SEMIOTIKA BATMAN: “Mengapa Batman selalu menarik?”


Wahyu Budi Nugroho
...sedang menunggu film Batman terbaru.
 
[pic: mybroadband.co.za]

Sederhana saja, Batman adalah contoh narasi yang berhasil “mengacaukan simbol”, itulah mengapa ia selalu menarik. Umumnya, tokoh utama protagonis (figur baik) merepresentasi diri lewat simbol-simbol yang juga berasosiasi dengan kebaikan. Misal, pakaian putih sebagai lambang kesucian atau kebenaran. Ini bisa kita lihat pada jubah Gandalf dalam film Lord of the Rings yang mewakili penyihir baik, sedangkan musuhnya, si penyihir jahat Saruman mengenakan jubah berwarna gelap. Sementara Batman sebagai tokoh baik, justru mengenakan kostum hitam yang merepresentasi kegelapan dan kejahatan—sama seperti Darth Vader. Wajar sih, karena memang umumnya kelelawar berwarna hitam. Tetapi ini juga yang akan kita bahas selanjutnya.

Biasanya, tokoh-tokoh baik diasosiasikan dengan simbol hewan-hewan yang baik pula, seperti kuda, merpati, anjing, semut, dan lain sejenisnya. Sedangkan Batman, menggunakan simbol kelelawar. Kita tahu, kelelawar sering diasosiasikan sebagai hama layaknya tikus, bahkan ia membawa virus dan bakteri yang jauh lebih banyak ketimbang tikus; atau bisa juga dikatakan, “Kelelawar adalah tikus terbang yang lebih kotor daripada tikus”. Tapi, mengapa si pembuat cerita Batman, Bob Kane dan Bill Finger, memilih kelelawar sebagai simbol sosok pahlawan yang diciptakannya itu?

Begitu juga, karakter Batman sebetulnya sama sekali tak mencirikan tokoh baik. Batman adalah sosok yang dingin, kaku, ketus, tak ramah dan tak bersahabat, bahkan bisa juga dikatakan sombong—saya sendiri selalu ingin menonjok Batman karena menganggap dia songong. Sebaliknya, musuh utama Batman, Joker, merepresentasi kebaikan. Joker adalah sosok yang selalu tersenyum, ceria, ramah, tak segan tertawa lepas, cenderung bersahabat dan mudah akrab; apalagi badut selalu diasosiasikan dengan anak-anak. Namun lagi-lagi, mengapa justru Joker yang menjadi tokoh antagonis?

Boleh jadi, inilah kejeniusan Bob Kane dan Bill Finger, mereka menangkap gejala “kejenuhan simbol” pada audiens sehingga menciptakan narasi Batman dengan simbol-simbol yang kacau dan serba terbalik. Hasilnya? Boom! Batman selalu saja berhasil memikat kita hingga kini. Sebagai perbandingan, sosok yang serupa dengan Batman adalah Maleficent. Simbol-simbol yang ditampilkan Maleficent, tidak bisa tidak, menunjukkan jika ia jahat. Tapi nyatanya, ia tetaplah “wanita baik-baik”. Semua ini mengingatkan kita pada nasehat yang telah umum: “Jangan lihat orang dari tampilannya!”. Pun kalau boleh saya tambahi: “Jangan percaya simbol!”.

*****

0 Comments