Menilik Perjuangan Perempuan Bali Tempo Dulu Lewat Pena Mereka
Repro dari Bali A Paradise Created by Adrian Veckers dan The Development of Painting in Bali by Suteja Neka (1989)
Tajamnya pena perempuan Bali tempo dulu ternyata telah membawa perubahan bagi keberlangsungan hidup kaumnya di masa sekarang. Bukti-bukti tertulis yang terhimpun dan dinarasikan dengan apik oleh I Nyoman Darma Putra dalam buku Wanita Bali Tempo Doloe: Pespektif Masa Kini, menyatakan bahwa perempuan Bali telah menyuarakan ketidakadilan gender sejak tahun 1920-an dan 1930-an.
Melalui tulisan berikut, mari kita bersama-sama menilik perjuangan perempuan Bali lewat pena di masa lampau.
Perempuan Bali Nyatanya Tidak Diam!
Sejak zaman kolonial, perempuan Bali ternyata telah aktif memperjuangkan hak-hak mereka melalui gerakan menulis. Lewat artikel yang diterbitkan di Surya Kanta, Adnyana, Djatajoe, Bhakti, dan Damai, perempuan Bali mulai mengkritik ketidakadilan gender yang menimpa kaumnya.
Bukti otentik tulisan perempuan Bali dalam media massa tempo dulu.
Tidak hanya mengkritik, mereka saat itu juga melakukan aksi nyata dengan terjun ke masyarakat melalui program pemberantasan buta huruf, mengabadikan dirinya menjadi guru, hingga membentuk organisasi sosial seperti Poetri Bali Sadar. Media Massa saat itu memang menjadi salah satu arena penting bagi perempuan Bali untuk mengangkat masalah-masalah yang mereka hadapi serta menyoroti keprihatinan yang dihadapi kaum perempuan.
Selain pemberantasan buta huruf, yang juga menjadi perhatian perempuan Bali saat itu adalah untuk menyadarkan orang tua tentang pentingnya pendidikan—agar para orang tua turut menyekolahkan anak-anak perempuan mereka. Selain itu, perempuan Bali juga mulai tergerak untuk menolak poligami.
Citra Diri dan Wacana Perempuan Modern
Setelah memperjuangkan hal-hal yang berkaitan dengan sistem yang tidak adil, perempuan Bali semakin menunjukkan taring mereka melalui kritik atas citra telanjang dada. Bali pada tahun 1920-an memang dikenal sebagai the island of bare breast yang membuat para perempuanya identik dengan bertelanjang dada.
Representasi visual perempuan Bali dalam lintasan sejarah budaya.
Kecenderungan meluasnya eksploitasi terhadap figur perempuan itulah yang kemudian diprotes oleh aktivis perempuan Bali. Ni Loeh Sami pada 25 Desember 1936 melancarkan protesnya melalui tulisannya berjudul “Pintu dan Jendela masih tertutup”. Ia mengingatkan bahwa perempuan Bali masih berada dalam keterbelakangan dan jangan mau jadi bahan tertawaan.
Upaya para aktivis perempuan Bali tersebut kemudian mendapatkan perhatian dan dukungan dari kaum laki-laki terpelajar yang kemudian melahirkan usul penting untuk mendesak pemerintah guna meningkatkan martabat perempuan saat itu. Isu-isu gender kemudian semakin aktif dibicarakan pada tahun 1950-an.
Gerakan Politik dan Perspektif Masa Kini
Masih di tahun 1950-an, mereka memiliki keinginan untuk berpartisipasi dalam dunia politik. Ratih Amarawati dan Jasmin Oka banyak memperbincangkan tentang kesempatan yang terbuka lebar untuk kaum perempuan terjun ke dunia politik pasca diresmikannya undang-undang pemilihan umum tahun 1953.
Wacana kemerdekaan perempuan dalam bidang politik, sosial, dan ekonomi.
Lalu, bagaimana perspektif perempuan Bali masa kini? Perempuan Bali memang diberatkan dalam bidang pelaksanaan adat. Di satu pihak, mereka dituntut untuk mengejar karier dan bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Sedangkan di sisi lain, perempuan Bali juga harus mengurus berbagai urusan adat yang jumlah dan frekuensinya tinggi sekali.
Maka, sudah sepatutnya sebagai perempuan (Bali), kita haruslah merenungkan perjuangan-perjuangan dari pendahulu kita. Tulisan-tulisan yang disampaikan oleh perempuan Bali satu abad lalu agaknya masih relevan untuk diterapkan di masa sekarang. Bahwa perbaikan nasib perempuan memang hanya dapat diperjuangkan sebaik-baiknya oleh kaum perempuan itu sendiri.
"Maka perempuan, berjuanglah. Menulislah!"
Sumber & Referensi
Sumber Gambar:
Sepenuhnya dari Buku "Wanita Bali Tempo Doloe: Pespektif Masa Kini" penulis I Nyoman Darma Putra.
Tautan Terkait:
Baca tentang wacana perempuan dalam Sastra poskolonial di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar