Fatherhood: Navigasi Menumbangkan Maskulinitas Hegemonik
Isu fatherless di Indonesia merujuk pada situasi di mana anak tumbuh tanpa figur ayah dalam kehidupan mereka, baik karena perceraian, perpisahan, meninggal dunia, atau bahkan ketidakhadiran fisik atau emosional dari seorang ayah. Fenomena ini berpengaruh besar pada perkembangan sosial, emosional, dan psikologis anak. Konsekuensi dari kekurangan figur ayah dalam kehidupan anak sangat beragam, mulai dari masalah dalam membentuk identitas diri, kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain, hingga perasaan kurangnya perlindungan dan dukungan emosional.
Anak yang tumbuh tanpa ayah juga berisiko lebih tinggi terlibat dalam perilaku negatif seperti kecanduan, kekerasan, dan masalah mental. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menguatkan pentingnya kehadiran emosional ayah dalam kehidupan anak, serta mengajarkan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anak-anak mereka.
Lebih dalam, pada tulisan beberapa waktu silam, telah disinggung perihal maskulinitas, di mana beresensi jamak dan terpetakan ke dalam beberapa bagian, dan salah satunya adalah maskulin tahun 1980-an dengan cirinya new man as nurture dan new man as narcissist. Kali ini akan membahas secara sekilas tentang new man as nurture yang menunjukkan bahwa laki-laki juga punya sifat alamiah—kasih sayang dan perhatian—tindakannya melibatkan emosional.
Pada dasarnya, rumah juga sebagai tempat bagi laki-laki, sehingga absennya laki-laki dalam hal ini kurang tepat. Laki-laki dan rumah bukan sebatas pada melakukan sesuatu yang hanya menggunakan kekuatan otot, tetapi termasuk kekuatan perasaan yakni tentang pengasuhan dan perawatan anak-anak. Hal ini memunculkan istilah krusialnya fatherhood atau “kebapakan”, yakni bentuk maskulinitas yang melibatkan ayah untuk lebih bertanggung jawab pada hal-hal yang berkaitan dengan mengasuh anak.
Teori Father Involvement: Michael E. Lamb
Ihwal new man as nurture—fatherhood kiranya bisa lebih terpahami lewat teori yang dicetuskan oleh Michael E. Lamb. Lamb mencetuskan teori fatherhood involvement yang merupakan terjunnya laki-laki atau ayah dalam dunia domestik. Konsep di dalam teori tersebut meliputi:
- a. Interactional dan Intimacy (Paternal Engagement): Kedekatan emosional berupa interaksi atau ikatan langsung antara ayah dan anak, mulai dari aktivitas bersama hingga kehangatan yang diberikan.
- b. Accessibility (Paternal Accessibility): Berupa kehadiran atau ketersediaan ayah secara fisik maupun non-fisik di rumah, yang memungkinkan terjadinya proses pengasuhan.
- c. Responsibility (Paternal Responsibility): Bentuk tanggung jawab dalam mengurus, memenuhi kebutuhan, hingga pengambilan keputusan dan perlindungan (protection) terhadap anak.
Dalam konteks ini, fatherhood bukan hanya tentang menjadi penyedia materi, tetapi juga tentang hadir secara emosional dan mendidik anak-anak dengan nilai-nilai positif. Maskulinitas ini mendorong pria untuk lebih terlibat dalam kehidupan keluarga, tidak hanya dalam aspek ekonomi, tetapi juga dalam pengasuhan anak dan hubungan yang penuh kasih.
Representasi dalam Media dan Karya Sastra
Representasi fatherhood ini telah dilakukan dalam media, misal dalam novel, film, dan sebagainya. Beberapa film yang merepresentasikan hal ini diantaranya Kramer vs Kramer, Gifted, The Family Man, dan The Good Father. Dalam film The Good Father yang diperankan oleh Anthony Hopkins, mengisahkan peran ayah yang terlibat dalam usaha memenangkan hak asuh anaknya, sekaligus menyingkapi misogini yang mengintai.
Praksis fatherhood juga muncul dalam karya sastra Indonesia, seperti novel Ayah Mengapa Aku Berbeda karya Agnes Davonar (2011), Ayah Pemilik Cinta yang Terlupakan karya Eidelweis Almira, hingga Ayahku (bukan) Pembohong karya Tere Liye. Dengan memperkuat maskulinitas yang penuh empati dan bertanggung jawab, kita bisa berharap dapat mengurangi dampak negatif dari isu fatherless di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar