Full width home advertisement

Artikel Utama

Co-Pegiat

Post Page Advertisement [Top]

Pengaduan Puan

Pengaduan Puan
Antologi Puisi - I Kadek Agus Juniantara
JUNI

I Kadek Agus Juniantara

Seorang pemula menulis puisi, benar-benar pemula.

Antologi Digital v1.0

Pengaduan
Puan

[Ceta dan Cerita seorang Keponakan]

Ceta dan Cerita seorang Keponakan

Pengaduan

Pak saya ingin mengadu kolam yang dulu berairi susu kini telah dangkal dan hitam pak saya ingin mengadu anak kurus tetap saja tak bersekolah sudah besar mau kerja apa pak saya ingin mengadu terakhir kalinya apakah bapak tidak bosan menerima pengaduan ini pengaduan yang telah menjadi nisan harapan tentang harga ke manusia masih murah
saya tak ingin menuduh saya hanya ingin cerita kakek nenek saya tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi itu nyata bukan pengiring tidur, bukan cerita bohong selagi bapak belum tua seperti pendahulunya tolong di kerjakan dan kerja ya pak tentang pengaduan ini

— 09.01.2019

Tanah Retak

Suatu negeri yang menyombongkan kejayaan tanah surga masa lampau Bangga dengan tongkat kayu yang dapat ditanam Surya pun enggan meninggalkannya Tentang emas yang tumbuh dari bunga rumput
Sebuah negeri yang kini berada di bumi Tanah yang di cari dari seberang benua Berlomba untuk menjadi penguasanya Belum selesai hingga kini
Sebagai negeri yang kaya Air meluap hingga menghayutkan bangunan Api yang menjalar melahap semua hutan Angin yang memutar mengangkat genteng Tanah yang bergetar berayunan Manusia yang acuh di bentengi gedung bertingkat
Sebagai negeri yang kaya Dari tanah yang retak di persawahan Dari tanah yang dikeruk di perbukitan Alam mengundang penghukum bumi Bencana lain sedang mendaftar Menuju negeri kaya ini

— 19.03.2019

Dialog Mereka

Ingatlah suasana ini Mereka berisik tentang segala tindakan Mereka berbisik menceritakan perasaan Mereka bertukar apa yang mereka punya
Saat kata terlontar terasa jujur Permainan rasa baru dimulai Ia melihat kemanisan Ia menghirup suasana ini
Dan ketika... Kalimat-kalimat mereka hanya berisi kata “iya” dan “kamu” Dan saat... Suasana ini menyamankan perasaan ia untuk kamu Hal itu nyata Tak perlu celah ruang dan detik waktu Semua itu dapat diabaikan seenaknya
Karena bicara rasa ialah sari pati perasaan Yang terasa manis, manis, manis, pedih Pedih seperti mereka mengabaikanku pada meja ini.

— 02.03.2020

Puan Kita

Pada zaman dahulu, bukan Pada zaman milenium ini, Saat semesta terhampar dalam genggaman Syair takdirmu bukan hanya bertualang di dalam rumah semata Kini telah menjamah dalam gemerlap hiruk pikuk yang terkadang ramah, Terkadang marah, lelah untuk melepas stigma salah kaprah arti dari kehadiran perempuan dalam bingkai dunia hitam putih
Puan, selepas gelap terbitlah terang Engkau kini masih berjuang melepas sekat yang mengekang, lepas dari bayang-bayang belenggu fatamorgana, Hadirmu di ruang-ruang publik, bukan semata-mata sebagai pengihas dan penghibur, Dirimu yang acap kali diumpamakan bunga, dengan warna harum menggoda, kini bergerak bersama, untuk hak yang sama, hak hidup yang setara
Ada yang berjuang di jalan ramai kota, ada yang belajar hingga mengejar hidup layak berbalut derita, Sejak hayat ini mulai mengingat Hadir canda lembut dan nyaman menemani langkah-langkah kecil

— 21.02.2023

© 2026 I Kadek Agus Juniantara
Sanglah Institute

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]