Imajinasi Radikal
[Gambar: Reformasi 1998]
Imajinasi radikal merupakan istilah yang banyak digunakan, namun tidak dieksplorasi secara mendalam oleh para pemikir sosial-humaniora. Istilah ini membangkitkan gagasan tentang kapasitas untuk berpikir secara kritis, refleksif, dan inovatif mengenai dunia sosial, namun pada saat yang sama tidak mudah untuk didefinisikan secara lugas. Bagi sebagian orang, pandangan negatif terhadap kondisi saat ini, serta proyeksi di masa depan, menjadi pendorong emosional dan moral untuk terlibat dalam gerakan sosial.
Demikian pula, visi positif mengenai masa depan berperan penting dalam mempertahankan motivasi melalui imajinasi kolektif tentang alternatif masa depan yang lebih baik, yang berakar pada pengalaman serta praktik pengorganisasian (Haiven dan Khasnabish 2014).
Khasnabish dan Haiven (2015) menelurkan konsep “Imajinasi Radikal” untuk mengonseptualisasikan cara-cara di mana praktik aktivisme dimungkinkan dan dibatasi oleh kemampuan para aktivis untuk membayangkan alternatif dalam menata dunia, masyarakat, serta organisasi mereka sendiri. Salah satu cara para aktivis mempertahankan keterlibatan dalam gerakan sosial adalah dengan berbagi visi alternatif mengenai masa depan, yang berakar dan dibangun melalui praktik-praktik masa kini (Khasnabish dan Haiven 2015).
Proses ini dikonseptualisasikan oleh Haiven dan Khasnabish (2014) sebagai keterlibatan dengan “imajinasi radikal”: kemampuan untuk membayangkan dunia, kehidupan, dan institusi sosial bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana mungkin dapat menjadi berbeda; membangun solidaritas lintas batas dan sekat; serta menciptakan bersama orang-orang di sekitar kita berbagai lanskap imajiner yang berlapis, saling tumpang tindih, kontradiktif, dan hidup berdampingan, atas dasar pemahaman kolektif.
Khasnabish dan Haiven (2010) mencatat bahwa imajinasi mencakup refleksi atas “apa yang ada”, “apa yang pernah ada”, dan semuanya mengarah pada spekulasi tentang “apa yang mungkin ada”. Mereka menekankan bahwa imajinasi berkaitan dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang lain, dan yang terpenting, menciptakan sesuatu tersebut secara bersama-sama—yang pada gilirannya menumbuhkan harapan. Berbagai gerakan di masa lalu berupaya menggunakan imajinasi radikal sebagai alat kolektif untuk menginspirasi solidaritas di antara para anggotanya, sekaligus berharap membawa perubahan dalam kesadaran kolektif masyarakat.
Jenis perubahan ini penting dan diperlukan karena sering kali kita terjebak dalam narasi-narasi yang telah mengakar kuat dalam masyarakat. Imajinasi radikal, sebaliknya, dapat membuka jalan untuk mengubah narasi tersebut dengan menginspirasi seperangkat keyakinan serta kemungkinan yang berbeda.
Haiven dan Khasnabish (2010) menegaskan bahwa imajinasi—dan proses memikirkan apa yang mungkin—sangat bergantung pada posisi sosial seseorang pada suatu waktu tertentu. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa politik imajinasi tidak dapat menjadi alternatif tunggal yang berlaku bagi semua terhadap tatanan yang ada; sebaliknya, ia harus bersifat cair serta mampu menjembatani berbagai imajinasi secara transversal untuk “menciptakan imajiner bersama tentang bagaimana dunia dapat menjadi.”
Dengan demikian, proses keterlibatan dengan “imajinasi radikal” bukan sekadar utopis, melainkan berlandaskan pada pemeriksaan kritis serta berpijak pada praktik material yang bersifat kontingen (Khasnabish dan Haiven, 2015). Berdasarkan definisi ini, imajinasi radikal bergantung sekaligus responsif terhadap kondisi material, yang dapat berfungsi baik membatasi maupun memfasilitasi apa yang dianggap mungkin.
Gerakan sosial dapat dipahami sebagai perwujudan kolektif dari imajinasi radikal: ia dihimpun oleh individu-individu yang berbagi pemahaman tertentu mengenai dunia dalam pengertian radikal—yakni melihat persoalan yang mereka hadapi sebagai berakar dalam institusi sosial yang mendalam dan, yang terpenting, meyakini bahwa institusi-institusi tersebut dapat dan harus diubah. Hal ini terwujud melalui aksi protes, kampanye politik, dan pengorganisasian komunitas pada masa kini (Khasnabish dan Haiven 2015).
Pengorganisasian tindakan dengan cara ini membentuk bagian dari “praxis of prefiguration” (praksis prakonfigurasi), yakni tindakan politik yang membangun alternatif di dalam struktur menyeluruh yang hendak diubah oleh gerakan sosial (Khasnabish dan Haiven 2012). Meskipun gerakan sosial dapat memiliki banyak bentuk dan karakter, salah satu aspek dari seluruh manifestasi tersebut adalah pengembangan (terkadang disengaja, terkadang insidental) arena imajiner bersama.
Namun, pengembangan ini merupakan proses aktif, bukan keadaan yang statis. Di sisi lain, secara sengaja maupun tidak, gerakan sosial juga menjadi zona atau ruang reproduksi sosial alternatif bagi para partisipannya. Ia menjadi ruang pembentukan identitas, persahabatan, makna, kepedulian, dan kemungkinan—meskipun, sebagaimana akan kita lihat, ruang-ruang ini tidak pernah sepenuhnya menjadi utopia yang bebas nilai dan kepentingan.
Referensi
- Haiven, M., & Khasnabish, A. (2010). What is the radical imagination? A special issue. Affinities: A Journal of Radical Theory, Culture, and Action.
- Khasnabish, A., & Haiven, M. (2012). Convoking the radical imagination: Social movement research, dialogic methodologies, and scholarly vocations. Cultural Studies ↔ Critical Methodologies, 12(5), 408–421.
- Khasnabish, A., & Haiven, M. (2015). Outside but along-side: Stumbling with social movements as academic activists. Studies in Social Justice, 9(1), 18–33.
- Khasnabish, D. A., & Haiven, M. (2014). The radical imagination: Social movement research in the age of austerity. Bloomsbury Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar