Antologi Digital v1.0
Pengaduan
Puan
Ceta dan Cerita seorang Keponakan
Pengaduan
Pak saya ingin mengadu
kolam yang dulu berairi susu kini telah dangkal dan hitam
pak saya ingin mengadu
anak kurus tetap saja tak bersekolah
sudah besar mau kerja apa
pak saya ingin mengadu terakhir kalinya
apakah bapak tidak bosan menerima pengaduan ini
pengaduan yang telah menjadi nisan harapan
tentang harga ke manusia masih murah
saya tak ingin menuduh
saya hanya ingin cerita kakek nenek saya
tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi itu nyata
bukan pengiring tidur, bukan cerita bohong
selagi bapak belum tua seperti pendahulunya
tolong di kerjakan dan kerja ya pak
tentang pengaduan ini
— 09.01.2019
Tanah Retak
Suatu negeri yang menyombongkan kejayaan tanah surga masa lampau
Bangga dengan tongkat kayu yang dapat ditanam
Surya pun enggan meninggalkannya
Tentang emas yang tumbuh dari bunga rumput
Sebuah negeri yang kini berada di bumi
Tanah yang di cari dari seberang benua
Berlomba untuk menjadi penguasanya
Belum selesai hingga kini
Sebagai negeri yang kaya
Air meluap hingga menghayutkan bangunan
Api yang menjalar melahap semua hutan
Angin yang memutar mengangkat genteng
Tanah yang bergetar berayunan
Manusia yang acuh di bentengi gedung bertingkat
Sebagai negeri yang kaya
Dari tanah yang retak di persawahan
Dari tanah yang dikeruk di perbukitan
Alam mengundang penghukum bumi
Bencana lain sedang mendaftar
Menuju negeri kaya ini
— 19.03.2019
Dialog Mereka
Ingatlah suasana ini
Mereka berisik tentang segala tindakan
Mereka berbisik menceritakan perasaan
Mereka bertukar apa yang mereka punya
Saat kata terlontar terasa jujur
Permainan rasa baru dimulai
Ia melihat kemanisan
Ia menghirup suasana ini
Dan ketika...
Kalimat-kalimat mereka hanya berisi kata “iya” dan “kamu”
Dan saat...
Suasana ini menyamankan perasaan ia untuk kamu
Hal itu nyata
Tak perlu celah ruang dan detik waktu
Semua itu dapat diabaikan seenaknya
Karena bicara rasa ialah sari pati perasaan
Yang terasa manis, manis, manis, pedih
Pedih seperti mereka mengabaikanku pada meja ini.
— 02.03.2020
Puan Kita
Pada zaman dahulu, bukan
Pada zaman milenium ini,
Saat semesta terhampar dalam genggaman
Syair takdirmu bukan hanya bertualang di dalam rumah semata
Kini telah menjamah dalam gemerlap hiruk pikuk yang terkadang ramah,
Terkadang marah, lelah untuk melepas stigma salah kaprah arti dari kehadiran perempuan dalam bingkai dunia hitam putih
Puan, selepas gelap terbitlah terang
Engkau kini masih berjuang melepas sekat yang mengekang, lepas dari bayang-bayang belenggu fatamorgana,
Hadirmu di ruang-ruang publik, bukan semata-mata sebagai pengihas dan penghibur,
Dirimu yang acap kali diumpamakan bunga, dengan warna harum menggoda, kini bergerak bersama, untuk hak yang sama, hak hidup yang setara
Ada yang berjuang di jalan ramai kota, ada yang belajar hingga mengejar hidup layak berbalut derita,
Sejak hayat ini mulai mengingat
Hadir canda lembut dan nyaman menemani langkah-langkah kecil
— 21.02.2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar