SEMIOTIKA BATMAN: “Mengapa Batman selalu menarik?”


Wahyu Budi Nugroho
...sedang menunggu film Batman terbaru.
 
[pic: mybroadband.co.za]

Sederhana saja, Batman adalah contoh narasi yang berhasil “mengacaukan simbol”, itulah mengapa ia selalu menarik. Umumnya, tokoh utama protagonis (figur baik) merepresentasi diri lewat simbol-simbol yang juga berasosiasi dengan kebaikan. Misal, pakaian putih sebagai lambang kesucian atau kebenaran. Ini bisa kita lihat pada jubah Gandalf dalam film Lord of the Rings yang mewakili penyihir baik, sedangkan musuhnya, si penyihir jahat Saruman mengenakan jubah berwarna gelap. Sementara Batman sebagai tokoh baik, justru mengenakan kostum hitam yang merepresentasi kegelapan dan kejahatan—sama seperti Darth Vader. Wajar sih, karena memang umumnya kelelawar berwarna hitam. Tetapi ini juga yang akan kita bahas selanjutnya.

Biasanya, tokoh-tokoh baik diasosiasikan dengan simbol hewan-hewan yang baik pula, seperti kuda, merpati, anjing, semut, dan lain sejenisnya. Sedangkan Batman, menggunakan simbol kelelawar. Kita tahu, kelelawar sering diasosiasikan sebagai hama layaknya tikus, bahkan ia membawa virus dan bakteri yang jauh lebih banyak ketimbang tikus; atau bisa juga dikatakan, “Kelelawar adalah tikus terbang yang lebih kotor daripada tikus”. Tapi, mengapa si pembuat cerita Batman, Bob Kane dan Bill Finger, memilih kelelawar sebagai simbol sosok pahlawan yang diciptakannya itu?

Begitu juga, karakter Batman sebetulnya sama sekali tak mencirikan tokoh baik. Batman adalah sosok yang dingin, kaku, ketus, tak ramah dan tak bersahabat, bahkan bisa juga dikatakan sombong—saya sendiri selalu ingin menonjok Batman karena menganggap dia songong. Sebaliknya, musuh utama Batman, Joker, merepresentasi kebaikan. Joker adalah sosok yang selalu tersenyum, ceria, ramah, tak segan tertawa lepas, cenderung bersahabat dan mudah akrab; apalagi badut selalu diasosiasikan dengan anak-anak. Namun lagi-lagi, mengapa justru Joker yang menjadi tokoh antagonis?

Boleh jadi, inilah kejeniusan Bob Kane dan Bill Finger, mereka menangkap gejala “kejenuhan simbol” pada audiens sehingga menciptakan narasi Batman dengan simbol-simbol yang kacau dan serba terbalik. Hasilnya? Boom! Batman selalu saja berhasil memikat kita hingga kini. Sebagai perbandingan, sosok yang serupa dengan Batman adalah Maleficent. Simbol-simbol yang ditampilkan Maleficent, tidak bisa tidak, menunjukkan jika ia jahat. Tapi nyatanya, ia tetaplah “wanita baik-baik”. Semua ini mengingatkan kita pada nasehat yang telah umum: “Jangan lihat orang dari tampilannya!”. Pun kalau boleh saya tambahi: “Jangan percaya simbol!”.

*****

27 Comments

  1. Selamat pagi pak Wahyu
    Mengenai tulsan di atas bahwasannya menceritakan sosok Betmen sebagai sosok yang di sanjung dan menarik ,sehingga dari film ini sangat gemari dan sering muncul di layar televisi Indonesia .

    Kehadiran sosok Batman sebagai pahlawan pembela kebenaran yang mengandalkan
    teknologi, iptek, ilmu bela diri, dan tentunya kekayaan, tentu membuat audiens larut
    dalam karakter heroik yang mulia dan innocent. Namun jika ditilik melalui sudut
    pandang Marxisme, karakter Batman sebagai bourgeois heroes merupakan sosok
    pahlawan pendukung kapitalisme yang memiliki kekuasaan dalam masyarakat. Dengan
    latar belakang sebagai anak milyarder dan pewaris utama perusahaan paling berpengaruh
    di Gotham, Wayne Enterprise, Bruce/Batman berfungsi untuk mempertahankan status
    quo dengan menjajakan ideologi kapitalis dalam bentuk terselubung dan dengan
    membantu menjaga keinginan konsumen tetap tinggi. Salah satu nilai dijual dalam
    konsep pahlawan borjuis adalah individulisme, sebuah nilai yang muncul dalam berbagai
    bentuk (the self-made man, the American dream, the “me generation”, dan sebagainya)
    (Berger, 1991: 47-48). The Penguin dalam film ini berperan sebagai villain justru hadir
    sebagai seseorang pimpinan gang kelas bawah yang mewakili kaum yang ditinggalkan,
    dibuang, dikucilkan.

    Theresia sindianti mbere
    1812511022

    ReplyDelete
  2. Selamat sore, pak. Menurut saya dari apa yang saya baca, kejeniusan bob kane dalam karakter batman ini sangat menampar realita dalam kehidupan sehari-hari di mana dalam kehidupan sehari-hari nasehat2 seperti “don’t judge book by its cover” sangat under-rated. kita tau itu apa, tapi tidak benar2 mengerti dan paham maknanya. Padahal realitanya (setidaknya di lingkungan saya sendiri) orang baik dan orang jahat itu tidak terkotak-kotak kedalam 2 bagian saja yaitu hitam dan putih. Karena adanya karakter si batman atau maleficent kita ditampar bahwa orang baik tidak selalu berada dalam tudung putih dan selalu dapat menyenangkan hati semua orang. Seseorang tetap dapat menjadi baik meskipun ia memiliki borok dalam hidupnya. Sebaliknya ketika kita mendengar nama Joker yang terlintas dalam pikiran kita adalah orang jahat. Padahal pada filmnya sendiri yang menjelaskan lebih mendalam karakter si Joker ini, kita lihat bagaimana seseorang yang berusaha menghidupi ibu dan dirinya yang justru ternyata dibuang oleh ayahnya dan selalu mengalami bully dan kesulitan karena dia pengidap penyakit mental. Adanya film Joker ini justru menimbulkan pertanyaan baru “apa sebenarnya karakter joker pantas disebut sebagai karakter jahat?” Menurut saya, film seperti batman, maleficent, joker, film genius yang menampar realiti karena sekali lagi dalam film ini kita dijelaskan kenapa seseorang melakukan sesuatu, juga kita tau bahwa baik-jahat tidak hanya terkotak menjadi 2 kubu saja.
    Sekian,Terimakasih

    Sonia Devi/1812511016

    ReplyDelete
  3. selamat sore Pak Wahyu, saya ingin berkomentar mengenai ungkapan Jacques Lacan: “Setiap manusia akan mengalami dua kematian dalam hidupnya; kematian biologis, dan kematian karakter". penafsiran saya terhadap kematian biologis yaitu dimana biologis digambarkan sebagai kematian secara fisik (meninggal dunia sedangkan kematian karakter diumpamakan sebagai kata zaman sekarang yaitu "gengsi" maupun "insecure" yg biasa anak muda katakan.

    Rafny Alnovira 1812511001

    ReplyDelete
  4. Selamat pagi pak,izin berkomentar
    Saya pikir hal ini hanya persoalan biasa tidak bombastis dimana,peralihan makna hitam akan selalu tampak jahat dan putih baik. pada film ini berbanding terbalik.Mengapa?
    Karna, jujur saja bahwa kita hidup dengan standar yang dibentuk manusia,bahkan sampai urusan rasionalitas yang notabene punya perspektif masing-masing. Oleh karena itu,saya pribadi sepakat dan tidak merasa bingung,karna sudah sepantasnya kita punya pemikiran dan standar masing-masing melihat berbagai fenomena.
    Namun, Dewasa ini masyarakat bisa dikatakan cenderung kaku dalam meniliai berbagai fakta baru yang tidak sesuai dengan apa yang dibentuk dunia.
    semisal: "bertubuh pendek dan tidak mancung" kita serasa tidak ideal dimata berbagai masyarakat pun tidak maskulin sebagai pria. Hal itu menandakan bahwa kita saat ini diikat dengan standar yang dibentuk dunia,konstruksi media dan kekonyolan yang dibentuk para kapitalis modern.

    Willlyam Steven / 1712511058

    ReplyDelete
  5. Selamat siang bapak, sebelumnya saya setuju dengan penjelasan bapak bahwa bisa jadi hal ini merupakan kejeniusan Bob Kane dan Bill Finger, mereka menangkap gejala “kejenuhan simbol” pada audiens sehingga menciptakan narasi Batman dengan simbol-simbol yang kacau dan serba terbalik. Hal ini dikarenakan dalam masyarakat simbol-simbol yang ada dikotak-kotakan. Misalnya warna putih selalu merepresentasikan kebaikan dan warna hitam selalu merepresentasikan keburukan. Sehingga dalam industri film, jika tokoh itu berpakaian serba putih penonton dapat langsung menebak karakter tokoh tersebut baik dan jika tokoh tersebut berpakaian serba hitam karakter tokoh tersebut buruk atau jahat. Masyarakat akan sangat mudah untuk menebak dan menjadi bosan, karena terlalu mudah ditebak. Mungkin film karya Bob Kane dan Bill Finger inilah yang dimaksud Pierre Sorlin bahwa film sebagai alternatif sosial. Sekian dari saya, mohon maaf bila ada salah kata, terimakasih.

    Alfia Tanjung/1812511047

    ReplyDelete
  6. Izin menanggapi bapak, berdasarkan tulisan tersebut saya menangkap kejelasan mengenai kekacauan simbol yang ada. Kenyataannya setiap orang akan menjadi tertarik apabila terdapat unsur yang berbeda dari biasanya, bahkan hal ini akan menjadi lebih antusias apabila unsur tersebut tidak sesuai dengan konstruksi sebelumnya. Katakanlah seperti yang di jabarkan tulisan tersebut dimana hitam yang identik dengan kegelapan dan kejahatan namun pada Batman hal itu tidak berlaku sama sekali. Karakter yang dinging, angkuh, dan sombong tidak berarti bukanlah seorang superhero (pahlawan). Justru karena semua itu, Batman begitu diminati, diagung-agungkan bahkan digilai oleh para pencinta film fantasi. Hal ini memunculkan sebuah pemikiran bahwa saat ini apapun yang menjadi pedoman dan pandangan masyarakat bisa jadi hanyalah konstruksi-konstruksi sosial yang tidak masuk diakal. Simbol-simbol yang beredar dimasyarakat hanya simbol tak bermana yang berhasil dihidupkan oleh pikiran manusia ditambah budaya.
    Masyarakat era sekarang sudah dibubuhi banyak sekali ilmu pengetahuan, pemikiran mereka kini lebih terbuka dan lebih melogika. Mereka kini tanpa sadar membantah setiap simbol yang dahulunya terkonstruksi sedemikian rupa. Unsur kebebasan dan individual meronta pada jiwa mereka. Perkataan, “Jangan memotong kuku malam-malam”, “Jangan menyisakan makanan”, “Tangan kanan lebih baik dari tangan kiri” dan sebagainya kini bisa dibantah dengan banyak logika. Simbol-simbol demikian menjadi kacau balau tetapi bisa dengan mudah diterima. Oleh sebab itulah Batman masih tetap teridolakan saat ini.
    Sekian komentar dari saya, maaf apabila ada salah kata dan pemaknaan yang tida sesuai. Terimakasih

