memiliki sosok bapak, dan Gunawan sebagai bapak adalah segalanya bagi mereka tanpa melihat kehadiran sosok ibu, dengan kata lain Gunawan ingin abadi dalam diri serta pikiran anak-anaknya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Spender, bahwa laki-laki menunjukkan keunggulannya melalui bahasa, melalui bahasa tersebut terciptalah pemikiran.

b. Praktik Wacana
Dalam pandangan Fairclough, analisis praktik wacana (discourse practice) memusatkan perhatian pada dua sisi praktik wacana, yakni dari produksi teks dan konsumsi teks. Teks dibentuk lewat suatu praktik diskursus, yang akan menentukan seperti apa teks tersebut diproduksi. Ihwal yang mempengaruhi dalam produksi teks adalah individu itu sendiri. Hal ini melingkupi latar belakang, orientasi politik serta ekonomi, dan keterampilan mereka dalam menarasikan kata demi kata menjadi kalimat.

Produksi teks juga berhubungan dengan bagaimana pola serta rutinitas pembentukan teks di meja penulis. Proses ini tentunya melibatkan banyak pihak dan tahapan, seperti di lapangan, sampai akhirnya menuju bagian pemasaran. Selain itu, perlu juga dilakukan wawancara mendalam. Jika dikaitkan dengan pembahasan, maka produksi teks berasal dari penulis novel Sabtu bersama Bapak, yakni Adhitya Mulya. Sedangkan konsumsi teks dilihat dari pengonsumsian teks oleh pembaca, maksudnya melalui sudut pandang pembaca.

Produksi Teks
Latar belakang kelahiran novel ini adalah kegelisahan Adhitya Mulya yang mulai menjadi sosok seorang ayah dalam keluarga. Ketika mulai membesarkan anak-anaknya, beliau merasa ada beberapa nilai-nilai atau pakem-pakem sosial di masyarakat yang tidak lagi sejalan dengan dirinya, seperti mengenai anak sulung, persoalan mengenai menikah, dan lain sebagainya. Lewat kegelisahannya sebagai seorang ayah inilah ia kemudian menuliskan atau menuangkan sudut pandang barunya, bahwa nilai-nilai atau pakem-pakem sosial yang ada di masyarakat itu tidak semuanya benar, sehingga Adhitya Mulya mencoba menawarkan perspektif lain dalam bentuk novel, maka lahirlah novel kelimanya dengan judul Sabtu bersama Bapak. Contoh perspektif lain yang ditawarkan oleh Adhitya Mulya dalam novel ini adalah mengenai pernikahan dan anak sulung.

Dalam proses menulis novel Sabtu bersama Bapak, Adhitya Mulya sengaja mengambil latar belakang daerah asal keluarga dalam novel ini, yakni Bandung, karena beliau asli orang Sunda yang pernah tinggal di Bandung, sehingga mudah baginya untuk memahami situasi dan kondisi lokasi terkait (detail dan akurat). Secara tidak langsung, latar belakang daerah serta kondisi keluarga dalam novel Sabtu bersama Bapak mirip seperti kondisi keluarga dari penulisnya, yakni Adhitya Mulya: berasal dari kota Bandung dan sama-sama mempunyai dua anak laki-laki yang memiliki perbedaan usia tiga tahun. Selain itu, novel ini merupakan yang paling dekat dengan beliau, salah satu penyebabnya karena mengingatkan Adhitya Mulya dengan orangtuanya.

Novel Sabtu bersama Bapak sebenarnya ditulis Adhitya Mulya melalui sudut pandang laki-laki, sehingga tulang punggung ceritanya, yakni seorang laki-laki yang memberi pesan pada laki-laki juga. Seorang laki-laki yang memberikan nasehat pada laki-laki bagaimana caranya menjadi laki-laki dalam mencari jodoh, cara laki-laki dalam menjadi suami, dan cara laki-laki dalam menjadi seorang bapak. Selain itu, Adhitya Mulya juga mengatakan novel ini bisa saja mengambil sudut pandang perempuan, yakni bagaimana suami bisa bersikap pada istri, dan bagaimana istri bersikap pada suami, namun hal ini tidak beliau tampilkan. Bisa disimpulkan, cerita dalam novel Sabtu bersama Bapak ditampilkan dalam perspektif dan selera laki-laki, mulai dari penggunaan sudut pandang yang sudah bias gender dan pembagian kerja juga lebih menempatkan perempuan pada posisi kedua.

Proses penulisan novel Sabtu bersama Bapak berlangsung selama setahun, yakni dari tahun 2013 hingga tahun 2014. Novel ini menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dimengerti, juga dicampur dengan menggunakan bahasa Inggris, maka secara tidak langsung menambah pengetahuan kosakata pembaca dalam mempelajari bahasa Inggris dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menguasai bahasa Inggris. Selain itu, novel ini merupakan novel pertama Adhitya Mulya yang membutuhkan dua editor yang sering beliau hubungi, yakni Alit Tisna Palupi dan Resita Febiratri. Adhitya Mulya memilih menerbitkan novel Sabtu bersama Bapak melalui penerbit GagasMedia, karena Adhitya Mulya telah bekerjasama dengan pihak GagasMedia sejak tahun 2003, jadi sudah berlangsung selama sebelas tahun terhitung dari terbitnya novel Sabtu bersama Bapak pada tahun 2014, dan kerjasama ini masih berlangsung sampai sekarang. Lewat penerbit GagasMedia, kemudian dipasarkan di toko buku Gramedia yang memiliki jaringan pemasaran di seluruh Indonesia. Hal ini sesuai dengan keinginan dari Adhitya Mulya supaya tujuan, pesan, atau perspektif yang beliau tawarkan bisa sampai pada khalayak luas.

Konsumsi Teks
Proses konsumsi teks dilakukan dengan sudut pandang pembaca novel Sabtu bersama Bapak. Setelah membaca novel Sabtu bersama Bapak, secara keseluruhan novel ini merupakan novel yang benar-benar lengkap mewakili tiap dimensi dalam keluarga, juga secara tidak langsung sebagai bahan bacaan mengenai parenting (mengasuh anak) yang ditawarkan lewat perspektif penulis novel Sabtu bersama Bapak, yakni Adhitya Mulya.

Lebih dalam, dari sudut pandang sebagai pembaca, cerita dalam novel ini dirasa kuat merepresentasikan ideologi patriarki. Mulai dari penggunaan atau peletakan nama di belakang untuk menunjukkan identitas keluarga dengan menggunakan nama dari suami atau bapak (laki-laki) Gunawan Garndia, seperti Itje Garnida, Satya Garnida, dan Cakra Garnida. Selanjutnya, seorang suami atau bapak sebagai sutradara yang mengatur pola pikir, tindakan, dan hidup istri serta anak-anaknya dengan segala perencanaan yang telah dia siapkan, yang rasanya itu semua benar, sehingga istri dan anak-anaknya harus melaksanakannya. Selain itu, pembuatan rekaman video yang di dalamnya berisi tentang pesan, pendidikan, dan semua jawaban dari masalah yang dihadapi anak-anaknya, sesuai dengan keinginan dari sosok bapak yang tetap ingin anak-anaknya tumbuh di samping dirinya walaupun wujud fisiknya sudah tidak ada, ini dapat diartikan betapa sosok Gunawan sesungguhnya ingin “abadi”, yang sekaligus berdampak pada dikesampingkannya peran dari istri atau ibu. Bisa dikatakan, bapak merupakan sosok yang superior, karena bapak adalah tempat bertanya dan tempat untuk menemukan segala jawaban, bapak juga dianggap sebagai sosok terpenting karena memiliki logika tak terbantahkan yang dibutuhkan anak-anaknya ketika dewasa. Dengan kata lain, tanpa sosok bapak, kita tidak akan mengenal kata dan dunia.

a. Praktik Sosial
Praktik sosial didasarkan bahwa konteks sosial yang ada di luar media mempengaruhi bagaimana wacana yang ada dalam media. Memang tidak berhubungan langsung, namun hal ini menentukan bagaimana teks diproduksi dan dipahami. Sederhananya, dimensi peristiwa sosial yang menunjukkan bagaimana teks terbentuk oleh, dan membentuk praktik sosial. Perlu dipahami, bahwa praktik sosial dalam menentukan teks terjadi secara tidak langsung, tetapi dimediasi oleh praktik wacana—produksi teks dan konsumsi teks. Fairclough membagi tiga level analisis pada praktik sosial;

1. Level Situasional
Teks diproduksi dalam suatu kondisi atau suasana yang khas dan unik, sehingga satu teks menjadi berbeda dengan teks yang lain. Artinya, teks atau wacana tersebut sebagai suatu tindakan untuk merespon situasi atau konteks sosial tertentu. Misalnya dalam konteks narasi novel Sabtu bersama Bapak, ide awal Adhitya Mulya menulis novel Sabtu bersama Bapak muncul karena kegelisahan yang dirasakan dari tahun 2006 hingga 2013 sebagai seorang ayah dalam membesarkan anak-anaknya, karena ada nilai-nilai atau pakem-pakem sosial dalam membesarkan anak dalam masyarakat yang tidak sejalan dengan dirinya (Adhitya Mulya). Lewat rasa kegelisahannya sebagai seorang ayah, ia terpicu untuk menuliskan atau menuangkan sudut pandang barunya, bahwa nilai-nilai atau pakem-pakem sosial yang ada di masyarakat itu tidak semuanya benar, sehingga Adhitya Mulya mencoba menawarkan perspektif lain dalam bentuk novel, maka lahirlah novel kelimanya dengan judul Sabtu bersama Bapak, dan hanya menggunakan sudut pandang laki-laki. Selain itu, novel Sabtu bersama Bapak memiliki perbedaan dengan novel-novel yang beredar dewasa ini. Perbedaan tersebut adalah tema yang diambil dalam novel Sabtu bersama Bapak menggunakan tema tentang keluarga, yang digabungkan dengan unsur dramatisasi dan komedi, tema yang masih tidak begitu banyak atau jarang digunakan oleh penulis novel tanah air.

2. Level Institusional
Level institusional melihat pengaruh institusi organisasi dalam praktik produksi wacana, bisa berasal dalam diri penulis sendiri, juga kekuatan-kekuatan eksternal di luar penulis yang menentukan proses produksi berita, contohnya tema yang diangkat mengikuti kebutuhan khalayak. Dalam hal ini, novel Sabtu bersama Bapak ditulis secara mandiri oleh Adhitya Mulya tanpa adanya campur tangan dari orang lain yang membantu. Dalam pengerjaannya, novel Sabtu bersama Bapak membutuhkan dua editor yang sering dihubungi oleh Adhitya Mulya, yakni Alit Tisna Palupi dan Resita Febiratri. Novel Sabtu bersama Bapak diterbitkan oleh penerbit GagasMedia, ini dilakukan karena Adhitya Mulya telah lama bekerjasama dengan pihak penerbit GagasMedia. Kerjasama ini dimulai dari tahun 2003 hingga saat ini. Novel ini kemudian dipasarkan melalui toko buku Gramedia yang mempunyai jaringan di seluruh Indonesia, hal ini pun tentu berdampak positif terhadap proses pemasaran novel Sabtu bersama Bapak.

Sesuai dengan tujuan atau cita-cita Adhitya Mulya dalam novel ini, yaitu menawarkan perspektif yang beliau miliki dalam membesarkan anak, karena menurutnya pakem-pakem tentang membesarkan anak yang ada dalam masyarakat tidak sejalan dengan pemikirannya dan tidak semuanya benar. Misalnya, dalam masyarakat Indonesia seringkali mengucapkan atau mengajarkan bahwa menjadi anak sulung itu berarti harus mengalah, menjadi contoh, dan lain sebagainya. Pakem-pakem pendidikan anak seperti inilah yang tidak disetujui oleh Adhitya Mulya dan menurutnya tidak benar. Melalui penerbit GagasMedia dan dengan dipasarkannya novel ini melalui jaringan toko buku Gramedia seluruh tanah air, tujuan atau cita-cita Adhitya Mulya untuk menyampaikan perspektif itu pada masyarakat kiranya telah tercapai. Hal ini dapat ditilik lewat novel ini yang sudah memasuki cetakan ke-27 dan terjual lebih dari 66.000 eksemplar.

Level Sosial
Pengaruh dari faktor sosial sangat berpengaruh terhadap wacana yang muncul dalam teks. Fairclough menegaskan bahwa wacana yang muncul dalam media ditentukan oleh perubahan masyarakat, misalnya budaya masyarakat. Sudut pandang aspek sosial lebih mengarah pada aspek makro, seperti sistem politik, sistem ekonomi, atau sistem budaya masyarakat. Contohnya, dalam masyarakat yang kental dengan ideologi patriarki, maka nilai-nilai ini akan turut andil dalam menyetir isi narasi. Dengan kata lain, teks dalam analisis level sosial dibedah juga dengan dunia nyata, bisa lewat media cetak lokal, nasional, internasional, media online, dan lain sebagainya. Misalnya saja dalam novel Sabtu bersama Bapak karya Adhitya Mulya, praksis sosial yang terjadi adalah dalam ranah aspek budaya masyarakat, yakni praktik bahasa patriarki dan budaya patriarki.

Secara sadar ataupun tidak, praktik patriarki ini terjadi di beberapa lembaga utama dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut;

1).  Keluarga
Keluarga adalah satuan terkecil masyarakat dan mungkin merupakan yang sangat patriarkis. Dalam keluarga di tanah air umumnya, hierarki laki-laki lebih tinggi dan dampaknya ia lebih berkuasa, sedangkan perempuan lebih rendah dan dikuasai. Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama bagi generasi berikutnya dan pendidikan tersebut tidak terlepas dari patriarki. Ideologi patriarki diperkenalkan pada setiap anggota keluarga, terutama pada anak-anak, dengan kata lain dalam keluargalah kita mendapatkan pelajaran pertama mengenai subordinasi dan diskriminasi. Berdasarkan hal inilah keluarga dikatakan menjadi salah satu lembaga patriarki.

2). Sistem Ekonomi dan Lembaga Ekonomi
Dalam sistem ekonomi patriarki, laki-laki mengontrol dan menguasai lembaga-lembaga ekonomi, dengan cara memiliki sebagian besar harta, mengarahkan dan menentukan kegiatan ekonomi serta nilai kegiatan-kegiatan produktif. Kerja produktif perempuan tidak diakui dan tidak dibayar, bahkan kerja rumah tangga tidak dinilai sama sekali.

3). Media
Media merupakan alat yang sangat penting untuk menyebarluaskan ideologi patriarki, dan hal ini masih terjadi sampai sekarang. Media dalam hal ini seperti televisi, film, koran, novel, dan lain sebagainya. Pesan-pesan tentang superioritas laki-laki dan inferioritas perempuan ditampilkan bahkan secara berulang-ulang. Dominasi atau superioritas laki-laki ini dilakukan secara langsung, tidak langsung, secara keras, ataupun halus. Dalam hal ini, praktik patriarki bisa dikatakan terjadi dalam bentuk teks ataupun cerita. Seperti dalam beberapa contoh berikut:

              a. Film Kramer vs Kramer
Dalam film ini, kecukupan kramer sebagai seorang laki-laki, yang diperankan oleh Dustin Hoffman, tergantung atas kecukupannya sebagai seorang ayah yang mengasuh, bukan sebagai penyedia ekonomi[1].

               b. Film Madame Bovary
Film yang tayang pada tahun 2014 dan disutradarai oleh Sophie Barthes ini diperankan oleh Mia Wasikowska sebagai Madame Bovary, istri dari seorang laki-laki bernama Charles Bovary yang diperankan oleh Henry Lloyd Hughes. Film ini menceritakan tentang seorang wanita muda dari sebuah desa kecil di daerah Normandy, Prancis, yang bermimpi untuk menemukan cinta dan kehidupan yang menyenangkan di balik kentalnya budaya patriarki saat itu—dia menemukan laki-laki lalu menikah. Namun, keadaan hidupnya tidak seperti yang ia harapkan, karena budaya patriarki suaminya yang sangat kuat, ia sekadar berperan sebagai nyonya rumah.

           c. Film Osama
Film ini diproduksi oleh Siddiq Barmak Film, film pertama di Afganistan semenjak keruntuhan Taliban, dan film ini diambil dari kisah nyata. Film ini menceritakan seorang anak perempuan berumur 12 tahun dan ibunya yang selamat dari aksi demonstrasi. Selanjutnya, ketika Taliban menerapkan hukum perempuan tidak boleh bekerja dan melarang perempuan keluar rumah tanpa didampingi laki-laki, mereka pun terkena imbasnya. Mengakali hal tersebut, ibunya mendandani Osama menjadi laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, Osama terjaring oleh program wajib sekolah dan wajib militer Taliban. Akhirnya, Osama diketahui sebagai seorang perempuan, kemudian dia diampuni di persidangan, tetapi Osama harus menikah dengan ustadnya sendiri yang berusia 70 tahun.

               d. Novel Sekuntum Ruh dalam Merah karya Naning Pranoto
Novel ini menceritakan beberapa tokoh perempuan yang berada dibawah dominasi laki-laki, seperti tokoh Sri Mumpuni. Sri Mumpuni merupakan sosok istri yang baik, penurut, dan menghormati suami. Selain itu, Sri Mumpuni sangat taat pada adat Jawa yang berlaku di masyarakat yang menganggap bahwa laki-laki merupakan raja dalam keluarga, jadi kepentingannya harus didahulukan daripada kepentingan perempuan. Contohnya, Sri Mumpuni tidak berani mencicipi atau memakan terlebih dahulu makanan sebelum suaminya mencicipi atau memakannya.

                 e. Novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Sadaawi
Tokoh utama dalam novel ini bernama Firdaus dan dia merupakan perempuan, novel ini menunjukkan sisi gelap yang dihadapi perempuan-perempuan Mesir di tengah kebudayaan Arab yang kental dengan nilai-nilai patriarki. Semisal, saat Firdaus remaja, ia ingin belajar di Kairo seperti pamannya, tapi dia tidak diperbolehkan belajar di sana karena dia perempuan.

Lewat kerangka analisis wacana kritis dari Fairclough, kita bisa melihat bahwa Fairclough berusaha menghubungkan antara analisis teks pada level mikro dengan konteks makro, yakni konteks sosial, dalam hal ini praktik sosial. Pertama, analisis teks bertujuan untuk mengungkapkan makna yang tersembunyi dalam teks, dan itu dilakukan dengan menganalisis bahasa secara kritis lewat berbagai pisau bedah. Kedua, praktik wacana menjembatani teks dengan konteks sosial. Oleh karenanya, hubungan antara konteks sosial dengan teks bersifat tidak langsung dan disambungkan lewat lidah praktik wacana yang dikemas dengan beragam bentuk. Ketiga, praktik sosial untuk mengetahui penjelasan atas penafsiran kita. Penjelasan atas tafsir itu diperoleh dengan menghubungkan produksi teks dengan praktik sosial di mana suatu wacana berada.

Ketiga tahapan analisis di atas, telah kita digunakan dalam menganalisis novel Sabtu bersama Bapak karya Adhitya Mulya, bahwa citra ayah dalam novel ini sangat superior dan sangat mendominasi dalam keluarga, bahkan hingga mendominasi kehidupan menantu serta cucu-cucunya. Dengan kata lain, lewat narasi dalam novel ini, seolah menjadi media pendukung untuk melanggengkan pandangan masyarakat mengenai citra laki-laki sebagai pemegang kuasa, sedangkan citra perempuan sebagai pihak yang dikuasai. Inilah dimensi sosiologis yang terdeteksi melalui model analisis wacana kritis dari Norman Fairclough.

Lebih jauh, kita juga bisa melihat bahwa lewat model ini dan hasil analisisnya, wacana adalah suatu bidang yang sangat kompleks. Semua kompleksitas ini berupaya diurai, diabstraksikan, dan digambarkan dalam model analisis wacana kritis dari Fairclough. Model ini juga berusaha menghubungkan wacana media dengan bentuk wacana umum lainnya yang terjadi dalam masyarakat, serta melihat bagaimana pengaruh diskursusnya.

“Yang paling berbahaya bukanlah kekuasaan lewat tindakan, melainkan kekuasaan yang dilakukan melalui bahasa—tak terasa tapi ada.”

*****


[1] Sylvia Walby, Teorisasi Patriarki. 2014, hlm. 157.

0 Comments