Di Belayu, Tuhan begitu Dekat


Di Belayu, Tuhan begitu Dekat



Angga Wijaya
Pegiat Sanglah Institute

Taman Bermain

Anak-anak lahir dari rahim ibu
penuhi dunia yang kian sempit
Obsesi dan keinginan belum usai
itu sebab kelahiran kembali

Ruang bermain kini hilang
anak-anak dibesarkan televisi
juga gawai membelai mesra
dewasa sebelum waktunya
Berterbangan, jadi kupu-kupu
keluar dari layar ponsel pintar
menjelma bunga semerbak
kumbang datang isap madu

Tubuh berpeluh gemuruh
masa muda yang gembira
Petualang lupa jalan pulang
tersesat di labirin mall dan
hotel, demi uang dan ambisi
Tangisi hari berlari, tinggalkan
kenangan dan mimpi buruk

Bermainlah hingga bosan
dunia ini taman bermain
surga-neraka ada di sini
tinggal kau pilih jalan
mana kau tempuh

2018





Di Belayu, Tuhan begitu Dekat

Aku terkesima
melihat upacara
Pujawali di Pura
Ida Bhatara
kelilingi desa
sucikan bhuana
‘nuju harmoni

Tuhan begitu dekat
lekat di ingatan
Orang-orang
sembahyang
khusyuk
kudus
jalani titah
leluhur

Di Belayu
alam menyatu
di urat nadi
hidupi diri
Doa
terpatri
gema genta
suara hati
terkenang
masa lalu
tak ada
sembilu
luruh
dalam
Tuhan!

2018





OBEROI

Di sini, aku menunggu
Tak lelah. Cinta selalu
memberi bukan meminta

Tibalah saat itu; kau
memeluk-menciumku
bisikkan kata mesra
tak pernah usai
Waktu berjalan
kita masih setia
seperti dulu
terpisah jarak

Kini bersama
merajut hasrat
di mana bahagia
kutemukan jua
pada senyummu
Cinta sederhana
seperti nyanyian
kudengar sendu
di kamar kita
senja sehabis
hujan.

2018





Percakapan Malam

Lalu kita pun semakin lupa
bahwa hidup begitu nyata
bukan pada gawai, tak usai
kita mainkan hingga mata
terpejam di malam hari

Hidup sebuah permainan,
maka mainkanlah!
Perjalanan abadi, seperti
lingkaran tak berujung
sandiwara tanpa naskah
Tuhan adalah saksi
kita hanya pemain
layar diturunkan
peran lain menanti
di cerita berbeda

Tuangkan gelisahmu
tulislah puisi abadi
agar luka tak lagi
menganga. Tulis
derita kesedihan
terbaca di mata
--Masa lalu!

2018

0 Comments