    Nama: Ida Ayu Dea Ikka Wardhani
    Nim: 1712511016

    ReplyDelete
  7. Selamat Sore pak, Terimakasih atas artikel yang sangat menarik, mohon izin berkomentar,
    Apa yang dilakukan Bob Kane dan Bill Finger memang sangatlah jenius, ini memberikan sebuah pesan “Don’t Judge a Book by it’s cover” (Jangan menilai sebuah buku dari bungkusannya), terbukti bahwa dibalik sifatnya kaku, sombong, namun dibalik itu ia memiliki rasa ingin memerangi kejahatan di Gotham City, benar yang bapak katakan bahwa Bob Kane dan Bill Finger memang sengaja ingin mematahkan konsepsi simbol akan “hitam tak selamanya buruk”. Melihat karakter batman sendiri saya jadi teringat akan sebuah karakter yang memiliki karakter serupa seperti Batman, yakni karakter dalam film Harry Potter, Professor Severus Snape, dimana dimulai harry potter pertama hingga keenam penonton dibawa curiga, dendam, marah dengan perlakuan Snape kepada Harry Potter, namun Plot Twist terjadi di seri Harry Potter ketujuh, yang menjadikan Snape menjadi karakter yang dicintai di kalangan Potterheads(sebutan fans Harrypotter).
    Sekian bapak komentar dari saya, Terimakasih

    Ida Ayu Putu Eka Marenita Putri/1812511033

    ReplyDelete
  8. Mohon ijin memberikan komentar bapak. Saya sependapat bahwa adanya gejala “kejenuhan simbol” pada audiens, akhirnya memunculkan adanya narasi Batman dengan simbol-simbol yang kacau dan serba terbalik. Tidak bisa dipungkiri pula, biasanya sesuatu yang berbeda dari biasanya dalam hal ini tokoh Batman dengan spesifikasi perbedaan antara penampilan dan wataknya, justru mampu menarik perhatian masyarakat oleh karena adanya kejenuhan simbol yang telah dijelaskan diatas. Dan menurut saya, sejalan dengan nasehat umum, agar tidak melihat orang dari tampilannya dan jangan terlalu percaya pada simbol, walau terkadang simbol itu menjadi salah satu hal penting ketika kita menonton sebuah film. Sekian yang dapat saya sampaikan pak, mohon maaf jika ada pendapat saya yang kurang berkenan. Terimakasih🙏

    Giralda Martje Lawalata / 1812511021

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. selamat pagi pak mohon izin untuk berkomentar, film memang kerap membawa pesan disetiap ceritanya, namun jika menurut penafsrian saya tentang batman dan joker, yang dapat saya tangkap adalah bagaimana kita di dunia yang fana ini dituntut untuk bisa memandang manusia seutuhnya dari luar dan dalam, sekaligus memberi pesan kepada kita jika menilai seseorang tidak cukup hanya dari eksterior luarnya saja. saya ambil contoh bagaimana indonesia ternyata juga tidak kalah seru dari Bruce Wayne the defender of Gotham City dalam hal mengacaukan simbok-simbol yang ada, ya elit elit politik kita. bagaimana mereka mengacaukan simbol orang berdasi yang identik dengan kaum intelek, terpelajar, berbudi dan berakal tapi bobrok bobrok juga,( maaf, maksud saya oknum elit politik. karena tidak semuanya bobrok, semoga.) mungkin sekian komenar dari saya pak, mohon dikoreksi jika ada salah kata ataupun salah intelektual

    Terimakasih Pak,
    Cokorda Agung Dharmasantika/1812511040

    ReplyDelete

  11. Selamat pagi pak, izinkan saya berkomentar, apabila terdapat kekeliruan mohon dikoreksi pak.
    Dari tulisan diatas, saya dapat menangkap terkait fenomena dimana adanya “kejenuhan simbol” dari masyarakat sehingga kemudian terciptalah simbol simbol yang terbalik.
    Realita kehidupan masyarakat, dimana mereka hidup dalam standar kehidupan bahwa kebaikan itu selalu dilambangkan dengan simbol putih, sedangkan kejahatan dilambangkan dengan simbol kegelapan atau hitam. Sedangkan kehadiran tokoh Batman ini betul betul mengubah pemikiran masyarakat dimana standar kehidupan itu berbeda beda. Hitam tidak selalu melambangkan kejahatan, begitu pula putih tak selalu melambangkan kebaikan. Dewasa ini masyarakat itu cenderung tertarik dengan kemunculan fenomena fenomena baru, contohnya saja hadirnya tokoh Batman ini, dimana tokoh ini betul” berbalik arah dari standar kehidupan masyrakat. Batman hadir dengan simbol simbol kegelapan akan tetapi pada realitanya ia bukanlah sosok yang jahat seperti apa yang tampak pada penampilannya. Hal inilah dianggap sebagai fenomena baru yang dapat mengubah standar kehidupan masyarakat.

    Ni Kadek Suarningsih / 1812511037

    ReplyDelete
  12. Selamat pagi bapak, izin berkomentar
    Menurut saya film tersebut dapat memberikan pesan bahwa ketika kita memberikan penilaian kepada orang lain jangan hanya dari penampilannya saja. Sebab apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan keadaan atau kondisi yang sebenarnya. Dimana hal tersebut pada dilihat pada tokoh batman yang meskipun menggunakan pakaian warna gelap namun ternyata merupakan tokoh yang baik. Padahal biasanya dalam film tokoh yang baik dan benar selalu identik dengan warna putih. Sedangkan pada tokoh yang jahat identik dengan warna-warna gelap. Sebagaimana standart yang telah ada. Fenomena yang menarik inilah yang kiranya menarik para penonton untuk selalu menyaksikan filn tersebut. Sekian terimakasi.

    Devi Retno Wulansari/1812511030

    ReplyDelete
  13. Selamat pagi bapak, saya mohon izin berpendapat jika ada kesalahan mohon dibantu🙏
    Di zaman yang sekarang ini kita sebagai manusia memang dituntut untuk dapat menilai sesuatu dari semua sudut pandang, tidak bisa hanya dari satu sisi saja, “dont judges book by its cover” benar adanya dan sangat relevan di dunia ini. Penilaian seseorang dari satu sisi menyebabkan penafsiran yang sering kali melenceng dari yang seharusnya. Terkait pengacauan simbol dalam film batman dengan pencitraan tokoh seolah memiliki sifat antagonis namun sesungguhnya ia pahlawan yang memiliki sisi protagonis. Disini secara tidak langsung dapat membuat pemikiran baru bahwa putih tidak selalu baik dan hitam tidak selalu buruk, pengkotak kotakan ini bisa dibantah. Nilai di masyarakat yang seolah dapat dibalikkan lewat film batman, mulai dari tokoh yang identik dengan warna hitam dimana konstruksi dalam masyarakat melambangkan kejahatan, sifat batman yang dingin sombong namun tetap memiliki rasa simpati. Sehingga sangat tepat film ini ditonton untuk membuat kita sebagai manusia modern untuk berfikir lebih rasional lagi. Terimakasih

    Gita Ginanti/1812511035

    ReplyDelete
  14. Selamat pagi pak, izin menyampaikan komentar🙏

    Membaca pemaparan bapak terkait Batman maka semakin jelas terlihat bahwa masyarakat dikelilingi oleh konstruksi sosial. Tentang bagaimana masyarakat menganggap bahwa pada umumnya tokoh yang baik atau pahlawan dilambangkan dengan pakaian putih, hewan-hewan yang baik seperti kuda, merpati, anjing, semut. Namun melalui Batman saya berfikir bahwa ini sebuah bentuk melawan atau mengajak masyarakat untuk berfikir bahwa apa saja bisa menjadi lambang yang baik atau menjadi pahlawan, dan masyarakat harus sadar bahwa apa yang selama ini ada di fikiran kita terkait sesuatu yang melambangkan "baik, pahlawan, jahat, dan buruk" tak selamanya benar dan memang begitu kenyataannya.

    Sekian dari saya. Terimakasih pak🙏

    Santa Monika Manullang/1812511041

    ReplyDelete
  15. Sebelumnya, mohon ijin untuk berkomentar mengenai artikel diatas.
    Menurut saya, bisa jadi Bob Kane dan Bill Finger berupaya untuk membentuk konstruksi baru yang ada di masyarakat. Misalnya saja seperti narasi batman yang mereka buat dengan simbol-simbol yang kacau dan serba terbalik. Kemudian, Joker (badut) dibuat dengan tokoh antagonis dan Maleficent yang ternyata memang "wanita baik". Tidak mudah untuk membentuk konstruksi sosial di masyarakat, karena hal ini diperlukan proses pemahaman secara internalisasi maupun eksternalisasi. Melalui film-film tersebut, penonton pun bisa memahami bahwa "yang putih tidak selamanya baik dan hitam tidak selamanya buruk". Dengan demikian, diperoleh ungkapan yang fenomenal di Indonesia yaitu "Don't judge a book by its cover".
    Sekian komentar dari saya. Mohon maaf apabila terdapat ketidaksesuaian kata. Terimakasih.

    (Ni Made Dwi Agustina/1812511048)

    ReplyDelete
  16. Terima kasih atas artikelnya pak, saya izin berkomentar
    Menurut saya "kejenuhan simbol" terjadi karena pemikiran masyarakat sudah lebih terbuka dalam menerima simbol2 yang ada. Tetapi di satu sisi simbol2 berbeda yang diciptakan butuh proses dan pemahaman yang panjang agar masyarakat mau menerima simbol yang tidak sesuai atau berbeda dengan standar yang ada. Beberapa simbol yang terbalik mungkin dengan mudah diterima oleh masyarakat, tetapi juga sulit diterima dimasyarakat. Seperti misalnya narasi yang terus digaungkan "cantik tidak harus putih", tetapi disatu sisi masyarakat masih terus berlomba lomba untuk membeli krim pemutih untuk kulit dan dilanggengkan dengan banyaknya penjual krim pemutih tersebut dipasaran.

    Ni Komang Ayu Indra Yanti
    1712511015

    ReplyDelete
  17. Selamat sore bapak, terima kasih untuk artikel yang sangat menarik ini, mohon izin untuk berkomentar, saya setuju dengan hal jangan menilai orang hanya dari tampilan, karena terkadang tampilan tersebut dapat menipu, seperti halnya batman dan joker, dimana penampilan batman menunjukkan bahwa dia orang yang tidak baik atau buruk sedang penampilan joker sendiri menunjukkan bahwa dia orang memiliki sifat baik, akan tetapi pada kenyataannya hal tersebut malah berbading terbalik,
    dimana batman memiliki sifat yang baik sedang joker memiliki sifat yang buruk, dan hal demikian sekarang ini banyak terjadi terutama di media sosial, dimana orang - orang hanya menilai dari apa yang mereka lihat saja tanpa tahu kebenarannya terlebih dahulu. maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk mengenal seseorang tidak hanya dari penampilannya saja akan tetapi melalui karakter ataupun sikap yang dimilikinya.
    Sekian komentar dari saya pak, apabila ada kekeliruan mohon bimbingannya. Terima kasih.

    Ni Wayan Linda Sari (1812511018)

    ReplyDelete
  18. Izin memberi komentar pak. Mengenai film Batman karya Bob Kane dan Bill Finger, saya rasa dua filmmaker jenius ini telah mempraktikkan apa yang menjadi pemikiran Jacques Derrida tentang dekonstruksi. Sekilas penjelasan, teori dekonstruksi yang dipelopori Derrida pada intinya menolak tiga tradisi berpikir strukturalis, yaitu logosentrisme, falosentrisme, dan oposisi biner. Jika dikontekstualkan dalam film Batman, usaha Bob Kane dan Bill Finger yang mengacak-acak makna symbol berkaitan degan penolakan pemikiran dekonstruksi terhadap oposisi biner. Konsep pikiran oposisi biner ini ditolak oleh dekonstruksinisme karena realitas sesungguhnya tidak dapat ditentukan atau dipastikan sebagai suatu berada dalam kategori dualitas belaka. Menurut Derrida, sesungguhnya terdapat realitas-realitas yang sama sekali tidak dapat ditentukan. Realitas adalah tidak dualitas dikotomis, melainkan pluralitas posisi, beragam posisi, yang tidak dapat dipastikan atau ditentukan dan tidak dominasional, sentralistis, melainkan menyebar dan sejajar. Begitu pula halnya dalam film Batman ini. Selayaknya film-film superhero yang sarat akan perlawanan antara dua tokoh yang protagonis dan antagonis, film Batman tidak lagi terjebak dalam dua dikotomi tersebut. Apalagi, adanya film Joker yang kemudian lebih menilik sisi personal dan menjadi kausal dari segala tindakan-tindakan joker. Hal ini benar-benar menyadarkan masyarakat terkait ragam posisi, tidak melulu hanya dua dikotomi antara baik dan jahat.

    Ni Nyoman Galuh Sri Wedari/1812511044

    ReplyDelete
  19. Selamat sore Pak, mohon izin memberikan pendapat terkait tulisan artikel diatas. Terkait tulisan di atas, seperti layaknya sebuah pesan "Dont judge a book by it's cover" dalam arti "Jangan menilai sebuah buku dari bungkusannya".
    Pesan ini menyiratkan tentang apa yang ditampilkan pada sosok Batman yang menjadi figur berkarakter baik namun berpenampilan diluar apa yang distandarkan baik. Demikan juga pada kehidupan sosial masyarakat. Standar yang dikatakan baik oleh masyarakat terkadang mengekang seseorang seperti contoh ketika seseorang menggunakan pakaian yang urak-urakan atau kurang rapi, biasanya dikatakan individu yang memiliki karakter kurang baik, pemberontak dan lain sebagainya. Padahal nyatanya belum tentu demikian, bisa saja memang karna individu itu menyukai caranya berpakaian demikian tapi sebenarnya ia memiliki sikap yang tidak buruk. Dan standar penampilan baik yang dibuat masyarakat umum bisa membuat seseorang kehilangan kepercayaan dirinya atau merasa insecure. Sekian pendapat yang dapat saya sampaikan, mohon maaf bila ada kesalahan kata atau penyampaian. Terima kasih 🙏🏼

    Ni Kadek Noviar Grace Chandra Putri/ Nim: 1812511027

    ReplyDelete
  20. Selamat sore pak, Film Batman menjadi film dengan mendobrak standar baik dan buruk yang dipercayai dalam kehidupan masyarakat kita. Film ini memberikan pesan moral bahwa kita tidak bisa memberikan penilaian kepada seseorang dengan mudahnya apalagi hanya melalui penampilan saja. Erving Goffman dalam teori darmaturgi menjelaskan bahwa kehidupan sosial ibarat panggung sandiwara dimana setiap individu memainkan perannya masing-masing dalam kehidupan sehari-harinya sekaligus mengatur kesan (simbol) yang akan ditunjukan. Oleh karena itu, karakter setiap orang tentu tidak bisa dinilai hanya dengan tampak luarnya saja tetapi kita harus menggali kembali dan mencari tau karakter orang dengan baik.

    Terimakasih pak
    Komang Ayu Widyantari/1812511046

    ReplyDelete
  21. Selamat sore bapak Wahyu
    Mohon izin menyampaikan pendapat terkait tulisan artikel diatas.
    Dari penjelasan diatas, sering kita dengar kalimat don't judge a book by its cover.
    Putih sering kali dilambangkan sebagai sesuatu yang suci. Begitu juga sebalik nya
    Namun dalam film badman, persepsi bahwa putih adalah suci, baik dan sebagainya bertolak belakang dengan film tersebut.
    Dalam film tersebut dijelaskan bahwa putih tidak selamanya suci, benar.
    Film badman mengacaukan simbol yang dikonsumsi masyarakat bahwa putih adalah suci, benar.

    Demikian argumentasi yang saya sampaikan
    Terima kasih pak.
    Nama: Pilipus Sijabat
    Nim: 1812511013

    ReplyDelete

  22. Selamat malam pak. Izin berkomentar
    Pendapat yang diutarakan bapak sangat sederhana namun bermakna dan mengena....
    Seperti pepatah don’t judge book by it cover artinya jangan menilai seseorang dari luarnya saja.. dalam pembuatan film pasti sutradara menginginkan makna yg baik ke penonton sehingga bisa dicontoh dikehidupannya, dengan demikian pula penciptaan karakter baik semua adalah hasil rekayasa dari pembuat film. Yg jahat pasti memiliki warna gelap dan putih akan dikatakan baik itu semua sudah terdoktrin pada alam bawah sadar manusia.batman dari namanya saja sudah bernuansa seram, apakah jika namanya goodmen akan sebooming ini? Tentu tidak. Artinya penikmat film sudah bosan dengan istilah hitambselalu buruk dh ingin merubah mindset bahwa tak selamanya hitam itu buruk..
    tokoh jahat menyebut diri mereka baik begitu pula sebalinyaterimakasih...


    Ni made melin sri wiguna (1812511011)

    ReplyDelete
  23. Mohon izin untuk memberikan komentar Pak mengenai artikel di atas. Apa yang dilakukan Bob Kane dan Bill Finger dalam penciptaan karakter Batman sangat jenius. Dimulai dari penggambaran bahwa hitam tidak selalu berafiliasi dengan kejahatan dan kelelawar yang dijadikan sebagai simbol dari Batman. Namun, di sini saya juga melihat bahwa apa yang dilakukan Bob Kane dan Bill Finger terhadap narasi Batman memberikan gambaran bahwa di dunia nyata, baik atau buruk tidak terlalu terlihat dan seringkali tertukar dan kacau serta tidak seperti yang selama ini disimbolkan dalam film. Seringkali kasus pembunuhan berantai, pelakunya malah yang tidak diduga-duga, seperti pelaku dikenal sebagai individu yang ramah dan ceria. Dari hal ini, saya melihat bahwa selain sebagai respon akan gejala "kejenuhan simbol" pada audiens, malah Bob Kane dan Bill Finger lebih ingin memberikan kesan nyata dalam Gotham City dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Sehingga saya setuju dengan nasihat "jangan lihat orang dari tampilannya" dan pernyataan tambahan dari Pak Wahyu "jangan percaya simbol!". Sekian, mohon maaf jika ada kesalahan kata terima kasih.

    Diah Putu Laksmi Ayudhari / 1812511036

    ReplyDelete
  24. sore pak, saya setuju dengan anggapan bahwa jangan percaya dengan simbol yang terkadang menipu kita, jika Bob Kane dan Bill Finger berupaya untuk menghancurkan narasi bahwa yang jahat adalah hitam dan yang baik adalah putih, maka saya akan setuju dengan Michael Foucault yg berasumsi "apa yang benar dan salah, baik dan buruk, normal dan tidak normal, itu hanya diciptakan oleh kekuasaan" dan mungkin Bob Kane dan Bill Finger ingin berupaya untuk mengubah pemikiran masyarakat tentang baik dan buruk melalui filmnya. tengyuuu

    Dony Ramadhan_1712511057

    ReplyDelete
  25. Selamat malam pak, dapat saya aimpulkan bahwa Batman adalah contoh narasi yang berhasil “mengacaukan simbol”, itulah mengapa ia selalu menarik. kejeniusan Bob Kane dan Bill Finger yang menangkap gejala “kejenuhan simbol” pada audiens sehingga menciptakan narasi Batman dengan simbol-simbol yang kacau dan serba terbalik.

    SYAEFUDDIN YUSUF DWIPUTRA 1812511010

    ReplyDelete
  26. Izin untuk berpendapat pak. Setelah saya baca saya kini paham bahwa di masyarakat ada simbol- simbol yang dipercaya, dimana simbol-simbol ini merepresentasikan sebuah nilai dan nilai ini secara otomatis akan tersosialisasi atau disosialisasikan ke individu-individu juga kelompok yang ada pada masyarakat.

    Simbol ini dari tulisan diatas bisa saya pahami sebagai sebuah makna yang diyakini nilainya oleh masyarakat. Layaknya hitam yang identik dengan kejahatan dan putih yang identik dengan kebaikan.

    I Wayan Baskara Agastya/1812511045

    ReplyDelete
  27. Selamat siang pak, saya ijin memberikan pendapat.
    Saya melihat bahwasanya Bob Kane dan Bill Finger membuat tokoh Batma sebagai upaya untuk menangkal "kejenuhan simbol" pada masyarakat jaman sekarang termasuk audiens. Dewasa ini,standarisasi simbol cenderung mengkotak-kotak'an orang lain. Padahal apa yang kita lihat dan pikirkan belum tentu benar adanya dengan apa yang terjadi dan ada pada diri orang lain.
    Sekian pendapat dari saya, terimakasih pak.

    Jani Arta Situmorang_1812511023

    ReplyDelete