“Setiap kita adalah Lacie Pound?”


Analisis Singkat Antologi Pertama Black Mirror: “Nosedive”



Wahyu Budi Nugroho
 Penikmat film
Kritikus film amatiran/medioker

Pemikiran posmodern Jean Baudrillard kiranya nyaris mampu menganalisis secara menyeluruh antologi pertama serial film Black Mirror yang berjudul “Nosedive”. Era posmodern ditandai dengan masifnya produksi informasi ketimbang manufaktur (benda), hal ini tampak dalam hampir setiap adegan film Nosedive di mana setiap orang dapat selalu menerima update informasi dari orang lain melalui gawai, bahkan untuk informasi-informasi yang tak penting sekalipun. Terkait hal ini, Baudrillard dalam The Ecstasy of Communication berkomentar, “We live in a world where there is more and more information, and less and less meaning” [“Kita hidup di dunia di mana semakin banyak informasi, dan semakin berkurangnya makna”—kurang-lebih terjemahan].

Berbagai informasi tak penting ini sesungguhnya menemui bentuknya sebagai “sampah visual” karena kita sebetulnya tak memerlukan informasi-informasi itu, namun dalam film ini, setiap orang terpaksa atau dipaksa untuk mengonsumsi informasi dengan harapan memperoleh umpan balik penilaian dari pemberi informasi yang kita nilai. Dengan kata lain, sesungguhnya orang-orang dalam film ini dipaksa untuk “mengonsumsi sampah”. Implikasi lanjutan dari hal tersebut adalah munculnya hiperkonsumsi atau “konsumsi tingkat tinggi”—konsumsi demi/untuk konsumsi—hal ini tampak jelas lewat setiap orang yang mengonsumsi informasi dimana pun dan kapan pun dengan prinsip resiprokal di mana gawai seolah-olah benar-benar tak bisa dilepaskan dari setiap aktivitas mereka.

Pemikiran Baudrillard berikutnya yang bisa digunakan untuk menganalisis film ini adalah tentang “simulakra” (simulacrum).[2] Simulakra yang mampu menghasilkan simulasi setidaknya tampak dari dua hal dalam film ini. Pertama, bagaimana setiap orang yang dimotivasi untuk mengejar reputasi lewat penilaian dari orang lain untuk menaikkan rankingnya, kemudian bertindak atau berperilaku dengan tak menjadi dirinya. Orang-orang ini menampilkan keramah-tamahan palsu, artifisial, tindak-tanduk serba manipulatif dan penuh rekayasa.[3]

Dalam konteks kehidupan sehari-hari saat ini, ranking atau reputasi itu adalah “simbol” yang digunakan individu. Di era masyarakat konsumsi, individu berlomba-lomba mengenakan beragam simbol prestise untuk meningkatkan citra dirinya, dan itu adalah berbagai merek komoditas konsumtif terkenal. Mereka—atau kita—membeli barang-barang mewah untuk mengejar pengakuan dan penerimaan sosial, agar dipandang sebagai kaum kelas menengah atau kelas atas, meskipun terkadang mereka sarat menyiksa diri untuk memperoleh barang-barang itu, semisal melalui kredit, hutang, dan lain sebagainya. Akibatnya, mereka tak lagi menjadi diri sendiri, mereka menipu diri lewat pertunjukkan palsu simbol-simbol demi kompetisi semu dengan individu lain atau sesamanya. Dari sini, timbullah “masyarakat tontonan” yang berprinsip pada pertukaran simbol sebelum interaksi terjadi. Sialnya, masyarakat tontonan bukanlah tujuan akhir, ia akan terus meluaskan skalanya hingga seluruh individu terjaring di dalamnya. Kedua, yakni bagaimana orang-orang dalam film ini terjebak pada simulasi itu sendiri, sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bagaimana gawai seolah tak bisa lepas dari setiap aktivitas mereka.[4]

Satu hal menarik lainnya yang perlu dicatat dalam film ini adalah bagaimana agresi individu ditekan sedemikian rupa hingga melampaui batas kewajaran untuk menciptakan “masyarakat yang beradab”. Hal ini menyebabkan setiap individu berupaya menyembunyikan rapat-rapat aib, dan sekeras mungkin menghindarinya. Padahal, aib yang dimiliki individu tak bisa membuat kita segera menilainya salah atau abnormal, karena aib muncul dari berbagai situasi dan kondisi; perspektiflah yang paling menentukan soal ini. Begitupun, setiap orang pasti, dan akan berhadapan dengan aib, sebagaimana ungkap Jacques Lacan: “Setiap manusia akan mengalami dua kematian dalam hidupnya; kematian biologis, dan kematian karakter”.

Di samping pemikiran posmodernitas Baudrillard, terdapat pula berbagai pemikiran sosial-humaniora lain yang bisa digunakan untuk membedah film ini. Lebih jauh, lihat tabel di bawah ini.

Adegan/Kasus
Teori/Pemikiran
Tokoh
Individu yang dinilai orang lain
Eksistensialisme
Jean Paul Sartre
Aib individu
Dramaturgi
Erving Goffman
Keramah-tamahan artifisial
Biopower
Antonio Negri dan Michael Hardt
Individu yang selalu dikontrol dan diawasi pihak lain
Panoptikon
Michel Foucault

Masyarakat kontrol
Gilles Deleuze dan Felix Guattari
Individu yang saling menonton satu sama lain
Masyarakat tontonan
Guy Debord
Era informasi dan percepatan dunia sosial
Dromologi
Paul Virilio
Birokratisasi kehidupan
Tindakan rasional-komunikatif
Jurgen Habermas
Kooptasi teknologi atas manusia
Posthuman
Robert Pepperell
Teknologi pengganti indera manusia
Post-Phenomenology
Don Ihde


*****




[2] Simulakra adalah instrumen, media, atau segala sesuatu yang bisa membiaskan kenyataan serta merubah hal konkret menjadi abstrak, dan begitu pula sebaliknya. Menurut Baudrillard, simulakra mewujud dalam tiga hal, yaitu citra atau visual, teks, dan peristiwa.
[3] Kita juga bisa mencurigai hal ini pada pegawai minimarket atau mereka yang bekerja di sektor industri jasa. Istilah “manusia-bukan-manusia” bisa digunakan untuk fenomena ini.
[4] Contoh lain adalah orang-orang yang kecanduan game, sinetron, atau drama Korea.

0 Comments