"Orang-orang yang takut bahagia"


“Orang-orang yang takut bahagia”
Gejala Biologis, Agamis, dan Klinis
 
[Munch Scream by Edvard Munch]

Wahyu Budi Nugroho
Pegiat Sanglah Institute

Biologis
Ketika para prajurit diberi makanan enak dan “mahal” seperti steak, kaviar, atau lain sejenisnya, mereka justru tidak bahagia. Ini artinya, besok mereka harus terjun ke medan perang. Ketidakbahagiaan yang seperti ini masih menjadi wajar karena di baliknya mereka mengetahui ada ketidakbahagiaan jauh lebih besar yang menanti di balik kebahagiaan itu. Maka, menjadi tidak bahagia adalah lebih logis dan masuk akal ketimbang menjadi bahagia. Kita pun bisa mempertanyakan, ketika para prajurit NAZI lantang menyanyikan “Erika” saat berbaris menuju medan perang, apakah mereka benar-benar bahagia?

Agamis
Tetapi, ada penyangkalan terhadap kebahagiaan yang pada batas-batas tertentu menjadi sangat absurd dan aneh. Penyangkalan ini ditunjukkan oleh kaum askestis dan puritan agamis di mana keduanya saling berhubungan. Kaum askestis bersikap antiduniawi, dan memiliki pantangan-pantangan tertentu terhadap hal-hal berbau keduniawian. Mereka bersikap hati-hati dan cenderung menghindari kebahagiaan atau kenikmatan. Berkelindan dengan itu, kaum puritan berupaya mengembalikan praktek-praktek agamis sebagaimana awal-nya. Hal ini tak hanya tampak lewat upaya mereka meniru keseharian hidup orang-orang terdahulu, tetapi juga persetujuan mereka untuk menerapkan hukum-hukum terdahulu di era sekarang; pencuri dipotong tangan, pezina dirajam, pembunuh balas dibunuh, dan lain sebagainya.

Dalam batas yang paling ekstrim, kaum askestis tak hanya mencurigai kebahagiaan, tetapi justru cenderung menyengsarakan dirinya, membuat hidupnya tak bahagia, bahkan dengan sengaja melukai dirinya sendiri. Kita bisa melihat ini lewat sosok Silas dalam The Da Vinci Code. Ia tak segan mencambuki dirinya sendiri hingga berdarah-darah ketika merasa berdosa, atau kurang maksimal dalam menjalankan tugas yang diberikan Tuhan (baca: Gereja).

Boleh jadi, contoh askestisme sekaligus puritanisme terkonkrit kita temui dalam laku para santo di awal kekristenan. Sebagai misal, bagaimana Santo Paulus dan Santo Antonius yang memilih hidup menyendiri di padang gurun, atau  Santo Simeon yang selama 47 tahun hidup di atas sebuah pilar. Terkhusus Santo Simeon, ada satu riwayat yang masih membuat saya gemetar kala mengingatnya. Ketika tangan kiri Santo Simeon dipenuhi belatung, dan sesekali belatung itu jatuh, Santo Simeon justru mengembalikan belatung-belatung itu ke tangannya sambil berkata, “Makanlah apa yang diberikan Tuhan kepadamu”. Apa yang ditunjukkan para orang suci ini tak hanya mengabdikan hidupnya untuk berdoa, tetapi juga mengikuti segenap kesengsaraan dan penderitaan Yesus. Itulah mengapa, dalam tafsir yang paling konservatif, kebahagiaan bisa berkorelasi langsung dengan “dosa”, ihwal yang paling harus dihindari dan dimusuhi.

Klinis
Di samping kasus (ancaman) biologis dan agamis di atas, terdapat pula orang-orang yang takut bahagia dikarenakan persoalan klinis. Persoalan atau kasus klinis yang dimaksudkan di sini berada dalam ranah psikologi klinis, yakni berkaitan dengan gangguan kejiwaan dan perilaku abnormal lainnya. Umumnya, mereka yang takut bahagia dikarenakan persoalan ini adalah orang-orang yang pernah mengalami kekecewaan dan kesedihan yang teramat-sangat-dalam di hidupnya. Setelahnya, mereka akan melihat kebahagiaan dengan penuh prasangka dan kecurigaan. Mereka berpikir jika kebahagiaan adalah “jebakan” akan kesedihan yang lebih mendalam setelahnya, dan ini hanya akan memperparah luka.

Ada semacam kegelisahan yang terus menyelimuti orang-orang seperti ini, bahkan sebagian dari mereka terjebak pada pemikiran fatalistik: seolah hidup mereka memang ditakdirkan untuk menderita. Dengan begitu, mereka akan melihat kebahagiaan sebagai bentuk “penyimpangan”, atau sesuatu yang seharusnya tak mereka dapatkan atau rasakan. Motivasi penyangkalan pada kebahagiaan dalam kasus ini sangat jelas, yakni untuk mengantisipasi kesedihan yang kian mendalam nantinya. Orang-orang seperti ini seakan bisa melihat masa depannya dengan pasti, dan seringkali bagi mereka, masa depan menjadi lebih menakutkan ketimbang masa lalu.

Inilah yang menyebabkan mereka bertahan, dan tanpa sadar “menjaga” penderitaannya. Keengganan untuk menerima kebahagiaan dan menjaga penderitaan itulah yang menjadi mekanisme alam bawah sadar mereka untuk terus melindungi diri, yakni dari kesedihan dan kekecewaan yang lebih akut di kemudian hari. Orang-orang seperti ini biasanya melakukan perbuatan tanpa harapan, karena bagi mereka, harapan adalah sesuatu yang berbahaya. Mereka betul-betul kehilangan dimensi eksistensialnya sebagai manusia yang seyogiyanya bebas memilih dan menciptakan. Jika hidup sudah seperti ini, apakah pantas untuk tetap dijalani?


*****

0 Comments