Full width home advertisement

Artikel Utama

Co-Pegiat

Post Page Advertisement [Top]

Media sebagai Aparatus Afektif

Media sebagai Aparatus Afektif
Media sebagai Aparatus Afektif

Media sebagai Aparatus Afektif

M. Zaenal Arifin
Direktur Sanglah Institute & Peneliti di Amsterdam School for Cultural Analysis
Ilustrasi Sirkuit Digital dan Afeksi

Sumber gambar: theweek.com

Perspektif 'Affective Turn' dalam Operasi Media dan Infrastruktur Emosi

Affective turn (peralihan ke ranah afeksi) mengacu pada sebuah pergeseran dalam teori sosial dan studi budaya dari fokus utama pada bahasa, wacana, dan representasi menuju afek sebagai kunci untuk memahami kekuasaan, politik, dan subjektivitas (Clough, 2007). Pergeseran ini memungkinkan peninjauan ulang mengenai bagaimana media (baik analog maupun digital) beroperasi tidak semata sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai infrastruktur afektif yang memodulasi emosi dan respons kebertubuhan (embodied responses) (Nikunen, 2019). Dalam perspektif ini, teori afek memungkinkan penelaahan terhadap proses afektif dalam merespon, memodifikasi, dan memaknai konten media yang disajikan.

Para pemikir berupaya memahami konsep afek. Brian Massumi (2022, 27) menjelaskan afek sebagai intensitas pra-personal yang berkaitan dengan peralihan dari satu keadaan pengalaman tubuh ke keadaan lainnya, yang menyiratkan peningkatan atau penurunan kapasitas tubuh tersebut untuk bertindak. Afek mendahului emosi, kesadaran dan pemaknaan—sebagai kapasitas tubuh untuk memengaruhi dan dipengaruhi—yang beroperasi secara otonom dari bahasa, kognisi, atau pelabelan subjektif.

"Sara Ahmed (2004, 5) memberikan pandangan khusus, bahwa afek tidak berada dalam objek atau tanda, melainkan merupakan efek dari sirkulasi antara tubuh, objek, dan tanda yang membentuk relasi sosial."

Afek atau emosi “melekat” pada objek dan figur tertentu, sehingga menghasilkan orientasi kolektif dan dampak politis. Ahmed (2004) berpendapat bahwa emosi melekat pada gagasan dan tubuh ketika emosi bersirkulasi dan mengakumulasi makna melalui repetisi dan asosiasi, yang kemudian menjadi proses penguatan diri (self-reinforcing) dalam mendorong keterlibatan yang lebih besar serta perluasan wacana (Djerf-Pierre, 2012).

Kemudian, bagaimana media menjadi aparatus afektif? Konsep aparatus (dispositif) yang ditelurkan oleh Michel Foucault memberikan jembatan untuk memahami proses tersebut. Foucault (1984, 194) mendefinisikannya konsep aparatus sebagai “suatu himpunan yang sangat heterogen yang terdiri atas wacana, institusi, bentuk arsitektural, keputusan regulatif, hukum, langkah-langkah administratif, pernyataan ilmiah, proposisi filosofis, moral, dan filantropis […] Aparatus itu sendiri adalah sistem relasi yang dapat dibangun di antara elemen-elemen tersebut”. Dalam pandangan ini, aparatus merupakan suatu mekanisme yang dirancang untuk merespons kebutuhan atau keadaan yang muncul.

Berangkat dari landasan tersebut, Ben Anderson (2017) memperluas konsep aparatus ke dalam ranah afek dengan menelaah proses pengorganisasian struktur afektif serta praktik atau bentuk keterlibatan baru dalam proses mediasi. Ia menekankan bahwa “aparatus menghasilkan versi-versi spesifik tentang apa itu afek, emosi, dan modalitas lainnya serta bagaimana semuanya berfungsi” (Anderson, 2017, 33). Dalam pengertian ini, emosi individu dapat dimobilisasi untuk tujuan kolektif (Ahmed, 2004; Ip & Fan, 2024). Untuk memobilisasi emosi individu dan kolektif, afek harus disalurkan melalui bentuk atau struktur konkret yang mampu mentransmisikan dan mempertahankannya dalam kehidupan sehari-hari.

Anderson (2017, 22) menyebutnya sebagai ‘object-targets for action’; dalam pengertian ini, media sebagai aparatus afektif berorientasi pada upaya membangkitkan isyarat emosional baik pada individu maupun komunitas. Papacharissi (2014, 22) menekankan bahwa “media mampu mempertahankan dan mentransmisikan afek, dengan mendorong pembentukan emosi, pikiran, sikap, dan perilaku lebih lanjut.” Dengan demikian, afek tidak hanya diteoretisasikan dalam kaitannya dengan tubuh manusia, tetapi juga dalam relasinya dengan teknologi (Clough, 2007).

