Mempertahankan Kesadaran Reflektif Saat Metatah: Sebuah Pengalaman Eksistensial

“Aku dibaringkan di atas bale yang didominasi dengan warna emas. Kaki, tangan, hingga kepala dipegangi oleh orang terdekat. Aku diselimuti dan terus diperingati agar tetap awas. Kidung kematian turut mewarnai. Jangan sampai kesadaranku hilang selama ritual ini berlangsung…”

Metatah, atau potong gigi adalah upacara adat yang wajib dijalani oleh setiap umat Hindu di Bali. Kami percaya bahwa setiap orangtua harus menunaikan beberapa rangkaian upacara adat mulai dari anak-anak mereka berada dalam kandungan hingga saat dewasa dan siap untuk menikah. Salah satu upacara adat yang prosesinya sangat sakral dan penting saat anak-anak mereka beranjak dewasa adalah metatah.

Metatah merupakan prosesi untuk menghilangkan Sad Ripu, yakni enam sifat buruk dalam diri manusia mulai dari hawa nafsu, rakus, marah, mabuk, iri hati, dan bingung. Peleburan keenam sifat buruk yang ada pada diri manusia ini kemudian direfleksikan dengan mengikis perlahan enam gigi bagian atas yang berbentuk taring agar sama-sama rata. Setelah prosesi ini selesai, kami dianggap telah ‘terlahir’ kembali menjadi sosok yang lebih dewasa.

Di balik semua ritual yang sakral dan sarat akan makna, ternyata ada hal-hal yang selalu diwaspadai oleh setiap orang yang tengah bersiap menjalani prosesi metatah. Saat kami berbaring di bale dan bersiap untuk dipotong giginya, kami sama sekali tidak boleh menutup mata. Kami juga disarankan untuk tidak keluar dari rumah sehari sebelum acara bahkan ada yang tidak boleh menginjak tanah. Semua hal tersebut bergantung pada kepercayaan adat di masing-masing daerah Bali yang berbeda.

Hal ini tidak terlepas dari mitos yang menyertainya, bahwa setiap orang yang sedang menjalankan ritual metatah akan rentan disakiti oleh orang-orang yang menggunakan ilmu hitam, bahkan disebut-sebut dapat berasal dari keluarga sendiri.

Apalagi pada saat ritual ini berlangsung, kami akan dibaringkan di atas bale (tempat tidur) dan dianggap sebagai orang mati. Maka dari itu, seluruh anggota tubuh mulai dari kaki, tangan, hingga kepala harus dipegangi keluarga terdekat dari berbagai sisi. Konon katanya, bagi yang menutup mata akan kehilangan kesadaran dan bisa jadi jiwanya akan melayang menuju Nirwana. Kidung atau lagu kematian juga turut dikumandangkan, karena prosesi metatah memang bertujuan untuk ‘melahirkan’ kembali sosok baru yang dewasa dan dianggap telah berhasil meninggalkan masa kanak-kanaknya.

Bahkan sebelum hari H metatah, banyak mitos yang beredar bahwa kami akan kesulitan untuk tidur nyenyak karena ‘diganggu’ makhluk-makhluk gaib. Mendengar berbagai mitos yang beredar, ditambah pengalaman nyata dari yang pernah merasakan hal ini, tentu menjadi ketakutan tersendiri bagi orang-orang yang akan melaksanakan ritual metatah.

Perasaan cemas, khawatir, dan ketakutan karena menganggap akan tidak bisa tidur nyenyak hingga takut ‘diganggu’ tersebut ternyata telah memunculkan kesadaran nonreflektif pada diri individu yang tengah menjalani prosesi metatah. Kesadaran nonreflektif merupakan “muara diri yang hilang”. 

Dalam psikologi eksistensial ala sartean, terdapat dua jenis kesadaran, yakni kesadaran reflektif di mana kesadaran ini memunculkan diri kita untuk hadir dan mengada di dunia. Dengan demikian, bentuk-bentuk ‘ada’ yang lain akan dianggap tiada, karena seseorang telah menganggap bahwa “hanya ada dirinya semata”.

Sedangkan kesadaran nonreflektif adalah ‘berada bagi pihak lain’. Kesadaran ini membuat objek lain adalah hal yang utuh dan membuat seseorang meniadakan diri demi keberadaan yang lain (baca: objek tersebut).

Ketakutan akan ‘diganggu’ makhluk halus, curiga dengan anggota keluarganya yang dianggap sedang mendalami ilmu hitam, hingga kecemasan jika kehilangan kesadaran saat prosesi metatah berlangsung, ternyata dapat menjadi hal yang diwaspadai bahkan menakutkan bagi setiap orang yang akan menjalani prosesi metatah. 

Di sinilah diri mereka berada dalam kesadaran non-reflektif. Mereka terlalu takut akan mitos-mitos yang telah melekat dan terus berlarut dalam kecurigaan dan kewaspadaan akan mitos-mitos metatah yang menyertai mereka.

Sebagai seorang yang telah menjalani prosesi metatah dan telah mendengar berbagai pengalaman serta peringatan akan mitos metatah, saya tetap berusaha agar tidak terlalu ambil pusing untuk memikirkannya. Karena saya percaya bahwa prosesi ini adalah hal yang sakral dan memiliki kekuatan doa yang luar biasa. 

Selama rangkaian prosesi metatah berlangsung, saya memang tetap mengindahkan beberapa aturan seperti tidak keluar rumah, bahkan tidak keluar dari pintu pekarangan. Saya pun berusaha untuk tidur tepat waktu karena besok pagi harus bersiap mepayas agung (riasan perempuan Bali yang cukup menghabiskan waktu). 

Tidak ada hal-hal aneh yang saya rasakan saat menjalani rangkaian prosesi metatah. Saya menjalani ritual sebagaimana mestinya, menuruti apa yang seharusnya dilakukan. Meski beberapa kali saya mendengar mitos-mitos yang menyeramkan baik dari teman-teman maupun kerabat, saya berusaha untuk tidak takut ataupun cemas.

Ketakutan atau kecemasan menurut Sartre merupakan pengalaman di mana individu merasa berada di luar kendalinya. Seorang individu tidak akan merasa takut atau cemas jika segala sesuatunya, termasuk dirinya sendiri berada di dalam kendalinya. Maka dari itu, kita sebagai manusia sesungguhnya memiliki kebebasan. 

Timbulnya pengalaman eksistensial, yakni ‘kebebasan’ atau segala sesuatu yang berada dalam kendali diri sendiri, memungkinkan kita untuk mempertahankan kesadaran reflektif. Salah satu hal yang membuat manusia tidak bisa mencapai kebebasan dalam meyakini diri adalah adalah orang lain. 

Orang-orang yang memberi mitos menakutan, hingga mereka yang disebut-sebut akan menyakiti dengan ilmu hitam saat metatah membuat kita berada pada posisi di luar penilaian diri sendiri. Kita juga menjadi takut dengan hal-hal tentang masa depan, sesuatu yang bahkan belum terjadi. 

Prosesi metatah yang akan dilaksanakan bulan depan, bisa membuat kita takut dan cemas selama sebulan penuh. Di sinilah kita sebagai seorang individu, harus bisa mempertahankan kesadaran reflektif untuk mencapai ‘kebebasan’, meyakini diri untuk melawan ketakutan dan kecemasan yang berkecamuk dalam pikiran. 

Inilah sebuah pengalaman eksistensial yang bisa kita lakukan pada kondisi apa pun, tak terkecuali saat kita harus menjalani prosesi metatah yang banyak memuat mitos menakutan. Satu hal yang bisa saya pastikan saat mempertahankan kesadaran reflektif ini adalah tidak ada satu pun hal-hal yang saya takuti terjadi saat itu. Saya adalah manusia bebas yang meruntuhkan segala kecemasan dalam diri saya sendiri. 

Pada akhirnya, yang bisa mengalahkan ketakutan dalam diri adalah kesadaran saya sendiri. 


1 comment: