“Setiap kita adalah Lacie Pound?”


Analisis Singkat Antologi Pertama Black Mirror: “Nosedive”



Wahyu Budi Nugroho
 Penikmat film
Kritikus film amatiran/medioker

Pemikiran posmodern Jean Baudrillard kiranya nyaris mampu menganalisis secara menyeluruh antologi pertama serial film Black Mirror yang berjudul “Nosedive”. Era posmodern ditandai dengan masifnya produksi informasi ketimbang manufaktur (benda), hal ini tampak dalam hampir setiap adegan film Nosedive di mana setiap orang dapat selalu menerima update informasi dari orang lain melalui gawai, bahkan untuk informasi-informasi yang tak penting sekalipun. Terkait hal ini, Baudrillard dalam The Ecstasy of Communication berkomentar, “We live in a world where there is more and more information, and less and less meaning” [“Kita hidup di dunia di mana semakin banyak informasi, dan semakin berkurangnya makna”—kurang-lebih terjemahan].

Berbagai informasi tak penting ini sesungguhnya menemui bentuknya sebagai “sampah visual” karena kita sebetulnya tak memerlukan informasi-informasi itu, namun dalam film ini, setiap orang terpaksa atau dipaksa untuk mengonsumsi informasi dengan harapan memperoleh umpan balik penilaian dari pemberi informasi yang kita nilai. Dengan kata lain, sesungguhnya orang-orang dalam film ini dipaksa untuk “mengonsumsi sampah”. Implikasi lanjutan dari hal tersebut adalah munculnya hiperkonsumsi atau “konsumsi tingkat tinggi”—konsumsi demi/untuk konsumsi—hal ini tampak jelas lewat setiap orang yang mengonsumsi informasi dimana pun dan kapan pun dengan prinsip resiprokal di mana gawai seolah-olah benar-benar tak bisa dilepaskan dari setiap aktivitas mereka.

Pemikiran Baudrillard berikutnya yang bisa digunakan untuk menganalisis film ini adalah tentang “simulakra” (simulacrum).[2] Simulakra yang mampu menghasilkan simulasi setidaknya tampak dari dua hal dalam film ini. Pertama, bagaimana setiap orang yang dimotivasi untuk mengejar reputasi lewat penilaian dari orang lain untuk menaikkan rankingnya, kemudian bertindak atau berperilaku dengan tak menjadi dirinya. Orang-orang ini menampilkan keramah-tamahan palsu, artifisial, tindak-tanduk serba manipulatif dan penuh rekayasa.[3]

Dalam konteks kehidupan sehari-hari saat ini, ranking atau reputasi itu adalah “simbol” yang digunakan individu. Di era masyarakat konsumsi, individu berlomba-lomba mengenakan beragam simbol prestise untuk meningkatkan citra dirinya, dan itu adalah berbagai merek komoditas konsumtif terkenal. Mereka—atau kita—membeli barang-barang mewah untuk mengejar pengakuan dan penerimaan sosial, agar dipandang sebagai kaum kelas menengah atau kelas atas, meskipun terkadang mereka sarat menyiksa diri untuk memperoleh barang-barang itu, semisal melalui kredit, hutang, dan lain sebagainya. Akibatnya, mereka tak lagi menjadi diri sendiri, mereka menipu diri lewat pertunjukkan palsu simbol-simbol demi kompetisi semu dengan individu lain atau sesamanya. Dari sini, timbullah “masyarakat tontonan” yang berprinsip pada pertukaran simbol sebelum interaksi terjadi. Sialnya, masyarakat tontonan bukanlah tujuan akhir, ia akan terus meluaskan skalanya hingga seluruh individu terjaring di dalamnya. Kedua, yakni bagaimana orang-orang dalam film ini terjebak pada simulasi itu sendiri, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bagaimana gawai seolah tak bisa lepas dari setiap aktivitas mereka.[4]

Satu hal menarik lainnya yang perlu dicatat dalam film ini adalah bagaimana agresi individu ditekan sedemikian rupa hingga melampaui batas kewajaran untuk menciptakan “masyarakat yang beradab”. Hal ini menyebabkan setiap individu berupaya menyembunyikan rapat-rapat aib, dan sekeras mungkin menghindarinya. Padahal, aib yang dimiliki individu tak bisa membuat kita segera menilainya salah atau abnormal, karena aib muncul dari berbagai situasi dan kondisi; perspektiflah yang paling menentukan soal ini. Begitupun, setiap orang pasti, dan akan berhadapan dengan aib, sebagaimana ungkap Jacques Lacan: “Setiap manusia akan mengalami dua kematian dalam hidupnya; kematian biologis, dan kematian karakter”.

Di samping pemikiran posmodernitas Baudrillard, terdapat pula berbagai pemikiran sosial-humaniora lain yang bisa digunakan untuk membedah film ini. Lebih jauh, lihat tabel di bawah ini.

Adegan/Kasus
Teori/Pemikiran
Tokoh
Individu yang dinilai orang lain
Eksistensialisme
Jean Paul Sartre
Aib individu
Dramaturgi
Erving Goffman
Keramah-tamahan artifisial
Biopower
Antonio Negri dan Michael Hardt
Individu yang selalu dikontrol dan diawasi pihak lain
Panoptikon
Michel Foucault

Masyarakat kontrol
Gilles Deleuze dan Felix Guattari
Individu yang saling menonton satu sama lain
Masyarakat tontonan
Guy Debord
Era informasi dan percepatan dunia sosial
Dromologi
Paul Virilio
Birokratisasi kehidupan
Tindakan rasional-komunikatif
Jurgen Habermas
Kooptasi teknologi atas manusia
Posthuman
Robert Pepperell
Teknologi pengganti indera manusia
Post-Phenomenology
Don Ihde


*****




[2] Simulakra adalah instrumen, media, atau segala sesuatu yang bisa membiaskan kenyataan serta merubah hal konkret menjadi abstrak, dan begitu pula sebaliknya. Menurut Baudrillard, simulakra mewujud dalam tiga hal, yaitu citra atau visual, teks, dan peristiwa.
[3] Kita juga bisa mencurigai hal ini pada pegawai minimarket atau mereka yang bekerja di sektor industri jasa. Istilah “manusia-bukan-manusia” bisa digunakan untuk fenomena ini.
[4] Contoh lain adalah orang-orang yang kecanduan game, sinetron, atau drama Korea.

25 Comments

  1. Selamat pagi pak Wahyu

    Mengenai film black mirror
    Fakta bahwa skenario-skenario Black Mirror dapat terjadi di masa sekarang atau di masa depan membuat semuanya semakin menakutkan.”

    Selain sebagai hiburan, Black Mirror juga tampaknya dapat digunakan sebagai sebuah pejalaran bagi generasi milenial. Pasalnya, tema besar tentang manusia dan teknologi sangat relevan dengan kehidupan generasi milenial saat ini.

    ReplyDelete
  2. Izin berkomentar bapak
    Menurut saya dalam tulisan tersebut memiliki pemaknaan yang cukup jelas mengenai bagaimana dunia saat ini. Teknologi informasi dan komunikasi kini seolah-olah merajai isi kepala manusia. Mereka dapat dengan mudah memanipulasi dan mengontrol tindakan setiap orang di dunia. Media sosial merupakan salah satu bentuk racun yang dapat mencuci otak manusia dengan mudahnya. Dengan adanya hal tersebut menjadikan tindakan, ucapan, suasana hati bahkan prinsip hidup diatur sedemikian rupa. Citra yang baik, imej dan kehidupan yang menjadi impian setiap orang kini seolah-olah ditampilkan secara nyata. Tanpa disadari di balik itu semua ada harga yang harus di bayar. Contohnya adalah berbagai video ataupun foto-foto viral (heboh/terkenal) yang kini sedang marak-maraknya ditayangkan (dibuat) oleh masyarakat demi menciptakan suatu ketenaran atau istilah sekarang pansos (panjat sosial). Istilah tersebut kini ramai diperbincangkan dimana maksud atau pengertian (bahasa yang mudah) terkenal (status sosial tinggi) dengan cara membuat kehebohan tanpa harus bersusah payah. Biasanya ini identik dengan menciptakan sesuatu yang kontroversial. Masyarakat saling berlomba-lomba menunjukkan (pamer) foto-foto mereka, video-video dan lain sebagainya demi mencitrakan dirinya berstatus golongan atas. Ini sesuai dengan teori masyarakat tontonan milik Guy Debord yang dimana masyarakat kini berangsur-angsur beralih dari apa yang dimiliki menjadi apa yang bisa di tampilkan. Seseorang kini selalu dilihat melalui berbagai citra yang dipertontonkan nya bukan kenyataan.

    Sekian komentar dari saya bapak, maaf apabila ada salah didalam penyampaiannya, terimakasih

    Nama: Ida Ayu Dea Ikka Wardhani
    Nim: 1712511016

    ReplyDelete
  3. Selamat sore pak wahyu sebelumnya terima kasih atas materi yang telah diberikan mengenai pemikiran post modern dari Jean Baudrillard. Di era zaman sekarang teknologi memang merupakan sumber informasi, tapi tidak hanya sekedar menyebarkan informasi. Kita hidup di dunia di mana semakin banyak informasi, dan semakin berkurangnya makna. Saya setuju dengan hal itu, Hal ini terjadi di zaman sekarang, dimana banyak informasi yang disebarluaskan yang tidak memilki makna hanya untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang, mendapatkan ratting yang tinggi untuk mendapat status di masyarakat. Dengan membuat konten video kontroversi dan hal lain untuk menarik perhatian di masyarakat
    Sekian, terimakasih

    Sonia Devi/1812511016

    ReplyDelete
  4. Selamat pagi pak wahyu,izin mengkomentari pak.
    Kita sepakat bahwa manusia sering kali cenderung ke arah manusia simbol. Hal tersebut, dibuktikan dari berbagai massifnya perkembangan ilmu dan teknologi sehingga menghasilkan berbagai kemudahan di berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini bersamaan dengan informasi yang dengan cepatnya dapat diakses dan dibaca dengan berbagai perspektif pula. Oleh sebab itu, tidak jarang muncul permasalahan yang berasal dari pemahaman yang beragm dari berbagai individu. Melalui penjelasan dalam film tersebut dijelaskan bahwa bagaimana saat ini manusia di paksa untuk berekspresi tidak pada realitas yang ada pada dirinya sendiri. Semisal: individu yang membeli iphone 12 namun cicilan. Padahal,ia hanya karyawan yang bergaji pas-pas an (pansos).Hal ini,memnungkinkan kebanyakan kita sering memaksakan diri agar terlihat diatas dari individu lainnya dalam dunia masyarakat tontonan.

    Sekian,Trimakasih
    Willyam steven/1712511058

    ReplyDelete
  5. Selamat siang bapak, sebelumnya terimakasih atas analisis singkat antologi pertama Black Mirror: “Nosedive” ini. Dari pemaparan yang bapak sampaikan, saya dapat melihatnya pada masyarakat sekarang ini. Dimana sosial media sudah menjadi bagian dari keseharian. Setiap aktivitas yang dilakukan diupload dalam sosial media. Sehingga, masyarakat cenderung ingin menampilkan sesuatu yang bisa meningkatkan citra diri agar dilihat oleh orang lain. Padahal sebenarnya ia tidak mampu dan memaksakan dirinya untuk mampu. Hal ini dikatakan dalam teori Panoptikon Michel Focault bahwa individu yang selalu dikontrol dan diawasi pihak lain selain itu dalam teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre Individu yang dinilai orang lain, maka saat individu tersebut merasa dikontrol, diawasi dan dinilai dalam sosial media, individu tersebut selalu ingin menampilkan sesuatu yang dapat meningkatkan citra dirinya. Sekian dari saya, mohon maaf bila ada salah kata, terimakasih.

    Alfia Tanjung/1812511047

    ReplyDelete
  6. Selamat Sore pak, Terimakasih atas artikel yang sangat menarik, mohon izin berkomentar,
    Saya tertarik akan pembahasan mengenai simulakra, faktanya memang benar sekali masyarakat saat ini tengah berlomba-lomba untuk meningkatkan citra pada dirinya, mulai dari pendidikan, status, jabatan dan sebagainya, di Indonesia sendiri, menjadi hal lumrah dalam membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Saya teringat ada sebuah kalimat yang menyatakan “ You can buy a stuff, but you can’t buy a class” (Kamu bisa membeli barang, namun kamu tidak bisa membeli kelas), kalimat ini sesuai dengan masyarakat yang ingin beranjak ke kelas atas atau menengah, pengakuan dan penerimaan sosial menjadi sangat penting di mata mereka, yang menjadikan mereka menjadi lebih konsumtif. Dasarnya sebuah citra, pengakuan dan penerimaan sosial yang menjadikan individu membunuh karakternya sendiri, dan hidup dalam kepalsuan demi sebuah citra.
    Sekian bapak komentar dari saya, Terimakasih

    Ida Ayu Putu Eka Marenita Putri/1812511033

    ReplyDelete
  7. Mohon ijin memberikan komentar bapak. Saya sependapat bahwa masyarakat masa kini memang senang membeli barang-barang mewah untuk mengejar pengakuan dan penerimaan sosial, agar dipandang sebagai kaum kelas menengah atau kelas atas. Menurut saya, khususnya masyarakat Indonesia memang lebih condong senang mencari perhatian banyak orang atau mencari popularitas yang berujung mengakibatkan timbulnya perilaku narsisme. Berdasarkan hal tersebut, segala bentuk usaha dan perjuangan dilakukan untuk mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sekian yang dapat saya sampaikan pak, mohon maaf jika ada pendapat saya yang kurang berkenan. Terimakasih🙏

    Giralda Martje Lawalata / 1812511021

    ReplyDelete
  8. Selamat Pagi pak, mohon izin untuk berkomentar terkait dengan pembahasn kali ini, saya seuju dengan bapak bagaimana di zaman seakrang orang lebih berfokus untuk membeli nilai simbol daripada nilai guna suatu barang. di era revolusi industri dan teknologi seperti sekarang merupakan suatu tantangan sendiri badi masyarakat untuk menahan hasratnya dalam mengikuti perkembangan zaman, karena tidak bisa dipungkiri teknologi akan terus berkembang dan berkembang dan kita yang diposisikan sebagai konsumen mau tidak mau juga dipaksa untuk terus menguprade apa yang kita punya. jika yang berhasil maka sejahteralah hidupnya, jika yang tidak berhasil bangkrutlah isi kantongnya. dari sini juga saya belajar bahwa menjadi orang kaya itu juga harus dibarengi dengan intelektual yang kaya.namun saya kira tidak adil rasanya jika meliaht dari satu perspektif saja, dari perspektf lain mengapa seseorang lebih memilih untuk membeli nilai prestise mungkin juga sebagai pertanda bahwa seseorang tersebut sudah sukses dan membeli barang mahal dan beremerek merupakan suatu simbol kesuksesan dan kemapanan.

    Terimaskasih pak, mohon maaf apabila terdapat kesalahan
    Cokorda Agung Dharmasantika/1812511040

    ReplyDelete
  9. Selamat pagi bapak, izin berkomentar
    Saya setuju dengan pendapat bapak mengenai masyarakat yang membeli barang-barang mewah untuk mengejar pengakuan dan penerimaan sosial, agar dipandang sebagai kaum kelas menengah atau kelas atas. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang selalu membeli hp keluaran terbaru, meskipun hp milik mereka sebelumnya masih bagus dan masih berfungsi dengan baik bahkan sesuai dengan kebutuhan mereka. Padahal ketika membeli hp keluaran terbaru mungkin mereka juga harus meminjam uang kepada yang lain dan belum tentu hp tersebut sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Namun ini tetap dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman, mendapat pengakuan dari sekitar serta keinginan untuk menunjukkan kelas sosialnya. Sekian terimakasih.

    Devi Retno Wulansari/1812511030

    ReplyDelete

  10. Selamat pagi pak, izinkan saya berkomentar, apabila terdapat kekeliruan mohon dikoreksi pak.
    Saya setuju dengan tulisan diatas yang menyatakan bahwa di era masyarakat konsumsi, individu berlomba lomba mengenakan beragam simbol untuk meningkatkan citra dirinya. Hal inilah yang menyebabkan sifat konsumtif itu sendiri. Say kerap kali melihat fenomena dimana individu berbondong- bondong membeli barang barang branded karena hal ini dianggap mampu menaikkan kelas sosial mereka dimana individu lain. Mereka tidak akan merasa puas sebelum memiliki barang- branded tersebut. Selain itu mereka juga akan memposting foto” ataupun video mereka disosial media dengan menggunakan barang- barang branded tersebut, dimana hal ini bagi mereka adalah upaya untuk memperoleh citra diri. Masyarakat kerap kali membeli barang hanya untuk mengejar pengakuan dan penerimaan sosial. Nah kebanyakan pula orang orang akan memaksakan dirinya mendapatkan barang- barang mewah padahal sebetulnya dari segi ekonomi kurang, sedangkan ia memaksakan dirinya, hal ini hanya untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

    Ni Kadek Suarningsih / 1812511037

    ReplyDelete
  11. Selamat pagi bapak, saya izin berpendapat jika ada kekeliruan mohon dibantu🙏
    Bagi Baudrillard bahasa lebih diartikan sebagai suatu sistem klasifikasi terhadap objek. Pada masyarakat konsumer “kebutuhan” ada karena diciptakan oleh objek konsumsi. Objek yang dimaksud adalah klasifikasi objek itu sendiri atau sistem objek, bukan objek itu sendiri sehingga konsumsi diartikan sebagai suatu tindakan sistematis pemanipulasian tanda-tanda (systemic act of manipulation of signs). Inovasi teknologi juga dapat membuat kelas sosial, dimana semakin canggih teknologi yang dimiliki makaakan semakin tinggi juga kelas sosialnya begitupu sebaliknya. Apa yang ditampilkan di media sosial pun dapat menjadikan citra seseorang menjadi tinggi ataupun rendah dalam lingkungannya terkait dengan merk apa yang digunakan, kendaraan yang dinaiki, tempat yang dikunjungi dan sejenisnya. Dengan demikian inovasi teknologi dapat menimbulkan perbedaan kelas yang menonjol antara si kaya dan si miskin (Teori Konflik).

    GitaGinanti/ 1812511035

    ReplyDelete
  12. Selamat pagi pak, izin menyampaikan komentar🙏

    Memang benar bahwa dalam kehidupan di era modern sekarang manusia dimudahkan dalam mengakses atau mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Tak heran juga banyak beredar informasi "sampah" atau sebenarnya itu bukanlah sebuah informasi (maka kejelihan dan kecerdasan masyarakat dalam memilah informasi sangat penting). Terkait film Nosedive yang bapak paparkan diatas saya setuju bahwa itu sangat relevan dengan kehidupan nyata kita sekarang. Dimana masyarakat seakan di paksa untuk mengkonsumsi informasi "sampah" dan saya pun merasakan bagaimana kini masyarakat gila akan "simbol" untuk menaikkan reputasi dirinya. Masyarakat pun kian konsumtif demi memenuhi kebutuhan akan "simbol" tersebut dan kemudian tak jarang berujung membawa kerugian bagi dirinya sendiri. Banyak saya temui di lingkungan sekitar saya, dimana orang-orang sampai rela meminjam uang demi "simbol" dan berujung terlilit hutang.
    Maka memang pikiran rasional sangat-sangat diperlukan berikut kecerdasan agar kita tidak terjebak dalam dunia modern dan tentu merugikan kita.
    Terimakasih🙏

    Santa Monika Manullang/1812511041

    ReplyDelete
  13. Selamat siang pak, terimakasih telah membuat artikel dengan membahas film yang bisa saya katakan sangat relate dengan kehidupan masyarakat saat ini. Mengenai pembahasan bapak terkait “simulakra” dari Jean Baudrilliard, saya sangat setuju bahwa setiap orang saat ini saling berlomba untuk mendapatkan validasi di sekelilingnya. Orang dipaksa untuk mengonsumsi informasi yang akhirnya memunculkan hiperkonsumsi. Saya teringat dengan penjelasan Fredric Jameson seorang teoritisi sosial postmodern moderat membahas bahwa permasalahan utama masa kini yaitu “hilangnya kemampuan kita untuk memposisikan diri di dalam ruang ini dan memetakannya secara kognigtif” saat kita masuk ke dalam peleburan dunia nyata dan tidak nyata ini mengakibatkan kita terjebak dengan kesusahan membedakannya sehingga akhirnya kita terjebak di dunia hiperrealitas. Sehingga, demi mencapai reputasi, setiap orang rela melanggengkan kepalsuan diri agar mendapatkan citra yang akhirnya menjerumuskan orang tersebut pada kesengsaraan diri.

    Terimakasih pak
    Komang Ayu Widyantari/1812511046

    ReplyDelete
  14. Sebelumnya, mohon ijin untuk berkomentar mengenai artikel diatas.
    Saya sependapat bahwa saat ini "simbol" menjadi hal yang penting. Bahkan, tubuh kita sendiri pun sesungguhnya adalah "simbol". Semua yang ada dalam tubuh yang meliputi pakaian, tas, perhiasan, dan sebagainya adalah "simbol". Adapun "simbol" tersebut juga merupakan bentuk interaksi individu kepada individu lain dan juga sebagai identitas individu tersebut. Pernyataan tersebut serupa dengan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead bahwa pada intinya manusia membentuk identitas dalam interaksi sosial, yang kemudian menghasilkan simbol. Serupa dengan uraian pada artikel diatas yaitu pada era masyarakat konsumsi, kemudian mereka menunjukkan interaksinya dengan berlomba-lomba menunjukkan simbol prestige.
    Sekian komentar dari saya. Mohon maaf apabila terdapat ketidaksesuaian kata. Terimakasih.

    (Ni Made Dwi Agustina/1812511048)

    ReplyDelete
  15. Selamat siang bapak Wahyu.
    Izin menyampaikan komentar terkait artikel berjudul " black mirror".

    Saya setuju dengan pendapat bapak tentang era masyarakat konsumsi dimana individu berlomba-lomba menggunakan symbol prestise untuk meningkatkan citra dirinya. Terkait pendapat tersebut bahwa symbol dimaknai sebagai sebuah sesuatu misalnya tanda, barang dan sebagainya yang mengandung makna tertentu.
    Misalnya pada masyarakat Indonesia khususnya anak muda, yang pada dasarnya lebih banyak mengkonsumsi simbol. Bagi mereka simbol tidak hanya dimaknai sebagai sesuatu yang memiliki makna tertentu, namun simbol dikonsumsi dengan tujuan adanya pengakuan dari simbol yang ia konsumsi.

    Sekian pendapat yang saya sampaikan.
    Maaf jika ada salah kata
    Terima kasih pak
    Nama: Pilipus Sijabat
    NIM: 1812511013

    ReplyDelete
  16. Selamat siang Pak, mohon izin memberikan pendapat terkait tulisan artikel diatas. Saya sepakat tentang apa yang diuraikan pada tulisan di atas mengenai serial film Black Mirror yang berjudul “Nosedive” yang dibedah dengan menggunakan pemikiran posmodern Jean Baudrillard di mana merepresentasikan kehidupan masyarakat sekarang. Seperti informasi yang tersedia di media-media online, istilahnya kebanjiran informasi yang diterima lewat penggunaan gawai yang saat ini sudah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Kemudian pemikiran berikutnya mengenai bagaimana seorang individu mengejar standar sosial masyarakat mengenai gaya pakaian yang cenderung mewah agar terlihat berkelas namun tidak sesuai dengan kehidupannya yang sebenarnya sehingga munculnya perilaku konsumtif pada masyarakat. Selanjutnya sepakat mengenai kematian karakter. Seseorang individu dengan terpaksa menutupi aib atau rasa yang sebenarnya yang ingin diungkapkan karena takut menjadi berbeda dari standar pada umumnya. Sekian pendapat yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika ada kesalahan. Terima kasih Pak

    Ni Kadek Noviar Grace Chandra Putri/ 1812511027

    ReplyDelete
  17. Terima kasih atas artikelnya pak, saya izin berkomentar
    Dari artikel tersebut saya setuju bahwa di era masyarakat konsumsi, individu akan terus berlomba-lomba mengenakan beragam simbol prestise untuk meningkatkan citra dirinya, seperti yang terlihat dimedia sosial, simbol prestise berupa barang2 mewah yang digunakan padahal barang tersebut mungkin masih nyicil. Keadaan tersebut yang terus menerus terjadi akan membuat masyarakat menjadi "masyarakat tontonan". Tetapi hal tersebut (menampilkan kesan berbeda dengen mengenakan beragam simbol prestise) menurut saya sah2 saja selagi tidak merugikan orang lain, disatu sisi orang yang mengenakan simbol prestise untuk meningkatkan citra dirinya dulunya mungkin tidak dihargai atau bahkan direndahkan, maka dari itu keadaan tersebut memaksa individu untuk berlomba lomba mengenakan simbol prestise tersebut.

    Ni Komang Ayu Indra Yanti
    1712511015

    ReplyDelete
  18. Mohon izin Pak untuk memberikan komentar. Penggambaran dalam film ini sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini di mana informasi sangat cepat dan banyak menyebar melalui gawai. Mengenai komentar Jean Baudrillard, "kita hidup di dunia di mana semakin banyak informasi, dan semakin berkurangnya makna" saya setuju sekali karena dengan masifnya informasi yang beredar, semakin berkurang makna dari informasi tersebut. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, orang mengakses berita yang beragam topiknya, namun jika ditanyakan mengenai makna dari berita tersebut, banyak orang yang tidak mengetahui makna dari berita yang dibaca karena seringkali saya menemui berita-berita yang beredar di pasaran mengusung judul berita yang "click-bait", bombastis dan saat saya membaca berita ternyata antara judul dengan isi bisa berbanding terbalik 180 derajat dan terkadang tidak ada berita seperti yang disampaikan pada judul berita. Berita yang beredar seakan hanya sebagai sampah yang hanya membutuhkan rating yang banyak namun tidak ada makna. Banyaknya berita seperti ini beredar di pasaran, maka masyarakat menjadi sekadar "pengonsumsi sampah" dan akhirnya kegiatan membaca berita tidak lagi untuk mendapatkan informasi yang sarat makna, tetapi hanya mencari rating semata.

    Diah Putu Laksmi Ayudhari / 1812511036

    ReplyDelete
  19. Selamat sore bapak, terima kasih untuk artikel yang sangat menarik ini, mohon izin untuk berkomentar, di era sekarang ini memang produksi informasi begitu masif terjadi hampir setiap saat adanya pembaruan informasi yang masuk ke dalam gawai kita, menurut saya hal ini berdampak positif sekaligus negatif pula, dimana dampak positifnya kita dapat dengan cepat dan mudah mengetahui informasi - informasi penting seperti informasi mengenai bencana alam misalnya, sedangkan dampak negatifnya seperti yang telah dijelaskan yaitu masyarakat menjadi hiperkonsumsi karena masyarakat dipaksa untuk mengkonsumsi informasi tersebut, selain itu derasnya informasi yang masuk juga membuat adanya kebingungan informasi yang terjadi dalam masyarakat serta banyaknya bertebaran informasi hoax di masyarakat.

    Mengenai pemikiran Baudrillard tentang simulakra, hal ini sangat mudah ditemui di era sekarang ini , seperti halnya para pablic figure, banyak dari mereka yang menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan dirinya hal ini ditujukan untuk memperoleh citra diri yang positif dari masyarakat guna mempertahankan popularitasnya didunia hiburan, tak jarang
    juga untuk memperoleh citra diri atau pengakuan para pablic figure berlomba-lomba menggunakan barang - barang mewah yang sebenarnya itu diluar dari kemampuannya yang pada akhirnya hal tersebut banyak membuat dari mereka terlibat kasus - kasus hukum seperti halnya melakukan penipuan hanya karena untuk mendapatkan pengakuan ataupun citra diri
    Sekian komentar dari saya pak, apabila ada kekeliruan mohon bimbingannya. Terima kasih.

    Ni Wayan Linda Sari (1812511018)

    ReplyDelete
  20. Selamat sore bapak, terimakasih atas artikel yang sangat menarik .
    Saya setuju bahwa di era masyarakat konsumsi, individu berlomba-lomba mengenakan beragam simbol prestise untuk meningkatkan citra dirinya dan itu adalah berbagai merek komoditas konsumtif terkenal.
    Yaitu melalui film ini, kita ditunjukkan dengan media sosial sebagai tatanan nilai baru di kehidupan sosial masyarakat.Contohnya saja, tak sedikit dari kita berlomba-lomba untuk memilih foto,filter, ataupun caption yang bagus dan menarik di posting di media sosial, itu hanya sebatas untuk mendapatkan respon (like dan komentar) yang banyak. Tak sedikit juga yang bolak-balik mengecek ke sosial medianya untuk melihat persentase respon dari sebuah postingan. Ada juga yang membandingkan postingan di sosial media nya dengan orang lain. Seakan-akan hal tersebut merupakan sebuah faktor utama kebahagiaan yang dimilikinya.
    Sekian pendapat dari saya, mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam penulisan kata. Terimakasih.

    Jani Arta Situmorang_1812511023

    ReplyDelete
  21. Izin memberi komentar pak. Ulasan film yang sangat menarik sehingga saya ingin menonton filmnya. Betapa mengetuk batin tentang bagaimana ketergantungan kita terhadap sosial media dan personal branding agar dapat penerimaan sosial dalam masyarakat. Saya rasa, bagaimana film ini membuat “skor sosial” dalam film, atau realitanya, standar sosial dalam masyarakat, tidak lepas dari era kapitalisme lanjut yang membentuk selera masyarakat dan mengatur agar komoditinya – yang sejujurnya tidak kita perlukan amat- menjadi hal yang begitu penting, terutama untuk gaya hidup. Hal ini saya rasa merupakan kejahatan dari kapitalisme lanjut dengan iming-iming citra diri yang keren, mapan, dan sebagainya. Untuk itulah pertukaan simbol dalam masyarakat tontonan ini saya kira tak pernah akan habis. Entah seperti ke depannya, karena kita hari ini sungguh adalah Lacie Pound.

    Ni Nyoman Galuh Sri Wedari / 1812511044s

    ReplyDelete
  22. Selamat sore pak, izin berkomentar
    Memang benar di zaman sekarang ini kita dihadirkan dengan berbagai informasi yang seharusnya tidak kita dapatkan.. kita juga hidup dimana kehidupan media sosial berbeda dengan kehidupan asli. Banyak orang berlomba” menampilkan hidup yg bahagia di media sosial namun dikehidupan asli atau dibelakang panggung tidak seindah di media. Makan, jalan” bahkan kehidupan pribadi (percintaan) dipublish ke media untuk diperharikan oleh orang lain. Memang seperti itulah kehidupn sekarang...


    Ni made melin sri wiguna (1812511011)

    ReplyDelete
  23. Selamat sore, pak. Izin berkomentar mengenai film tersebut yang sangat menarik, dimana manusia saat ini hidup dalam era Postmodern yang ditandai dengan masifnya informasi dibanding manufaktur, hal ini menyebabkan kita sebagai masyarakat tontonan dan semakin banyaknya sampah visual oleh informasi yang tidak memiliki makna. kemudian, seperti yang dijelaskan bahwa dalam film ini manusia ingin menaikan reputasi dirinya yang justru malah menyusahkan dirinya sendiri.

    Dony Ramadhan_1712511057

    ReplyDelete
  24. Selamat malam pak wahyu, izin berkomentar pak. Menurut saya teknologi Informasi kini menjadi barang “murah", mudah didapat. Internet seakan menjadi lautan informasi, yang mudah dicari dengan Google atau mesin pencari lain. Bahkan apa yang tersedia di internet kadang tak perlu dicari. Mereka datang sendiri melalui media sosial. Di Twitter, misalnya, saat kita mengikuti akun-akun media, otomatis kita akan melihat berita yang dibagikan, tak peduli kita mencari atau tidak, tak peduli kita suka atau tidak. Bahkan saat mengikuti akun pribadi pun, yang bukan bagian dari media (misalnya jurnalis), mereka juga sering menyebarkan berita baik secara langsung maupun me-retweet dari akun-akun berita.

    SYAEFUDDIN YUSUF DWIPUTRA 1812511010

    ReplyDelete
  25. Izin untuk berkomentar pak saya sangat setuju soal bagaimana manusia kehilangan karakternya demi mampu diterima dalam masyarakat. Sering kita rasakan atau jumpai bagimana banyak sekali momen dmn kita atau orang lain menyembunyikan sifat aslinya demi bisa diterima ataupun menutupi aibnya agar tak dipersekusi oleh masyarakat.

    menurut saya lingkungan cenderung memaksa individu untuk senantiasa menjaga topengnya demi mampu mempertahankan eksistensinya. Lama kelamaan topeng ini mengambil alih peran sebagai wajah utama dari seorang individu. Hal inilah yang kemudian menciptakan bias antara karakter mana yang merupakan diri asli dari seorang individu.

    I Wayan Baskara Agastya/1812511045

    ReplyDelete