Dalam konteks ini, media berfungsi sebagai sarana di mana afek diproduksi, dinegosiasikan, dan diapropriasi. Media dapat dipahami sebagai bagian dari jaringan dispositif yang lebih luas—meliputi wacana, tubuh, objek, dan praktik yang mengorganisasi kehidupan melalui afek. Sebagai aparatus afektif, media memungkinkan kita melihat afek memproduksi kapasitas kebertubuhan afektif yang melampaui batasan organik-fisiologis tubuh (Clough, 2007). Media menghimpun pembaca, pendengar, dan penonton dan membangkitkan emosi mereka melalui keterlibatan terhadap isu-isu tertentu. Dengan menempatkan media sebagai aparatus afektif, pendekatan ini juga mengidentifikasi jaringan artikulator afek lainnya yang memediasi aliran afektif serta menghasilkan apa yang oleh Papacharissi (2014) disebut sebagai 'affective publics' (publik afektif), yakni kolektivitas yang terbentuk dan dipertahankan melalui orientasi emosional bersama.

Interaksi antara afek dan emosi relevan untuk memahami bagaimana media berfungsi sebagai aparatus afektif. Afek selalu dimediasi karena bergantung pada pengaturan afektif yang mentransmisi makna (Gruisbourne & Schulz, 2025). Media memediasi isu dengan menghubungkan emosi dan tindakan kebertubuhan. Media sebagai aparatus afektif mengeksplorasi cara manusia—pengguna media—merasakan dan mengalami keterlibatan sebagai bagian dari suatu isu di dalam dan melalui penggunaan media.

Praktik afektif tersebut membentuk konsep 'ongoingness' (keberlanjutan) dalam kehidupan sehari-hari yang berakar pada kondisi kebertubuhan, sosial-budaya, dan sejarah kita (Wetherell, 2012). Dalam pengertian yang sama, “respons afektif kita […] ditentukan oleh memori emosional yang kita peroleh dari pengalaman sebelumnya (baik nyata maupun imajiner)” (Weik von Mossner, 2017, 24). Dengan demikian, keterhubungan kita dengan sistem kepercayaan tertentu serta konteks sosio-budaya, politik, ekonomi, dan agama membentuk cara memori emosional terbentuk, dipanggil kembali, dan diaktifkan ulang. Unsur-unsur ini berfungsi sebagai kerangka interpretatif yang menyaring pesan-pesan afektif dari media, sehingga memungkinkan individu memaknai dan terlibat secara emosional dengan isu-isu yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi & Daftar Pustaka
  • Ahmed, S. (2004). Affective Economies. Social Text, 22(2), 117–139.
  • Anderson, B. (2017). Encountering affect: Capacities, apparatuses, conditions. Routledge.
  • Clough, P. T. (2007). Introduction. In P. T. Clough & J. Halley (Eds.), The Affective Turn: Theorizing the Social (pp. 1–33). Duke University Press.
  • Djerf-Pierre, M. (2012). When attention drives attention: Issue dynamics in environmental news reporting over five decades. European Journal of Communication, 27(3), 291–304.
  • Foucault, M. (1980). Selected interviews and other writings 1972- 1977 (C. Gordon, Ed.). New York: Pantheon Books.
  • Gruisbourne, B. de, & Schulz, C. (2025). A hybrid media system of care: Cancer diaries and social media. In Audiovisual Healing and Reparation. Routledge.
  • Ip, P. T. T., & Fan, C. (2024). Reinventing Fashion as an Affective Apparatus by China’s Youth: Bilibili, Danmaku Commentaries, and the Online Hanfu Ceremony During the COVID-19 Outbreak. Emerging Media, 2(1), 109–133.
  • Konijn, E. A. (2015). Affects and Media Exposure. In The International Encyclopedia of Communication (pp. 1–8). John Wiley & Sons, Ltd.
  • Massumi, B. (2002). Parables for the Virtual: Movement, Affect, Sensation. Duke University Press.
  • Nikunen, K. (2019). Media, emotions and affect. Media and Society, 323–340.
  • Papacharissi, Z. (2014). Affective publics: Sentiment, technology, and politics. Oxford University Press.
  • Weik von Mossner, A. (2017). Affective ecologies: Empathy, emotion, and environmental narrative. The Ohio State University Press.
  • Wetherell, M. (2012). Affect and emotion: A new social science understanding. SAGE Publications Ltd.
© 2026 - Sanglah Institute

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]