TEMBUS


TEMBUS*
 
[Ilustrasi: popsugar.com]
Wahyu Budi Nugroho
Pegiat Sanglah Institute

Aku tahu cara mereka mengakaliku. Mereka akan membuatku susah tidur, memikirkan hal-hal yang tak penting atau apalah, membuatku berpikir tentang sesuatu yang sebetulnya tak perlu dipikirkan dan semacamnya. Terkadang, jika aku tak waspada, mereka berhasil membuatku sedikit was-was. Karena aku tak bisa tidur, maka aku memikirkan jantungku kalau-kalau ia berdetak tak berirama, atau berdebar, dan memang, itu pernah kualami.

Dari situ, mereka akan menggiringku untuk bermasturbasi. Kenapa? Ya, karena aku tak bisa tidur dan aku perlu rileks. Masturbasi akan membuang energiku, membuatku lemas, sehingga aku ngantuk dan akhirnya bisa tidur.

Padahal, selepas Isya aku sudah membaca Ayat Kursi. Kata nabi, barangsiapa membacanya setelah sholat akan selalu berada dalam lindungan-Nya hingga masuk waktu sholat berikutnya. Di sinilah kelengahanku, mereka membuatku berhadas besar, junub, tak lagi suci, sehingga aku bisa ditembus.

Dimulailah mimpi-mimpi tak karuan itu, tiga orang terdekatku mati semua. Tentu, ini adalah ancaman dari mereka. Satu temanku dicaplok ular anakonda besar, besaaar sekali! Dan memang, dalam mimpiku ada dua ular besar. Satu si anakonda itu, dan satunya lagi kobra raksasa berkepala empat. Dua teman dekatku lainnya mati tertimpa reruntuhan bangunan akibat kibasan ekor ular-ular besar itu di pinggir kolam renang, sedangkan aku berhasil menyelamatkan diri dan menjadi linglung: apa yang harus kukatakan pada orangtua mereka? Teman-temanku hilang begitu saja, menurut keterangan yang kudapat, jasad mereka tak ditemukan semua; sama sekali tak bersisa, tak ada jejak.

Kelinglungan itulah yang membuatku bangun, dan meyakinkanku betapa semua ini adalah ulah mereka. Keberadaan ular dalam mimpi jelas-jelas adalah gangguan jin! Setelah mimpi seram itu, aku berjanji tak akan pernah lagi bermasturbasi meskipun tak bisa tidur. Bagaimana tidak, kondisi hadas besar itulah yang membuatku bisa ditembus.

“Oh, jadi kamu menganggap semua itu adalah ulah jin?”
“Iya, siapa lagi?!” balasku berupaya meyakinkannya.
“Kamu tahu— “ ia langsung menimpali. “—justru seharusnya kamu bersyukur karena bisa bermimpi buruk,”
“Heh, bagaimana bisa?!”
“Mimpi buruk adalah mekanisme alam bawah sadar kita untuk membersihkan dirinya. Seperti sistem defrag dalam komputer yang menata ulang file-file, menyusun ulang yang renggang, membuang residu-residu file yang tak diperlukan lagi. Singkatnya, dalam psikologi mimpi, itu adalah cara pikiran dan jiwa menjaga kesehatan dirinya: menjagamu tetap waras.”

Penjelasannya menarik juga. Ia berupaya menerangkan pengalamanku secara rasional. Ia pun kembali melanjutkan: “Ampas-ampas kotoran dalam pikiranmu dibuang lewat mimpi buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, kamu mengalami stres, tekanan, emosi yang tak stabil entah karena pekerjaan atau hubunganmu dengan orang-orang; tapi seringkali juga, kamu tak sadar: tak menyadari stres itu. Nah, di situlah tugas mimpi buruk untuk membuang ampas-ampas, residu-residu.”
“Benarkah seperti itu?”
“Ya, oleh karenanya, kamu justru harus bersyukur bisa mimpi buruk, ia menyelamatkan kesehatan jiwamu. Semenjak disiplin psikologi telah sampai pada pencapaian-pencapaian yang mengesankan, semuanya bisa ditafsirkan. Catat ini, termasuk segala bentuk mimpi dan beragam cerita di dalamnya! Mimpi buruk adalah ekstrak dari pengalaman-pengalaman stresmu di kehidupan nyata yang dibuang,”
“Hei, aku tertarik belajar soal ini,”
“Bisa. Untuk permulaan, aku bisa meminjamimu ‘tafsir mimpi’ dari Freud”. Tentu, aku sangat antusias mendengar tawarannya, aku tak sabar ingin membaca buku yang disebutnya barusan. “Jadi, mimpi buruk bukanlah tanda Tuhan tak melindungimu, justru sebaliknya: itu karena Ia menyayangimu!”

“Tapi...,” lanjutnya. Aku tak rela jika ini dijelaskan lain waktu.
“Tapi apa?!” rongrongku padanya.
“Jika kamu terlalu sering bermimpi buruk, hampir setiap malam bahkan, maka itu buruk juga. Terlalu sering mimpi buruk juga bisa membuatmu gila, ‘mengalami gangguan jiwa’ maksudku,”
“Oh...,” aku cuma terbengong.
“Terlalu sering mimpi buruk menandakan tingkat stresmu di level yang sangat menghawatirkan. Pikiran dan jiwamu jelas sangat tak sehat: terlalu banyak ampas kotoran. Jika sudah seperti ini, kamu wajib menemui psikiater,”

           Itulah percakapan yang mengawali kepakaranku di bidang mimpi. Aku memperoleh Ph.D dari Sigmund Freud University (SFU) of Vienna, dengan desertasi mengenai lucid dream, yakni bagaimana kita bisa memiliki kesadaran penuh saat bermimpi, bahkan bisa merancang dan mengontrol mimpi kita. Aku sudah membantu banyak orang terkenal dunia, mengajari mereka cara mengendalikan mimpinya, dari artis sampai politisi, bahkan juga presiden. Mereka yang tercatat pernah menjadi pasienku, antara lain; Ariana Grande, Lady Gaga, Oprah Winfrey, Donald Trump, Vladimir Putin, Fadli Zon, Tsamara Amany, juga Lucinta Luna.

        Beberapa tahun kemudian, aku kembali menemui sosok yang paling berjasa dalam karirku, ia yang memperkenalkanku pada kajian ilmiah mimpi, ia yang menafsirkan mimpi ular-ular raksasaku tiga puluh tahun silam. Saat itu, aku sedang melakukan penelitian tentang sleep paralysis, kau tahulah apa itu, ketika kau sedang tidur namun memiliki kesadaran penuh; bisa melihat dan mengetahui apa yang terjadi di sekelilingmu, tapi kau sama sekali tak bisa berteriak atau bergerak! Masyarakat kita sering menyebutnya “tindihan”.

Kutanyakan lah pendapatnya soal ini.

          “Jadi, bagaimana menurutmu? Sleep paralysis ini, kenapa bisa begitu?”
          “Ya, jelas ... itu karena aliran darah tak normal. Aliran darah tak lancar karena ada bagian tubuh yang tertimpa sesuatu— “ tapi jawabannya kemudian membuatku tercengang: “—akibat tertindih makhluk halus”.

            Aku hancur.


*****




* Tulisan buat Bagus Ardiansyah.

0 Comments