[Gambar: Ilustrasi Jeratan Paylater dan Budaya Konsumerisme - Gemini AI]
Ketika dompet menipis, namun ada konser musisi idola, promo baju branded, ingin liburan ke destinasi impian, atau sekedar ngopi cantik di kafe estetis, paylater hadir memberikan solusi instan. Hanya dengan satu sentuhan jari, segala keinginan dan barang impian langsung bisa didapatkan. Namun, jika kita mencermati fenomena ini lebih dalam dengan kacamata sosiologi, ada harga mahal yang harus dibayar di balik kemudahan tersebut, harga yang tidak hanya berupa bunga finansial, melainkan kemerdekaan diri dan waktu kita.
Sosiolog asal Prancis, Jean Baudrillard, jauh-jauh hari dalam karyanya The Consumer Society sudah mengingatkan bahwa masyarakat modern tidak lagi membeli barang karena fungsi utamanya, namun kita membeli barang demi nilai tanda atau simbol status. Di tengah gempuran media sosial, generasi muda (Milenial dan Gen Z) berada di bawah tekanan sosial yang sangat tinggi untuk tampil sesuai dengan standar sosial media. Paylater kemudian hadir memfasilitasi kebutuhan simbolis ini. Ia memberikan ilusi bahwa anak muda memiliki daya beli yang setara dengan kelas atas, meskipun realita kondisi finansial mereka belum memadai.
Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita menekan tombol Paylater?
Filsuf Maurizio Lazzarato dalam konsepnya mengenai The Indebted Man (Subjek Berutang) menjelaskan bahwa utang modern bukan sekadar instrumen uang, melainkan teknologi politik untuk mengontrol manusia. Saat seseorang mengambil utang atau cicilan, ia sebenarnya sedang menjual kebebasan masa depannya. Tagihan paylater yang menumpuk di setiap tanggal jatuh tempo, secara tidak langsung memasung kebebasan seseorang. Mereka tidak akan berani keluar dari pekerjaannya, walaupun berada di lingkungan yang toksik. Posisi tawarnya (bargaining power) di tempat kerja merosot tajam. Mau tak mau mereka harus bertahan di lingkungan kerja yang kurang nyaman atau eksploitatif karena memiliki beban kewajiban finansial tetap setiap bulan. Selain itu, untuk membayar tagihan yang sebenarnya di luar kemampuan finansialnya, mereka terpaksa bekerja lebih keras, keharusan melunasi cicilan mendorong seseorang untuk terus mengejar lemburan atau mengambil pekerjaan sampingan.
Dalam bahasa Michel Foucault, tubuh pekerja muda bertransformasi menjadi docile bodies—tubuh-tubuh penurut yang sangat patuh, terdisiplin, dan efisien secara ekonomi karena didorong oleh ketakutan akan kegagalan melunasi cicilan. Jika pada zaman dahulu kontrol sosial dilakukan oleh atasan fisik atau aturan kantor yang kaku, saat ini kontrol sosial bekerja secara jauh lebih halus melalui sistem keuangan digital yang terintegrasi. Foucault menggunakan istilah Panopticon untuk menggambarkan sistem pengawasan yang membuat orang merasa terus-menerus diawasi sehingga mereka mendisiplinkan diri mereka sendiri. Di era digital, Panoptikon itu berwujud algoritma skor kredit dan SLIK OJK. Setiap keterlambatan pembayaran akan langsung memengaruhi rekam jejak digital (credit score). Pekerja muda sangat paham bahwa rekam jejak yang buruk di SLIK OJK bisa berakibat fatal, diantaranya sulit mengajukan KPR rumah, terhambat membeli kendaraan, bahkan bisa memengaruhi verifikasi latar belakang (background check) saat melamar pekerjaan baru. Ketakutan akan "ancaman tak terlihat" inilah yang secara psikologis mendisiplinkan rutinitas harian pekerja muda. Filsuf Byung-Chul Han menyebut fenomena ini sebagai psikopolitik, dimana sistem kapitalisme tidak lagi memaksa kita bekerja dengan cambuk, melainkan membuat kita mengeksploitasi diri kita sendiri secara sukarela atas nama kebebasan gaya hidup.
Paylater dan inovasi teknologi finansial pada dasarnya adalah alat netral. Namun, ketika ia terintegrasi secara masif dalam budaya konsumerisme, ia bertransformasi menjadi alat kontrol sosial baru. Ia berhasil mengikat masa depan dan energi kelas pekerja muda dalam lingkaran produktivitas tanpa henti demi membayar konsumsi simbolis masa lalu. Sebagai masyarakat digital yang kritis, sudah saatnya kita menyadari mekanisme di balik layar ini. Menjaga kedaulatan finansial bukan sekadar tentang menghitung angka di rekening, melainkan tentang mempertahankan otonomi atas waktu, pikiran, dan masa depan kita sendiri.
Daftar Referensi
- Foucault, M. (1975). Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Vintage Books.
- Han, B.-C. (2017). Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power. Verso Books.
- Hidayat, R., & Nastiti, A. (2023). Pengaruh Penggunaan Paylater Terhadap Perilaku Konsumtif dan Implikasinya Terhadap Kedisiplinan Keuangan Mahasiswa dan Pekerja Muda. Jurnal Innovative: Social Science Research Technology, 3(2), 1867-1879.
- Lazzarato, M. (2012). The Making of the Indebted Man: An Essay on the Neoliberal Condition. Semiotext(e).
- Mubarok, F., & Rahayu, S. (2022). Analisis Yuridis dan Sosiologis Perlindungan Konsumen Pengguna Layanan Paylater Dalam Perspektif Hukum dan Kontrol Sosial Digital. Jurnal Rechts Vinding, 11(3), 444-460.
- Ritzer, George. (2012). Teori Sosiologi dari Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar